
"kenapa kamu diam Dewi, ayo jawab"ucap Kevin karna melihat Dewi yang masih diam saja.
"ok, dengan kamu diam seperti ini aku sudah tau jawabannya"ucap Kevin menahan emosinya supaya tidak melayangkan tangannya untuk memukul Dewi.
"seperti kita butuh waktu untuk sendiri-sendiri duluh, nanti Daffa akan datang menjemput kamu disini"ucap Kevin sambil membuka pintu mobil, lalu menutup sekarang kasar.
"kunci pintu mobil, jangan keluar dari mobil sampai Daffa datang"ucap Kevin dari kaca mobil yang kebetulan kacanya sedang terbuka.
Kevin benar-benar meninggalkan Dewi sendiri di dalam mobil, ia membiarkan mobil itu menepi di pinggir jalan, sepertinya mereka butuh waktu untuk sendiri-sendiri.
"berarti benar wi, kamu belum bisa menerima aku sebagai suamimu, buktinya kamu tidak mengejar aku Dewi, kamu membiarkan aku pergi begitu saja"batin Kevin sambil berdiri dipinggir jalan untuk menunggu taksi, matanya masih tertuju ke mobilnya yang ada ditepi jalan.
Setelah menunggu beberapa saat akhirnya taksi lewat dan Kevin langsung menghentikan nya dan langsung naik tanpa memikirkan Dewi yang ia tinggalkan di dalam mobil.
Ketika melihat Kevin sudah pergi meninggalkan tempat itu, Dewi langsung turun dari mobil, ia tidak mendengarkan ucapan Kevin supaya tidak keluar sampai Daffa datang mengambil alih menyetir mobil.
"kamu jahat Vin, kamu menyuruh aku untuk menerima kamu, tapi Icha sedang hamil anak kamu"guman Dewi disela-sela tangisnya sambil memandang mobil taksi yang membawa Kevin.
"kamu pikir aku wanita seperti apa Vin, kamu pikir aku hati aku terbuat dari apa bisa menerima kamu dengan keadaan kamu akan menikah dengan Icha"guman Dewi menyimpulkan sendiri tanpa berniat meminta penjelasan kepada Kevin.
"aku hanya manusia biasa Vin, yang punya hati nurani, aku tidak mungkin membiarkan Icha melahirkan tanpa suami, aku tidak mungkin anak kalian lahir tanpa status yang jelas, aku tidak sejahat itu Kevin"guman Dewi lagi menangis sejadi-jadinya sambil bersender di pintu mobil.
Sakit
Sangat sakit sekali, ia benar-benar tidak bisa mendefinisikan keadaan saat ini, di satu sisi ia mencintai Kevin dan tidak mau meninggalkan Kevin tapi disisi lain ia tidak tega melihat Icha melahirkan tanpa suami, ia tidak mau anak yang tidak bersalah dalam kandungan Icha tidak mempunyai status yang jelas.
Meskipun ia sudah jahat kepadanya selama ini, tapi sesama perempuan ia juga merasakan ngimana susahnya jadi Icha, meskipun ia dan Icha tidak pernh akur, lebih tepatnya Icha yang selalu menghina dan merendakannya tapi hati kecilnya masih kasihan melihat Icha, hatinya sebagai perempuan tidak tega melihat Icha seperti ini, hamil tanpa status yang jelas.
Dewi duduk disamping mobil sambil menundukkan kepalanya, tak sedikit para pengguna jalan menawarkan bantuan kepada Dewi, mereka pikir mobil Dewi sedang mogok.
Tapi Dewi menolak dengan alasan akan datang asisten suaminya untuk menjemput dirinya disini.
Dewi menangis diantar kendaraan yang berlalu lalang, karna waktu sudah menunjukkan jam pulang kantor.
"nyonya Dewi, maaf lama menunggu, sya habis menggantikan tuan Kevin meeting, jadi melihat ponsel, ayo saya antar pulang"ucap Daffa turun dari mobil.
__ADS_1
"iyh ngpp kak Daffa"ucap Dewi menatap Daffa, ia langsung masuk kursi penumpang.
"maaf iyh kak, seandainya aku bisa nyetir mungkin tidak akan merepotkan kak Daffa"ucap Dewi sambil mengambil tas selempang dari kursi depan.
"tidak papa nyonya, memang sudah menjadi tugas saya untuk direpotkan"ucap daffa sambil fokus menyetir.
Sedangkan Dewi hanya diam saja sambil membuang pandangan ke arah jendela luar.
"kenapa..?tanya Daffa.
"apanya..?"tanya Dewi balik.
"kamu kenapa..?kelahi smaa Kevin..?kenpa dia tiba-tiba meminta aku menjemput..?bukan kah tadi dia pulang bersama mu dari kampus..?"tanya daffa, melihat situasi saat ini Daffa berperan sebagai kakak buat Dewi, bukan sebagai asisten suaminya lagi, karna ia tau Kevin dan Dewi sedang tidak baik-baik saja.
Semarah apapun Kevin, ia tidak pernh meninggalkan orang di pinggir jalan, tapi untuk tindakan saat ini, benar-benar diluar dugaannya.
"tidak papa kak, Kevin tadi buruh-buruh makaya langsung meninggalkan aku dijalan"ucap Dewi menutup kejadian bebrapa jam yang lalu, tidak mungkin membongkar keburukan Kevin didepan asisten pribadinya.
"cerita sama aku Dewi, anggap saja aku ini kakakmu bukan sebagai asisten suamimu, jangan kamu pendam sendiri, masalahnya ngk bakal selesai tapi malah kamu stress sendiri"ucap Daffa sambil fokus menyetir.
"ngk ada yang aku pendam, semua baik-baik saja, hubungan dengan Kevin baik-baik saja"ucap Dewi.
"jangan antar aku kerumah, aku mau kerumah ayah Herman aja, aku rindu bertemu Dinda"ucap Dewi tidak menghiraukan ucapan Daffa.
Tidak mungkin dia pulang kerumah dan bertemu Kevin, ia tau Kevin masih marah sama dia, sehingga untuk menghindari Kevin ia memutuskan berkunjung dan menginap dirumah orang tuanya meskipun ia tau ap yang terjadi nantinya jika bertatap muka dengan ayahnya.
"kenapa harus kerumah tuan Herman..? sebenarnya ada masalh apa kamu smaa Kevin..?jika ada masalah itu diselesaikan, bukan malah menghindar seperti ini"ucap Daffa.
"kami tidak ada masalah apa-apa, aku hanya ingin menginap dirumah ayah, lagian aku merindukan suasana kamarku"ucap Dewi mencoba mencari alasan.
"kamu bukan merindukan suasana kamar mu Dewi, tapi kamu sedang menghindari Kevin"batin Daffa tidak menanggapi alasan Dewi.
Daffa langsung mengantar Dewi kerumah orang tuanya, ketika Daffa sampai dihalaman rumah orang tua Dewi, ia tidak langsung pulang, ia harus memastikan bahwa Dewi benar-benar masuk kerumah mewah itu.
"tuan Daffa, tumben mampir kesini..?bagaimna kabarmu..?tuan Kevin dimana..?"ucap Herman yang kebetulan sedang duduk diteras sambil membaca koran.
__ADS_1
"selamat sore tuan Herman, seperti yang anda lihat saya baik-baik sja, tuan kevin sedang ada dikantor, sya kesini hanya ingin menitipkan nyonya Dewi malam ini, nanti tuan Kevin akan menjemputnya lagi, kebetulan syaa dan tuan Kevin ada lembur malam ini"ucap Daffa meskipun ia tidak yakin kalau Kevin akan menjemput Dewi malam ini dari rumah orang tuanya.
"baiklah, Dewi langsung kekamar saja, istirahatlah sambil menunggu tuan Kevin menjemputmu"ucap Herman menatap Dewi.
Lucu memang, jika Herman menanyakan kabar dari asisten suami Dewi, sedangkan Dewi anak kandungnya sendiri seakan tidak mau tau bagaimana kondisinya, Ibaratnya jika Dewi berkunjung kerumahnya berarti dia masih hidup tapi jika Dewi tidak berkunjung kerumahnya lagi, berarti dia sudah mati, begitulah kira-kira prinsip Herman yang seakan tidak mau tau kabar Dewi.
Karna pada dasarnya sejak ia memaksa Dewi menikah kepada Kevin dengan tujuan untuk kelangsung perusahaannya sejak saat itu juga ia tidak pernh menanyakan kabar Dewi.
Mungkin jika tidak Daffa yang mengantarkan dirinya sampai keteras rumah, sudah pasti Dewi akan mendapatkan hinaan dari ayah kandungnya sendiri, entahlah sebesar apa rasanya benci ayahnya kepada Dewi, ia sendiri pun bingung.
"saya percaya akan hal tuan"ucap Daffa dingin.
"kalau begitu nyonya Dewi, istirahat lah, nanti tuan Kevin sendiri yang menjemput anda dari sini, sekarang naiklah ke kamarmu, jangan keluar kamar sebelum tuan Kevin datang"ucap Daffa memastikan Dewi masuk kedalam kamar, ia tidak akan membiarkan istri dari tuannya di hina oleh keluarga kandungnya sendiri.
"kalau begitu syaa langsung naik iyh, maksih sudah mau mengantar syaa kesini, ayah Dewi duluan"ucap Dewi sedangkan Herman hanya mengangguk.
Yang dipikirannya sekarang hanya ada angin apa Dewi sehingga ia tumben berkunjung kerumah ini.
"tuan kalau begitu saya permisi, satu hal yang harus anda tau, selama nyonya Dewi disini jangan ada berita sampai ke telinga saya terutama ke telinga tuan Kevin kalau mendapat hinaan dirumahnya sendiri"ucap Daffa menatap dingin Herman.
"kalau sampai itu terjadi, anda tentu tau kan apa akibatnya terhadap perusahaan anda sendiri"ucap Daffa, lalu ia langsung meninggalkan teras itu setelah memastikan Dewi masuk kedalam kamar sedangkan Herman lagi-lagi hanya mengangguk.
"ternyata Dewi sudah sangat di ratukan oleh Kevin, Dewi sudah menjadi nyonya besar dikeluarga Mahendra"guman Herman menatap mobil Daffa yang keluarga dari gerbang rumahnya.
Benar kata orang, perempuan akan dijadikan ratu oleh laki-laki yang tepat
Sedangkan Kevin yang memutuskan kembali kekantor mendapat kabar kalau Dewi memutuskan pulang kerumahnya langsung mempercepat pekerjaan, ia tau kalau Dewi mencoba menghindari nya, ia kan segera menyusul Dewi kerumah orang tua dan meminta maaf kepada Dewi.
Ia menyesal telah meninggal Dewi di pinggir jalan, apalagi Dewi harus menunggu Daffa untuk menjemputnya, karna Dewi tidak bisa menyetir.
Bukannya ia tidak mau mengajari Dewi untuk menyetir, tapi ia tidak mau Dewi sampai celaka kalau Dewi bisa membawa mobil nantinya, ia lebih senang jika Dewi merepotkan dirinya.
Ia juga berjanji, semarah apapun dirinya kepada Dewi, ia tidak akan meninggalkan Dewi sendiri di pinggir jalan, ia janji itu adalah yang pertama dan yang terakhir ia meninggalkan Dewi di pinggir jalan.
"maaf, telah meninggalkan kamu tadi di pinggir jalan, aku hanya emosi, aku takut akan menyakiti kamu jika aku berlama di sampingmu"ucap Kevin sambil memandangi foto cantik Dewi yang segaja ia pajang dimeja kerjanya, sebgai penyemangat dirinya dlaam pekerjaan.
__ADS_1
Apalagi pada saat lembur seperti saat ini, ketika memandang foto Dewi yang tersenyum manis membuat ia jika bekerja tidak akan ada lelahnya, rasa lelah itu seakan diserap oleh senyum manis Dewi.
Difoto terdapat Kevin dan Dewi ketika sedang berlibur di pantai italia, yang dimana Kevin memeluk pinggang Dewi dengan posesif, sedangkan Dewi melingkarkan tangannya di pinggang Kevin, tak lupa mereka sama-sama memperlihatkan senyum manisnya, mereka berpose dibawah senja.