
Nia mengemudikan mobilnya dengan santai. Ia masih memikirkan perkataan Daniel. Apakah pernikahannya akan dilanjutkan atau berakhir begitu saja? Jarak rumah dan mall yang tak begitu jauh membuat perjalanan Nia tak terasa sudah sampai depan rumah. Ia pun memarkirkan mobilnya.
Nia menarik nafas dalam dan menghembuskannya. Dibersihkannya bekas air mata di wajahnya dengan sapu tangan yang diberikan oleh Daniel. Harum sapu tangan yang tak pudar walau berkali-kali dipakai menghapus air matanya. Nia memasang wajah tersenyum dan baik-baik saja agar Ronald tak curiga lalu turun dari mobil.
Pintu rumahnya terbuka lebar. Seperti ada tamu yang berkunjung. "Siapa ya yang datang?" tanya Nia dalam hati. Nia melepas sandalnya di depan rumah lalu menaruh di tempat sepatu yang sudah tersedia.
"Aku pulang" Nia celingak celinguk mencari siapa tamunya.
"Akhirnya kamu pulang juga. Ada Mama tuh datang. Katanya kangen sama kamu" kata Ronald menyambut kedatangan Nia.
Kangen? Sejak kapan Mama Sri kangen sama aku? kalau benci iya sejak lama.-Nia.
Tak lama Mama Sri keluar dari dapur dan menyambut Nia.
"Sayang kamu kemana sih? Mama datang kamu pergi. Kan Mama kangen sama kamu" Mama Sri langsung cipika cipiki dan memeluk Nia, sementara Nia masih kebingungan dengan sikap Mama Sri yang tak biasanya.
"Maaf Ma tadi Nia ketemuan sama teman Nia" kata Nia berbohong.
"Yaudah kita makan sama-sama ya. Mama masak gulai kepala kakap nih. Spesial buat kamu. Tadi Mama beli di pasar langsung Mama kesini dan masak disini jadi masih hangat. Yuk kita makan" Mama lalu menggandeng Nia yang masih keheranan ke meja makan. "Nal, ayo kamu juga ikut makan"
Ronald pun mengikuti Mama dan Nia menuju meja makan. Disana sudah tersedia gulai kepala kakap lengkap dengan nasi dan juga lalapan serta sambal. Nia mencuci tangannya terlebih dahulu lalu duduk di samping Mama Sri.
"Ayo makan yang banyak. Ini masakan favorit Papanya Ronald dulu. Mantap deh rasanya" Mama Sri bahkan menyendokkan nasi untuk Nia dan mengambilkannya lauk.
__ADS_1
"Sudah Ma jangan banyak-banyak" Nia lalu menerima piring berisi nasi dan lauk yang sudah diambilkan Mama Sri. "Makasih Ma"
Nia makan dengan diam. Ia masih kenyang habis makan tiramisu. Rasa masakan Mama walau lezat namun karena hatinya sakit tetap saja terasa hambar, masih lebih enak tiramisu yang dimakannya tadi.
"Kamu kenapa Nia? Dari tadi Mama perhatikan kamu diam saja. Kamu sakit?" tanya Mama Sri penuh perhatian.
"Iya sayang. Kamu kenapa?" kali ini Ronald yang bertanya.
Gara-gara kamu yang berselingkuh aku jadi begini- Nia.
"Aku gak apa-apa kok. Tadi waktu ketemu teman aku sudah makan kue jadi masih agak kenyang saja" Nia lalu memasang wajah tersenyum agar ibu dan anak itu tak curiga.
"Syukurlah kamu sehat-sehat saja. Mama kan khawatir kalau kamu sampai jatuh sakit" Mama Sri mengusap tangan Nia menunjukkan perhatiannya.
"Makasih ya Ma atas perhatiannya. Aku jadi ingat Mama dulu waktu masih ada perhatian banget sama aku. Kalau aku ada masalah Ia selalu ada membelaku. Jadi kangen sama Mama"
"Kan kamu sekarang ada Mama. Mama kan Mama kamu juga" Mama Sri lalu mengusap lembut kepala Nia.
"Iya Ma"
"Sudah ayo kita makan lagi. Nanti dingin tak enak" Mereka pun kembali makan bersama.
Selesai makan Nia membereskan meja makan dan mencuci piring. Sementara Mama dan Ronald asyik mengobrol sambil menonton tv.
__ADS_1
Nia mengendap-endap ingin kembali ke kamar dan tak gabung dengan mereka, namun sayangnya Mama Sri memanggil.
"Nia, sini gabung sama Mama dan Ronald. Mama bawa cemilan keripik buah nih oleh-oleh dari teman Mama"
Dengan berat hati Nia bergabung dengan Mama dan Ronald. Lagi-lagi Nia hanya diam saja dan menanggapi obrolan Mama dengan dingin. Nia sibuk bermain hp dan membaca pesan yang masuk.
"Nia, taruhlah dulu hp kamu. Mama mau bicara" Nia buru-buru menaruh hp nya.
"Maaf Ma td ada teman Nia nanya sesuatu. Mau bicara apa ya?" tanya Nia lagi. Tiba-tiba hp Ronald berbunyi, Ia pun pergi meninggalkan mereka untuk mengangkat telepon. Padahal Nia sudah ingin menguping pembicaraan Ronald eh malah diajak ngobrol sama Mama.
"Mama mau minta maaf sama kamu, Nia. Selama ini Mama sudah banyak menyakiti hati kamu. Mama sudah berburuk sangka dan sering menyudutkan kamu karena kalian belum juga dikaruniai buah hati. Mungkin Tuhan marah sama Mama, akhirnya Mama tahu kalau ternyata anak Mama lah penyebab semuanya" Mama menyeka air matanya yang mengalir. Dengan tersedu-sedu Mama melanjutkan lagi perkataannya. "Dan yang membuat Mama merasa sangat bersalah adalah kamu yang selalu setia mendampingi anak Mama dengan tulus bahkan disaat Ia mempunyai kekurangan sekalipun kamu tak mengeluh, malah menyemangatinya. Ronald sangat beruntung mendapatkan kamu. Mama berterima kasih sama Tuhan karena telah memberikan kamu ke dalam kehidupan Ronald. Apa jadinya Ronald jika tidak menikah dengan kamu yang menerimanya apa adanya. Terima kasih sayang" Mama Sri lalu memeluk Nia.
Nia yang masih keheranan dengan sikap Mama hanya bisa mengelus punggung Mama agar menenangkannya. Ia tak menyangka bahkan Mama Sri yang dikenalnya sangat menyebalkan dan sering menyakitinya malah menurunkan harga dirinya untuk meminta maaf pada Nia.
Mama Sri lalu melepaskan pelukannya. Nia memberikan kotak tissue yang langsung diambil Mama untuk mengelap air mata dan hidungnya.
"Janji ya sayang tetap temani Ronald. Mama minta dengan sangat sama kamu. Jika Mama sudah tak ada lagi di dunia ini, Mama akan tenang jika menitipkan Ronald pada kamu yang tulus mencintainya" Mama Sri menatap Nia dengan tatapan memohon.
Nia memikirkan kata-katanya dahulu sebelum menjawab permintaan Mama. Jika saja Ronald tidak selingkuh maka Ia tak akan berpikir ulang, Ia pasti akan mendampingi Ronald selamanya walau mereka takkan diberi momongan sekalipun, sesuai janjinya saat mereka menikah dahulu. Namun kini semuanya berbeda. Ronald yang pertama kali menghianatinya. Bohong kalau Ia bilang segalanya akan baik-baik saja.
"Sejak menikah, Nia sudah berjanji pada Tuhan akan menerima Ronald apapun yang terjadi, baik suka maupun duka. Sehat maupun sakit. Nia akan menepati janji Nia, Ma. Jika.... Ronald juga menepati janji yang dibuatnya pada Tuhan saat kami menikah dulu" kata Nia tegas. Mama Sri tak menyangka Nia akan menjawab seperti itu. Ia pikir Nia akan pasrah saja dan manut segala permintaannya. Namun kini Nia sudah berubah. Nia sudah berani membela dirinya sendiri.
****
__ADS_1
Terima kasih atas semua dukungannya. Aku senang banget banyak yang suka sama novel aku. Cita-cita menjadi novelis yang sempat terkubur akhirnya bisa aku wujudkan. Tetap dukung aku ya. Please like dan vote supaya aku bisa makin semangat nulis.