
Bagai mendengar petir di siang bolong, kenyataan yang diucapkan oleh Ronald sangat mengagetkan Mama Sri. Putra yang selalu dibanggakannya, yang selalu dibelanya dan selalu dianggap hebat ternyata tak lebih dari seorang pecundang yang tega menyakiti hati seorang perempuan.
"Ap..apa? selingkuh?" Pertanyaan Mama Sri hanya mampu dijawab dengan anggukan kepala saja oleh Ronald. Wajahnya tertunduk penuh malu akan kesalahannya.
Pening rasanya kepala Mama, kenyataan yang tak pernah dikiranya akan terjadi. "Baiklah, jelaskan sama Mama semuanya. Jangan ada yang ditutup-tutupi" Mama merasa harus mendengarkan cerita sebenarnya dan dari kedua belah pihak bila perlu, biar Ia tahu siapa yang salah. Walau logikanya Ronald yang salah namun naluri seorang ibu tak terima anaknya disalahkan, Ia berusaha mencari pembenaran atas sikap anaknya. Egois memang, Ia merasa sudah membesarkan anaknya dengan sebaik-baiknya rasanya tak rela jika anaknya melakukan kesalahan fatal.
Ronald masih diam tak menjawab, Mama tak sabar melihat kebisuan Ronald, Ia pun melancarkan berjuta pertanyaan.
"Sejak kapan kamu selingkuh?" tanya Mama.
"Sudah mau 2 tahun"
"Oh Tuhan. Sudah lama kamu selingkuhi istri kamu?" Mama menarik nafas dalam dan menghembuskannya. "Dengan siapa?"
"Dengan...teman sekolah Ronald dulu"
Mama mulai menimbang-nimbang pertanyaan berikutnya. Terlalu privacy namun Ia harus tahu. "Sampai sejauh mana hubunganmu dengan selingkuhanmu?" tanya Mama dengan pelan-pelan. Ia menyiapkan hatinya akan jawaban Ronald. Tangan Mama mulai terasa dingin.
"Kami..." agak ragu Ronald menjawab namun tatapan mata Mama yang setajam silet membuat Ronald takut. "Kami sudah berhubungan seperti suami istri"
Plakkk.... Sebuah tamparan melayang ke pipi Ronald. Mama tak kuat menahan amarah dan kecewanya. Putranya tega melakukan perbuatan hina seperti itu dan mengingkari janji pernikahannya. Mama Sri menangis penuh kecewa. Tangisnya pecah, tak pernah Ia seperti itu. Ia bahkan yang selalu membuat orang lain menangis.
Melihat Mamanya menangis tersedu-sedu, Ronald langsung menangis berlutut pada Mama. "Maafin Ronald Ma... Maaf... Ronald sudah mengecewakan Mama... Maaf Ma... Ronald menyesal..."
Cukup lama Mama menangis sampai matanya bengkak. Ronald tetap berlutut di hadapan Mama. Meminta maaf sama Mama. Setelah puas menangis Mama mengambil tissue lalu mengelap air mata dan hidungnya. Ia sudah mulai tenang dan bisa berpikir jernih.
__ADS_1
"Mama enggak pernah membesarkan kamu untuk menjadi seorang tukang selingkuh. Sekarang pilihannya ada sama kamu. Tetap mempertahankan rumah tangga kamu dengan Nia atau meresmikan hubunganmu dengan selingkuhanmu itu. Kamu pilih yang mana?"
"Ronald... pilih Nia, Ma. Dengan wanita itu Ronald hanya bersenang-senang saja dan melampiaskan stress Ronald. Tapi yang Ronald cintai cuma Nia, Ma"
"Sudah pasti kamu akan memilih Nia. Bodoh namanya kalau kamu memilih wanita yang sejak awal mau jadi selingkuhanmu padahal sudah jelas-jelas tau kalau kamu sudah beristri. Ingat kamu Nal, hanya Nia yang benar-benar mencintai dan menerima semua kekuranganmu apa adanya. Jika kamu sampai kehilangan Nia, maka belum tentu wanita lain akan menerima kamu seperti Nia"
"Iya Ma"
"Mama yang awalnya tak setuju saja dengan hubungan kalian sekarang sangat mendukung. Karena apa? karena Mama sadar kalau Nia benar-benar menerima kekuranganmu dan tak meninggalkanmu dengan pria lain. Eh kamu malah tak tahu diri dan menyakiti hati Nia. Jujur Mama kecewa sama kamu. Tindakan yang kamu lakukan sungguh bodoh" cerocos Mama.
"Maaf Ma...." tak ada kata pembelaan yang keluar lagi dari mulut Ronald selain maaf.
"Sekarang kamu kejar Nia. Minta maaf sama Dia, kalau perlu sampai berlutut memohon ampunannya. Jangan sampai Ia menceraikanmu"
"Iya Ma"
****
Sementara itu, subuh hari pintu kamar Nia diketuk. Suara ketukan di pintu mengganggu tidur nyenyak Nia. Tidur di kamar resort yang mewah memang terasa nikmat. Ia berangan-angan dapat kembali lagi kesini suatu hari nanti. Jika hanya dengan gajinya saja mungkin Nia tak akan mampu membayarnya. Karena itu Ia harus menabung agar bisa menginap lagi disini.
Nia memakai sandal hotelnya lalu membukakan pintu kamar. Dilihatnya Daniel berdiri didepannya. Ia mengenakan celana panjang dan jaket tebal. Dari mana Ia mendapat pakaian seperti itu. Seingat Nia kemarin mereka tanpa persiapan langsung pergi ke resort. Kalau Nia membawa baju juga karena habis kabur. Kalau Daniel? Ah nanti saja Nia tanyakan lagi.
"Ada apa sih bangunin orang subuh-subuh begini" Nia menguap tanpa ditutup.
"Ya ampun calon janda ini ya. Kalau nguap tuh ditutup Neng"
__ADS_1
"Ngatain lagi aku tutup ya pintunya" ngambek Nia.
"Iya..iya.. maaf. Ayo ganti baju, ikut aku jalan-jalan. Jangan lupa cuci muka dan sikat gigi dulu. Masih ada bekas iler tuh. Aku tunggu didepan kamar. Jangan lama-lama, dingin nih"
"Iya bawel" Nia menutup pintu kamar dan langsung mencuci mukanya tak lupa menyikat gigi. Setelah mengganti baju dengan sweater dan celana panjang, Ia pun keluar kamar menghampiri Daniel.
"Ayo. Mau kemana sih?" tanya Nia penasaran.
"Udah ikut aja jangan bawel" Nia mengikuti langkah Daniel ke parkiran. Nia pikir mereka akan pergi naik mobil, ternyata Daniel mengambil helm dan memberikannya pada Nia.
Nia memakai helm yang diberikan oleh Daniel. Daniel mematikan alarm sebuah motor sport warna biru doungker dan menaikinya. Tak lupa Ia pun mengenakan helm.
"Ayo naik" ajak Daniel.
"Motor siapa yang kamu pakai?" tanya Nia heran. Tadi baju lengkap sekarang motor sport beserta helmnya, dapet darimana coba.
"Motor aku lah. Udah nanti aja ngobrolnya. Cepet naik" perintah Daniel.
Nia naik ke atas motor. Nia hendak pegangan jaket Daniel namun sepertinya Daniel sengaja ngebut, karena takut jatuh akhirnya Nia memeluk pinggang Daniel. Senyum usil tersungging di pipi Daniel. Ia pun mempercepat lagi laju motornya agar Nia tak melepaskan pegangannya. Jalur Puncak yang sepi di subuh hari membuat perjalanannya lancar.
Udara Puncak di subuh hari masih sangat dingin. Untunglah Nia memeluk Daniel sehingga Ia tak merasa kedinginan. "Huh pantas saja Dia mengenakan jaket tebal dan celana panjang, ternyata mau membawaku ngebut-ngebutan. Untung saja di koper ada jaket yang aku bawa" gerutu Nia dalam hati.
Motor Daniel berbelok ke arah Cibodas. Mereka melewati sebuah komplek yang mengarah ke obyek wisata Cibodas. Mau kemanakah mereka? Rasa penasaran Nia belum terjawab. Perlahan Daniel melambatkan kecepatan motornya dan berhenti di suatu tempat. Nia tak menyangka akan dibawa kesana.
****
__ADS_1
Hmm... dibawa kemana ya Nia? Tetap ikuti novel ini ya. Ayo vote yang banyak ya 🙂🙂🙂. Kalau mengadakan giveaway setuju gak ya? Jawab ya di kolom komen.