Pernikahan Puncak Balas Dendamku

Pernikahan Puncak Balas Dendamku
bab 134


__ADS_3

Tak terasa sudah hampir satu Minggu Dewi dirawat dirumah sakit, sebenarnya dihari ketiga Dewi di rawat sudah di perbolehkan pulang, tapi Kevin melarang dengan alasan tungguh luka jahitan Dewi benar-benar kering.


Selama dirumah sakit pun Kevin tidak pernh meninggalkan Dewi barang sedikit pun, ia betul-betul merawat dan menemani Dewi setiap saat, semua pekerjaan di limpahkan kepada Daffa dibantu oleh bunda Devi.


Sedangkan Dewi selama dirumah sakit tidak pernh mengidam yang diluar dugaan Kevin, bahkan Dewi tidak pernh muntah-muntah seperti ibu hamil pada umumnya, Kevin sangat mensyukuri kehamilan Dewi yang saat ini tidak meminta-minta yang aneh-aneh seperti yang di alami oleh teman-temannya yang sudah menikah.


Tapi satu hal yang membuat Kevin harus menambah bumbu kesabaran yang ekstrak penuh, karna emosi Dewi yang terubah-ubah dan kalau marah seramnya meningkat satu tingkat dari biasanya.


Sedikit kesalahan saja yang dibuat Kevin bisa membuat Dewi marah seperti kebakaran jenggot, sekarang Kevin harus ekstrak rapi tanpa kesalahan sedikit pun supaya tidak mendapat amukkan.


"Kevin kenapa diletakkan disitu sampahnya, nanti banyak lalat"ucap Dewi menatap tajam Kevin.


"astaga sayang, cuma sebentar aja disitu, nanti ada OB yang membersihkan"ucap Kevin.


"tetap saja Vin, sampahnya di taruh disitu, ngk enak dilihat, ngimna kalau ada yang datang dan melihat ruangan ini banyak lalatnya, kamu tuh coba bekerja dengan rapi, suka betul melihat yang berantakan"ucap Dewi memarahi Kevin panjang kali lebar.


Hanya Kevin meletakkan bekas sampah Dewi makan buah diatas lemari kecil samping ranjang Dewi, membuat si calon ibu itu memarahi Kevin panjang kali lebar sampai ke Bandung-Jakarta.


"iyh syang, iyh, ini aku buang ketempat sampah nih"ucap Kevin sambil membuang kantong kresek berisih sampah ke tong sampah.


"sekalian tong sampahnya ditaruh keluar sayang"celetuk Dewi menyuruh Kevin.


"untung di panggil sayang"guman Kevin sambil menaruh tong sampah itu keluar.


"ada lagi ibu negara, sudah bersihkan, tidak ada lalat lagi"ucap Kevin sambil berjalan mendekati ranjang Dewi.


"ngk ada, maksih iyh, selama aku disini kamu selalu ada buat aku, bahkan dua puluh empat malah"ucap Dewi menatap Kevin.


"sudah seharusnya aku disini sayang, karna sumber kebahagiaanku ada disini"ucap Kevin sambil mengelus rambut Dewi.


"apakah anak ayah disana merepotkan mamanya, jangan bikin Mama marah-marah terus syang, ayah yang kewalahan disini"celetuk Kevin sambil mengelus perut rata Dewi tanpa sadar ia membangunkan serigala yang sedang tidur.


"maksudnya apa nih by, maksudnya aku sering marah-marah ngituh, trus kamu ngk suka kalau aku marah sma kamu"ucap Dewi dengan suara garangnya.


"siapa yang suka dimarah-marahi sih, untung istri"batin Kevin.


"Kevin, kamu dengar aku ngk sih..?"ucap Dewi semakin kesal karna melihat Kevin malah melamun.


"ahh iyh, aku dengar kok syang, ngk ngituh maksudnya sayang, cuma akhir-akhir ini kamu sering mengomel, salah letak barang aja kamu sudah marah besar"ucap Kevin mengutarakan sikap Dewi selama beberapa hari ini.


"sama aja kamu ngk suka melihat aku marah-marah"ucap Dewi sambil mencubit lengan Kevin.


"sakit sayang, itu tangan kah besi sakit banget kalau cubit"ucap Kevin.

__ADS_1


"siapa suruh bikin kesal"ucap Dewi cemberut.


"Ya Allah jika nanti anak ku perempuan ngk papa kalau cantiknya seperti mamanya, tapi galaknya jangan seperti mamanya, nanti tidak ada lagi laki-laki yang mau mendekati dia"batin Kevin menatap gemas wajah cemberut Dewi.


Tidak bisa dibayangkan jika anaknya perempuan dan memiliki sifat galak dari Dewi, mungkin ia harus lebih ekstra sabar menghadapi kedua nanti.


Membayangkan saja Kevin merinding, apalagi kalau betulan anaknya nanti bakal galak seperti mamanya, mungkin setiap hari akan ada teriak di rumahnya.


"sayang, nanti sore kan kamu sudah boleh pulang, tinggal pemeriksaan terakhir saja baru kita pulang"ucap Kevin lembut "aku boleh ke kantor duluh kah sebentar, ada dokumen yang harus menggunakan tanda tangan ku"


"boleh dong Vin, maaf iyh gara-gara aku sakit pekerjaan kamu jadi terbengkalai, kamu pergi aja ke kantor, aku akan menunggu kamu jemput aku"ucap Dewi menatap Kevin.


"bukan gara-gara kamu pekerjaan ku terbengkalai, sudah ada bunda dan Daffa yang hendel, lagian sudah sewajibnya kalau kamu sakit aku merawat kamu disini"ucap kevin.


"kalau begitu aku pergi sebentar iyh, di luar ada kok orang yang menjaga kamu, kalau ada apa-apa langsung teriak aja"ucap Kevin lalu mencium kening Dewi.


"kamu ada titipan sayang, siapa tau anak ini mau makan sesuatu"ucap Kevin sambil mengelus perut rata Dewi.


"ngk ada Vin, sekarang kamu berangkat aja, hati-hati dijalan, kabari aku kalau sudah sampai di kantor"ucap Dewi, karna memang ia sedang tidak mau apa-apa, ia cukup bersyukur karna anak dalam kandungan tidak terlalu rewel, tidak meminta yang macem-macem seperti ibu hamil pada umumnya.


Ternyata berangkat kekantor dengan alasan ingin menanda tangani dokumen hanya omong kosong belakang, nyata Kevin tidak ke kantor, melainkan Kevin pergi ke markas tempat mereka duluh menyekap Rangga.


Dan sepertinya Dewi Fortuna sedang singgah hati Kevin, sehingga seminggu yang lalu ia memutuskan untuk melepaskan Rangga dengan syarat tidak menunjukkan wajahnya dihadapan keluarganya terutama Dewi.


Hingga pada saat ini markas itu kembali kedatangan tamu baru, yang tak lain adalah Angel.


Anak buah Kevin memutuskan untuk membawah Angel ke markas mereka, disana mereka mengikat Angel di kursinya, meskipun Angel sering berulah, mulai dari berteriak dan memaki tapi anak buah Kevin tidak menghiraukan Angel, mereka tetap menyekap Angel sampai menunggu kabar dari Kevin


Ryo, Remon dan Devan pun sering mengunjungi Angel, karna Kevin meminta mereka untuk terus memantau Angel.


"tuan"ucap anak buah Kevin sambil menundukkan kepala.


"dimana wanita itu"ucap Kevin sambil melemparkan kunci mobilnya ke salah satu anak buahnya.


"wanita itu ada di dalam tuan, dia terus berteriak minta di lepaskan dan dia juga tidak mau makan"


"sudah kuduga, antarkan aku kesana"ucap Kevin dingin.


"mari tuan, di dalam juga ada tuan Ryo, Remon dan juga tuan Devan"sambil memberikan ruang buat Kevin.


Kevin langsung masuk sebuah ruangan tempat dimana mereka menyekap Angel, ternyata disana sudah ada Ryo, Remon dan Devan yang sedang bermain kartu guna mengurangi kebosanan mereka karna menunggu Kevin yang cukup lama datang.


"gue kira Lo bakal terus nempel sama istri Lo, sehingga melupakan main baru yang sudah menanti disini"ucap Ryo menatap Kevin sekilas.

__ADS_1


"istriku lebih penting dari pada wanita satu ini"ucap Kevin dingin "dia tidur apa pingsang..?"


"sepertinya pingsang sih, soalnya sudah satu minggu belum makan dan minum"ucap Remon acuh tak acuh.


"pingsang dan kalian membiarkan begitu saja"ucap Kevin, ternyata teman-teman lebih kejam daripada dirinya.


"iyh mau di apain lagi, itu belum sebanding dari apa yang ia lakukan kepada Dewi, ingat istri dan anak Lo hampir mati gara-gara wanita setan ini"ucap Devan "dia berhak mendapatkan itu, dan kalau bisa lebih dari situ"


Sedangkan Kevin hanya menggeleng melihat respon dari teman-teman yang membiarkan Angel pingsang dengan posisi diikat di kursi.


"ngimana keadaan Dewi..?kapan dia pulang..?emang separah itu lukanya..?sampai dirawat satu Minggu"ucap Remon menatap Kevin sekilas lalu fokus ke kartu domino yang ada ditangannya.


"sudah lebih baik, mungkin klau ngk sore, nanti malam sudah bisa pulang, sebenarnya beberapa hari yang lalu sudah bisa pulang, tapi aku meminta supaya dirawat sampai luka tusukkan itu kering"ucap Kevin sambil duduk di samping Ryo.


"kalian gapain sih..?kok kayak fokus banget"ucap Kevin.


"biasalah, mengurangi kebosanan"ucap Ryo.


"main domino"ucap Kevin sambil mengambil kaca yang ada diatas meja.


"iyh begitulah, mau gapain lagi..?lagian wanita ini lama sekali bangun, pingsang kok kayak orang mati saja"ucap Remon "pingsang kok ngk ingat waktu sih, sudah hampir dua jam dia pingsang"


"ngimna mau bangun, kalian saja tidak mengusahakan supaya dia bangun"ucap Kevin sambil melemparkan kulit kaca ke arah Remon.


"Kevin, kebiasaan, tempat sampah tuh disnaa, heran kenapa suka betul buang sampah sembarangan"ucap Remon kesal sambil melempar balik kulit kacang yang Kevin lempar.


"ngimna ngk lemparkan kesana, situ punya muka kayak tempat sampah"ucap Kevin.


"kayak tempat sampah begini, banyak cewek-cewek antri di luaran sana, akunya aja yang tidak tertarik sama mereka"ucap Remon.


"mereka antri mau gapain duluh, mengejar lo kah atau nungguh cairnya sembako"ucap Kevin terkekeh geli.


"nyeselin banget sih Lo Vin, kenapa juga Dewi mau sama Lo"ucap Remon kesal.


"iyh karna gue ganteng"Ica Kevin dengan penuh percaya diri.


Sedangkan Ryo dan Devan hanya mengeleng kepala menyaksikan perdebatan Kevin dan Remon yang tiada habisnya.


"oleskan minyak kayu putih ke hidungnya, supaya cepat sadar"ucap Kevin memasuki mode serius.


"kenapa Vin, biarkan sjaa dia bangun sendiri, entar kalau bosan pingsang bangun sendiri juga"ucap Devan, ya kali ada orang bosan pingsang.


"kelamaan kalau nunggu dia bangun sendiri, gue izin sama Dewi ke kantor dan cuma sampai sore saja"ucap Kevin "lagian tidak ada yang menemani dia di rumah sakit, bunda ke kantor, sedangkan nenek dirumah sedang tidak enak badan"

__ADS_1


__ADS_2