
Matahari sedikit demi sedikit mulai timbul dari arah timur, dan suara kicauan burung saling bersautan yang menandakan pagi tiba.
Jika setiap orang waktu di pagi hari akan bangun dan melakukan aktivitasnya, berbeda dengan Dewi yang masih setia tidur dikasur.
Karna setelah tadi malam berdebat hebat dengan Rangga, Dewi memutuskan untuk masuk kekamar tamu, mau kabur dari sana pun sangat tidak memungkinkan, karna penjagaan dua puluh empat sangat ketat.
Dan ketika subuh tadi Dewi memutuskan untuk menguyur tubuhnya di bawah sofwer, sambil menangis karna ia merasa tubuhnya sudah benar-benar kotor karna sudah tidur dengan laki-laki lain yang bukan suaminya.
Ini baru pengalaman pertama bagi dewi, yang dimna ia harus tidur dengan laki-laki lain yang bukan muhrimnya, bahkan tidur bersama Herman yang notabennya ayahnya sendiri Dewi tidak pernh, itulah sebabnya mengapa dia si histeris ini ketika mengetahui Rangga tidur disampingnya.
Dan dengan terpaksa Dewi harus melewati sholat azan subuh karna peralatan sholat tidak ada sama sekali di kamar itu, mau tidak mau ia pun melanjutkan tidurnya ketika sudh selesai menyugur tubuh dibawah software.
Suara orang yang saling bersautan diluar kamar membangunkan Dewi dari tidurnya, jam sudh menunjukkan pukul delapan pagi, sejenak ia menata langit-langit kamar.
"waktunya lambat sekali berjalan"ucap Dewi sambil duduk, tanpa menyadari beberapa orang sudah berdiri disamping ranjangnya.
"selamat pagi nona, mari kita bantu untuk bersih-bersih, karna sebentar lagi orang make up segera datang"ucap salah satu pelayan yang setia menunggu Dewi sampah terbangun.
"make up..?maksudnya ngimna..?"ucap Dewi bingung.
"kami tidak berhak menjelaskan itu semua nona, tugas kami hanya membantu nona untuk bersih-bersih"
"siapa yang menyuruh kalian..?tanya Dewi.
"tuan Rangga, beliau yang memerintah kami untuk mengurus semua keperluan nona sampai tukang make up tiba"
Mendengar nama Rangga yang lagi-lagi harus menari-nari dalam telinganya membuat mood Dewi jelek di pagi ini.
"sekarang kalian keluar, aku tidak butuh apa-apa, dan satu lagi katakan kepada tuan kalian, aku tidak butuh tukang make up"ucap Dewi dingin.
"nona ini sangat dingin, bahkan lebih dingin dari tuan Rangga ketika memerintahkan kami"batin salah satu pelayan.
"tapi nona, kami bisa kehilangan pekerjaan ini, kalau kami tidak membantu nona"
"aku boleh egois, aku tidak peduli dengan pekerjaan kalian"ucap Dewi dingin.
"maaf nona kami akan tetap membantu anda"ucap salah satu pelayan sambil berjalan mendekati Dewi.
"jangan pernh mendekat, aku tidak butuh bantuan kalian, sekarang keluar dari kamar ini"ucap Dewi menatap tajam pelayan yang hendak mendekati "kalian masih tau kan dimna letak pintu keluar"
"tapi nona..."
"keluarrrr"bentak Dewi sambil menunjuk ke arah pintu.
Mendengar bentakan Dewi, akhir semua pelayan yang di utus untuk membantu Dewi memilih keluar
"maaf, aku jadi membentak kalian, padahal kalian tidak bersalah dalam semua ini"guman Dewi, yang menatap para pelayan berlari koncar kancir keluarrrrr dari kamanya.
"hurfffff sampai kapan aku harus disini"guman Dewi menarik napasnya panjang lalu berjaln menuju balkon kamar.
"Vin, kamu di mana..?kenapa kamu tidak mencari aku sedikit pun..?katanya kamu sayang sama aku..?kamu janji bahagiakan aku, tapi mana..?aku sudah hampir dua hari dua malam disini,tapi tidak ada tanda-tanda kau menjemput ku, aku merindukan mu Vin"guman Dewi menatap lurus ke depan.
__ADS_1
"kamu jangan terlalu banyak bermimpi, Kevin tidak akan datang menjemputmu, karna semua akses tentangmu sudh aku tutup serapat mungkin"ucap Rangga yang ternyata sedari tadi berdiri di belakang Dewi, karna setelah mendapat laporan dari pelayan bahwa dewi menolak dilayani, Rangga langsung meluncur ke kamar yang Dewi tempati.
"Kevin bukan seperti Lo yang bodoh, gue yakin bahwa Kevin akan datang kesini cepat atau lambat"ucap Dewi tanpa menatap Rangga.
"tapi ngk papa, kalau Kevin datang kesini"ucap Rangga "aku mau melihat ekspresi suami kesayangan mu itu ketika melihat istri kesayangan aku nikahi"ucap Rangga lagi sambil tersenyum licik.
"jangan harap Lo bisa menikahi gue"ucap Dewi.
"kenapa tidak..?coba kamu lihat ke bawah, betapa indahnya acara pagi ini, itu acara pernikahan yang tidak bisa kamu lupakan, acara pernikahan di tengah hutan"ucap Rangga menatap lekat wajah Dewi.
Sedangkan Dewi yang mendengar ucapan Rangga langsung menoleh kebawah, dan benar sja halaman rumah yang cukup luas sudh dihiasi dengan bunga-bunga berubah menjadi pernikahan pada umunya.
"lo gila..?Lo mau nikahin gue..?Lo punya otak ngk sih..?gue ini istrinya Kevin, dan sampai kapan pun akan menjadi istri Kevin"teriak Dewi tak habis pikir dengan rencana Rangga.
"iyh, memang aku sudh gila, aku gila gara-gara kamu, dan aku ngk peduli, mau kamu istrinya Kevin atau tidak yang penting mulai hari ini kamu milikku seutuh"ucap Rangga.
"dasar manusia tidak waras, gue ngk akan mau menikah sama manusia biadab sama Lo"teriak Dewi "gue benci sama"
"aku ngk peduli, sekarang kamu siap-siap, sebentar lagi tukang make up akan datang, acaranya jam dua belas siang"ucap Rangga mencoba menyentuh tangan Dewi.
"Lo siap-siap aja sendri, Lo menikah sama tembok itu, gue ngk akan pernh menikah sama Lo"teriak Dewi menatap tajam Rangga.
"kamu kenapa sih wi..?kamu jangan mempersulit aku, apa susahnya kamu tinggal menurut saja,?kamu tinggal siap-siap dan kita akan menikah, sesimpel itu kenapa harus ribet..?"ucap Rangga memengang erat tangan Dewi, sampai Dewi menahan rasa sakit.
"apa Lo bilang..?Lo mau gue menurut smaa Lo..?siapa lo..?kenapa gue harus menurut smaa Lo .?dengan Lo memaksa gue menikah sementara gue masih istrinya kevin, Lo masih bisa bilang menurut aja..?teriak Dewi sambil menahan rasa sakit "otakmu Lo pakai gapain aja Rangga Bangs*k"teriak Dewi terduduk lemas disamping Rangga.
"sekarang kamu siap-siap, siap-siap sendiri atau saya bantu siap-siap"ucap Rangga melepaskan tangannya dari tangan Dewi, dan membantu Dewi berdiri.
"jangan pernah Lo sentuh gue"teriak Dewi setelah menampar Rangga.
"aku benci sama lo"teriak Dewi lalu pergi dari hadapan Rangga.
"kamu mau kemana..?jangan pernh Lo melangkah keluar sedikit pun"ucap Rangga menarik tangan Dewi sehingga tubuh Dewi bertabrakan ke dada bidang Rangga.
"lepaskan gue ga, gue mau pulang, please"Isak Dewi sambil memberontak mencoba melepaskan diri dari dekapan Rangga.
"ngk akan wi, Ako mohon menurut lah, aku mencintai kamu, aku mau menikahi kamu"ucap Rangga sambil menahan Dewi tidak memberontak.
"buang omong kosong Lo ga, Lo sakit..?gue ngk cinta sama Lo sedikit pun"teriak Dewi sambil mendorong tubuh Rangga, sehingga membuat Rangga mundur beberapa langkah.
"pelayan"teriak Rangga tanpa memperdulikan teriak Dewi.
"iyh tuan"
"bantu dia siap-siap, kebayanya sudah ada di lemari"ucap Rangga lalu meninggalkan Dewi dan beberapa pelayan, bahkan tukang make up pun sudah datang, bahkan mereka mendengar semua perdebatan Rangga dan Dewi.
"ayo nona, kami bantu"
"Kevin kamu dimana, tolong"teriak Dewi tanpa memperdulikan ucapan pelayan.
"kenapa sih hidupku kayak gini..?kesalahan apa yang aku perbuat dimasa lalu..?dosa siapa yang aku tanggung dimasa lalu..?kenapa aku tidak pernh bahagia.?"Isak Dewi sambil bersender di perbatasan balkon.
__ADS_1
"kamu dimana Vin..?aku sekarang sudh mau di nikahi manusia baidab itu, kenapa kamu tidak datang menolong aku"ucap Dewi menangis sambil memeluk kedua lututnya.
Bahkan ketika Kevin menikahinya secara paksa, rasanya tidak sesakit ini, jika duluh Kevin menikahi ia masih bisa berpura-pura bahagia, tapi sekarang bahkan hanya sekedar tersenyum saja dia sangat sulit sekali.
Sedangkan para pelayan dan tukang make up hanya bisa menatap Dewi dengan tatapan sendu, mereka tidak bisa berbuat apa-apa, karna mereka disna hanya bekerja dan hanya melakukan apa yang di perintahkan oleh tuannya.
Setelah hampir satu jam Dewi menangis sambil bersender di perbatasan balkon tak lupa ia memeluk kedua lututnya.
"ngimna Dewi sudh selesai kah..?penghulu sudah datang"ucap Rangga masuk kedalam kamar Dewi.
"astaga Dewi, kenapa belm siap-siap, acara udah mau dimulai"ucap Rangga sambil berjongkok dihadapan Dewi.
"ayo dong Dewi, jangan mempersulit keadaan"ucap Rangga sambil mengelus rambut Dewi, seperti seorang ayah yang membujuk anak perempuannya.
"keadaan apa yang gue persulit ga, ini acara kalian bukan acara gue, Lo tega sama gue ga..?apa salah gue..?kenapa sih hidup gue harus penuh dengan drama kayak gini..?kamu pikir aku ini perempuan apaan sih ga, apakah aku perempuan segampang dan semurah itu.?kamu tau aku masih punya suami, tapi kamu tega menikahi aku lagi..?"lirih Dewi sendu, sambil menghempaskan tangan Rangga dari kepalanya.
"saya pikir cuma Kevin laki-laki paling jahat yang pernah gue kenal, tapi ternyata kamu paling jahat dari pada dia, asal kamu tau, Kevin memang menikahiku dengan tujuan balas dendam, tapi Kevin sangat menghargai aku sebagai perempuan ketika acara pernikahan kami, Kevin tidak menganggap aku perempuan paling rendah ketika acara pernikahan aku, Kevin menghormati aku sebagai calon istrinya meskipun awalnya aku dan Kevin tidak saling kenal sebelumnya, tapi kamu..?dengan teganya kamu menikahi aku, dengan gampang kamu menganggap aku sebagai perempuan paling rendah dan paling murahan, kain rongsokan di pasar saja tidak pernh di rebutkan dengan cara menjijikan, tapi aku..?"ucap Dewi tanpa menatap Rangga.
"kamu menganggap aku perempuan paling rendah diantara yang rendah, ternyata aku semurah itu iyh"ucap Dewi tersenyum getir.
"jangan pernh kamu bandingkan aku dengan laki-laki biadab itu, dia yang merebut kamu dariku, dia tau kalau kamu kekasihku pada saat itu, tapi dia masih berani menikahi kamu, aku dan Kevin berbeda"bentak Rangga tak terima ketika Dewi membandingkan dirinya dengan Kevin.
"iyh, kamu memang tidak perluh dibandingkan dengan Kevin, karna sampai kapan pun kamu tidak sebanding dengan Kevin, kamu hanya laki-laki biadab yang memandang semua wanita rendah..?kamu punya adek perempuan ga, kamu punya ibu, aku harap kejadian seperti ini tidak terjadi pada adekmu"bentak Dewi.
"akan aku perlihatkan bagaimna yang kamu bilang laki-laki baidab ini, akan aku perlihatkan laki-laki yang kamu bilang ini tidak sebanding dengan Kevin, membuat kamu bertekuk lutut dihadapan ku"ucap Rangga menarik tangan Dewi lalu menghempaskan ke atas ranjang.
"kamu mau gapain..?ucap Dewi ketika melihat Rangga membuka jasnya dan melemparkan secara kasar.
"aku mau memiliki kamu seutuhnya, hari ini juga tanpa embel-embel menikah"ucap Rangga sambil membuka kanci kemejanya.
"aku sudah mencoba berbuat baik kepadamu, dengan cara menikahi kamu sebelum memiliki kamu seutuhnya, tapi kamu membuat kesabaranmu habis"ucap Rangga sambil membuka celana yang senada dengan jasnya, kini Rangga hanya menggunakan Boxser saja.
"jangan ga, aku mohon, jangan lakukan itu"ucap Dewi sambil mundur ketika Rangga semakin dekat kepadanya yang hanya memiliki jarak beberapa senti saja.
"aku tidak peduli, pokoknya hari ini kamu jadi milik ku duluh baru kita menikah"ucap Rangga sambil merobet paksa baju tidur yang Dewi pakai.
Kini Dewi hanya memakai koas dalam dan bra yang menutup tubuh mulusnya.
Benci, marah, lemah, muak bercampur jadi satu ketika menyadari keadaannya saat ini, bahkan mulutnya sudah kehabisan kata-kata untuk memohon kepada Rangga.
Tenaga..?
Bahkan tenaganya sudah habis, untuk melawan Rangga pun benar-benar tidak ada tenaga sedikit pun.
Bahkan Kevin yang notabennya suaminya sendiri tidak pernh melakukan itu kepadanya.
"aku mohon, jangan lalu ini"lirih Dewi hampir tidak terdengar sambil menutup dadanya menggunakan tangannya.
Sedangkan Rangga langsung tersadar dari tindakan ketiak mendengar lirihan dewi.
Disini titik terlemah Dewi, bahkan untuk pertama kalinya ia melihat Dewi berada di titik paling lemah, Dewi yang sejak kemarin membantah dan membentaknya hilang seketika, berganti menjadi perempuan paling lemah.
__ADS_1