
Setelah kejadian dimna Dewi menceritakan semua masalalunya kepada kevin, Dewi merasa lega, dia merasa bebannya berkurang, dia tidak dihantui oleh masa lalu yang menjijikan lagi, begitu juga dengan Kevin, ia menerima masa lalu Dewi, bahkan ia menuntun Dewi melupakan masa lalu secara perlahan.
Hubungan mereka semakin dekat bahkan Dewi sudah mulai terbiasa dengan sikap romantis Kevin, sekarang tinggal giliran Dewi saja yang harus menyiapkan mentalnya untuk memberikan haknya Kevin.
Tapi ia berjanji dalam hati secepatnya ia akan memberikan haknya Kevin, ia juga tidak mau egois sehingga ia mengabaikan kebutuhan biologis Kevin.
Karna tidak ada jam kuliah hari ini, Dewi memutuskan untuk berkunjung ke kantor Kevin, bermaksud mengajak Kevin makan siang diluar.
"permisi mba, saya mau bertemu dengan tuan Kevin"ucap Dewi kepada salah satu resepsionis.
"apakah sudah buat janji..?"ucap resepsionis menatap sinis Dewi.
"belum sih mba, tapi bisa tolong hubungi kah"ucap Dewi yang memang pada kenyataannya Dewi belum mengabari Kevin kalau ia akan berkunjung.
"maaf nona kalau belum membuat janji tidak bisa bertemu, lagian kantor ini bukan tempat anak kuliahan, kantor ini tempatnya wanita karir semua"ucap resepsionis memandang remeh penampilan Dewi, karna Dewi hanya memakai dres warna biru selutut tanpa lengan di padukan dengan sepatu pancus warna hitam tak lupa tak selepangnya, terlihat sederhana tapi tidak mengurangi kesan cantiknya Dewi.
"tapi mba saya bukan mau kuliah kesini, saya tau ini bukan kampus, dan sudah sering juga main kekantor ini"ucap Dewi menatap resepsionis.
"dasar anak mudah zaman sekarang, jangan suka asal bicara nona, kantor ini tidak menampung perempuan seperti anda"ucap resepsionis. "cepat keluar dari kantor ini, menganggu kegiatan kantor saja kau"
"kalau mau menjual diri tidak disini nona, laki-laki dikantor ini pria terhormat semua jadi tidak mungkin mau melirik anda"ucap resepsionis.
Sedangkan Dewi terbelalak mendengar ucapan resepsionis, menjual diri.? bahkan tidak ada sedikit pun terlintas dalam benaknya untuk menjual diri, lagian buat apa dia menjual diri, Kevin sudah memenuhi semua kebutuhan tanpa terkecuali.
Sedangkan para karyawan yang melihat perdebatan Dewi dan resepsionis yang baru beberapa Minggu bekerja di kantor ini hanya diam saja, mereka tau betul kalau Dewi adalah wanitanya si pemilik perusahaan ini, tak sedikit juga yang mengetahui kalau Dewi istri dari CEO sekaligus pemilik perusahaan, mereka mau ingin memberitahu kepada resepsionis tentang status Dewi di kantor ini tapi mereka tidak ada yang berani melangkah.
"siapa._-"
"satpam"teriak resepsionis memotong ucapan Dewi.
"iyh Bu, ad yang bisa kami bantu..?"
"seret wanita ini dari kantor ini, kenali wajahnya, lain kali jangan biarkan dia menginjatkan kaki di kantor ini"ucap resepsionis memandang remeh Dewi.
"tapi Bu"ucap satpam menatap ragu wanita yang sekitaran berusia dua puluh enam tahun yang menjabat sebagai resepsionis baru di kantor ini.
"tapi apa..?apa kalian tidak mampu menyeret wanita ini, kalian mau saya adukan kepada tuan Kevin..?atau kalian memakan gaji buta di kantor ini..?ucap resepsionis menatap tajam satpam.
"bukan seperti itu Bu, tapi kami ngk ada hak untuk mengusir nyonya dari kantor ini"
"nyonya apaan..?dia hanya gadis murahan yang mau menjual diri disini, dengan embel-embel ingin bertemu tuan Kevin, kalian ini buta apa ngimna..?"ucap resepsionis.
plakkkk
Mendengar kata menjual diri keluar dari mulut resepsionis itu untuk kedua kali membuat emosi Dewi naik sepuluh tingkat saking emosinya Dewi melayangkan tamparan yang cukup keras.
__ADS_1
"jangan sampai ketiga kalinya kau mengeluarkan kata menjual diri dari mulutmu itu"ucap Dewi.
"emang kenapa kalau aku menjadi nyonya disini..?kenapa kau keberatan..?emng kau siapanya CEO dikantor ini..?baru menjabat sebagai resepsionis kau sudah tidak menghargai orang lain"ucap Dewi.
"berani-beraninya kau menamparku, kalian tunggu apa lagi..?cepat usir wanita ini dari kantor ini, kenapa hanya sebagai penonton saja"teriaknya menatap tajam kedua satpam yang menundukkan kepada.
"mereka tidak mau mengusirku karna mereka tau cara menghargai orang lain, kau punya pendidikan tinggi, sekolah dua belas tahun ditambah kuliah empat tahun belajar apa aja kau..?menghargai orang lain saja kau tidak bisa"ucap Dewi "kenapa kantor ini bisa menerima wanita tidak berpendidikan seperti kamu"
"tau apa kau tentang kantor ini..?tau apa kamu tentang dunia pendidikan"ucap resepsionis sambil memengang pipinya yang terasa panas.
"kau mau kemana...?pintu keluar disana"ucapnya menahan Dewi yang hendak melangkah pergi dari meja resepsionis.
"aku tau disnaa pintu keluar, dan aku bukan mau keluar, tapi aku mau masuk keruangan pemilik perusahaan ini"ucap Dewi menghempaskan tangan resepsionis.
"dasar wanita tidak tau diri, tidak punya urat malu, sudah berapa kali aku katakan kau tidak bisa menemui tuan Kevin, karna kau hanya sampah di mata tuan Kevin"ucap resepsionis.
"kita lihat siapa yang sampah, aku atau kamu"ucap Dewi lalu membuka ponselnya dan menekan nomor Kevin.
"by aku ada di lobby, tapi salah satu dari karyawanmu tidak memperbolehkan aku masuk, dia menyuruh satpam mengusir ku"ucap Dewi lewat sambung telepon.
"......."
"jemput aku disini aku tungguh"ucap Dewi lalu mematikan sambung telepon.
"maaf Bu, jangankan untuk mengusir, menyentuh tangan nyonya Dewi kami tidak berani, kami masih membutuhkan pekerjaan ini"ucap satpam menundukkan kepala.
"dasar satpam tidak berguna, akan aku laporkan kalian ke tuan Kevin, jika kalian tidak bisa biar aku yang turun tangan"
"ayo kamu, biar syaa tunjukkan dimana pintu keluar dari kantor ini"ucapnya sambil menarik kasar tangan Dewi.
"sayang"teriak Kevin dengan wajah bahagia sambil berlari menuju meja resepsionis setelah lift terbuka, tapi wajah bahagia itu hilang seketika ketika melihat seorang karyawan yang menarik tangan wanitanya secara kasar
"by"ucap Dewi.
"ada apa...?kenapa kalian malah berkumpul disini"ucap Kevin menatap karyawan yang berkumpul seperti melihat sebuah tontonan saja.
"maaf tuan Kevin, sedikit terjadi perdebatan, wanita ini memaksa masuk padahal belum membuat janji dengan anda, makaya saya mencoba menghalangi"ucap resepsionis mencoba menjatuhkan Dewi di hadapan Kevin.
"janji..?"guman Kevin menatap bingung resepsionis.
"sejak kapan istri dari pemilik perusahaan ini harus membuat janji duluh kalau ingin bertemu dengan suaminya sendiri..?peraturan dari mana itu..?"ucap kevin menatap tajam resepsionis.
"tapi tuan, dia hanya mengaku-ngaku saja"ucap resepsionis masih mempertahankan tuduhan kepada Dewi.
"kamu resepsionis baru disini, bahkan baru dua Minggu bekerja disini, kenapa kau sudah banyak tingkah..? dia itu istriku, wanitaku, apa hakmj menuduh dirinya..?ucap Kevin menatap tajam resepsionis, tatapan yang mampu membunuh lawan bicaranya tanpa menyentuh.
__ADS_1
"pecat resepsionis yang baru bekerja dua Minggu, buka segera buka lowongan pekerjaan untuk mengisi jabatan resepsionis"ucap Kevin dari sambung telepon dan mematikan secara sepihak.
"tuan saya mohon, jangan pecat saya, saya baru bekerja dua Minggu disini, bahkan saya belum mendapatkan gaji, tolong tuan saya butuh pekerjaan ini"ucap resepsionis setelah menyadari situasi dan kesalahannya sambil bersujud di kaki Kevin "nyonya maaf kan syaa, saya tidak tau kalau nyonya adalah istri tuan Kevin"
"sekali lagi aku beritahu kepada kalian, wanita yang disamping sya merupakan istri saya, wanita saya, nyonya dari Kevin Mahendra, jadi siapa pun yang berani menganggu ya, bahkan menyentuhnya seujung rambut pun, aku pastikan nasip kalian akan sama seperti dia"teriak Kevin tidak memperdulikan permohonan resepsionis yang bersujud di kakinya. "pastikan berita ini tidak sampai ke telinga orang luar"
"dan kau cepat angkat kaki dari kantor ini, kantor ini tidak membutuhkan manusia sampah seperti kamu"ucap Kevin menatap tajam resepsionis.
"ayo syang, kita ke ruangan ku saja"ucap Kevin menarik tangan Dewi menuntun Dewi berjaln menuju lift.
"nyonya saya mohon berikan saya satu kali kesempatan, saya minta maaf nyonya"ucap resepsionis menahan tangan Dewi dengan posisi berjongkok.
"saya sudah memanfaatkan kamu, lain kali jangan seperti itu, cobalah untuk menghargai orang lain, kalaupun saya bukan istrinya Kevin tidak sewajarnya kamu memperlakukan orang lain seperti itu, semua manusia itu sama, cuma berbeda nasip saja"ucap Dewi membantu resepsionis berdiri.
"aku juga minta maaf karna sudah menamparmu tadi syaa hanya reflek saja, saya sudah memaafkan kamu, tapi keputusan ada di tangan suaminya sya"ucap Dewi dengan lembut.
"kamu kembali lah bekerja, aku akan mencoba membujuk CEO kalian"bisik Dewi.
Ia juga tidak mau hanya masalah sepele saja membuat seseorang kehilangan pekerjaannya, karna ia juga pernh bekerja paruh waktu, ia tau ngimana rasanya di bentak bos di depan orang banyak, cukup dirinya sjaa yang merasakan hal itu orang lain jangan apalagi hanya masalah sepele saja.
"sayang ke putusan aku sudah bulat, dia harus tetap keluar dari kantor ini, masih banyak orang yang bermutu di luaran sana yang membutuhkan pekerjaan ini"ucap Kevin lembut.
"shittt"ucap Dewi sambil menempelkan jarinya dibibir kevin.
"kita bicara di ruanganmu saja by"ucap Dewi lembut.
"yang lain kembalilah bekerja, tak perlu di pikirkan kejadian hari ini"ucap Dewi lalu menarik tangan Dewi.
"tapi sayang"rengek Kevin menatap kesalnya Dewi.
Bagaimana tidak kesal, dia yang membela Dewi dihadapan karyawannya tapi Dewi malah membela karyawannya yang telah merendahkan Dewi.
Dewi terus menarik tangan Kevin menuju litf, seperti orang ibu yang memarahi anaknya sedangkan si anak hanya bisa merengek saja.
Tertutupnya lift yang membawa Dewi dan Kevin menuju ruangan CEO maka para karyawan bubar dan kembali bekerja sesuai devisinya.
"sayang pokoknya resepsionis itu harus tetap di keluarkan dari kantor ini, aku tidak sudi mengaji manusia sampah seperti itu"ucap Kevin ketika berada di dalam lift sambil tangannya menengah erat tangan Dewi.
cup
"aku pulang saja kalau kamu mengomel terus"ucap Dewi sambil mencium bibir Kevin, berharap pria itu berhenti mengoceh, karna ia juga harus memikirkan bagaimana cara membujuk Kevin supaya tidak memecat karyawannya.
Ia tidak boleh egois, jangan hanya karna dirinya seorang istri dari pemilik perusahaan dan sudah direndahkan membuat orang lain kehilangan pekerjaan.
"mana bisa seperti itu, kamu belum keruangan ku sudah pulang saja"ucap Kevin memeluk pinggang Dewi posesif sambil mencium pucuk kepala Dewi.
__ADS_1