Pernikahan Puncak Balas Dendamku

Pernikahan Puncak Balas Dendamku
bab 55


__ADS_3

Kini Kevin dan Dewi sudh ada di dalam sebuah mobil dengan tujuan yang berbeda, jika pagi ini Dewi akan berangkat ke kampus sedangkan Kevin akan berangkat ke kantor, sebelum berangkat Kevin lebih duluh mengantarkan Dewi ke kampus, memastikan gadis itu benar-benar berangkat ke kampus.


Di dalam mobil hanya ada keheningan, sebelum berangkat dari kediaman Kevin lebih duluh mereka berdebat, yang dimana Dewi tidak mau berangkat bersama dengan Kevin dengan alasan tidak mau anak-anak di kampus mengetahui hubungan mereka sedangkan Kevin memaksa supaya Dewi berangkat bersamanya tanpa bantahan sedikit pun.


"turunkan di depan halte aja"ucap Dewi tanpa menatap Kevin.


mmmm


Ucap Kevin sambil fokus menyetir mobil. Setelah sampai di depan halte mobil Kevin langsung berhenti.


Ketika Dewi hendak membuka pintu mobil Kevin dengan sigap langsung menguncinya.


"kenapa di kunci"ucap Dewi kesal.


"kamu melupakan sesuatu"ucap Kevin datar.


"melupakan apa, buku sudh sesuai jadwal ngk mungkin kan aku bawa bekal ke kampus"ucap Dewi semakin kesal "bukan Vin, aku udh telat"


"kalau udh tau telat berarti aku harusnya langsung antar kamu sampai parkiran kampus kan"ucap kevin.


"kevinnnn buka pintunya"ucap Dewi lagi.


"kamu melupakan sesuatu"ucap Kevin tak mau kalah.


"makaya kamu kasih tau aku melupakan apa"ucap Dewi menatap tajam Kevin.


"kamu belum mencium aku dan aku belum mencium kamu"bisik Kevin di telinga Dewi dan karena bisikan seketika bulu kuduk Dewi seketika berdiri.


"ngk ada konsepnya begitu"ucap Dewi tak terima


"mulai sekrang sudh ada, setiap kita berpisah kamu harus mencium aku dan begitu juga sebaliknya"ucap Kevin.


"ngk ada peraturan seperti itu paham"


"buka pintunya Vin"ucap Dewi.


"cium duluh"ucap Kevin.


"ngk ada sejarahnya perempuan mencium laki-laki, paham"


"cepat sudh buka pintunya nah"ucap Dewi lagi.


"cium duluh"ucap Kevin.


"emng harus ngituh"ucap Dewi.


"mmm"ucap Kevin sambil mengangguk.


"iyh udh tutup mata duluh"ucap Dewi pasrah ketimbang terlambat masuk kelas, berhubung ini adalah hari pertama Dewi kembali ke kampus setelah di rawat dirumah sakit kurang lebih hampir dua Minggu.


Kevin langsung menutup matanya bersiap menerima ciuman dari Dewi, Melihat Kevin telah menutup matanya Dewi langsung mencium disebelah pipi Kevin.


"sudah, sekrng buka pintunya"ucap Dewi malu karna merasa kedua pipinya terasa panas.


Alih-alih membuka pintu mobil Kevin malah menarik tubuh mungil Dewi kedalam dekapannya.


"maksih vitamin paginya"ucap Kevin sambil memeluk tubuh Dewi dengan erat, tangannya terangkat mengelus lembut rambut Dewi.

__ADS_1


"aku sesat Vin"cicit Dewi di dalam dekapan Kevin.


"sorry aku terlalu bahagia karna kamu duluan yang mencium ku"ucap Kevin melonggarkan pelukkan lalu menatap wajah Dewi.


"nanti kita ketemu disini lagi, tunggu aku samai selsai kuliah"ucap Kevin lalu mencium kening Dewi bergantian mencium kedua mata Dewi.


"kenapa pipinya merah"ucap Kevin menyadari pipi Dewi yang sudh berubah merah bak tomat masak.


"udaranya panas"ucap Dewi beralasan padahal wajahnya merahnya karna mendapat perlakuan manis Kevin.


"udaranya panas sampai yang punya jantung berdetak kencang iyh"ucap Kevin menyindir Dewi, Padahal iyh menyadari kalau gadis yang dihadapannya lagi dalam mode gugup.


"sudah ah, buka pintu"ucap Dewi malu.


"sudah sayang, keluar gih"ucap kevin karna sudah membuka pintunya.


Karna merasa malu Dewi langsung keluar dari mobil Kevin, sedangkan kevin tidak langsung melajukan mobilnya, tapi ia mengikuti Dewi dari belakang sambil menjalankan mobilnya sangat pelan sekali.


Ia harus memastikan Dewi benar-benar masuk ke lingkungan kampus, karna mengingat jarak antar halte dengan gerbang kampus lumayan jauh.


Setelah memastikan Dewi sudah memasuki wilaya kampus Kevin langsung melajukan mobilnya meninggalkan area kampus, karna dapat dipastikan ia telat menghadiri rapat hari ini.


#####


Setelah memasuki area kampus banyak pasang mata yang menatap Dewi, Tapi Dewi tidak menghiraukan hal itu ia terus berjalan menuju kelas tempat dia beljar saat ini.


Tak jarang sih jika anak-anak kampus banyak menatap Dewi, secara Dewi sudh hampir dua Minggu tidak masuk kampus di karena kan sakit.


"dewiii"pekik suci berlari mengejar dewi ketika hendak memasuki ruangan kelas.


"suci"pekik Dewi merentangkan tangannya hendak memeluk suci.


"sama aku juga kangen banget"ucap Dewi membalas pelukan suci.


"dari mana aja, aku cari kerumah ngk ada, ketempat kerja ngk ada juga, tuh Rangga sampai frustasi mencari kamu, udh nomormu ngk yang bisa dihubungin lagi"ucap suci panjang kali lebar.


"Rangga"guman Dewi pelan tapi masih bisa di dengar oleh suci.


"iyh Rangga, pacar kamu kan"ucap suci lagi.


"iyh sudh lama aku ngk bertemu dengannya, ngimna iyh kabarnya"ucap Dewi sejenak Dewi menatap bentuk tubuh suci.


"udh yuk masuk, bentar lagi pak Bimo masuk"ucap suci membuyarkan tatapan Dewi.


"ahhh iyh sekarang kelasnya pak Bimo iyh"ucap Dewi sambil mengikuti langkah suci menuju meja mereka.


Tak lama setelah itu dosen pun masuk yang tak lain dan tak bukan Bimo sendiri.


Ketika di depan pintu mata Bimo menangkap sosok Dewi yang sudh ada di mejanya, sosok yang selama ini cari setiap masuk mengajar di kelas itu. Jujur ia sangat merindukan sosok itu, ia rindu melihat senyum tulusnya Dewi, ia rindu melihat wajah judes dan dinginnya Dewi, semua ia rindukan tentang Dewi.


"pagi.."


"pagi pak"


"kita lanjutkan materi kemarin"


Tanpa ba-bi-bu Bimo langsung masuk ke materi pelajaran, tapi mulutnya berbicara apa lain hal dengan mata dan pikiran tertuju kepada Dewi, secinta itu ia kepada Dewi pikirnya.

__ADS_1


"wah si bunga kampus sudah masuk aja nih, kemana aja selama dua Minggu ini"ucap Bimo menyindir Dewi ditengah-tengah pembelajaran.


"urusan keluarga pak"ucap Dewi dingin, ia tau kalau Bimo segaja menyindirnya.


"wahh urusan keluarga selama dua Minggu dan masih bisa masuk dengan seenak jidat..?ini gambaran mahasiswa penyandang beasiswa di kampus ini..?saya baru tau kalau seperti ini aslinya mahasiswi teladan disini"ucap Bimo memandang remeh Dewi, sedangkan mahasiswa lain hanya diam saja ketika Bimo mulai berbicara dengan Dewi.


Mereka tau akan terjadi sebuah perdebatan antara Bimo dan Dewi, Semua anak di kelas itu sudh tau kalau jika Bimo dan Dewi bertemu pasti tidak pernh akur, yang ada hanya perdebatan saja, jika Bimo suka memancing emosi Dewi maka Dewi dengan mudah terpancing seperti yang ikan yang kelaparan saja.


"apakah ketika sya tidak turun selama dua Minggu merugikan bapak..?apakah ketika saya tidak ada bapak terganggu ketika mengajar..?atau apakah bapak merasa kekurangan mahasiswa ketika saya ngk ada..? ngk kan!!"ucap Dewi dingin.


"ngk ada yang dirugikan..?saya juga ngk rugi kalau ngk masuk pelajaran bapak, dan bapak pun ngk rugi kalau ngk mengajari sya, bahkan teman-teman yang lain pun ngk merasakan dirugikan kan..?,lalu buat apa kita harus mengurusi hidup orang..?perbaiki diri duluh, sudah pantas kah jadi dosen?sudh menjadi pengajar yang baik kah..?atau coba di pikirkan duluh ilmu yang di ajarkan itu sudh sampai mana..?layak atau tidaknya"ucap Dewi kembalinya menyindir Bimo.


"maksud mu apa..?ini nih kalau kelamaan mengurusi keluarga"ucap Bimo lagi.


"so bukan keluarga anda yang saya urusin kan..?trus kenapa situ yang kebakaran jenggot"ucap Dewi tak mau kalah.


"oo iyh saya mau infokan kalau beasiswa kamu sudh di ca.."


"saya sudh tau, tadi pagi sudh cek email kok, beasiswa saya sudh dijabut berkat kekuasaan seseorang"ucap Dewi memotong ucapan Bimo.


"maksudnya kamu menuduh saya..?"tanya Bimo menatap tajam Dewi.


"saya tidak berbicara seperti itu, tapi kalau anda merasa itu lebih bagus untuk kelangsungan mahasiswa yg mendapat beasiswa di kampus ini"ucap Dewi.


"takutnya ada dosen yang mengancam akan mencabut beasiswa nya karna alasan tidak jelas, jadi buat teman-teman yang kuliah disini dan bergantung pada beasiswa, hati-hati kampus kita menerima dosen yang mengandalkan kekuasaan, katanya dosen sih dan sudah lama mengajar disini"ucap Dewi menyindir Bimo. Ia tau yang menyebabkan beasiswa dicabut semua itu karna campur tangan Bimo.


"materi sampai disini, kalian boleh istirhat"ucap Bimo mengalihkan tanpa merespon ucapan Dewi.


Seketika mahasiswa langsung menghabur keluar dari kelas, tapi tidak dengan Bimo, sepertinya ia harus berbicara empat mata dengan Dewi.


"wi, aku duluan iyh, kebelet nih ketemu di kantin aja"ucap suci sambil berlari meninggalkan kelas, Sedangkan Dewi hanya mengangguk sambil merapikan mejanya.


Sekarang tinggal Bimo dan Dewi yang ada di kelas itu, jika Bimo menatap terus kegiatan dewi, berbeda dengan Dewi yang sibuk merapikan mejanya.


"ngimana kabar suami kamu..?"tanya Bimo sambil berjaln mendekati Dewi.


"apapun keadaan suami sya tidak ada urusannya dengan anda kan..?"ucap Dewi tanpa menatap Bimo.


"jelas urusan saya, karna bagaimana pun kmu masih mahasiswa sya"ucap Bimo.


"wah ada iyh seorang dosen mengurus rumah tangga mahasiswa nya, baru tau aku dan itu ada di universitas*****"ucap Dewi menatap Bimo.


"sudh puas kan..? beasiswa syaa sudah dicabut, lalu apa yang anda ingin lagi dari sya"ucap Dewi berdiri dari meja dan mundur sedikit karna Bimo semakin dekat dengan dirinya.


"iyh syaa memang yang campur tangan atas dicabutnya beasiswa kamu, dengan harapan kamu akan sujud memohon kepada sya supaya beasiswa di jalan, dan saya akan menjalan kembali beasiswa dengan syarat kamu menjadi kekasih sya"ucap Bimo berterus terang.


"tapi apa..? beasiswa mu di cabut kok kamu makin songgong, sadar ngk sih kamu, kalau kuliahmu sudh di ujung tanduk"ucap Bimo lagi.


"wah akan seperti apa reaksi suami saya jika kampus yang beroperasi dibawah naungannya mencabut beasiswa untuk istrinya"ucap dewii tersenyum mengejek Bimo.


"jangan asal bicara, seperti apa suamimu itu, asal kamu tau kampus ini beroperasi dibawah naungan perusahaan terkenal, bukan dibawah naungan suami, palingan suami hanya karyawan biasa kan"ucap Bimo tersenyum tipis.


"nyatanya anda berkerja dibawah naungan suami sya, bahkan anda bekerja dibawah telapak tangan suami sya"ucap Dewi menatap sinis Bimo.


"tunjukkan seperti apa sosok suami yang kamu banggakan"ucap Bimo.


"saya takut jika sya memperkenalkan suami sya kepada anda, bisa-bisa Anda juga akan kehilangan pekerjaan"ucap Dewi

__ADS_1


"jadi stop ngurusin hidup sya pak, bapak bukan siapa-siapa saya, jadi ngk ada hak buat ngurusin hidup sya, dan perlu sya ingatkan, jangan sampai berita ini ke telinga suami sya, takutnya kampus ini berhenti beroperasi"ucap Dewi meninggalkan ruang kelas itu


"siapa sebenarnya suami mu Dewi"guman Bimo sambil menatap punggung Dewi yang semakin menjauh.


__ADS_2