Pernikahan Keduaku

Pernikahan Keduaku
Weekend with Mama-2


__ADS_3

"Seharusnya Nia tuh di depan, Ma. Di samping Niel. Ini malah Mama suruh duduk samping Mama di belakang." Daniel memanyunkan bibirnya.


"Udah kamu jadi supir kita berdua saja. Jangan bawel!" Daniel makin memanyunkan bibirnya sambil mengguman tidak jelas.


Daniel masih saja bertengkar dengan Mamanya. Daniel maunya Nia duduk di kursi penumpang dan Ia yang bawa mobilnya. Namun Mama dengan sigap menarik Nia dan mengajaknya duduk belakang sebelahnya. Sudah bisa ditebak, sejak tadi Daniel ngedumel saja sepanjang jalan.


"Kita ke Mall Y saja. Disana ada pijat reflexi yang bagus. Nanti kamu pijat agak lamaan saja. Biar gak gangguin kita shopping." Mama mulai lagi memancing Daniel.


Mereka memang samanya. Selain wajah mereka yang amat mirip ternyata sikap dan sifat mereja juga sama. Pantas saja banyak orang bilang kalau anak dan orang tua wajahnya sama, pasti akan sering ribut. Daniel dan Mama inilah contohnya.


"Gak jadi pijat kalo gitu. Aku ikutin aja kemana kalian pergi!" ancam Daniel.


"Gak mau ah. Mama mau ngeborong celana dalam sama bra. Kamu mau gitu masuk ke toko pakaian dalam?" tantang Mama lagi.


"Biarin. Daniel gak takut!"


Nia kembali menengahi lagi mereka berdua. "Kamu istirahat saja ya Sayang di pijat reflexi. Kamu kan capek habis dari luar kota semalam. Biar pegal kamu hilang. Nanti aku telepon kalau sudah selesai belanjanya."


"Kalau kamu yang nyuruh baru aku nurut he..he...he..." Daniel mulai menggoda Mamanya lagi.


"Lupa ya sama yang ngelahirin kamu? ingetnya sama yang bikin enak kamu doang!" gerutu Mama.


"Gak lah, Ma. Walau bagaimanapun Mama tetap No. 1. Oke, sudah sampai." Daniel menuunkan Mama dan Nia di lobby, Ia lalu membukakan pintu untuk Nia dan Mama. "Ladies, have fun ya....."


"Iya. Ayo Nia." ajak Mama.


"Weits, sebentar dulu. Nia, cium dulu dong!" Daniel memajukan bibirnya.


"Niel, ini di tempat umum loh! jangan lebay ah." protes Mama.


"Beb... mana ciunnya?" Nia menuruti saja perintah suaminya. Ia mencium cepat bibir Daniel.


"Muach... aku pergi dulu ya." Mama sudah menarik tangan Nia sebelum Daniel minta yang aneh-aneh lagi.

__ADS_1


"Daahhh.... " Daniel kembali masuk ke dalam mobil. Tidak Ia hiraukan pandangan orang-orang yang melihatnya berciuman di lobby tadi.


Berbeda dengan Daniel, Mama sejak tadi menggerutu karena ulah anaknya. "Itu anak ya kelakuannya konyol banget. Jangan kamu ikutin terus Nia kalau Dia minta yang aneh-aneh. Pake minta cium di depan umum lagi! Kan Mama malu diliatin orang banyak."


"Iya, Ma." Nia senyum-senyum saja melihat Mama yang menggerutu saja sejak tadi.


Mama terus menggandeng tangan Nia selama di Mall, seperti takut Nia akan tersasar. Nia senang saja diperlakukan seperti itu. Inilah yang Ia inginkan sejak dulu, punya mertua yang menyayanginya seperti anak sendiri.


Mereka keluar masuk toko, melihat hal-hal yang dianggap lucu lalu keluar dengan membeli barang yang mereka suka. Begitu seterusnya hingga tanpa terasa sudah jam 3 sore. Perut pun terasa lapar.


Nia membuka hp nya. Ada 10 misscall dari Daniel. Ia lupa merubah mode silent di Hpnya jadi Ia tak tahu kalau Daniel meneleponnya. Nia segera menelepon Daniel balik.


"Maaf Sayang Hp aku silent. Kamu dimana?" tanya Nia begitu sambungan teleponnya terhubung.


"Begitu ya, jalan sama Mama terus lupa sama aku? Huh" Daniel ngambek karena Nia melupakannya dan asyik sendiri dengan Mama.


"Maaf. Kamu tau sendiri Hp belum aku setting lagi sejak di kantor kemarin. Jangan marah dong." Mama yang baru saja membayar belanjaan di kasir menghampiri Nia yang sedang menelepon.


"Sini Mama yang ngomong!" Nia memberikan Hp yang dipegangnya pada Mama. "Kamu dimana Niel?"


"Yaudah Mama mau panggil temen Mama yang anaknya ganteng buat bawain belanjaan. Kamu main aja sendiri sana!"


"Eits... Jangan gitu Ma. Daniel di kedai kopi nih. Mama dimana? Daniel kesana sekarang ya."


"Di Zar*. Cepat kesini. Banyak yang ngelirik Nia nih!" pancing Mama.


"Iya...iya.. Daniel kesana sekarang. Jagain Nia ya Ma. Awas ada yang ngambil!" Daniel langsung bangun dan membawa es kopi yang baru diminumnya sedikit. Ia tak mau ada yang melirik Nia.


"Nih, sudah beres. Sebentar lagi Daniel kesini." Mama memberikan Hp yang dipakainya pada Nia.


"Wah Mama hebat. Langsung datang loh Dia. Tuh lagi lari dari bawah he...he..he..." Nia menunjuk Daniel yang berlari dari bawah menuju tempatnya dan Mama Asri berada.


"Mama tuh pawangnya Daniel. Biar ngeyel kayak apapun kalau Mama sudah bicara pasti Dia nurut. Walau kayak gitu Dia sangat mencintai kamu Nia. Jangan sampai kamu melepas cinta Daniel ya sayang." Mama lalu mengelus lembut rambut Nia.

__ADS_1


"Iya, Ma. Nia juga sayang banget sama Daniel."


Tiba-tiba Daniel sudah sampai di dekat mereka. "Stop, Ma. Jangan pegang-pegang Nia. Itu punya Daniel!" nafas Daniel masih terengah-engah sehabis berlari.


"Huh, lebay!" Mama protes tapi akhirnya menurunkan tangannya dari rambut Nia.


Nia mengambil tissue dari tasnya dan mengusap keringat yang bercucuran dari dahi Daniel. "Jangan lari-larian gitu ah, nanti jatuh saja. Aku nungguin kamu kok tenang saja."


"Aku sih percaya sama kamu." Daniel menyeruput es kopinya sambil menarik nafas. "Tapi aku gak percaya sama Mama. Tadi Mama bilang banyak yang melirik kamu. Aku gak rela kamu dilirik banyak orang, apalagi laki-laki hidung belang."


"Gak ada laki-laki yang melirikku kok. Siapa yang bilang?" Nia bingung dengan perkataan Daniel.


"Mama bilang banyak yang ngelirik kamu?" Daniel dan Nia menatap Mama Asri bersamaan meminta jawabannya.


"Kenapa? Mama gak bohong kok. Banyak baju yang minta dilirik Nia. Memangnya Mama bilang kalau banyak laki-laki yang melirik Nia?" raut wajah Mama tanpa berdosa.


"Mama!!!"


Nia lagi-lagi hanya tertawa melihat ulah mereka. Tak lama Mama mengajak mereka makan di restauran all you can eat. Mama bahkan menyuapi Nia makan. Sudah bisa ditebak apa yang akan terjadi.


"Ih.. jangan nyuapin Nia, Ma. Itu punya Daniel!" Daniel lalu menyuapi Nia menggantikan Mama.


"Lebay.. lebay... Makanya pacaran dari dulu. Biar gak lebay kayak gini." gerutu Mama.


"Gak apa-apa, Ma. Nia suka kok dimanja sama Daniel kayak gini. Ayo suapi aku lagi. Aaa..."


"Cocok ya kalian berdua. Mama kayak obat nyamuk saja. Udah ah Mama mau minta jemput Papa saja. Kalian gak seru lagi." Mama lalu menelepon Papa dan minta dijemput.


Setengah jam kemudian Papa telah sampai, kebetulan Papa ada kerjaan dekat Mall ini. Nia dan Daniel mencium tangan Papa.


"Mama pulang dulu ya. Baik-baik kalian. Kalau kamu kesepian telepon Mama. Dadah..." Mama dan Papa beranjak pergi tapi Nia memanggil Mama.


"Ma tunggu. Belanjaan Mama ketinggalan!"

__ADS_1


"Gak usah. Itu memang buat kamu kok. Mama sudah punya banyak. Kalian seneng-seneng saja layaknya pengantin baru, oke?"


Nia memandang banyaknya tas belanjaan yang Mama beli. Betapa baiknya Mama Asri. Terima kasih Tuhan telah mengirimkan keluarga baik ini padaku.


__ADS_2