Pernikahan Keduaku

Pernikahan Keduaku
Emosi Papa


__ADS_3

Nia sudah selesai merapihkan kopernya. Agak berat hati Ia meninggalkan Resort ini. Berat karena Ia harus menghadapi kenyataan hidupnya lagi. Didorongnya koper sampai ke tempat parkir, dimana Daniel sudah menunggu sambil memainkan hp nya.


Melihat kedatangan Nia, Daniel dengan sigap mengambil koper miliknya dan memasukkan ke dalam bagasi mobil. Pandangan mata Daniel melihat sorot mata Nia seakan tak mau pulang. Daniel menghampiri Nia dan mengusap kepala Nia. "Nanti kita kesini lagi"


"Udah nyisir nih. Jangan diacak-acak deh" Daniel hanya tersenyum jahil. "Aku kok males ya balik lagi ke Jakarta?" keluh Nia.


"Karena saat ini Jakarta sedang tidak menyenangkan buat kamu. Kamu gak usah khawatir, setelah membereskan semua masalahmu aku janji akan mengajak kamu kesini lagi. Hadapi dulu masalah kamu dengan berani. Kan sudah aku kasih ilmunya"


"Apa aku bisa Niel? Aku sendiri tak yakin sama diriku sendiri. Aku takut rasa tak tega akan menguasaiku dan pada akhirnya aku hanya akan memaafkan semua kesalahan Ronald"


"Semua itu terserah kamu. Lakukan apapun yang akan membuat dirimu bahagia. Satu yang pasti, mau kamu memaafkan atau berpisah dengan Ronald yang tau hanya hati kamu sendiri. Dengarkan kata hati kamu" nasehat Daniel bijak, padahal dari lubuk hatinya terdalam Ia tak ingin Nia kembali lagi dengan Daniel.


Nia dan Daniel lalu melanjutkan perjalanan pulang sebelum sistem one way di jalur Puncak diberlakukan. Lalu lintas yang padat dan macet membuat mereka sampai di Jakarta menjelang jam 8 malam. Daniel mengajak Nia makan dahulu sebelum mengantarnya ke rumah orangtuanya.


Daniel menghentikan mobilnya di seafood tenda pinggir jalan langganannya. Nia pikir Daniel tak suka makanan pinggir jalan, ternyata tidak. "Kamu suka makan pinggir jalan?" tanya Nia heran.


"Iya. Memang kenapa? Aku gak masalah mau makan dimana yang penting enak dan rasanya cocok dengan lidahku bagiku tak masalah"


"Oh kirain Golden Boys kayak kamu gak suka. Yaudah ayo kita turun aku lapar nih" Nia dan Daniel lalu masuk ke dalam tenda dan memesan menu Kepiting saus padang dan kerang hijau saus padang. Makan disaat lapar memang sangat nikmat, apalagi makanan yang dihidangkan baru saja dimasak dan dalam keadaan hangat. Mereka makan dengan sangat lahap.


Selesai makan Nia bermaksud membayar semua makanan mereka, namun lagi-lagi Daniel menolaknya. "Udah simpan saja"


"Ih kamu mah begitu. Kan aku mau traktir kamu juga" protes Nia.

__ADS_1


"Gak usah. Uang aku masih banyak"


"Sombong amat"


"Lah memang bener... weekk" Daniel menjulurkan lidahnya meledek Nia.


Mereka melanjutkan kembali perjalanan yang sempat terhenti. Nia yang sudah mengabari Papa tentang kepulangannya membuat Papa tak sabar menunggunya. Papa sudah sedari tadi duduk di teras rumah menanti kedatangan Nia dan Daniel. Ia ingin mendengar cerita sebenarnya dari mulut Nia sendiri.


Saat mobil Daniel sudah sampai di depan rumah, Papa langsung berjalan menghampiri. Daniel keluar dari mobil dan langsung menurunkan koper milik Nia dari bagasi. Nia langsung memeluk Papa. Air matanya tumpah ruah. Papa hanya mengusap lembut rambut putrinya tersayang. Tanpa sadar air mata pun menetes di pelupuk matanya.


Papa melepaskan pelukan Nia perlahan dan mengajak Nia dan Daniel masuk karena tak mau membuat tetangga membicarakan mereka. Di dalam rumah Nia menceritakan semuanya sama Papa. Kecurigaannya selama ini dan pada akhirnya Ia melihat sendiri perselingkuhan suaminya.


"Jangan pernah kamu memaafkan laki-laki seperti itu. Dari pertama Papa tidak yakin memberikan restu atas pernikahan kalian. Apalagi setelah kamu di caci maki karena tak juga dapat memberikan anak.." Nia memotong pembicaraan Papa.


"Sst... Papa. Gak enak ada Daniel" Pandangan mata Nia menatap Daniel yang hanya menyimak percakapannya dengan Papa tanpa berkomentar apapun.


"Papa..."


"Jangan lagi kamu membela mereka. Kedua orang anak dan ibu itu sama-sama tidak tahu diri. Masih untung kamu mau menerima anaknya yang tak bisa memberikanmu keturunan eh malah tidak punya hati dan menyelingkuhi kamu"


Daniel menatap Nia saat mendengar kenyataan betapa Nia sangat disakiti. Hatinya terenyuh, rasa tak tega merasuki hatinya. Ia juga merasakan emosi seperti yang dirasakan Papa Nia.


"Daniel, tolong bilang sama Pak Darmawan. Saya minta tolong sama beliau. Tolong urus perceraian Nia" Spontan Nia dan Daniel kaget mendengar perintah Papa.

__ADS_1


"Apa? kamu masih mau maafin suami kamu? Papa gak rela anak Papa disakiti seperti itu. Ceraikan Dia!!" tatap Papa tajam kearah Nia. Baru kali ini Nia melihat Papa marah. Ia tak berani membantah lagi. Nia hanya menunduk saja.


"Nanti Daniel sampaikan sama Papa Om" Daniel yang akhirnya buka suara.


"Terima kasih Niel. Memang seharusnya Nia menikah saja dengan kamu. Saya menyesal dulu mengijinkan Ronald menikahi Nia. Kalau tahu begini akhirnya lebih baik pertunangan kalian saya setujui saja" kata Papa sambil terisak.


"Maksud Papa apa?" Nia kebingungan mendengar perkataan Papa. "Pertunangan? siapa yang bertunangan Pa?"


"Pertunangan kamu dan Daniel. Seandainya dulu kamu jadi bertunangan dan menikah dengan Daniel tentu hidup kamu tak akan sengsara seperti sekarang"


"Sudahlah, Om. Mungkin semua sudah kehendak Tuhan. Jangan terlalu menyalahkan diri sendiri, Om. Lebih baik pikirkan selanjutnya akan bagaimana" Daniel menyela percakapan untuk menenangkan suasana.


"Kamu benar Niel. Lebih baik kita fokus pada perceraian Nia. Nanti Om akan ketemu dan minta tolong Papa kamu" Papa lalu menatap Nia "Jangan pernah kamu mau diajak ketemuan dan bicara lagi sama suamimu. Papa tak akan rela kamu balikkan lagi sama Dia" ancam Papa.


"Iya Pa" Nia tak berani lagi membantah Papa. Tidak lama kemudian Daniel pamit pulang, tak lupa Papa mengucapkan terima kasih atas semua pertolongan Daniel.


******


Subuh hari alarm Ronald berbunyi. Biasanya Ia langsung mematikannya dan tidur lagi. Namun kali ini Ia langsung terbangun dan pergi mandi. Setelah bersiap-siap Ia pun langsung berangkat ke kantor Nia. Ia yakin hari ini Nia pasti akan masuk kerja.


Jam 7 pagi Ronald sudah memarkirkan mobilnya di area parkir Bank A, tempat Nia bekerja. Ia menunggu kedatangan Nia dan berniat bicara langsung dengannya. 15 menit kemudian Nia sampai di kantor. Ronald bergegas ingin turun dari mobil dan menghampiri Nia, namun keinginannya langsung pupus tatkala dilihatnya sang Papa Mertua yang mengantar sendiri anaknya. Keberaniannya menciut. Ia masih terbayang wajah penuh amarah dan tonjokkan yang terasa sangat pedas saat mendarat di pipinya.


Ronald memutuskan akan menemui Nia tanpa sepengetahuan mertuanya. Ia yakin Nia akan memaafkannya dan menerimanya kembali sebagai suaminya. Ia yakin Nia sangat mencintainya dan tak akan mudah melepaskannya.

__ADS_1


****


Selamat Idul Fitri Mohon Maaf Lahir Bathin... Terima kasih atas semua dukungannya. Semoga saya makin kreatif dan mampu memberikan karya terbaik. Terima kasih.... 😘😘😘


__ADS_2