
Nia berjalan dalam diam di samping Daniel. Ia tidak berusaha untuk membujuk Daniel agar tidak marah. Justru Nia sekarang malah merasa kesal dengan sikap Daniel.
Ia hanya ke pantai yang jaraknya sangat dekat dengan villa, bukan pergi jalan-jalan jauh. Lalu apakah salah jika Ia pergi dengan Mike? Nia hanya menganggap Mike seperti adiknya saja. Mike bahkan lebih muda dari adiknya Nesia.
Nia merasa pola pikirnya dengan Daniel ada perbedaan. Berteman dengan siapapun sah-sah saja selama dalam konteks dan jalur yang benar. Mungkin karena teman Daniel tidak banyak karena itu Ia lebih protektif.
Entahlah, yang jelas Nia pun merasa sekarang moodnya berantakan. Mudah marah, mudah kesal dan mau semua keinginannya dituruti. Apakah ini perubahan hormonnya karena sedang hamil?
Daniel melirik istrinya yang berjalan di sebelahnya. Mukanya bete. Loh? bukannya seharusnya dirinya yang marah karena melihat Nia dengan pria lain?
"Kamu marah?" akhirnya Daniel yang bersuara lebih dahulu.
"Menurut kamu?"
"Karena aku menyuruh kamu pulang sekarang?"
"Iya." jawab Nia singkat.
"Bukannya seharusnya aku yang marah karena melihat kamu sama laki-laki lain?" Daniel pun tak mau kalah.
Nia menghembuskan nafas berat. "Dia tamu di Villa kamu. Dia cuma kasihan karena melihat aku merasa bosan disini jadi menemani aku ke pantai. Apa salah?"
Mereka sudah sampai di Villa 1. Nia langsung masuk ke dalam kamarnya. Nia mengambil remote tv dan menyalakannya.
"Kenapa gak minta antar Anton?"
"Bukannya Mas Anton juga laki-laki? Kamu juga pasti akan marah kalaupun aku pergi dengan Mas Anton. Lagi juga Dia sibuk ngurusin tamu sejak tadi." Nia masih tak mau kalah.
"Tapi-"
"Sudahlah aku mau mandi. Gerah!" Nia meninggalkan Daniel yang terheran-heran dengan perubahan sikapnya.
Kenapa Nia lebih emosian ya sekarang?- Daniel.
Tak lama Hp Daniel pun berbunyi. Mama yang telepon ternyata.
Daniel : Kenapa Ma?
Mama : Nia kemana Niel? Dari kemarin Mama ke apartemen kok gak ada?
Daniel : Nia ada disini Ma. Di Bali.
Mama : Nia nyusul kamu? memangnya Dia gak kerja?
Daniel : Udah resign.
__ADS_1
Mama : Kok kamu gak bilang? Kalau Dia ikut kamu ke Bali siapa yang akan temenin Mama jalan-jalan ke Mall?
Daniel : Nia gak boleh kecapean Ma. Kalaupun Nia di Jakarta juga gak boleh ikut Mama jalan-jalan.
Mama : Memangnya kenapa? Nia sakit? Sakit apa?
Daniel : Bukan sakit Ma. Nia sekarang sedang hamil.
Mama : Apa? Nia hamil? Beneran? Mama mau punya cucu dong?
Daniel : Iya bener Ma. Makanya harus banyak istirahat. Eh Ma Daniel mau nanya deh. Memangnya kalau lagi hamil moodnya suka berubah-ubah ya?
Mama : Ya memang kayak begitu sayang. Kamu harus lebih sabar lagi.
Daniel : Iya, Ma. Makasih sarannya.
Daniel menutup sambungan teleponnya. Nia baru saja keluar dari kamar mandi. Daniel yang mengingat pesan Mama pun menanggalkan egonya.
"Sayang." Daniel berjalan menghampiri Nia.
"Hmm." jawab Nia sambil mengeringkan rambutnya.
"Maafin aku ya. Aku gak berniat ngelarang kamu jalan-jalan. Kamu kan tau aku cemburuan kamu dekat dengan laki-laki lain. Jangan marah lagi ya." Daniel lalu memeluk Nia dari belakang.
"Aku gak berniat macam-macam kok. Aku cuma bosan saja di villa sedirian. Aku kan terbiasa sibuk kerja. Jadi pengangguran gini rasanya gak enak banget. Pas banget Mike mau nganterin yaudah aku ikut. Gak ada maksud apa-apa kok. Maafin aku juga ya." Nia mengusap lembut tangan Daniel yang melingkar di pinggangnya.
"Ih ge er. Yaudah sana mandi. Bau acem nih."
"Ah masa sih. Yaudah aku mandi dulu ya baru kita makan malam." Daniel melepaskan pelukannya dan langsung mandi.
*****
Daniel mengajak candle light dinner di restauran villa. Ia memesan steak untuknya dan nasi capcay untuk Nia.
"Kok curang sih. Kamu makan steak, aku dikasih makan capcay dan ayam cordon blue?" protes Nia melihat perbedaan lauk makan mereka.
"Iyalah. Kamu kan gak boleh makan makanan yang belum matang, takut ada bakterinya. Gak baik buat ibu hamil. Aku pilihkan nasi capcay dan ayam cordon blue buat kamu."
Nia cemberut saja. Memang benar apa yang Daniel bilang untuk kebaikan dirinya dan janin di perutnya.
"Ayo makan." Daniel pun mulai memakan steak dengan lahapnya. Sementara Nia hanya mengacak-acak makanannya saja.
"Mulai lagi deh gak dimakan." omel Daniel.
"Gak nafsu makan."
__ADS_1
"Dari tadi pagi makannya dikit banget. Ini juga gak mau makan. Aku suapi ya." Daniel mengambil piring makan Nia lalu menyuapinya. Lagi-lagi makanan yang disuapi oleh Daniel rasanya lebih enak.
"Tuh kan. Maunya tuh disuapi kamu tau. Rasanya beneran saat disuapin kamu." kata Nia semangat sambil mengunyah makanannya.
"Yaudah mulai sekarang sebelum aku kerja aku suapi dulu. Makan siang gimana ya? aku gak bisa kalau harus pulang nyuapi kamu dulu."
"Gak apa-apa kamu kerja aja. Aku makan sendiri bisa kok. Aku kan masih bisa makan walau sedikit."
"Aku akan cepat menyelesaikan kasus disini ya biar kita cepet pulang ke Jakarta."
Nia mengangguk setuju. Tanpa jalan-jalan, tinggal di Bali juga lama-lama membuat Ia bosan. Setidaknya di Jakarta Ia bisa bertemu teman-temannya.
Nia menikmati suasana makan malam yang menurutnya sangat romantis. Terlihat Anton sedang live music membawakan lagu barat klasik dengan lantunan gitarnya yang terdengar merdu.
Ramai ternyata restaurant di villa Daniel. Pantas saja uang Daniel banyak. Ternyata selain harga sewanya yang lumayan mahal restaurantnya pun masuk dalam kategori restaurant mewah. Hebat sekali, makin kagum Nia pada suaminya tersebut.
"Hi beautiful ladies!" sapa Steve.
"Oh, Hi Steve." balas Nia. Daniel menatap bule tampan yang menyapa Nia. Siapa lagi ini? Kenapa Nia dikelilingi cowok-cowok tampan?
"Ini pacar kamu?" tanya Steve lagi setelah melihat Nia sedang makan malam dengan seorang pria.
"Bukan. Dia suamiku, Daniel." Nia pun memperkenalkan Steve pada Daniel. "Yang, ini tamu di Villa 3. Namanya Steve."
"Steve" Steve pun mengulurkan tangannya dan disambut dengan dingin oleh Daniel.
"Daniel." Daniel langsung menarik cepat tangannya setelah berjabat tangan.
"Kamu sudah punya suami?" tanya Steve seolah tidak percaya karena dikiranya Nia menginap disini dengan keluarganya.
"Iya. Daniel adalah pemilik villa ini." Nia membanggakan suaminya tersebut. Daniel pun langsung sumringah mendengar Nia memamerkan kalau Ia pemilik villa yang keren ini.
"Wow. Suami kamu beruntung memiliki istri secantik kamu." Senyum Daniel perlahan menghilang. Tergantikan dengan pandangan waspada takut istrinya diambil orang.
"Tidak kok. Justru aku yang beruntung memiliki suami seperti Daniel. Aku sangat mencintai Dia." Nia lalu menggenggam tangan Daniel. Sikap Nia tersebut membuat Daniel tersenyum. Daniel pun mencium lembut pipi Nia.
"Oh wow. Kalian romantis sekali. Semoga kalian bahagia selamanya ya." Steve mendoakan Nia dan Daniel dengan tulus.
"Thank you, Steve."
Steve pun meninggalkan Nia dan tidak mau mengganggunya lagi karena Nia sudah ada yang punya. Tapi ada sedikit harap, seandainya Ia bertemu dengan Nia lebih dahulu dibanding suaminya, pasti Ia tidak akan pernah melepaskannya dan menjadikannya miliknya.
Namun ternyata Nia sudah ada yang punya. Ia tidak mau merusak kebahagiaan yang Nia rasakan. Mengenal salah satu wanita Indonesia yang baik dan ramah saja sudah memberi kesan yang baik terhadap negara ini.
*****
__ADS_1
🙏🙏🙏🙏🙏🙏 maaf banget telat update dan cuma 1 aja up nya. Aku ada acara dadakan gak bisa nulis juga karena idenya udah mulai kurang banyak. Sebenernya aku mau tamatin judul ini dan mau mulai cerita baru namun belum sempat. Maaf banget ya...