Pernikahan Keduaku

Pernikahan Keduaku
Curiga


__ADS_3

"Kok diam saja. Ayo makan bareng. Temani aku makan" kata Ronald. Dalam diam, Nia duduk di seberang Ronald. Diambilnya nasi sedikit lalu lauk udang asam manis dan cumi saus padang yang semalam dimasaknya.


"Dikit banget makannya. Kamu sakit?" tanya Ronald heran melihat Nia yang biasanya makan banyak tapi kali ini makan hanya sedikit saja.


"Aku gak nafsu makan" jawab Nia dengan malas.


"Kenapa? Marah sama aku? Maaf semalam aku pulang malam padahal kamu sudah masak banyak buat aku. Aku lembur sayang. Jangan marah ya" Ronald lalu meraih tangan Nia dan menggenggamnya lembut.


"Iya" jawab Nia pelan. Jawaban yang tak sesuai dengan kenyataannya. Ia bilang Iya namun sebenarnya masih marah. "Hari ini aku mau ke rumah Papa. Udah lama gak kesana"


"Mau Aku antar?" tanya Ronald lagi.


"Antar? Memangnya kamu gak mau main kesana?" Nia balik bertanya.


"Aku ada janji ketemu Nasabah. Kalau mau nanti aku antar kamu. Tapi aku gak janji bisa jemput, nanti naik taxi saja ya kalau aku gak bisa jemput"


Nia menghembuskan nafas berat. "Gak usah kalau gak main kesana lebih baik aku pergi sendiri saja" Nia lalu bangun dan tak menghabiskan makannya. Ia lalu beranjak membuang sisa makannya dan mencuci piring.


Ronald lalu menghampiri istrinya yang sedang marah tersebut. "Yaudah aku main deh kesana. Tapi sebentar saja ya. Oke?"


"Gak usah" jawab Nia tegas. Nia pun meninggalkan Ronald yang bingung tak tahu harus berbuat apa lagi. Nia berjalan menuju kamarnya hendak bersiap-siap. Setelah mengganti baju Ia ingat hp nya tertinggal di meja makan. Ia pun kembali lagi ke dapur. Sebelum sampai di dapur Ia mendengar Ronald sedang berbicara di telepon sambil berbisik-bisik pelan.


"Aku gak bisa kesana. Istriku marah. Semalam kan aku sudah kesana. Ia marah aku pulang pagi. Aku harus mengantar istriku ke rumah Papa mertua. Sudah dulu nanti aku telepon lagi" Ronald menutup sambungan teleponnya. Nia bertanya-tanya dengan siapa Ronald bicara sambil sembunyi-sembunyi seperti itu. Nia mengendap-endap kembali ke kamar agar Ronald tak tahu Ia telah menguping pembicaraannya. Ia tak mau Ronald tahu Ia curiga dengan dirinya. Biarlah Ronald tetap menganggap Nia istri bodoh yang tak tahu apa-apa.

__ADS_1


Nia berpura-pura sedang memakai make up saat Ronald masuk ke dalam kamar. Ronald lalu menghampiri Nia. "Sayang, jangan marah dong. Yaudah aku temani kamu ya ke rumah Papa. Aku gak jadi kerja deh demi kamu" mulailah Ronald merayu Nia.


"Gak usah Mas. Nanti Mas kehilangan Nasabah yang penting gara-gara nganterin aku" tolak Nia acuh.


"Gak ada yang lebih penting dari kamu sayang, bahkan Nasabah sekalipun. Kamu kan tuan puteri aku" gombal Ronald.


"Bener nih aku lebih penting?" tanya Nia.


"Bener sayang. Yuk kita pergi sekarang. Aku kangen makan mie ayam deket rumah Papa. Aku ganti baju dulu ya"


Nia kembali ke dapur. Ia sudah menyiapkan masakan untuk Papa, menu yang sama dengan yang Ia masak untuk Ronald. Ia sengaja masak banyak agar Papa bisa mencicipinya juga. Semalam Ia pisahkan makanan untuk Papanya dan Ia simpan di dalam kulkas dengan tupperware. Nia memasukkan tupperware tersebut ke dalam paper bag beserta apel yang sempat dibelinya kemarin. Papa suka sekali makan apel.


"Ayo sayang. Aku panasin mobil dulu ya" Ronald sudah rapi dan wangi parfumnya, bulgari. Bukan vanila seperti yang Ia cium semalam. Mata Nia masih mengawasi dengan curiga kelakuan suaminya. Instingnya sebagai seorang istri kuat kalau ada sesuatu yang tak beres dengan suaminya tersebut. Namun Ia menepis pikiran negatifnya. Ia mau mencoba percaya pada Ronald.


Tak lama suara hp Ronald berbunyi. Ronald mulai menghentikan nyanyian kecilnya. Diliriknya siapa yang menghubungi, namun tak diangkatnya. Hp berbunyi lagi, dan tak juga diangkat.


"Kok gak diangkat Mas?" tanya Nia penuh selidik.


"Oh gak penting. Cuma sales kartu kredit. Paling mau nawarin produk. Malas aku angkatnya" jawab Ronald sambil konsentrasi mengemudi.


"Yaudah sini aku saja yang jawab" Nia berusaha mengambil hp Ronald, tiba-tiba Ronald mengerem mendadak.


"Gak usah sayang. Gak usah ditanggapi. Nanti juga capek sendiri" kata Ronald terbata-bata. Hp itu lalu tak berdering lagi. "Tuh kan sudah mati"

__ADS_1


"Oh yaudah. Jangan berhenti di tengah jalan begini. Kasian orang yang ingin lewat. Untung saja tadi rem mendadak kita masih di komplek rumah yang sepi. Kalau di jalan raya kan bahaya" ceramah Nia panjang lebar. Ah hancur sudah moodnya hari ini.


"Iya maaf sayang" Ronald kembali melajukan mobilnya. Akhirnya mereka berdua hanya diam-diaman selama perjalanan sampai rumah Papa.


Sampai di rumah Papa sedang asyik merapikan koleksi bunga anggrek miliknya. Senyum sumringahnya langsung mengembang melihat putri kesayangannya datang.


"Sehat Pa?" tanya Nia sambil mencium tangan Papa.


"Sehat dong. Nih Papa makin gendut" Papa menunjukkan pipinya yang mulai chubby.


"Bagus. Ini Nia bawakan udang asam manis dan cumi saus padang kesukaan Papa" Nia mengangkat paper bag berisi tupperware makanan buat Papa.


"Asyik. Papa mau langsung makan ah" Nia dan Papa pun tertawa bersama. Ronald menghampiri mertuanya lalu mencium tangannya.


"Ayo kalian masuk. Mau minum apa? Beli es campur saja ya. Ronald mau mie ayam juga? Kamu kan doyan banget mie ayam di depan komplek" Papa menawari Ronald.


"Boleh Pa. Tau aja Papa tadi aku bilang sama Nia kalau aku kangen sama mie ayam disini" jawab Ronald.


"Kalau kangen makanya main kesini. Kamu sih sibuk sekali sekarang jadi jarang main" protes Papa.


"Iya, Pa. Banyak kerjaan"


"Jangan lupa jaga kesehatan. Sebentar Papa telepon dulu Mas Supri tukang mie ayam biar nanti diantar kesini. Kalian masuk saja duluan" Papa lalu memesan 2 porsi mie ayam dan 4 porsi es campur dan minta diantar ke rumah.

__ADS_1


Nia langsung masuk ke dapur. Menyiapkan makanan yang dibawanya di meja makan. Nesia menghampiri kakaknya yang baru datang dan menawarkan bantuannya. "Wah enak banget nih kayaknya. Papa langsung lapar nih ngeliatnya. Papa makan duluan ya. Kalian sudah Papa pesankan mie ayam dan es campur" Papa langsung mengambil piring dan makan dengan lahapnya. Nia tersenyum senang melihat raut bahagia Papa.


__ADS_2