
"simpel, jelaskan semua yang terjadi dimasa lalu kepada orang tuamu, jelaskan siapa yang salah dan siapa yang jadi korban, itu aja"ucap Dewi dingin dan cuek.
"ngk bisa kan Lo, jadi tolong ngk usah ganggu gue teruslah, kita punya kehidupan masing-masing"ucap Dewi dingin.
Sedangkan kleven hanya diam saja lalu duduk di meja tepat dihadapan Dewi, benar, sampai saat ini ia tidak bisa menceritakan kejadian sebenarnya kepadanya orang tuanya, yang orang tuanya tau Dewi yang salah dan Dewi yang meninggalkan dirinya, tapi nyatanya semua berbanding terbalik.
Dosen yang mengajar pun tiba, semua mahasiswa tidak ada yang berani membuka suara, mereka begitu fokus mengikuti mata kuliah pagi ini.
Karna dosen yang mengajar pagi ini termasuk di kategorikan dosen killer dikampus itu.
"ok anak-anak, Minggu depan kita sudah UAS, jadi tolong dipersiapkan dirinya"ucap dosen.
"saya tidak mau ada mahasiswa yang menyontek apalagi tidak hadir pada saat ujian UAS di mata kuliah saya"ucap dosen laki-laki menatap setiap mahasiswa satu persatu.
"dan ujian kali bukan seperti ujian di waktu mata kuliah manajemen keuangan satu, di mata kuliah keuangan dua tidak ada kisi-kisi satu pun"ucap dosen sambil mengelilingi meja-meja mahasiswa.
"Iyah Ela pak, ngimna kita mau bisa mengisi soal-soal kalau tidak ada kisi-kisi"
"ngk adil ini pak, dosen yang lain memberikan kisi-kisi masak bapak sendiri tidak memberikan kisi-kisi nya, giliran nilai jelek nanti marah-marah ngk jelas"
"ayo dong pak, lima kisi-kisi juga ngk papa"
"diam semuanya, kalau kalian keberatan jangan ikut ujian di mata kuliah saya, dan saya tidak sama seperti dosen-dosen yang lain"ucap dosen menekan setiap kata-kata nya.
"soal ujiannya cuma satu aja, tidak mungkin syaa memberikan kisi-kisi lima"ucap dosen "dan syaa tidak terima kalau ada mahasiswa yang mendapat nilai c"
"kalau sempat ada, habis kalian sama saya, paham"teriak dosen sambil memukul meja.
"paham pak"teriak mahasiswa serentak.
Ya memang soalnya ujian cuma satu aja, tapi anaknya banyak, dan jawabannya bisa menghabiskan satu sampai dua lembar kertas folio, pikir setiap mahasiswa berteriak dalam hati.
Karna itu adalah hal yang lumrah bagi setiap pelajaran masa kini, dimnaa soalnya cuma satu tapi beranak cucu dan bertambah banyak.
"baik kita lanjutkan membahas soalnya ada di papa tulis, siapa yang bisa mengerjakan langsung maju kedepan"ucap dosen sambil meletakkan spidol di atas meja.
Sedangkan mahasiswa hanya menunduk saja, tidak ada yang berani mengangkat kepalanya sebab, jika sudah melihat spidol diletakkan diatas meja itu berarti suatu keharusan salah satu dari mahasiswa harus mengerjakan soal yang ada di papa tulis.
"kalian ini sudah masuk semester empat tapi belum ada yang mahir di manajemen keuangan, kalian dimanajemen keuangan satu gapain aja..?ini soal sudah pernh saya berikan waktu semester tiga tapi tetap saja kalian tidak bisa mengerjakannya"ucap dosen kesal.
"hei kamu, cewek kemeja biru kursi nomor tiga dari belakang"ucap dosen.
"sa..saya pak"ucap Dewi yang ternyata pak dosen tepat menunjuk ke arah kursi yang Dewi tempati.
"iyh siapa lagi..?cuma kamu yang pakai kemeja biru disini"ucap dosen "kamu maju kerjakan soal yang di papan tulis,"
__ADS_1
"baik pak"ucap Dewi sambil berdiri dan mengambil spidol yang ada diatas meja dosen.
"bukannya kamu slaah satu mahasiswa di semester enam..?"ucap dosen menatap Dewi intens.
"iyh pak, saya mengambil semester atas"ucap Dewi.
Sedangkan dosen hanya mengangguk tanda paham.
Dikira dosen tidak lagi bertanya Dewi langsung berjaln mendekati papan tulis dan mengerjakan soal yang ada di papan tulis.
Sebelum mulai mengerjakan soal, Dewi terlebih dahulu mengulung rambut panjang ke atas, sehingga memperlihatkan leher jenjang yang putih mulus tak lupa ia mengulung lengan kemeja supaya memudahkan dirinya mengerjakan soal, karna soal yang ada di papan tulis saat ini cukup susah dan menguras otak dan tenaga.
Dewi harus benar-benar fokus untuk mengerjakan, karna salah satu angka saja mengerjakan ditahap awal maka tahap kedua dan ketiga akan salah semuanya.
Sedangkan mahasiswa yang melihat tindakan Dewi terkejut dan menelan salivanya dengan kasar termasuk dosen. Pertama kalinya mereka melihat leher jenjang Dewi yang putih mulus tanpa lecet sedikit pun.
Mereka menatap satu sama lain dengan muka yang tegang, sedangkan dosen yang mengajar mencari kesibukan lagi supaya tidak terlalu fokus menatap leher jenjang Dewi, karna sejujurnya ia sungguh sangat tergoda dengan lehernya Dewi.
Tapi ia masih cukup waras sebagai dosen, supaya tidak menatap leher Dewi dengan tatapan mesum.
"tanda dileher Dewi pasti semua itu ulah Kevin, ternyata sudah sejauh itu hubungan mereka, padahl waktu bersama ku, boro-boro mau mencium, pengangan tangan pun hanya kelingking ketemu kelingking saja"batin kleven yang ternyata lebih fokus ke tanda kepemilikan dileher Dewi yang masih bisa ia lihat meskipun Dewi sudah menutupinya.
"semoga anak-anak tidak ada yang melihat tanda itu"batin kleven lagi.
Tanpa mereka sadari tiga semprul sedang mengintip dari jendela sudut ruangan, siapa lagi kalau bukan Kevin dan teman-temannya.
"seksinya, iyh Allah begitu indah ciptaan mu, izinkan aku untuk memilikinya"ucap Remon.
"punya gue, tutup mata kalian atau aku congkel, kukasih sama anj*Ng tetangga gue"ucap Kevin kesal sambil menyitak kepala Ryo dan Remon dari belakang secara bergantian.
"santai aja, kita cuma mengangumi saja, tidak berniat merebut"ucap Remon.
"apa bedanya Bambang"ucap Kevin kesal.
Melihat Dewi mengulung rambutnya keatas membuat Kevin lumayan kepanasan, ia langsung berjaln menuju ke arah pintu masuk ruangan.
"Lo mau kemna..?mau gapain masuk kesna..?kelas kita bukan disini"ucap Remon menahan tangan Kevin yang hendak memutar hendel pintu.
"mau menurunkan rambut Dewi, kalian ngk lihat mereka lebih fokus ke lehernya Dewi"ucap Kevin kesal.
"tapi ngk ngini juga caranya, Lo sama aja menganggu kelasnya mereka"ucap Ryo.
"gue ngk peduli"ucap Kevin menatap tajam Ryo.
"susah kalau jadi pemilik saham terbesar dikampus ini"guman Remon menatap perdebatan Kevin dan Ryo.
__ADS_1
"permisi pak, saya mau mengumpul tugas sya yang Minggu lalu"ucap Kevin membuka pintu.
"OOO iyh, sini biar sya periksa duluh"ucap dosen.
Saking fokusnya mengerjakan soal yang ada di papan tulis, Dewi sampai tidak menyadari bahwa Kevin sekarang berada di kelasnya.
Kevin langsung berjalan mendekati meja dosen sambil mengeluarkan makala dari tasnya.
Tepat dibelakang Dewi, Kevin menghentikan langkahnya.
"rambutnya ngk usah di gulung ke atas, hanya aku yang bisa melihat lehermu, semangat sayang"bisik Kevin sambil melemparkan gulungan rambut Dewi, sehingga rambut rambut panjang nan halus itu kembali menjuntai dengan sangat indah ke bawa.
Sedangkan mahasiswa yang melihat rambut Dewi tidak tau kalau itu semua ulah Kevin, yang ada dipikiran mereka rambut itu terlepas sendiri dari gulungannya.
Tak sedikit mahasiswa laki-laki yang menelan rasa kecewa ketika rambut panjang Dewi terlepas dari gulungannya, mereka pikiran pemandangan indah itu sudah ditutup dengan rambut yang indah.
"ini pak tugas sya"ucap Kevin.
"saya baru masuk besok dikelas mu, harusnya bisa besok kau kumpul"ucap dosen.
"ngk papa pak, besok saya takut lupa"ucap Kevin "kalau begitu sya permisi pak"
"i love you"bisik Kevin lagi sebelum meninggalkan kelas Dewi dan hal itu membuat di empedu menjadi gugup setengah mati, saking gugupnya spidol yang dipengang Dewi terjatuh dari tangannya.
Dan dengan kedatangan Kevin ke kelasnya membuat fokus Dewi menjadi buyar, alhasil tepat diakhir soal, tepatnya ketika mengambil kesimpulan dari masalah disoal otak Dewi tidak fokus lagi.
"ahh pak, saya bisa sampai disini sjaa, kesimpulannya otakku sudah buntu"ucap Dewi kesal sambil menatap punggung Kevin.
Padahal tinggal sedikit lagi, pengerjaan soal itu akan sempurna tapi Kevin tiba-tiba datang dan menghancurkan imajinasi yang ada di otakknya tentang kesimpulan dari soal itu.
Sejenak Kevin membalikkan badannya dan ia terkekeh geli melihat wajah kesal Dewi yang kebetulan sedang menatap dirinya.
"baiklah tidak mengapa, kesimpulan itu hanya main logika saja, kalau begitu kamu silakan duduk"ucap dosen mempersilahkan Dewi duduk kembali.
Sedangkan Ryo dan Remon hanya mengeleng kepala melihat tingkah konyol Kevin, hanya perkara leher saja Kevin harus mengumpulkan tugasnya sebelumnya waktunya, benar-benar tingkah konyol seorang kevin Mahendra yang memiliki saham terbesar dikampus tempat mereka menimbah ilmu.
Kelas pun sudah selesai, semua mahasiswa keluar dari kelas karna jam istirahat pun sudah tiba.
"Dewi lumayan juga otakmu, saya sangat puas dengan hasil pekerjaanmu, ngk salah kalau kamu mengambil semester atas"ucap dosen yang melihat Dewi hendak keluar kelas, kebetulan dosen pengampu mata kuliah belum keluar kelas.
"ahhh iyh pak, makasih klau begitu sya permisi duluh pak"ucap Dewi cuek, tidak ada senyum yang terukir di pipinya, benar-benar datar.
"klau ada waktu kita boleh diskusi tentang manajemen keuangan"ucap dosen lagi.
"maaf pak, saya ada kelas di ruangan lain, kalau begitu syaa permisi"ucap Dewi langsung meninggalkan kelas.
__ADS_1
Bukannya ada kelas tapi Dewi harus buru-buru ke toilet karna sudah kebelet.
"benar-benar mahasiswa yang unit, kenapa aku baru menyadari kalau aku punya mahasiswa cerdas seperti Dewi"guman si pak dosen sambil menatap kepergian Dewi