
Daniel mendengarkan cerita Nia dengan seksama. Rumitnya persoalan hidup Nia. Cobaannya seakan tiada akhir.
"Baiklah. Aku akan membeli rumah Papa kamu. Gak usah kamu pikirin lagi masalah keuangan saudara-saudara kamu yang sebenarnya mereka juga gak mikirin kamu sih. Aku akan beli sesuai bagian mereka. Nanti aku ubah nama kepemilikannya atas nama kamu."
Agak kaget Nia mendengar perkataan Daniel. "Jangan, Niel. Aku gak mau. Aku cuma mau kamu yang beli rumah Papa agar aku bisa terus merawat tanaman kesayangan Papa. Aku gak minta rumah itu jadi milik aku." tolak Nia dengan halus.
"Aku yang mau kok. Sudah kamu tenang saja."
"Bukan itu. Aku gak mau kamu mikirnya aku nikah sama kamu karena harta saja. Aku gak seperti itu."
"Aku tau siapa kamu, Nia. Anggap saja kamu membeli rumah itu dari aku dengan jatah bagian kamu, oke?"
Tak ingin berdebat terlalu lama, Nia pun mengiyakan permintaan Daniel.
"Baiklah. Terima kasih ya, Niel. Kamu tuh malaikat penolong aku yang dikirimkan oleh Papa."
"No...no....no... bukan malaikat penolong. Tapi calon suami kamu. Kapan kita nikah?" Daniel menagih janji Nia.
"Secepatnya. Aku juga gak mau berlama-lama menyandang status janda ini. Tapi....."
"Tapi apa lagi?" tanya Daniel tak sabaran.
"Tapi kalau rumah tangga kita tanpa dilandasi cinta gimana?"
"Lagi-lagi kamu menanyakan hal itu. Baiklah begini saja. Kita berumah tangga tapi tak ada keharusan melakukan hubungan suami istri. Saat kita sudah saling mencintai baru kita akan melakukannya, gimana?" Daniel mencoba membuat kesepakatan dengan Nia.
"Oke. Aku setuju." jawab Nia tanpa pikir panjang.
"Oke. Minggu besok kita nikah!"
"Tapi ngurus surat-suratnya gimana?"
"Tenang aja. Kan ada Papa. Santai. Aku telepon Papa dulu ya."
Daniel lalu menghubungi Papa dan Mamanya dan memberitahu rencana pernikahan mereka. Kedua orang tuanya menyambut bahagia rencana pernikahan mereka.
"Ni, Mama minta kamu main ke rumah" kata Daniel setelah menutup sambungan teleponnya dengan kedua orang tuanya.
__ADS_1
"Kapan? aku juga mau ketemu dan mau ngucapin terima kasih langsung sama kedua orangtuamu. Aku belum pernah ngobrol langsung. Selama ini ketemu hanya di moment tertentu, kayak perceraian dan ketika Papa meninggal. Aku banyak hutang budi sama mereka."
"Besok ya aku jemput kamu. Kita ke rumah calon mertua kamu."
"Siap, boss."
"Ni..." panggil Daniel lagi.
"Kenapa lagi?"
"Mau beli pecel sama gorengan. Kayaknya enak tuh" Daniel menunjuk tukang pecel yang banyak berjualan di dalam Ragunan.
"Ya ampun... kirain mau apa. Yaudah kalo pecel doang mah aku mampu. Mau beli berapa? biar aku traktir." Nia langsung memesan pecel yang dari tadi sudah diincar Daniel.
"Huft... ngaku orang kaya, liat pecel aja ngiler banget." gerutu Nia sementara Daniel hanya tertawa melihat Nia yang menggerutu. Baginya sangat menggemaskan melihat Nia menggerutu seperti itu.
*******
Nia memandang dirinya di depan cermin. Ia mengenakan blouse warna biru doungker dan celana bahan warna yang senada. Jam tangan di pergelangan tangan kirinya menambah manis penampilannya hari ini. Make up nya natural, membuat dirinya terlihat segar dan cantik alami.
Jam 10 pagi Daniel sudah sampai di depan rumah Nia. Dengan memakai celana jeans dan kaus berwarna merah Ia terlihat tampan. Ditambah kacamata sunglass hitam makin terlihat cool. Nia terkadang suka silau melihat cowok yang menjemputnya ini. Terlalu berkilau, begitu pikir Nia.
Daniel mendekati Nia dan membantu membawakan kue yang dibawa Nia. "Bawa apaan aja sih? banyak banget."
"Cuma bawa puding sama kue bolu aja kok. Aku bingung mau bawa apa lagi."
"Gak usah repot-repot. Kamu datang aja Mama sudah senang banget."
Nia tersenyum senang, membayangkan punya Mama mertua yang baik seperti Mama Daniel. Itu yang diimpikannya sejak dulu.
*******
Nia tiba di rumah Daniel yang sangat megah dan luas. Beberapa mobil terparkir di garasinya yang sangat luas itu. Setelah memarkirkan mobil, Nia dan Daniel masuk ke dalam rumah.
Daniel mengajaknya masuk ke bagian tengah rumah. Ada kolam renang di dalam rumah dan juga meja makan yang sudah disiapkan menyambut kedatangannya.
Mama Daniel tersenyum menyambut kedatangan Nia. "Selamat datang calon menantu kesayangan Mama...." Nia langsung dipeluk Mama Daniel. Baru kali ini Ia merasa sangat disayang oleh mertuanya. Rasanya sangat menyenangkan.
__ADS_1
"Sehat, Tante?" tanya Nia.
"Mama. Bukan Tante lagi, ya. Mama sehat. Apalagi mendengar kalian akan segera menikah, makin sehatlah Mama ini." Nia tersenyum senang.
"Sehat, Om?" tanya Nia sambil mencium tangan Pak Darmawan.
"Kok Om? Papa. Papa sehat sayang."
"Iya. Papa." semuanya tertawa melihat kekikukan sikap Nia.
"Ayo kita ngobrol sambil makan cemilan. Nia sayang, makasih ya buah tangannya. Mama suka sekali puding regal. Kamu bikin sendiri ya?"
"Iya, Tan.. eh Ma.." Nia lalu mengikuti Mama Daniel duduk mengobrol di ruang tengah. Sudah ada minuman dan cemilan yang disediakan untuknya.
"Silahkan diminum dan makan cemilan Nia." Pak Darmawan menawari Nia makanan dan minuman.
"Iya, Pa." Nia mengambil kue bolu keju yang terlihat lezat. Benar saja, rasanya sangat enak. Pasti mahal begitu pikir Nia.
"Papa dengar kamu akhirnya setuju untuk menikah dengan Daniel. Benarkah?" Pak Darmawan bertanya memastikan kebenarannya.
"Iya benar, Pa." jawab Nia.
"Kita sepakat minggu besok menikah, Pa." Daniel membantu Nia menjawab.
"Wah bagus itu. Kalian mau merayakannya dimana? Hotel Bintang 5 atau mau di Balai Kartini saja?"
"Daniel sih terserah Nia saja, Pa." jawab Daniel.
"Hmm... maaf Pa, Ma... Boleh tidak acaranya sederhana saja?" usul Nia.
"Loh kenapa sayang?" tanya Mama Daniel heran, biasanya pengantin wanita senang jika pestanya dirayakan besar-besaran. Ini Nia malah menolaknya.
"Jujur Ma.. Pa... Nia malu dengan status Nia sekarang. Nia bukan anak gadis lagi. Nia mau pernikahan yang penting sah dan sekali untuk selamanya. Tak perlu pesta mewah yang hanya menghamburkan uang. Maaf ya Ma... Pa..."
Mama tersenyum mendengar perkataan calon menantunya tersebut. Ia tidak matrealistis seperti wanita lain. Pantas saja Pak Adi akhirnya mau menjodohkan anaknya dengan Daniel. Ternyata anak yang dipilihnya adalah anak terbaik yang dimiliki. Yang hatinya tulus dan tak mengharap balas budi.
"Baiklah sayang kalau itu mau kamu. Kita selametan saja ya. Hanya mengundang saudara dekat saja. Mama mendukung apapun keputusan kalian. Asalkan kalian bahagia." Nia tersenyum senang dengan kebijakan hati mama mertuanya tersebut. Semoga rumah tangganya nanti akan bahagia sampai maut memisahkan.
__ADS_1