
"Ton, tolong panggilin semua karyawan kesini sekarang." perintah Daniel pada Anton.
"Tan...Ton... Tan... Ton... panggil yang bener ah" Anton mulai lagi membuat Bosnya jengkel.
"Anton, cepetan!" mulai agak gemas nih Daniel.
"Antony si Tampan, tolong panggilkan semua karyawan kesini. Kalau bilang kayak gitu baru aku mau angkat pantat deh." ledek Anton lagi. Kapan lagi mengerjai Bosnya kalau bukan sekarang. Ah...salah satu yang berbahagia mendengar Nia hamil adalah Anton. Ibaratnya saat ini setan amarah dalam diri Daniel dibelenggu selama 9 bulan.
Daniel menghembuskan nafas beratnya. Dengan terpaksa Ia menuruti kemauan Anton. "Anton si Tampan, anak buahku tersayang... Tolong Nak panggilkan semua karyawan suruh berkumpul disini!"
"Siap, Papa." dengan senyum lebar Anton pun berlari sambil bernyanyi. Senang sekali suasana hatinya hari ini.
Daniel kembali mengelus-elus perut Nia. "Amit-amit jabang bayi... jangan sampai kamu mirip Dia ya Nak. Papa gak rela kalau kamu mirip Dia."
"Udah ah kamu dari tadi berantem melulu sama Mas Anton." protes Nia.
"Habisnya Anton tuh dari tadi ngeledekkin aku melulu." Daniel mengadu pada Nia layaknya anak kecil.
Daniel lalu menaruh kepalanya di paha Nia. Sejak tadi tak terhitung sudah berapa kali Ia mengelus lembut perut Nia yang masih rata.
"Bisa keluar jin kayaknya perut aku kalau kamu elus-elus melulu."
"Iiih kamu mah. Aku kan lagi ngajak ngobrol calon anak kita." omel Daniel pada Nia yang mengganggu dirinya sedang membacakan cerita sambil sesekali mencium perut Nia.
Terdengar beberapa langkah kaki mendekat. Anton sudah mengumpulkan para karyawan yang bekerja di Villa. Ini seperti morning briefing waktu Nia bekerja dulu. Ah baru 2 hari berhenti kerja sudah lama saja rasanya. Apakah Nia akan betah nanti jadi pengangguran? Nia harus memikirkan akan mengisi waktu luangnya dengan apa nanti.
"Yang, bangun. Banyak karyawan kamu datang tuh. Kan malu kamu masih tiduran di paha aku." omel Nia. Bukannya lekas bangun dan menghadapi karyawannya eh Daniel masih asyik saja tiduran.
"Sore, Pak." Sapa semua karyawan Daniel.
"Sore." Akhirnya Daniel duduk juga setelah semua mata memandang malu-malu melihat kemesraan mereka berdua.
"Sebelumnya kalian pasti sudah melihat ada bidadari cantik yang ada disini sejak kemarin. Nama bidadari di samping saya adalah Nia. Istri saya." Daniel kemudian memperkenalkan satu persatu karyawannya pada Nia. Nia menyalami mereka satu persatu sambil tersenyum.
"Udah ya jangan kebanyakan mandangin istri saya. Dia memang cantik, tapi hanya saya saja yang boleh memandang Dia sepuas-" belum selesai Daniel bicara sudah ada Anton yang menyeletuk.
"Lebay amat!" celetuk Anton yang langsung mendapat pandangan tajam Daniel.
"Biarin aja!" masih saja Daniel menjawab celetukan Anton. Membuat Nia hanya geleng-geleng kepala melihat ulah mereka. Pantas saja saat dulu Nia mengira mereka berpacaran reaksi Daniel hanya tertawa saja. Mana mungkin mereka pacaran? Bodohnya Nia dulu termakan hasutan Ronald.
"Setelah kalian mengenal istri saya, saya mau mulai sekarang jika istri saya memerlukan sesuatu atau menginginkan sesuatu harap dipenuhi. Apalagi kalau saya tidak ditempat. Perlakukan Ia seperti kalian memperlakukan saya." pesan Daniel kepada seluruh anak buahnya.
"Siap Pak!" jawab seluruh anak buah Daniel kompak.
"Dan satu lagi. Saat ini istri saya sedang hamil muda-"
"Yang anaknya mirip Anton ganteng itu loh." lagi-lagi Anton memotong perkataan Daniel.
__ADS_1
"Ton! Ah elaaaaah...." Daniel mulai merengek sebal.
Ampun deh kamu, Niel. Banyak karyawan jangan merengek manja gitu deh. Hmm...ternyata dibalik sifat kamu yang berwibawa makin terlihat kekurangan kamu yang justru membuatku merasa amazing - Nia.
Nia menggenggam tangan Daniel berusaha menenangkannya. Ia tak mau sampai Daniel kehilangan kharismanya didepan anak buahnya.
"Ehem..." Daniel berdehem menjaga wibawanya kembali di depan anak buah. "Apapun yang istri saya minta tolong diturutin dengan syarat harus aman untuk ibu hamil." Daniel mencari salah seorang karyawan diantara barisan 10 karyawan itu. "Chef Kiki." panggilnya.
Chef yang kemarin membuatkan Nia susu panas pun maju ke depan barisan. "Iya, Pak."
"Tolong buatkan makanan yang bergizi dan lezat untuk istri saya. Kalau Ia ngidam tolong buat sesuai requestnya. Dan ingat, harus matang dan bersih!"
"Siap, Pak!" Chef tersebut lalu memberikan hormatnya pada Daniel kemudian kembali lagi ke barisan karyawan.
"Hmm... Bi Neneng." Seorang wanita paruh baya pun maju ke depan barisan.
"Iya, Pak."
"Bersihkan kamar Nia di Villa 1 dan ruangan lainnya lebih bersih lagi dari biasanya. Harus bersih kinclong!"
"Siap, Pak!"
"Baik itu saja. Oh iya hampir lupa. Villa 2 akan kedatangan mahasiswa dari Jakarta yang akan study tour dan menginap disini. Total 12 kamar full book. Siapkan kasur tambahan, handuk, alat mandi dan sandal. Mereka menginap selama 3 hari. Karena kamar penuh tolong bantu saya pindahkan barang di kamar saya dan Anton."
"Tunggu... tunggu... Mau ditaro dimana nanti barang-barang saya? Terus saya tidur dimana?" Anton terlihat panik.
"Baju cuma 2 tas kecil aja ribet. Taruh saja di belakang meja resepsionis!"
"Yeh ngarep! Tidur sana di kursi renang!" Daniel mulai mengeluarkan sikap kejamnya.
"Tapi-" Daniel memotong perkataan Anton yang pasti isinya hanya kata-kata protes pada keputusannya.
"Sudah selesai briefingnya. Kembali ke pekerjaannya masing-masing. Banyak pelanggan menunggu. Terima kasih atas kerjasamanya." Daniel pun membubarkan karyawannya. Namun ada satu karyawan yang tak bergeming. Ah, Ia tau Si Bos pasti akan membalas sikap kurang ajarnya sejak tadi. Tapi kenapa sekejam ini????
"Boss" panggil Anton dengan lembut.
"Hmm..." jawab Daniel singkat. Ia sedang memesan makan malam untuk dirinya dan Nia. Ia sengaja mengirimkan pesan WA saja ke Chef Kiki agar Anton tidak ikut-ikutan ingin makan yang sama.
"Jangan tidur di kursi renang ngapa Bos. Banyak nyamuk." protes Anton.
"Pakai autan aja. Ada di laci meja resepsionis. Udah dibeliin satu renceng." Daniel masih tidak mengalihkan pandangannya dari Hpnya. Ia akhirnya memesan dua sop iga dan chocolate float. Chef Kiki pun mengiyakan permintaan Daniel.
"Non... help Non..." Nia yang sedari tadi juga sibuk dengan Hpnya melihat wajah Anton yang memelas. Hatinya pun tak tega. "Memang tidak ada kamar lain Yang? kasihan Mas Anton."
"Ada tapi bareng sama security dan karyawan restaurant di belakang dekat restaurant. Tapi mana mau Dia bareng mereka." Daniel melihat ke arah Anton. Kasihan juga Dia. "Yaudah tidur di Villa Papa saja sana. Tapi pagi-pagi harus sudah stand by disini lagi ya!"
Villa Pak Darmawan terletak tak jauh dari Villa Daniel. Kalau jalan kaki sekitar 10 menit. Sekarang ada yang sewa juga namun tidak seramai villa milik Daniel.
__ADS_1
"Bener nih?" tanya Anton memastikan.
"Iya." jawab Daniel.
"Akhirnya... terima kasih Non... I Love you full deh pokoknya."
"Eh enak aja pake bilang I love you. Batal nih!" ancam Daniel.
Anton sudah kabur dan langsung membereskan barang-barangnya sebelum Daniel berubah pikiran. "Asyik.. Villa Om Dharmawan kan dekat tempat prakteknya Dokter Meita. Bisa cuci mata terus nih!" gumam Anton senang.
******
Daniel kembali menggendong Nia sampai ke Villa 1. Walau agak malu dengan tatapan mata karyawan dan tamu villa namun Nia menikmati saja segala perhatian yang Daniel berikan.
Sampai di dalam Villa 1 sudah terhidang makan malam untuknya dan Daniel. "Kita makan yuk. Kamu pasti lapar."
"Enggak kok. Aku masih kenyang." tolak Nia. Entah mengapa Ia merasa tidak nafsu makan.
"Makan dong Sayang. Kan tadi siang kamu cuma makan dikit banget di Rumah Sakit. Kasian anak aku nanti lapar."
Nia memang hanya makan sedikit saat Daniel mengajaknya makan di kafetaria rumah sakit sebelum pulang. Entah mengapa Ia tidak merasa lapar.
"Ayo dong." Daniel memberikan sendok dan garpu di tangan Nia agar Nia mau makan.
Nia memakan sedikit sop iga namun rasanya kurang enak di lidahnya. Ia pun menaruh kembali sendok dan garpu yang Ia pakai tadi.
"Ya ampun itu mah dikit banget."
"Gak laper."
"Udah sini aku suapin." Daniel menghentikan makannya lalu mulai menyuapi Nia, lebih tepatnya memaksa Nia makan.
"Ayo.. aaa..." Daniel menyuapi Nia seperti seorang Ibu yang menyuapi anaknya. Dengan enggan Nia membuka mulutnya dan memakan makanan yang disuapi Daniel.
"Hmm... kok beda rasanya dibanding yang tadi aku makan? ini enak." Nia akhirnya mau disuapi Daniel.
"Tuh kan enak. Ayo makan yang banyak." Daniel semangat menyuapi Nia.
"Enak. Lebih enak kalau disuapi kamu."
"Benar begitu? Kalau gitu biar aku suapi kamu tiap kamu mau makan ya."
Nia mengangguk mengiyakan. Nia makan dengan nikmat bahkan sampai menghabiskan sop iga yang disediakan untuknya. Daniel tersenyum senang melihat Nia yang sudah doyan makan lagi dan terlihat lebih sehat.
*****
Thor lama banget updatenya?
__ADS_1
🙏🙏 kalau awal dan akhir bulan kerjaan kantor buanyak banget jadi maaf kalau telat.
Hmm... udah vote dan like belum? Hayooo jangan minta up cepet tapi lupa vote ya.. 😅😅😅