
Sesuai perkataannya sebelumnya selesai mandi Kevin langsung membawa Dewi berkeliling rumah sakit sebelum pulang.
"kita kemana duluh ini..?"tanya Kevin sambil memengang erat tangan Dewi, karna setelah dirasa kakinya sudh mulai kuat berjalan Dewi memutuskan berkeliling rumah sakit berjalan kaki saja yang pastinya dibantu Kevin.
"jalan aja duluh"ucap Dewi memengang tangan Kevin tak kalah erat.
"betulan kamu sudh bisa jalan..?"tanya Kevin khawatir.
"sudah, kemarin kak Daffa bantu aku belajr jalan normal"ucap Dewi sambil berjalan keluar dari ruangan.
"apa?..Daffa ngajarin kamu jalan.?"ucap Kevin terkejut, ternyata ia kalah telat dari asistennya.
"iyh kenapa memang..?"tanya Dewi bingung karna menghentikan langkahnya.
"bagian mana aja yang dia pengang..?"bukannya menjawab Kevin malah bertanya balik.
"tangan smaa lengan aja"jawab Dewi dengan polosnya, ia tidak tau kalau Kevin saat ini dalam mode kesal.
"habis pulang dari rumah sakit, tanganya di rendam duluh"ucap Kevin melanjutkan langkahnya.
"kenapa begitu..?"tanya Dewi semakin bingung, buat apa juga ia harus merendam tangannya, seperti ikan asing aja yang harus di rendam duluh baru di masak pikir Dewi.
"nurut aja apa susahnya sih"ucap Kevin kesal, mood sudh ngk baik lagi bisa-bisanya Daffa mengambil alih membantu Dewi berjalan.
"bosan bekerja sama aku kayaknya Daffa ini"batin Kevin.
"nurut itu ngk susah, cuma nurut itu harus ada tujuannya dalam bidang apa duluh"ucap Dewi.
"nanti aku kasih tau bawel banget sih, jadi keliling ngk..?kalau ngk jadi balik keruangan aja kita pulang"ucap Kevin menahan kesalnya, bisa-bisanya Dewi tidak menyadari kalau dirinya sedang dalam mode cemburu.
"kok kamu jadi marah..?aku kan nanya baik-baik"ucap Dewi masih terus melanjutkan langkahnya.
"ngk marah syang, cuma lagi kesal aja"ucap Kevin mengelus rambut Dewi, sedangkan Dewi hanya ber o ria saja.
Ditengah-tengah keramaian rumah sakit tiba-tiba Dewi menangkap sosok yang sangat ia kenali kalau kemarin ia hanya melihat satu orang saja berbeda dengan saat ini, ia mengenali sosok dua orang sedang bersama dan lagi-lagi mereka berjaln menuju poli ibu hamil.
"ngk mungkin kan dia punya kembaran..?dan kenapa mereka bisa bersama masuk ke poli ibu hamil..?"guman Dewi menghentikan langkahnya sambil menatap punggung sosok itu yang semakin jauh.
"kembaran siapa..?"ucap Kevin karna mendengar gumanan Dewi.
"atau mungkin aku salah lihat..?tapi ngk mungkin salah lihat sampai dua kali, aku yakin itu pasti mereka dan mereka gapain kesana..?guman Dewi lagi belum menyadari pertanyaan Kevin.
"salah lihat siapa sih..?"tanya Kevin lagi mengikuti arah padangan Dewi.
"dewi,.... oi Dewi syang"ucap Kevin melambaikan tangannya di depan wajah Dewi.
"ahh iyah kenapa..?"tanya Dewi gelagapan membuyarkan pandanganya.
"giliran di panggil sya aja baru nyahut"guman Kevin pelan.
"kenapa..?"tanya Dewi menatap Kevin sekilas lalu melanjutkan langkahnya di ikutin Kevin dari samping.
"kembaran siapa..?dan salah lihat siapa..?"tanya Kevin sambil melingkarkan tangannya di pinggang Dewi.
"emng aku ada berbicara seperti itu..? alih-alih menjawab Dewi malah bertanya balik.
"ngk ada kayaknya, cuma perasaanku aja"ucap Kevin
"kita gapain ke bagian ibu hamil..?"tanya Kevin yang menyadari langkah Dewi berjaln menuju poli ibu hamil.
"ngk tau kakiku berjaln sendiri ke sini"ucap Dewi menghentikan langkahnya.
"iyh kalau bukan kamu yang melangkah berarti kaki ngk bakal melangkah kesini juga"ucap Kevin kesal, saking kesal ingin rasanya ia menjambak rambut panjang Dewi.
__ADS_1
Sekarang dia sudh merasakan apa yang dirasakan Devan ketika ia membuat manusia satu itu kesal.
Sedangkan Dewi hanya terkekeh gemas melihat wajah kesal Kevin.
"ke taman aja yuk..?"ajak Dewi melangkah pelan meninggalkan bagian poli ibu hamil.
"boleh"ucap Kevin mengikuti langkah Dewi.
Saat ini Kevin dan Dewi sedang duduk di kursi taman yang sudh disediakan pihak rumah sakit, Sejenak hanya ada keheningan disana, Dewi yang pikirannya melalang buana pada dua sosok yang ia tangkap waktu di poli ibu hamil, sedangkan Kevin sibuk memikirkan hukuman apa yang harus ia berikan kepada Daffa karna sudh berani melewati langkahnya yaitu menyentuh Dewi meskipun itu hanya sekedar membantu berjalan saja.
"aku mau cari minum bentar iyh, kamu mau nitip makan atau minum..?"tanya Kevin membuyarkan lamunan Dewi.
"aku nitip air putih aja deh, "ucap Dewi menatap lurus kedepan.
"iyh sudh kamu disini duluh, jangan kemana-mana aku pergi bentar aja kok"ucap Kevin mengacak lembut rambut Dewi, sedangkan Dewi hanya tersenyum menanggapi sikap lembut Kevin, jarang-jarang pria itu bersikap lembut kepadanya.
Setelah bebrapa saat kepergian Kevin lagi-lagi dari kejauhan mata Dewi menangkap sosok itu di parkiran rumah sakit, sepertinya dua sosok itu hendak pulang.
Tapi yang menjadi pertanyaan dibenak Dewi mobilnya sangat berbeda dari mobil yang biasa di pakai.
"ini ngk betul lagi, ngk mungkin mataku salah lihat sampai tiga kali kan."guman Dewi memastikan dirinya tidak salah lihatnya lagi.
Terlarut dalam lamunannya Dewi tida sadar jika Kevin sudh duduk sedari tadi disamping, sampai Kevin pun bingung kenapa Dewi sering sekali melamun, Kevin mengikuti arah pandang Dewi yang menata lurus ke arah parkiran, lihat apa Dewi di parkiran pikir Kevin.
"lihat apa sih disna..?"ucap Kevin membuyarkan lamunan Dewi.
"ngk ada, perasaan kamu aja deh kayaknya"ucap Dewi.
"aku mau pulang sekarang"ucap Dewi tanpa menatap Kevin.
"tapi kita nunggu dokter duluh wi, mau pastikan keadaan kamu"ucap Kevin mencoba memberi pengertian kepada Dewi.
"aku mau pulang Vin, aku capek disini"ucap Dewi sambil berdiri dari kursinya.
"urus kepulangan Dewi sekarang"ucap Kevin dari sambung telepon lalu mematikan secara sepihak.
Sampai di dalam ruangan Dewi hanya diam saja sambil berdiri di pinggir ranjang, hanya dengan matanya menangkap dua sosok yang sangat iyh kenali membuat mood sudh tidak baik.
Tapi sebelumnya ia tidak mau berburuk sangka duluh, ia juga tidak mau berpikiran negatif, ia harus mencari tau lebih detail lagi.
Diruangan itu hanya ada keheningan Kevin dan Dewi sama-sama sibuk dengan pemikirannya sendiri.
"permisi tuan, nona Dewi sudh bisa dipulangkan, pesan dokter supaya nona Dewi menjaga kesehatan dan tetap kontrol, kalau bisa nona Dewi jangan sampai kelelahan"ucap Daffa membuyarkan keheningan.
"administrasi sudh beres daf..?"tanya Kevin dingin.
"sudah tuan"
"baiklah sekarang kita pulang"ucap Kevin berjalan mendekati Dewi dan langsung memengang tangan gadis itu untuk membantu Dewi berjalan.
Sementara Daffa langsung mengambil tas yang berisi perlengkapan Dewi selama dirawat dirumah sakit, lalu berjalan mengikuti Dewi dan Kevin.
Berjalan di lorong rumah sakit secara beriringan sampai dimobil bahkan sampai di kediaman kevin hanya terjadi keheningan.
Kalau Kevin sibuk dengan pemikirannya berbeda dengan Dewi yang awal melamun tapi lamunannya membawanya ke alam mimpi, dapat di pastikan selama perjalanan menuju kediaman Kevin Dewi hanya tertidur sambil kepalanya bersandar di bahu Kevin.
ketika sampai di rumah Dewi belum terbangun juga, sehingga Kevin pun mengangkat tubuh Dewi menuju kamar mereka.
Sesuai ucapan Kevin waktu Dewi terbaring lemah dirumah sakit, bahwa mereka akan tidur satu kamar bahkan tidur satu ranjang, Kevin akan memperlakukan Dewi dengan sebaik mungkin, karna ia juga tidak mau kehilangan Dewi untuk kedua kalinya.
Entahlah apakah Kevin saat ini sudh jatuh cinta sama Dewi..?atau perhatiannya saat ini hanya sekedar supaya Dewi selalu berada disampingnya..?bahkan perhatian saat ini hanya semata-mata supaya Dewi tidak lagi meminta cerai darinya..?entah yang pasti saat ini Kevin sedang belajar mencintai Dewi, mencoba menetapkan labuan hatinya untuk terakhir kalinya buat Dewi, bahkan Kevin juga belajar untuk membuka hati buat Dewi.
Kevin langsung menidurkan Dewi diranjang miliknya, tak lupa ia menyelimuti tubuh Dewi sampai kebawah leher.
__ADS_1
"istirahat yang cukup"ucap Kevin lalu mencium kening Dewi dengan lembut.
Kevin langsung keluar kamar dan berjalan menuju ruang kerja.
#####
Lama berada di ruang kerjanya Kevin pun memutuskan kembali kekamar, sebelum kekamar ia mampir duluh ke dapur untuk mengambil air minum.
Karna hari pun mulai menjelang tengah malam keadaan mansion sudah sepi, para pelayan sudh istirahat pikir Kevin.
Sampai dikamar mata Kevin menatap kasur sudh kosong, lalu ia memeriksa kekamar mandi bahkan sampai memeriksa keruang ganti tidak menemukan sosok itu.
"kemana dia..?guman Kevin sambil mencari sosok Dewi disetiap sudut ruangan.
Lama mencari Dewi akhirnya mata Kevin menangkap sebuah sosok yang berdiri di balkon kamar yang ia yakini it adalah Dewi.
"gapain berdiri disini.?kan disini dingin ngk baik buat kesehatan"ucap Kevin sambil berjalan mendekati Dewi.
"maaf aku sudh lancang tidur di kasur mu, aku akan kembali kekamar"ucap Dewi tanpa menjawab pertanyaan Kevin.
"kenapa harus minta maaf, kasurku adalah kasur mu kita sekarang suami istri dan sudh seharusnya kita satu kamar bahkan satu kasur"ucap Kevin menatap Dewi sekilas.
"ngk bisa seperti itu, awalnya kita sudh beda kamar, aku akan kembali ke kamarku, selamat malam Vin"ucap Dewi hendak berjalan keluar dari kamar.
"kamu ngk ada kamar lagi, kamar yang duluh kamu tempati sudh di pakai sama pelayan, masak kamu mengusir pelayan dari sana"ucap Kevin menghentikan langkah Dewi.
"tapi barang aku ada disana semua, setidaknya aku akan memindahkan barang ku duluh ke kamar tamu"ucap Dewi, "dan mungkin beberapa hari kedepan aku akan keluar dari rumah ini, karna jikalau pun kamu tidak mau mengurus surat cerai kita maka aku sendiri yang turun tangan"ucap Dewi hendak melanjutkan langkahnya.
"barang kamu sudh di pindahkan kesini wi"ucap Kevin berjalan mendekati Dewi dan menarik tanganya.
"kamu seriusan ingin berpisah dari..?"tanya Kevin.
"iyh aku serius ingin pisah darimu, kita punya jalan hidup yang berbeda, kita juga mempunyai tingkatan hidup yang berbeda"
"ada baiknya kita saling menghargai satu sama lain"ucap Dewi melepaskan pegangan tangan Kevin.
"maksudnya menghargai ngimna..?"tanya Kevin bingung.
"kamu punya pasangan kan..?kamu punya Icha, dan aku punya Rangga, setidaknya kita hargai merka dan kita jaga perasaan mereka, karna sejak awal pun hubungan kita sudh salah, kita terikat pernikahan tapi masingmasing dari kita memiliki kekasih"ucap Dewi.
"iyh sudah kita perbaiki hubungan yang awalnya salah ini, kamu lepaskan Rangga dan aku juga sudh melepaskan Icha, kita mulai dari awal"ucap Kevin.
"ngk bisa seperti itu Vin, aku mencintai Rangga dan begtu pun sebaliknya, cinta tidak bisa di paksa, hati aku seutuhnya masih sama Rangga dan aku berharap hati aku selamanya akan sama Rangga"ucap Dewi.
"dan aku akan merebut hati kamu yang seutuhnya itu dari Rangga wi, aku akan membuat yang ada dipikiran kamu hanya aku saja tidak ada lelaki lain"batin Kevin.
"kita bahas besok aja, sekarang kamu istirhat aja"ucap Kevin mengalihkan percakapan dan menuntun Dewi kearah tempat tidur.
"tapi Vin"ucap Dewi khawatir.
"aku tidur di sofa dan kamu tidur di kasur, tenang saja aku ngk bakal gapain-gapain kamu"ucap Kevin yang mengerti kekhawatiran Dewi.
"ngk papa emang"cicit dewi menunduk.
"ngk papa"ucap Kevin sambil membantu Dewi membaringkan tubuhnya di kasur, dirasa Dewi sudah tidur dengan nyaman lalu ia berjalan menuju kasur.
Karna memang sudh sangat ngantuk tak lama setelah berbaring Kevin langsung terlelap dalam mimpi nya.
Lain hal dengan Dewi saat ini ia benar-benar tidak bisa terlelap pikiran saat ini bercabang banyak, di satu sisi ia masih tetap memikirkan sosok yang ia lihat di rumah sakit, terkadang terlintas dalam pikirannya kalau ia hanya slaah melihat, tapi yang menjadi pertanyaan masak matanya salah melihat sampai tiga kali..?
Di satu sisinya pikirannya tertuju kepada Kevin yang tertidur disofa, apakah badab pria itu tidak sakit semua..?apakah pria itu bisa tidur dengan nyenyak di sofa..?mengingat Kevin adalah sosok manusia kaya mungkin ini baru pertama kali buat Kevin tidur disofa.
Sibuk dengan pemikiran yang melalang buana entah kemana-mana aja akhirnya Dewi terlelap dengan sendirinya, dan ia baru bisa terlelap ketika jarum pendek jam menunjukkan angka tiga, yang artinya Dewi baru bisa terlelap pada pukul tiga pagi.
__ADS_1