Pernikahan Keduaku

Pernikahan Keduaku
Harta


__ADS_3

Nia meletakkan roti yang sedang dimakannya. Hilang sudah rasa lapar yang dirasakannya tadi. Ia meneguk susu dinginnya berharap dapat menghilangkan rasa mumet yang tiba-tiba dirasakannya. Ia berusaha bersikap setenang mungkin.


"Kenapa mau dijual, Kak?" tanya Nia.


"Jadi gini Ni, suami Kakak bisnisnya sedang kurang bagus. Banyak orderan yang tidak dibayarkan tepat waktu sementara kami terus menutupinya dari uang tabungan. Lama kelamaan uang tabungan kami berdua habis. Sementara modal makin lama makin menipis. Pihak vendor berjanji akan melunasi sekaligus semua hutangnya. Kakak bingung mendapatkan uang darimana, pinjaman ke bank juga tak di approve karena suami kakak sudah pernah pinjam limitnya habis. Satu-satunya cara ya menjual rumah peninggalan Papa."


"Kenapa gak pinjam dari keluarga suami kakak saja? Kenapa harus menjual rumah peninggalan Papa?"


"Suami kakak gak mau, Ni. Malu katanya kalau pinjam dengan keluarganya. Selama ini suami kakak kan terkenal pengusaha sukses. Apa kata keluarganya kalau sampai suami kakak minjam uang?"


"Hanya rumah ini yang Papa tinggalkan untuk kita. Banyak kenangan di rumah ini, apa harus kita jual hanya karena menutupi gengsi kakak ipar?" tanya Nia ketus.


"Kamu gak merasakan sih Ni rasanya jadi aku. Ini kan juga cara aku mempertahankan rumah tanggaku, bukan dengan mudahnya melepas rumah tangga kayak kamu." Kak Nay tak mau kalah. Melihat kedua kakaknya mulai emosi Nesia pun turut bicara.


"Sudah... sudah.... kita kan lagi ngebahas masalah jual rumah. Gak usah saling sindir. Kak Nia juga gak mau kok rumah tangganya hancur. Dan Kak Nay juga lagi usaha kan membantu suaminya? kita pikirin jalan keluarnya yang terbaik bagaimana." Keduanya pun terdiam mendengar perkataan Nesia yang memang benar kenyataannya itu.


"Nesia juga gak mau rumah Papa dijual. Tapi kali ini Nesia setuju sama Kak Nay. Kak Nia, Nesia mau menikah. Sesuai adat di keluarga Ari, kalau menikah semua biaya dari pihak wanita. Nesia uang dari mana, Kak? Kalau menunggu uang tabungan hasil kerja Nesia harus menunggu berapa lama? Satu-satunya cara ya dengan menjual rumah ini. Hanya ini yang kita punya, Kak."


Nia berlinang air mata. Tak ada yang dapat Ia lakukan. Kedua saudaranya sudah sepakat menjual rumah Papa. Ia bisa apa? membantu mereka pun Ia tak bisa. Sebenarnya Nia mendapat jatah mobil dari pembagian harta gono gini perceraiannya dulu, tapi karena mobil tersebut adalah sogokan agar Ronald dapat selingkuh Ia merasa jijik menerimanya.


"Baiklah. Aku pikir-pikir dulu." jawab Nia pada akhirnya.


"Jangan kelamaan mikir, Ni. Masa depan perusahaan suamiku tergantung sama kamu."


"Kalau rumah ini dijual kamu tinggal dimana, Nes?" tanya Nia lagi pada adiknya. Ia masih saja memikirkan adiknya, padahal tak ada yang memikirkan dirinya.


"Aku akan ngekost dulu Ka sampai aku dan Ari menikah."


Tak ada yang bertanya Nia akan tinggal dimana. Semua mementingkan kepentingannya sendiri. Hati Nia sebenarnya sangat sedih. Mungkin karena itulah Papa menitipkannya pada Pak Darmawan. Karena Papa sudah punya firasat bahwa kedua anaknya yang lain akan egois dan pada akhirnya menelantarkan Nia.


"Aku akan memikirkan dahulu." Nia lalu bangkit dan masuk ke dalam kamar. Ia termenung seorang diri sementara kedua saudaranya mungkin asyik membicarakan dirinya. Apa yang harus Ia lakukan? Kepada siapa lagi Ia dapat meminta tolong?

__ADS_1


Hanya satu jawabannya. Hanya satu orang yang dapat Ia mintai tolong. Ya, hanya Daniel orangnya. Sebenarnya Nia malu terus merepotkan Daniel terus, tapi hanya Daniel yang dapat menolongnya. Ia pun menelepon Daniel dan meminta ketemuan.


Secepat kilat Daniel datang. Saat menerima telepon dari Nia, Ia sedang mengobrol dengan Mama dan Papanya. Mereka menanyakan kapan Daniel akan menikahi Nia. Seperti sudah feeling eh Nia tiba-tiba telepon. Daniel langsung mengambil kunci mobilnya tanpa sempat berganti pakaian dahulu.


Setengah jam kemudian Daniel sampai. Nia memintanya membunyikan klakson jika sudah sampai, tak perlu turun dari mobil. Tak lama Nia keluar rumah sambil memakai tas diselempangkan di bahunya.


Nia langsung masuk ke dalam mobil dan meminta Daniel langsung tancap gas.


"Mau kemana kita?" tanya Daniel.


"Kemana aja boleh" jawab Nia.


"Yaudah ke pelaminan aja kalau gitu" gurau Daniel. Nia langsung mencubit pinggang Daniel.


"Ampun... ampun... aku lagi nyetir nih, bahaya..."


"Makanya jangan rese" Nia berhenti mencubitnya.


"Aduh... sakit nih. Kamu sih ditanya mau kemana jawabannya gitu."


"Ke danau kemarin aja ya? Makan podeng lagi gimana?" tanya Daniel.


"Katanya orang kaya, kok hobinya makan podeng? nongkrongnya juga di danau lagi, memangnya aku ikan lele apa?" gerutu Nia.


"Ha...ha....ha... yaudah kalau gak mau nongkrong di danau. Mau kemana, hotel?"


Nia langsung menutupi dadanya dengan kedua tangannya. "Kamu mau apa ngajak aku ke hotel? aku gak mau ya. Aku bukan perempuan kayak gitu mentang-mentang aku udah jadi janda."


"Ih ge er banget kamu. Tadi katanya kamu minta diajak jalan sama orang kaya ini. Aku mau ngajak kamu makan di restauran hotel bukan mau ngajak ehem-ehem kali."


"Oh..gitu.. ya.. maaf kalo gitu mah" muka Nia langsung merah padam.

__ADS_1


"Yaudah jadi kita kemana nih?" tanya Daniel lagi.


"Ke Ragunan aja deh"


"Ngapain? karyawisata?"


"Jalan-jalanlah. Menghirup udara segar. Sekalian lihat hewan."


"Yaudah kalau maunya ke Ragunan. Diajakin ke hotel mewah gak mau, malah maunya liat ******. Untung aku bawa mobil sedan, bukan mobil sport. Bisa dipakai foto-foto kalau aku pakai mobil sport kesana."


"Bodo amat. Pamer aja terus sana. Emang aku pikirin!" Daniel hanya tersenyum melihat Nia yang sama sekali tidak tergoda dengan harta miliknya. Itu yang Ia suka. Cewek lain pasti sudah hijau matanya.


Hari sabtu lalu lintas sekitar Taman Margasatwa Ragunan agak padat. Banyak bus karyawisata membawa anak sekolah dengan tujuan ke Ragunan. Sekitar pukul 11 siang barulah mereka sampai. Nia membeli 2 buah tiket untuk dirinya dan Daniel.


Daniel berjalan di samping Nia dengan santainya sambil ngemil chiki. Walau dengan celana pendek tetap saja Ia terlihat keren.


"Bagi dong." Nia langsung mengambil chiki yang dimakan Daniel tanpa meminta persetujuan dahulu.


"Cepet bilang ada apa tiba-tiba ngajak ketemuan sampai minta jalan-jalan ke Ragunan segala." Daniel langsung menebak arah tujuan Nia.


"Ayo kita menikah."


"Uhuk.." Daniel langsung keselek chiki yang dimakannya. Nia memberikan air mineral agar Daniel tidak keselek lagi.


"Kamu serius?"


"Sangat serius. Tapi ada satu syarat."


"Apa?"


"Tolong beli rumah Papa. Aku gak mau rumah Papa jatuh ke tangan orang lain." Nia langsung menceritakan tentang rumah Papa yang akan dijual oleh kedua saudaranya. Lagi-lagi Daniel merasa kasihan dengan nasib yang dialami Nia. Cobaan hidupnya banyak, kapan akan berakhir?

__ADS_1


*****


Sesuai janji, hari ini Up 2x ya... selamat dinikmati... jangan lupa like dan votenya ya... maacih... 😍😍😍


__ADS_2