Pernikahan Keduaku

Pernikahan Keduaku
Ronald-2


__ADS_3

Ternyata membujuk istrinya pulang tak sesulit yang dipikir Ronald. Dengan berjanji akan mengikuti kemauannya saja Ia mudah terbujuk dan bersedia kembali lagi. "Apakah semudah itu Nia memaafkanku?" pikir Ronald. Yang tersulit adalah menyakinkan Papa, namun ternyata Papa juga mengikuti saja kemauan anaknya. Mudah juga. Bahkan hadiah hp android terbaru yang sudah Ia siapkan seakan sia-sia, niatnya hadiah tersebut akan diberikannya jika Nia makin marah, ternyata tak perlu. Jadi Ia berikan saja hadiah yang Ia persiapkan tanpa perlu khawatir Nia akan marah lagi.


Rumah tangga mereka pun kembali utuh. Namun ada yang tidak bisa Ia pungkiri. Dirinya yang berubah. Semenjak Nia rajin ke dokter dan mengkonsumsi vitamin, Nia berubah. Nia yang cantik dan langsing berubah drastis. Dahulu perut Nia rata, namun sekarang terdapat timbunan lemak didalamnya. Berat badan Nia yang naik drastis membuat Ia merasa istrinya tak menarik lagi.


Ronald tahu semua yang dilakukan Nia karena ingin memberikannya anak, semua karena cintanya Nia pada dirinya. Namun, Ronald yang terbiasa bertemu dengan marketing dan nasabah yang cantik-cantik merasa Nia tak menarik lagi di matanya. Versi cantik menurut Ronald adalah putih, tinggi dan langsing. Jadi saat melihat Nia tak lagi seperti yang diinginkannya Ia mulai malas pulang ke rumah.


Yang Ronald lakukan adalah lebih rajin lagi bekerja. Ia bahkan sering pulang pagi. Ia tak lagi mengantar jemput istrinya dengan alasan masih lelah. Nia tak keberatan, lagi-lagi Nia lebih bersikap toleran padanya. Ronald pun mulai takut saat hari sabtu tiba, Ia takut Nia menagih janji dirinya untuk diperiksakan ke dokter. Ronald pun mulai mencari-cari alasan agar tak ditagih lagi, salah satunya dengan lembur.


Setiap sabtu, Ia sebenarnya tidak lembur, melainkan nongkrong di kedai kopi atau di mall. Toh kalau pun ketahuan Ia akan bilang kalau Ia janjian dengan nasabah jadi tak ada yang akan curiga. Ia akan berangkat setiap jam 8 pagi sebelum Nia check up ke dokter. Ia akan pulang ke rumah setelah Nia selesai check up. Nia tak menaruh curiga sama sekali.


Hal tersebut terjadi selama 2 bulan sejak pertengkaran mereka. Sampai suatu ketika Ia bertemu dengan seseorang dari masa lalunya.


*******


Hari itu seperti biasa Ronald nongkrong di kedai kopi, namun kali ini Ia memilih ke daerah Sarinah Thamrin. Ada kedai kopi yang buka 24 jam disana. Pagi-pagi Ia pamit pada Nia ingin pergi lembur. Sambil menenteng laptopnya, Nia percaya saja bahkan sampai mencium tangan Ronald dan mengantar suaminya pergi. Apakah Ronald tak merasa bersalah? awalnya Ia, namun makin lama Ia biasa berbohong semakin rasa bersalah itu pun hilang. Ronald bahkan membawa laptopnya, membuat Nia makin yakin suaminya rajin bekerja walau hari libur sekalipun.


Ronald mengenakan kaos polo dan celana jeans serta memakai kacamata sunglass dan sepatu adidas. Walau tidak terlalu tampan namun gayanya yang gaul membuat beberapa cewek meliriknya. Setelah memarkirkan mobilnya Ia langsung ke kedai kopi dan memesan caramel frapuccino size fenti dengan cemilan red velvet cake dan donut. Ia pun memilih duduk dekat jendela agar dapat melihat pemandangan dari luar. Dinyalakannya laptop, dengan wifi kedai kopi Ia menonton film streaming. Diseruputnya es kopi tersebut yang terasa sangat nikmat. "Ah, indahnya hidup bebas seperti ini, tak ada rengekan Nia mengajak check up dan tak ada titah Mama yang ingin punya cucu secepatnya. Bebas... " pikir Ronald.


Diambilnya garpu kecil dan dimakannya red velvet yang harganya lumayan mahal itu. Red velvet + caramel frappucino \= kenikmatan yang haqiqi. Sesekali mata Ronald melihat pemandangan di luar. Walau bukan hari kerja, daerah Sarinah tetap saja ramai. Ronald kembali menatap layar laptopnya dan menonton film box office streaming. Saat sedang serius tiba-tiba ada suara seorang wanita yang menyapanya.

__ADS_1


"Ronald? Kamu Ronald kan?" Ronald pun mengangkat pendangannya dan melihat seorang wanita cantik berdiri di depannya. Kedua alisnya bertaut mencoba mengingat-ingat siapa wanita didepannya.


"Iya aku Ronald. Siapa ya...?"


Wanita itu tersenyum senang saat orang yang disapanya ternyata memang orang yang Ia kenal. Ronald terkesima melihat senyum diwajah wanita tersebut.


"Aku Anita. Teman sekelas kamu waktu SMP dulu. Inget ga?" Ronald mengingat-ingat wajah Anita temen sekelasnya dulu, seingat Ronald dulu Anita tidak secantik sekarang, 'dekil dan kumel' istilah teman-teman nongkrongnya dulu biasa menyebutnya. "Kenapa bisa berubah secantik ini?" gumam Ronald dalam hati.


"Ah, iya. Aku ingat. Anita dulu kita sekelas di kelas 3-5 kan?"


"Benar, kirain sudah lupa sama aku"


"Kamu gak pernah ikut reunian sih, aku kan jadi gak ngenalin kamu. Kamu sekarang gimana? Kerja atau jadi ibu rumah tangga?"


"Kerjalah. Aku kan belum merried, gimana mau jadi Ibu rumah tangga coba?" Anita tersenyum dan memamerkan gigi putihnya yang rapi dan terawat.


Entah mengapa Ronald senang dengan jawaban yang diberikan oleh Anita. Ia merasa seperti ada sebuah harapan. Ronald teringat bahwa Ia belum menawari Anita minuman.


"Oh iya sampai lupa, kamu mau minum apa? biar aku pesankan. Eh tapi ngomong-ngomong kamu sama siapa kesini? takutnya ada yang marah kalau aku belikan kamu minuman gitu"

__ADS_1


"Aku sendirian aja kok. Aku jomblo.Belum punya pacar. Aku pesan kayak kamu aja deh kayaknya enak"


"Oke. Aku pesan dulu ya" Ronald pun meninggalkan Anita menuju kasir untuk memesan minuman yang sama dengannya. Ronald request dituliskan 'Anita Cantik' digelasnya. Setelah membayar Ronald kembali lagi ke kursinya.


"Jadi kamu ada keperluan apa didaerah sini? sepengetahuanku kamu tinggal di daerah timur deh" Ronald memulai pembicaraan.


"Aku habis dari rumah klien bahas hasil design. Klienku mau ke luar negeri jadi aku sudah dari jam 6 kerumahnya"


"Design? Kamu seorang arsitek?" tanya Ronald


"Ya.. gitu.. deh" Wow Ronald makin kagum dengan Anita.


"Wuih... keren... " puji Ronald


"Apa sih.. biasa aja kali. Kamu kerja apa Nal?" belum sempat Ronald menjawab, nama Anita dipanggil oleh barista. Anita tersenyum dan tersipu malu membaca nama 'Anita Cantik' di gelasnya.


"Kemampuan menggombal kamu belum hilang ya dari dulu?" tanya Anita.


"Ih siapa yang ngegombal coba? aku cuma bicara jujur aja kok. Emang bener kalau kamu cantik. Pake banget lagi" Gombalan Ronald sukses membuat wajah Anita bersemu merah. Grogi, Anita menyeruput es kopinya agar tak menunjukkan wajah malunya.

__ADS_1


Ronald merasa jantungnya mulai berdegup kencang lagi. Hal yang sudah lama tak dirasaknnya.


__ADS_2