
Setelah beberapa saat akhirnya mobil Remon sampai dirumah sakit, walaupun melewati banyak rintangan tapi mereka tetap sampa kerumah sakit dengan selamat.
Di lobby rumah saki sudah ada para suster menunggu kedatangan Kevin, mereka langsung sigap mengangkat tubuh Dewi ke brangkas.
"silakan tuan menunggu disini, selebihnya serahkan kepada kami"ucap suster.
"tapi syaa suaminya sus, saya harus menemani istri syaa di dalam"ucap Kevin kekeh ingin masuk.
"tolong tuan, izinkan kami untuk mengambil bagian, jadi biarkan kami untuk menangani nyonya Dewi"ucap suster.
"kalau kau kekeh ingin masuk bagaimana mereka bisa memeriksa Dewi, yang ada Dewi tidak bisa bertahan, percayakan Dewi kepada mereka"ucap Ryo sambil menarik Kevin menjauh dari pintu.
"tapi Dewi tidak ada yang menemani di dalam"ucap Kevin dengan polosnya.
"dokter di dalam sudah ada tiga orang, belum lagi para suster, Dewi tidak sendiri"ucap Ryo "doa kan saja Dewi, supaya selamat"
"untuk kesekian kali kau terbaring dirumah sakit wi, apakah kau begitu bersahabat dengan rumah sakit, aku mohon bertahanlah demi aku wi, aku syang banget sama kamu"batin Kevin berteriak dalam hati.
Sedangkan Ryo dan Remon hanya menatap ibah kepada Kevin, untuk pertama kalinya mereka melihat Kevin seterpuruk ini.
"sabar Vin, percaya smaa gue semua akan baik-baik saja, Dewi gadis yang kuat, kalau hanya tusukan seperti itu hanya luka kecil baginya, karna sejak kecil Dewi sudah di tuntun menjadi wanita yang kuat"ucap Ryo menatap Kevin.
"gue harus apa supaya Dewi bisa sembuh..?kalau bisa gue mau mengantikan Dewi di dalam sana, gue sakit melihat dia disana"lirih Kevin.
"semua sudah ada garis tanganya Vin, mungkin untuk saat ini Dewi sedang melewati garis tangannya, kamu tidak perlu berbuat apa, kamu tinggal doakan Dewi dari sana, lagian kalau kamu terus seperti ini siapa yang akan menyemangati Dewi"ucap Ryo.
"kalau Dewi saja di dalam sana sedang berjuang demi Lo, kenapa Lo ngk bisa berjuang disini demi Dewi"ucap Ryo lagi.
Sedangkan Kevin hanya diam saja, ia bingung harus berkata apa dan berbuat apa, entahlah kalau soal menyangkut Dewi maka Kevin akan menjadi laki-laki yang paling lemah, ia kan berubah menjadi lemah jika melihat Dewi yang sedang terbaring dirumah sakit.
"dengan keluarga nyonya Dewi"ucap dokter.
"saya dok, bagaimana keadaan istri saya, apakah semua baik-baik saja"ucap Kevin sambil berdiri.
"nyonya Dewi adalah wanita yang kuat tuan, kalau pun mendapat dua tusukan yang cukup dalam tapi kondisi tidak terlalu mengkhawatirkan, dan untuk nyonya Dewi cepat dibawah kesini, kalau tidak mungkin akan lewat, sehingga nyonya Dewi dan bayinya masih bisa diselamatkan dan untung saja tusukan itu tidak mengenai janin nyonya sedikit pun"ucap dokter menjelaskan kondisi Dewi.
Deg
Mendengar kata janin jantung Kevin seakan berhenti berhenti berdetak, sungguh ia tidak habis pikir akan hal itu
"janin..?"guman Kevin ketika menyadari penjelasan dokter "maksudnya janin ngimna dok..?saya tidak paham"
"nyonya Dewi sedang hamil delapan Minggu tuan, apakah sebelum pihak keluarga tidak mengetahui tentang kehamilan nyonya Dewi..?"ucap dokter menatap kevin.
"tidak dok, bahkan kami belum mengetahui tentang kehamilan Dewi, tapi Dewi dan janinnya benar baik-baik aja kan dok"ucap Kevin bahagia, senyum diwajahnya tak luntur sedikit pun setelah mengetahui kehamilan Kevin.
Ia tidak menyangka, dibalik musibah yang mereka dapatkan malam ini ternyata Tuhan telah menitipkan malaikat kecil ditengah-tengah keluarga kecil mereka.
__ADS_1
"semua baik-baik saja tuan, tidak ada yang perlu di khawatir kan"ucap dokter.
"tapi..."
"tapi apa dok, tolong berbicara jangan setengah-setengah"ucap Kevin memotong ucapan dokter.
"nyonya Dewi kehilangan banyak darah, sehingga kita membutuhkan pendonor darah yang cocok"ucap dokter.
Rasa bahagia dan senyum yang sejak tadi menghiasi wajah Kevin hilang begitu saja, ternyata malaikat kecilnya juga sedang berjuang di dalam perut mamanya.
ia bingung harus merespon apa, disatu sisi ia bersyukur karna keadaan Dewi tidak mengkhawatirkan dan lebih bersyukur lagi saat ini Dewi sedang hamil anaknya, tapi di sisi lain ia khawatir ketika mendengar kalau Dewi butuh darah yang cukup banyak.
"golongan nyonya Dewi AB negatif, kebetulan golongan darah itu cukup langkah dan di rumah sakit sedang kosong, kami sudah menghubungkan rumah sakit lain, tapi hasilnya nihil tuan"ucap dokter.
"kalau ada keluarga yang mempunyai golongan darah yang sama segera kabari kami, kalau begitu kami permisi duluh"ucap dokter lalu meninggalkan Kevin, Ryo dan Remon yang diam terpaku di depan pintu ruang rawat Dewi.
Setelah dokter pergi Kevin langsung menatap Remon dan juga Ryo, sedangkan Remon dan Ryo mengeleng pertanda golongan darah mereka tidak cocok dengan Dewi.
"Carikan golongan darah AB negatif sekarang, saya butuh secepatnya"ucap Kevin kepada anak buahnya dan langsung mematikan sambung telepon secara sepihak.
"apa lagi ini Tuhan, dari mana aku harus mencari golongan darah AB negatif, sedangkan aku golongan darahnya B, "batin Kevin frustasi sambil menarik rambutnya
Kemana ia harus mencari golongan darah itu, Di dalam keluarganya tidak ada golongan darah AB negatif.
"gue titip Dewi duluh, gue akan mencari golongan darah yang cocok buat Dewi, kalau ada apa-apa segara kabari gue"ucap Kevin.
"pak Herman..?"guman Kevin sedikit terkejut, pasalnya dari mana pak Herman tau kalau Dewi sedang dirawat dan butuh banyak darah.
"selama ini sya selalu menelantarkan Dewi, jadi syaa mohon tuan, izinkan saya untuk mendonorkan darah saya kepada Dewi, mungkin ini adalah pengorbanan pertama saya sejak Dewi dilahirkan ke dunia ini"ucap Herman memohon kepada Kevin.
"Mon antarkan ke ruangan dokter"ucap Kevin dingin, meskipun ia masih cukup berterima kasih kepada Herman, tapi mengingat kelakuan Herman kepada Dewi membuat dirinya emosi.
"Tuhan saya mohon jangan ambil Dewi untuk kedua kalinya dariku, jika kau telah menitipkan malaikat kecil itu kepada kami tolong jangan ambil lagi Tuhan, biarkan kami merawat nya, maafkan aku yang tidak bisa menjaga Dewi, maafkan aku yang tidak bisa berbuat apa-apa untuk menolong Dewi. Aku memang suami yang tidak berguna Tuhan, aku tidak pantas buat menjaga Dewi, tapi sekali ini sjaa yang memohon kepadamu tolong kembalikan Dewi kepada ku Tuhan, kami baru saja memulai Tuhan, Tuhan jangan kau tutup kisah yang belum dimulai ini"batin Kevin menangis pilu sambil menatap Dewi dari kaca transparan.
Ia begitu sakit melihat kondisi Dewi seperti ini.
"permisi tuan, di panggil dokter keruangannya, karna nyonya Dewi akan segera menerima transfusi darah, jadi kami butuh tanda tangan tuan"ucap suster menyadarkan Dewi.
"gue titip Dewi"ucap Kevin sambil berjalan mengikuti suster.
Di ruangan dokter sudah ada Herman dan juga istrinya beserta Dinda anaknya.
"ini tuan, bebrapa dokumen yang perlu anda tanda tangani selaku suami nyonya Dewi"ucap dokter sambil menyerahkan beberapa lembar dokumen kehadapan Kevin.
"baiklah, suster tolong bantu bapak nya"ucap dokter setelah memastikan Kevin menyelesaikan tanda tangani berkasnya.
"kita akan segera melakukan transfusi sekarang juga, kita tidak punya waktu yang banyak"ucap dokter lalu meninggalkan ruangan di ikuti oleh beberapa suster.
__ADS_1
"terimaksih"ucap Kevin lalu meninggalkan ruangan itu tanpa menunggu respon dari Herman.
Hanya satu kata itu yang bisa keluar dari mulut Kevin, dan itu pun masih kaku, mengingat baru pertama kalinya Kevin mengucapkan terimakasih kepada Herman yang notabennya lawan bisnisnya sekaligus ayah mertuanya.
Kevin kembali ke depan pintu rawat inap Dewi, disana teman-teman sedang menunggu dirinya.
"bunda, nenek"lirih Kevin ketika melihat dua sosok yang paling ia sayangi ada dihadapannya.
"Kevin syang"ucap Devi sambil memeluk Kevin.
"selamat iyh kamu akan menjadi ayah, bunda bangga sama kamu nak, kamu mampu menjaga dan mempertahankan Dewi demi bunda"ucap Devi sambil mengelus punggung Kevin.
"bunda, anak dan istri ku sedang berjuang di dalam sana, aku takut bund"lirih Kevin.
"percaya smaa bunda nak, jika Dewi seorang wanita yang kuat maka janin dalam kandungan Dewi jauh lebih kuat, karna anak kalian akan memberikan kekuatan kepada mamanya syang"ucap Devi sambil melepaskan pelukannya.
Lalu ia menatap kevin, menghapus sisa air matanya di pipi Kevin, bagi orang lain Kevin adalah sosok pemuda yang tangguh dan kejam tapi baginya kevin yang sudah dewasa tetaplah menjadi Kevin kecilnya.
"dokter boleh saya masuk melihat istri sya"ucap Kevin ketika melihat beberapa dokter hendak masuk keruangan Dewi.
"silakan tuan"ucap dokter mempersilakan Kevin masuk.
Kevin langsung masuk ke dalam ruangan Dewi, ternyata disana sudah ada Herman yang sudah berbaring ditemani istrinya.
Kevin langsung berjalan mendekati Dewi.
"Hay sayang, aku bangga smaa kamu, kamu wanita yang sangat kuat yang pernah aku temui, maafkan aku karna sejak awal pertemuan kita aku selalu gagal menjaga kamu, aku mohon bertahanlah demi aku, aku syang banget sma kamu wi, aku tidak mau mengakhiri kisah kita yang belum dimulai"bisik Kevin ditelinga dewi sambil mengelus pucuk kepala Kevin.
"kamu tau, sebentar lagi kita akan menjadi orang tua syang, malaikat kecil itu sudh hadir disini, Kevin junior sudah berkembang disini, jadi aku mohon kalian berdua bertahanlah, hanya kalian berdua yang aku ingin di dunia ini"ucap Kevin sambil mengelus perut rata Dewi.
Ketika ia menyatukan jidatnya dengan jidat Dewi, pas pada saat itu tangis Kevin pecah, ia tidak sanggup melihat kondisi dewi saat ini, ia tidak peduli Herman yang terus menatap nya.
"Hay anak papa, sehat-sehat di dalam sana iyh, kuatkan mama syaang, supaya dia bertahan demi kamu dan demi papa juga, papa syang sama kalian berdua"ucap Kevin sambil mencium perut rata Dewi.
"please wi, jangan menangis, melihat air matamu membuatku semakin merasa kalau aku adalah suami yang tidak berguna"ucap Kevin karna melihat Dewi mengeluarkan air matanya meskipun dalam keadaan tidak sadar.
Kejadian saat ini mengingatkan Kevin tentang kejadian beberapa bulan lalu dimna Dewi dalam keadaan kritis tapi masih tetap saja menangis.
"ini adalah pengorbanan pertama ayah buat kamu stelah kamu dilahirkan ke dunia ini nak, maafkan ayah karna selama ini selalu mengabaikanmu, mamamu pasti bangga telah melahirkan wanita sekuat dan setangguh kamu kamu persis seperti mamamu, masih bisa menangis meskipun dalam keadaan tidak sadar"batin Herman sambil menatap ke arah ranjang Dewi.
"kalau boleh, ayah tidak pernh menyesal menikahkan kamu dengan tuan Kevin, karna kamu dijadikan ratu oleh suami mu, kamu begitu disayangi dan kamu diterima di keluarga mereka, ayah harap ini yang terakhir kalinya kamu terbaring dirumah sakit, semoga setelah ini kebahagian selalu menghampiri rumah tanggamu"batin Herman lagi sambil menatap punggung Kevin yang terus berinteraksi dengan Dewi.
Ia tidak menyangka kalau Kevin akan meratukan Dewi di keluarga Mahendra.
Puas berbicara dengan Dewi dan janin dalam kandungan Dewi meskipun tidak ada respon dari Dewi tapi cukup membuat Kevin sedikit tenang, apalagi ketika melihat Dewi mengeluarkan airnya matanya membuat dia semakin yakin kalau Dewi masih bertahan demi dirinya.
Ketika Kevin keluar dari ruangan Dewi maka dokter langsung masuk dan memulai transfusi darah.
__ADS_1