Pernikahan Keduaku

Pernikahan Keduaku
Bali-3


__ADS_3

"Udah cepet mau makan apa?" tak sabar Daniel menunggu jawaban Nia.


"Aku kangen sama kamu." Nia malah menjawab pertanyaan yang tidak ditanya Daniel. Mendengar perkataan Nia wajah Daniel yang semula masih ada sisa emosi berubah merah padam karena malu.


"Aku pesankan ayam betutu saja. Ada yang mau dipesan lagi gak?" Daniel masih tidak mau senyum, nampaknya emosi masih singgah di hatinya.


Nia menjawab dengan menggeleng. Daniel menghembuskan nafas berat, mencoba menahan kekesalannya. "Yaudah kalau gak mau pesan lagi." Daniel berkutat dengan aplikasi Go Food di Hpnya dan memesan ayam betutu yang terkenal enak di dekat villa. Ia juga memesankan es kuwut khas Bali.


"Yang...." Nia bangun dari tidurnya dan memegang tangan Daniel, mencoba mengambil hati Daniel agar tidak marah lagi


"Hmm..." jawab Daniel singkat.


"Udah dong marahnya."


"Kamu udah sehat kan? Nanti makan makanan yang sudah aku pesankan." Daniel lalu berteriak memanggil Anton. "Luk... Buluk...!!"


Anton datang sambil bermain PSP dan berjalan pelan, tidak seperti tadi sampai lari-larian. "Iya, kenapa?" matanya tak lepas dari games yang dimainkan.


"Liat dulu ngapa!" perintah Daniel. Anton pun mem-pause games yang dimainkannya dan mendengarkan perintah Daniel.


"Ini Nia. Kenalan dulu gih." Nia dan Anton pun saling berjabat tangan.


"Kalau abang Gojek datang kasih makanannya ke Nia." perintah Daniel.


"Emang mau kemana sih Boss? Pake nyuruh segala?" Anton protes bukan bertanya ya sama Daniel. Protes.


"Udah jangan bawel. Bawain kopernya ke kamar di villa 1."


"Bukannya kamar Boss di Villa 2? Kenapa gak taro di kamar Boss aja sih?!" Anton protes lagi.


Nia menatap Daniel heran. Kenapa Ia harus tidur di kamar yang berbeda dengan Daniel? Apa Daniel semarah itu pada dirinya karena diantar Ronald?


"Yang -" ucapan Nia terpotong karena Daniel masih bicara dengan Anton.


"Udah taro aja jangan bawel. Itu ayam betutu udah dipesenin 2, ambil aja!" Daniel mengacuhkan omongan Nia.


"Wah kalo gitu mah siap aja, Boss!" jawab Anton senang karena akan dapet makan gratisan. Anton pun membawa koper pink milik Nia ke kamar di Villa 1.

__ADS_1


"Aku pergi dulu. Baru balik malam. Ada urusan. Kalau ada apa-apa minta aja sama Buluk." Daniel masih membuang pandangannya agar tidak menatap mata Nia.


"Tapi Yang-" Nia berusaha menarik tangan Daniel.


"Maaf aku udah ada janji sama orang. Udah telat. Kamu langsung tidur saja, gak usah nunggu aku pulang." Daniel melepaskan tangan Nia lalu mengambil kunci mobilnya. Ia pun meninggalkan Nia yang menatapnya sedih.


********


"🎶Aku suka poni goyang mama muda... mama muda... dadadadadada..🎶" terdengar suara Anton sedang bernyanyi sambil matanya tak lepas dari Psp yang dimainkannya.


Anton menghentikan suara tatkala melihat istri sang boss sedang melamun sedih. Nia tak bergerak sejak tadi hanya diam termenung. Anton mengedarkan pandangannya mencari keberadaan sang boss yang tidak Ia temukan. Mobilnya pun tidak ada di halaman depan.


Bos yang aneh, bininya yang cakep gini dateng malah ditinggal pergi bukan ditemenin. Klo gak mikir bini temen udah diembat nih- Anton.


Anton mematikan game Psp yang sejak tadi dimainkannya. Ia pun berjalan menghampiri Nia.


"Boss mana Nyonya?" pertanyaan Anton membuat Nia bingung. Nia menunjuk ke arah dirinya bertanya kalau julukan Nyonya itu untuknya.


"Iya Nyonya. Istrinya Bos kan Nyonya." Anton menjawab kebingungan Nia.


"Ih baek bener nih istri si Bos. Gak kayak si Bos yang semena-mena, istrinya mah baek deh. Top." Anton mengacungkan kedua jempolnya.


"Memangnya Daniel sejahat itu apa?" selidik Nia. Ini saatnya mengenal sifat Daniel lebih jauh lagi.


"Gak kok. Saya becanda aja, Non."


"Loh panggilannya beda lagi." Nia mulai menyunggingkan senyumnya. "Emang kamu diapain aja sama Daniel. Takut bener kayaknya. Cerita aja lagi, gak apa-apa kok."


"Bukan gitu, Non. Si Bos itu emang orangnya baik. Baaaiiikkkkk bener. Tapi kalo udah marah... uh serem. Lama lagi baiknya."


Deg.. perkataan Anton membuat Nia takut. Nia tahu tadi Daniel marah karena Daniel tahunya Nia berangkat bareng Ronald kesini. Kalau memang perkataan Ronald benar, Nia takut kemarahan Daniel akan sulit dipadamkan.


"Udah gak usah dipikirin. Si Bos emang gitu orangnya. Ntar juga baik sendiri." Anton yang melihat raut khawatir di wajah Nia berusaha menenangkannya. Pantas saja si Bos pergi saat istrinya datang, lagi marah ternyata.


"Berantem ya sama si Bos?" tebak Anton.


Nia agak gelagapan menjawab pertanyaan Anton yang tepat sasaran itu. "Hmm... gimana ya jelasinnya. Jadi.. tadi...aku kesini. Tapi bareng sama mantan suamiku."

__ADS_1


"Mantan suami? emang situ dulu jendes?" ceplos Anton. Nia mengangguk. Jawaban Nia mengagetkan Anton. "Daniel gak pernah bilang loh kalau istrinya jendes. Dia mau nikah aja yang denger udah seneng sih."


"Memang kenapa kalau janda? Gak boleh?" kata Nia tersinggung dengan statusnya yang banyak dipermasalahkan orang lain.


Anton yang melihat perubahan wajah Nia langsung buru-buru minta maaf. "Eh.... maaf nih. Beneran gak ada maksud apa-apa kok. Kan si Bos juga udah duda. Maaf ya."


"Iya." Nia memaafkan Anton yang terlihat sungguh menyesali perkataannya.


"Terus lanjutin lagi dong ceritanya. Kan si Non dateng tadi sama mantan suami terus apalagi?"


"Ya terus Daniel salah paham deh. Dikiranya aku sama mantanku barengan kesini. Padahal kenyataannya gak kayak gitu. Aku memang gak sengaja ternyata satu pesawat bahkan satu tempat duduk sama Dia. Nah pas di Bandara perut aku sakit, mantanku menawarkan mengantar sampai sini karena kasihan liat aku. Sekarang Daniel curiga sama aku." Nia menunduk sedih.


Ah Anton tak tega melihat istri bosnya sesedih itu. Si Bos juga kebangetan sih, ada masalah malah kabur ninggalin bininya sendiri bukan diomongin baik-baik.


"Kayaknya Daniel pergi karena marah deh sama aku. Gimana dong?" tanya Nia pada Anton. Anton yang sudah mengenal Daniel sejak masih kecil pasti lebih tau sifatnya dibanding Nia yang baru menikahinya belum sampai satu bulan.


"Si Bos emang kayak gitu. Marah, kesel bahkan ada masalah pun dipikirin sendiri. Kayak sekarang ini nih pasti lagi pendam amarahnya sendiri. Sifatnya memang kayak gitu. Saya aja udah sering didiemin sama Dia kalau bikin salah."


"Terus gimana biar Dia gak marah lagi?"


"Diemin aja. Ntar juga baek sendiri. Malah nanti kita yang dibaik-baikin sama Dia. Biarin aja amarahnya reda dulu. Ayo saya antar ke Villa 1, Non."


Nia mengikuti langkah Anton pelan-pelan. Anton berbalik dan melihat Nia khawatir. "Beneran sakit banget, Non? Saya gak berani gendong nanti keliatan CCTV bisa habis saya diomelin sama si Bos." gerutu Anton.


Nia tersenyum lucu melihat ulah Anton. Pantas saja Daniel sayang sama Dia, orangnya manut dan nurut banget setiap perkataan Daniel, menjaga perasaan Daniel pula. "Aku bisa kok jalan pelan-pelan tapinya."


"Siap." Anton mensejajarkan langkahnya dengan Nia yang berjalan pelan. Sambil menjelaskan satu persatu tentang Villa milik Daniel.


"Jadi ini salah satu Villa punya Si Bos. Diantara yang lain Si Bos paling suka villa ini. Ada 3 Villa utama. Kebetulan yang paling besar justru Villa 3. Hari ini sudah ada yang booking."


"Bagus ya, pemandangannya juga bagus." puji Nia melihat salah satu bisnis suaminya.


"Weits jangan salah. Ini salah satu Villa yang terlaris di Seminyak. Makanya banyak saingannya." pamer Anton.


"Setiap Villa ada private poolnya alias kolam renang pribadi. Nanti jangan kaget ya kalau liat Bule banyak yang renang tanpa busana!"


"Apa?" Nia membayangkan suaminya melihat pemandangan seperti itu tiap hari. Makin tak mau Nia jauh-jauh dari suaminya.

__ADS_1


__ADS_2