Pernikahan Puncak Balas Dendamku

Pernikahan Puncak Balas Dendamku
bab 43


__ADS_3

"tergantung suami seperti apa, stop syaa lagi pusing dan saya mau istirahat, kalau kamu mau tidur disna ada kasur dan kalau kamu masih mau berdiri terus disnaa silakan"ucap Dewi langsung menutup seluruh bagian tubuhnya menggunakan selimut.


"kok jadi galakan dia sih dari pada aku"guman Kevin menatap tubuh Dewi yang sudah terbungkus.


Sedangkan Dewi yang segaja menutup seluruh tubuhnya supaya tidak menatap kevin, ia masih engga menatap wajah itu, bahkan ia sangat membenci wajah itu.


####


ketika jarum jam menunjukkan angka delapan Kevin baru bisa terbangun dari tidurnya semalam ia baru bisa terlelap ketika mendekati azan subuh, ia menatap ke arah sofa sudh kosong yang berarti Dewi sudh tidak ada lagi, tetapi ia melihat tas selempang Dewi yang masih tergantung di dekat meja rias.


"kemana dia"ucap Kevin langsung berjalan kearah kamar mandi.


Setelah selesai dari kamar mandi Kevin langsung turun kelantai bawah untuk melihat sosok Dewi.


"bi apakah melihat dewi..?"ucap Kevin


"ehh tuan, nona Dewi sedang berada di ruang kerja tuan Herman"ucap bi Sumi menunduk hormat.


"gapain..?"tanya Kevin bingung.


"katanya mau ada yang dibicarakan "jawab bi Sumi " apakah tuan butuh sesuatu, soalnya tadi kata nona Dewi kalau tuan mau pulang duluan tidak papa, soalnya nona Dewi katanya mau langsung ke kampus"ucap bi Sumi lagi.


"ngk ada Bi, saya tungguh Dewi saja supaya sama-sama ke kampus kalau begitu syaa susul Dewi duluh"ucap Kevin meninggalkan dapur dan berjalan menuju ruangan yang ia yakini itu adalah ruang kerja Herman.


Sampai di depan pintu Kevin tidak langsung masuk, ia membuka sedikit pintu untuk melihat situasi di dalam, dan dapat ia lihat Dewi dan Herman duduk berhadapan dan sama-sama diam.


#####


Setelah Dewi bangun ia langsung mandi dan membantu bi Sumi memasak walau hanya sebentar, ia segaja tidak membangunkan Kevin , biarlah bangun dengan sendirinya pikir dewi.


Dan saat ini Dewi sudh berada diruang kerja ayahnya, Dewi masuk tanpa mengetuk pintu dan langsung duduk tanpa dipersilakan, pokoknya pertanyaan beberapa hari ini harus terjawab,pertanyaan yang membuat tidak bisa terlelap semalam, untuk beberapa menit mereka saling diam tidak ada yang membuka suara.


"apa yang membawa kamu datang ruangan kerja pagi-pagi begini..?"tanya Herman membuka suara tersenyum sinis menatap Dewi.


"kesalahan apa yang ayah perbuat dimasa lalu"ucap Dewi langsung pada intinya.


"maksudmu kesalahan yang mana kamu maksud, bicara dengan jelas"ucap Herman.


"yang saya katakan hanya tujuh kata harusnya ayah bisa memahami apa maksud dari pembicaraan sya kan..?"ucap Dewi dingin.


"langsung pada intinya Dewi"ucap Herman kesal,


"siapa yang ayah bunuh waktu masa lalu..?"tanya Dewi menatap wajah perubahan Herman.


deg

__ADS_1


Mendengar pertanyaan Dewi yang sangat sederhana dapat membuat jantung Herman berdetak dua kali dari biasanya.


Apakah Dewi sudh mengetahui rahasia yang ia simpan selama ini, atau bahkan Kevin pun sudh mengetahuinya.


"wahhh berarti benar dugaan saya.."ucap Dewi.


"ayah tidak membunuh siapapun waktu di masa lalu, dari mana kamu mendengar hal itu..?siapa yang menceritakan itu..?"tanya Herman sedikit gugup.


"ayah tidak perlu tau dari siapa saya mengetahui itu, saya hanya butuh ayah menceritakan semua itu"ucap Dewi berdiri dari kursinya dan berjalan ke arah jendela.


"supaya aku tau kesalahan seperti apa yang aku tanggung saat ini"ucap Dewi menatap kearah luar lewat jendela.


"kamu tidak perlu menanggung semua kesalahan yang ayah perbuat, karna ayah tidak pernh melakukan kesalahan"ucap Herman


"OOO iyh ngk ada kesalahan, trus kenapa Kevin mengatakan kalau aku adalah anak seorang pembunuh, apa maksudnya ayah jelaskan"ucap Dewi sedikit berteriak.


"kenapa ayah yang melakukan kesalahan ak yang harus menanggung, aku yang harus tersiksa dan menderita, salah aku apa ayah..?"ucap Dewi tidak bisa lagi mengontrol volume suaranya.


"ayah tidak pernah melakukan itu, ayah tidak pernh membunuh ayahnya Kevin"ucap Herman kelepasan.


Duarrrrrrrr


"sya tidak mengatakan kalau ayah yang membunuh ayah Kevin, tetapi ucapan ayah kenapa mengarah kesana"ucap Dewi tersenyum karna sudh mengerti tujuan pembicaraan Herman.


Mendengar penuturan ayahnya Dewi bagaikan berada diantara ledakan bom dengan tekanan tinggi, darahnya seperti berhenti mengalir dan lututnya tidak bisa lagi menahan kekuatan bobot tubuhnya.


"tidak ayah tidak pernh melakukan itu"ucap Herman menatap Dewi.


"kalau memang bukan ayah, kenapa pembicaraan ku langsung arah kesana"ucap Dewi.


"jawab Dewi ayah, ada apa sebenarnya yang terjadi dimasa lalu ayah, aku ingin lepas dari semua ini, aku ingin hidup damai tanpa dibayangin seorang anak pembunuh"teriak Dewi.


"kurangin volume suaramu Dewi, jangan sopan santunmu, saya disini ayahmu bukan teman sebayamu"ucap Herman menatap tajam Dewi.


"apakah seorang pembunuh layak untuk dihormati..?lagian ayah yang mana yang ayah maksud..?"teriak Dewi lagi.


"asal ayah tau karena perbuatan ayah membuat dewi yang menanggung akibatnya, karena perbuatan ayah aku harus terjebak di pernikahan konyol ini,"teriak Dewi frustasi.


"sebenarnya salah Dewi apa sih ayah.?ayah sendiri membenci Dewi bahkan suami Dewi sendiri membenci dan ingin membunuh Dewi"teriak Dewi menangis.


Akhirnya pertanyaan beberapa hari ini sudah terjawab, akhirnya ia mengetahui sebab akibat Kevin sangat membencinya, semua itu tak lain karna dirinya adalah anak seorang pembunuh.


"ayah jahat, Dewi pikir setelah berjuang sampai sejauh ini semua akan berubah, Dewi pikir ayah akan sayang kepadaku, bahkan Dewi pikir Kevin adalah suami terbaik buat Dewi, tapi apa....tapi apa ayah, kau dan kevin benar-benar menghancurkan hidupku tanpa sisa"teriak Dewi menangis histeris.


"Dewi butuh kasih syaang seorang ayah, Dewi butuh perhatian ayah seperti ayah memperhatikan Dinda, Dewi ingin merasakan dimanja sama ayah, Dewi ingin merasakan di posesifi seorang ayah.."teriak Dewi serak.

__ADS_1


"Dewi hanya butuh hal sederhana itu yah, Dewi ngk butuh uang dan harta warisan, Dewi ngk butuh itu semua"ucap Dewi.


"tapi apa...kenapa harus Dewi yang menanggung kesalahan yang bahkan Dewi sendiri tidak perbuat, dan bahkan dewi baru tau setelah berusia 20 tahun"teriak Dewi.


"aku benci ayah, dasar pembunuh B*ngs*k"teriak Dewi menghamburkan semua dokumen yang di atas meja kerja Herman.


"aaaaaaa br*ngs*k"terik Dewi frustasi.


"jangan sikap mu Dewi, iyh ayah memang yang sudh membunuh orang tua Kevin bahkan ayah juga yang membunuh mamamu"ucap Herman menghentikan aksi gila dewi.


"a...a...apa...ayah yang membunuh mama"teriak Dewi terkejut bukan main.


"ayahnya Kevin sangat mencintai mamamu, begitu juga sebaliknya mamamu sangat mencintai ayahnya Kevin, ayah Kevin adalah cinta pertama mama mu, tapi ayah juga sangat mencintai mamamu hingga pada akhirnya ayah menjebak mama hingga ayah mengaku kalau kami sudh tidur bersama bahkan ayah juga mengaku telah mengambil mahkota mama mu padahal nyata tidak seperti itu, kami tidak pernah tidur bersama sebelm menikah."


"bahkan ayah membuat laporan palsu yang mengatakan kalau mamamu sedang hamil anak ayah sehingga kami menikah"ucap Herman.


"tapi setelah satu tahun pernikahan mamamu belm melupakan orang tua kevin bahkan kamu hadir ditengah-tengah pernikahan kami, bahkan begitu juga sebaliknya ayahnya Kevin tidak bisa melupakan mamamu meskipun dia sudh menikah dan memiliki anak"ucap Herman lagi.


"ayah merencanakan membunuh ayahnya Kevin bahkan mamamu juga, karna tidak boleh laki-laki siapa pun yang memiliki mama mu termasuk ayahnya Kevin sekalipun"ucap Herman


"sekarang kamu puas, jadi keluar dari ruangan ini"ucap Herman mengusir Dewi karna teringat dengan istrinya tercintanya pada zaman duluh, itu sebabnya ia sangat membenci Dewi karna wajah Dewi adalah jelmaan dari istrinya yang pada akhirnya banyak di kagumi banyak pria, begitu juga dengan Dewi ia tau bahwa selama ini banyak pria yang mengejar-ngejar Dewi.


"sangat puas, dasar pembunuh, b*nga*k, b*jingan ngk punya hati aku harap ini terakhir kali kita bertemu" ucap Dewi menatap tajam Herman, "dasar manusia pembunuh"teriak Dewi menangis.


Lalu ia meninggalkan ruangan itu dan segaja membanting pintu dengan sangat keras untuk meluapkan emosinya yang sudah di atas ubun-ubun, Melihat hal itu Kevin langsung bersembunyi supaya Dewi tidak melihatnya yang sedang menguping.


"jadi mama nya Dewi dan juga ayah saling mencintai bahkan ayahku cinta pertamanya mama Dewi, dan mereka bernasip sama, sama-sama dibunuh, segitu abadinya cinta mereka sampai mati pun harus sama-sama"batin Kevin dibalik tembok.


Lalu ia berjalan menuju kamar Dewi yang ia tau Dewi pasti masuk kamar, ketika di tangga Kevin dan Dewi berpapasan sejenak tatapan mereka saling bertemu Kevin menatap Dewi dengan tatapan sangat sulit diartikan sedangkan Dewi menatap Kevin dengan tatapan campur aduk, antara kasih dan benci, kasihan karna penyebab ayahnya meninggal adalah orang tuanya, dan benci karna Kevin sudh menyiksanya dengan mengatasnamakan balas dendam kepada keluarganya.


Tapi Dewi langsung memutuskan tatapan itu, bahkan dia berjalan menurun tangan dengan sedikit berlari bahkan ia melewati Kevin tanpa menatap ataupun menyapa nya.


"dewi tunggu"ucap Kevin mencoba mengejar Dewi, sedangkan Dewi tidak memperdulikan ucap Kevin, ia terus melanjutkan langkahnya.


"Dewi tunggu duluh"ucap Kevin menarik tangan Dewi.


"apa lagi sih.?"ucap Dewi menghempaskan tangan Kevin.


"mau kemana..?"tanya kevin.


"mau bunuh diri, mau kemana lagi memang"ucap Dewi melanjutkan langkah.


"Dewi aku serius kamu mau kemna..?"ucap Kevin lagi.


"emng muka mu keliatan sedang bercanda ngituh..?"tanya Dewi balik

__ADS_1


"saya butuh waktu sendri Vin, jadi tolong jangan nganggu aku duluh"ucap Dewi meninggalkan Kevin.


Akhirnya Kevin membiarkan Dewi pergi sendiri, karna ia tau kalau Dewi belm bisa menerima fakta yang ada.


__ADS_2