Pernikahan Puncak Balas Dendamku

Pernikahan Puncak Balas Dendamku
bab 38


__ADS_3

Kevin memutuskan tidak membawa Dewi ke apartemen yang tadi pagi mereka tempati, takut ada yang melihat lagi, Sampai di apartemen ***** Kevin langsung membuka pintu mobil dan menarik tangan Dewi secara kasar.


"apaan sih Vin, aku bisa jalan sendiri"ucap Dewi berusaha melepas tarikan Kevin.


Sedangkan Kevin tidak menghiraukan ucapan Dewi, ia terus menarik paksa dewi.


Ketika di lorong apartemen banyak pasang mata menatap mereka ada yang kasihan ada juga yang merasa takut sendiri karna melihat raut wajah Kevin bagaikan moster.


"Kevin lepasin gue.."ucap Dewi ketika berada di dalam lift.


"diam atau saya cium paksa kamu ditempat ini supaya kamu diam"ucap Kevin menatap tajam Dewi dan hal itu membuat Dewi bungkam dengan sendirinya.


Sampai dikamar apartemen Kevin langsung menghempaskan tubuh Dewi ke arah kasur, lalu berjalan mendekatinya seperti seorang iblis yang hendak membunuh.


"kamu mau Vin."ucap Dewi semakin mundur.


"kenapa..?"ucap Kevin semakin mendekati Dewi.


"kamu jangan macam-macam, mundur Kevin"ucap Dewi.


"kamu gapain mundur..? gapain takut..?mana nyali kamu waktu di roftop tadi ahh"ucap Kevin menatap tajam Dewi lalu menarik kaki Dewi karna dirasa Dewi semakin jauh dari jangkauanya


"maksud kamu apa..?"ucap Dewi gugup karna takut melihat tatapan Kevin.


"bukannya tadi kamu mau bunuh diri, sekarang aku sendiri yang akan membunuh kamu pakai tanganku sendiri"ucap Kevin menarik rambut Dewi.

__ADS_1


"sakit Vin."ucap Dewi.


"aku ngk mau kamu mati secara instan, aku mau kamu mati secara perlahan"ucap Kevin semakin menambah tarikannya pada rambut Dewi.


"please Vin, lepas sakit"ucap Dewi menjerit.


"itu yang aku mau Dewi, aku mau merasakan kamu merasakan sakit sebelum kamu mati dari dunia ini"ucap Kevin "dasar anak pembunuh"ucap Kevin menghempaskan rambut Dewi secara kasar.


"kamu adalah anak pembunuh, ank pembawa sial, dasar wanita j*l*ng, "teriak Kevin menatap tajam Dewi.


"maksud kamu anak pembunuh apa,."tanya Dewi .


"ngk usah sok polos b*ngs*k, anak gadis Herman Adijaya yang sudh sebesar kamu tidak mungkin kamu ngk tau apa dosa ayahmu di masa lalu, ank sama orang tua sama saja"teriak Kevin menarik paksa tangan dengan supaya turun dari kasur.


Lalu ia menghempaskan tubuh Dewi ke tembok yang membuat kepala Dewi terbentur dengan cukup keras.


"maksud kamu apa Vin, nyawa yang mana..?"tanya Dewi yang masih belum mengerti arah pembicaraan Kevin.


"jangan sok polos b*ngs*k"teriak Kevin geram yang melihat Dewi yang sok polos, padahal bukannya sok polos memang Dewi tidak tau tentang masalalu ayahnya.


"aku bukan sok polo, tapi memang aku ngk tau akan hal itu"ucap Dewi menangis, ia tidak bisa lagi menahan laju air matanya.


"jangan kamu pamerkan air mata palsu mu di depanku Dewi karna itu tidak berguna buat aku"ucap Kevin mengecekit leher Dewi.


Sedangkan Dewi hanya bisa pasrah, mau melawan pun ia sudah tidak ada tenaga lagi, ia benar-benar sudh menyerah untuk hal ini, dan ia benar-benar angkat tangan.

__ADS_1


"Tuhan jika memang udh waktunya aku udh siap, dan jika memang rumah sudah selesai disalah satu sisimu aku udh siap Tuhan, selamat tinggal semua"batin Dewi menjerit ketika ia sudh merasakan kesulitan mengambil napas.


Hingga sampai lima menit kemudian Kevin tidak melepaskan tangannya dari leher Dewi, ia benar-benar ingin membunuh Dewi secara perlahan, "aku akan membawa Dewi jauh dari kota ini"dan lagi-lagi kalimat itu menari-nari di pikiran yang membuat tekatnya semakin kuat untuk membunuh Dewi saat itu juga.


"Tuhan kau dimana, kenapa belm jemput aku juga, aku udh ngk kuat lagi jangan biarkan aku menderita terlalu lama"batin Dewi yang benar-benar tidak bisa bernapas lagi.


Setelah dirasa Dewi mulai kesulitan bernapas dan wajahnya mulai pucat pasit Kevin pun melepaskan tanganya dari leher Dewi.


"si*l kenapa aku ngk jadi mati"batin Dewi sambil terbatuk-batuk.


"ternyata nyawa Lo kuat juga iyh, masih aja tetap hidup"ucap Kevin dengan tersenyum penuh arti.


"harusnya aku udh mati dari tadi, tapi mungkin pintu maut belm terbuka buat aku"ucap Dewi tanpa menatap kevin.


Sesekali ia memegang bagian belakang kepalanya yang terasa sangat sakit, sumpah demi apa pun saat ini Dewi benar-benar merasa pusing dan sangat kesulitan untuk sekedar bernapas.


"dan aku akan membuka pintu maut itu dengan paksa, aku akan mempertemukan mu dengan ibumu"ucap Kevin memengang dagu Dewi lalu menghempaskan nya secara kasar dan hal itu membuat kepala Dewi harus terbentur lagi ke tembok tapi tidak sekeras yang tadi.


"itu adalah salah satu cita-cita ku sejak kecil, dan sudh lama menunggu saat-saat itu terjadi"ucap Dewi tersenyum getir bahkan rasa sakit yang dia rasakan saat ini benar-benar hilang begitu saja.


"dan aku akan mewujudkan cita-cita mu itu, harusnya kita bertemu lebih cepat supaya cita-cita tercapai"ucap kevin tersenyum licik menatap Dewi.


"harusnya seperti itu, tapi mau ngimna lagi takdir yang mempertemukan kita saat ini"ucap Dewi.


"dan mungkin juga takdir itu membiarkan kamu bermain-main denganku"ucap Dewi lagi

__ADS_1


"dan takdir itu juga yang akan membantu kamu meraih cita-cita mu"ucap Kevin dan lagii menarik paksa tangan Dewi berjalan menuju samping kamar apartemen.


"aku kan menunjukkan ngimana takdir itu membantu aku kamu meraih cita-cita mu Dewi"ucap Kevin. "tapi ucapkan duluh selamt tinggal bagi duniamu"ucap Kevin tersenyum licik.


__ADS_2