
-setelah dirasa Kevin sudh terlelap dan dirasanya napasnya mulai teratur akhirnya Dewi membuka matanya, lalu ia menatap kearah Kevin yang sangat dekat dengan wajahnya.
Ia merasa sesuatu yang menempel di jidatnya tanpa pikir panjang Dewi membuangnya ke sembarang arah.
"aku ngk butuh seperti itu"guman Dewi, lalu ia turun dari kasur sambil menyingkirkan tangan Kevin yang melingkar ditangannya.
"mau kemana..?"tanya Kevin membuka matanya, sebenarnya Kevin hendak mau terlelap tapi ketika merasa ada pergerakan kecil dari tubuhnya Dewi dan ia pun memutuskan untuk pura-pura tidur.
"bukan urusan mu..?"ucap Dewi dingin tanpa menatap Kevin, lalu ia berjalan kearah kamar mandi.
Sedangkan Kevin menunggu Dewi keluar dari kamar mandi.
Tak berselang lama Dewi pun keluar dari kamar mandi dengan wajah yang lumayan segar, ia berjalan melewati Kevin begitu saja keluar dari kamar.
"mau kemana malam-malam begini"tanya kevin mengikuti langkah Dewi.
"bukan urusan"ucap Dewi dingin sambil berjalan berjalan menuju pintu keluar apartemen.
"mau kemana Dewi..?"ucap Kevin menahan tangan Dewi "kamu masih sakit, dan butuh istirahat"ucap Kevin lagi.
"bukan kah jika aku sakit bukan urusanmu, terserahku mau kemna"ucap Dewi menghempaskan tangan Kevin kasar.
"berhenti disana Dewi, selangkah aja kamu keluar dari apartemen ini, maka nyawamu akan sampai di apartemen"ucap Kevin mengancam Dewi.
"kenapa..?mau membunuh aku lagi..?kenapa kemarin tidak langsung sja, kenapa kamu pakai acara menolong aku, harusnya kamu membiarkan aku tenggelam di kolam sampai membusuk, supaya kamu bisa bahagia dan hidup tenang, kamu bisa tertawa di atas penderitaan aku, bukan kah itu selama ini yang kamu inginkan..?ucap Dewi dingin.
"iyh aku memang ingin membuat kamu menderita tapi bukan begini caranya"ucap Kevin menatap tajam Dewi.
"baiklah aku akan menunggu cara halus mu, perlu aku ingatkan racun tikus harganya sedang turun kamu bisa menggunakan itu untuk membunuhku"ucap Dewi memandang remeh Kevin "tau kan ngimna caranya pakai racun tikus"ucap dewi tersenyum manis sehingga memperlihatkan kedua lesung pipinya.
"upss kamu bisanya membunuh orang dengan cara kasar kan, nanti aku ajarin ngimna cara membunuh orang dengan cara halus tanpa meninggalkan jejak"ucap Dewi berubah menjadi senyum misterius.
Jujur untuk saat ini Kevin benar-benar melihat sosok Dewi yang berbeda, melihat senyum Dewi saat ini persis seperti spikopat yang siap membunuh musuhnya secara halus, dan hal itu membuat Kevin seperti baru berkenalan dengan Dewi.
Melihat Dewi hendak membuka hendel pintu ia langsung mengejarnya.
"jangan pernah coba-coba keluar dari apartemen ini"ucap Kevin menarik tangan Dewi menjauh dari pintu.
"siapa kamu melarang aku..?"ucap Dewi menghempas tangan Kevin.
"aku adalah suamimu kalau kamu lupa, bukan kah istri keluar harus persetujuan suami..?"tanya Kevin menekan setiap kata-kata yang diucapkan.
"suami yang mana anda maksud tuan Kevin..?suami yang mendorong istrinya ke kolam,..? suami yang mencekit istrinya..?atau suami yang menarik rambut dan menampar istrinya..?itu suami yang ada maksud"ucap Dewi menatap Kevin tak kalah tajam, sehingga membuat Kevin bungkam tanpa berkata-kata
"sudah kuliah kan..?dan kuliah dikampus bergensinya kan..? dan salah satu mahasiswa cerdas kan.?dan merupakan pebisnis termudah dan tersukses dikota ini kan..? jadi tau dong definisi suami itu apa"ucap dewi.
"stop belaga menjadi suami yang perhatian sama saya, dan stop menjadi sok peduli sama syaa kalau pada akhirnya anda kan membunuh saya"ucap Dewi.
"jangan lupa Dewi kamu sudh syaa beli dari orang tuamu, jadi kamu sekarang menjadi hak sya"ucap Kevin lagi.
"OOO iyh saham lima persen buat apa sih..?"tanya Dewi memandang remeh Kevin lalu ia berjalan meninggalkan apartemen, ia segaja menutup pintu secara kasar.
__ADS_1
Melihat hal itu kevin langsung berlari kekamar mengambil kunci mobil, lalu ia berjalan mengikuti kemana Dewi pergi.
"Dewi tunggu, kamu mau kemana biar sya antarkan, kamu belm sembuh total"ucap Kevin ketika mereka di dalam satu lift yang sama.
"emng anda mau satu mobil dengan anak seorang pembunuh, dan apakah anda tidak takut mobil anda dinaiki seorang wanita j*l*Ng"ucap Dewi langsung keluar dari lift tanpa menuju respon dari kevin.
"dan stop ikuti sya, sya butuh hiburan"ucap Dewi tanpa membalikkan badan dan melanjutkan langkahnya.
"stop Dewi"ucap Kevin memengang erat tangan Dewi.
"saya dari tadi sudh mencoba ngomng baik-baik sama kamu, jangan sampai kesabaran syaa habis Dewi.."ucap Kevin menatap tajam Dewi.
"kenapa kamu butuh hiburan..?kamu ingin menghibur diri pergi ke club dan menjual tubuhmu disnaa"ucap Kevin masih memengang tangan Dewi.
"lalu jika kesabaran anda bisa habis kenpa sya tidak bisa, sama-sama makan nasi kan..?situ makan nasi dan sini juga makan nasi!! situ bisa kehabisan kesabaran sini juga bisa kehabisan kesabaran"ucap Dewi tak mau kalah.
"lalu kenapa kalau sya ingin menjual tubuh sya ke club malam, toh profesi saya kan seorang j*l*Ng jadi wajar dong kalau sya berkeliaran di luaran sana"ucap Dewi menghempaskan tangan Kevin
.
Lalu melanjutkan langkah tanpa memperdulikan tatapan tajam dari Kevin.
Sampai di gerbang pintu masuk apartemen Dewi langsung menyetop kan taksi yang kebetulan lewat.
"ke perumahan ***** iyh pak"ucap Dewi dingin, lalu ia membuang pandangan ke arah kendala menikmati lampu kota yang sangat indah,
Tak mau ketinggalan Kevin langsung mengikuti kemana taksi yang Dewi tumpangi berjalan.
Hampir satu jam Kevin mengikuti taksi yang Dewi tumpangi tapi sampai sekarang dia ia belm mengetahui akan kemnaa taksi itu membawa Dewi.
Tak lama setelah itu taksi yang Dewi tumpah belok sebuah perumahan elit di kota ini, dan dapat Kevin pastikan bahwa dengan ingin menemui seseorang.
"rumah siapa ini..?guman Kevin ketika melihat Dewi berhenti di sebuah rumah bak istana yang menjulang tinggi keatas.
Setelah turun dari taksi Dewi langsung masuk ke pekarangan rumah itu tanpa menunggu satpam membuka pintu gerbang, sepertinya Dewi sudh terbiasa mendatang rumah ini pikir Kevin, dan yang menjadi pertanyaan ini rumah siapa..?pikir kevin lagi.
Tak lama setelah itu pintu gerbang terbuka lebar dan keluarlah sebuah mobil dengan keluaran terbaru.
"apa.. jadi ini rumah rangga?? berarti dewi menemui Rangga malam-malam begini"ucap Kevin ketika melihat mobil itu keluar dan kebetulan kaca mobil itu terbuka lebar, sehingga Kevin dapat melihat dengan jelas wajah Rangga yang sedang mengelus lembut pipi Dewi.
"awas kamu Dewi, berani-beraninya kamu menemui Rangga dibelkang ku"guman Kevin sambil mengikuti mobil Rangga sesekali ia memukul stir mobil untuk meluapkan emosinya.
Dan tak dapat di pungkiri ingin rasanya kevin menabrak mobil Rangga dari belakang kesal karna sudh berani membawa istrinya malam-malam begini, padahal dengan jelas ia ketahui bukan Rangga yang mengajak Dewi tapi Dewi lah yang mendatangi Rangga kerumahnya.
"maksudnya ini ngimna sih, permainan macam apa ini Dewi..? permainan apa yang kamu ciptakan yang tidak aku ketahui"teriak Kevin ketika mobil Rangga memasuk perumahan tempat Dewi tinggal.
Sampai di depan rumah Dewi langsung turun dari mobil dan diikuti Rangga juga, dapat kevin lihat Rangga yang mencium kening Dewi dan memeluk tubuh wanita ini dengan posesif dan matanya menatap wajah Dewi yang terlintas bahagia keluar senyum tulus ketika Rangga mendaratkan bibirnya di kening Dewi.
untuk kesekian kalinya Kevin harus melihat kemesraan Dewi dan Rangga yang paling ia benci saat ini, mungkin hari-hari sebelum dapat ia maklumi tapi untuk saat ini ia benar-benar habis kesabaran.
Ketika ia melihat Rangga sudah meninggalkan perumahan Dewi, Kevin langsung turun dari mobil lalu berlari mengejar Dewi yang hendak membuka gerbang.
__ADS_1
"wahh bagus sekalinya dramanya, setelah dari apartemen tadi nangis-nangis dan marah-marah, sekarang sudah terbit aja wajah ke bahagiannya"ucap Kevin menyindir Dewi, sebisa mungkin ia menahan emosinya saat ini.
"bukan setiap manusia harus dituntun supaya pandai berpura-pura, dan ahhh iyh selain pengusaha sukses ternyata anda memiliki keahlian dalam dunia penguntitan iyh"ucap Dewi memandang remeh Kevin.
"tuan Mahendra yang terhormat adalah seorang penguntit"ucap Dewi masuk kedalam halaman rumah.
"mau kemana kamu, ayo kita pulang"ucap Kevin menarik tangan Dewi.
"bukan kah pembunuh dan juga anak pembunuh harus berkumpul, kalau ayah sya disini dan anaknya pembunuhnya disana ngk adil dong namanya"ucap Dewi.
"ini rumah orang tua saya dan sya mau menginap disini malam ini"ucap Dewi meninggalkan Kevin.
"baiklah kalau kamu menginap disini malam ini, saya juga akan menginap"ucap Kevin mengikuti langkah Dewi.
"terserah"ucap dewi.
Dewi langsung masuk ke dalam rumah di ikuti kevin dari belakang.
"kak Dewi"pekik Dinda yang baru saja keluar dari dalam dapur.
"Hay ngimna kabarnya"ucap Dewi memeluk Dinda sekilas.
"sangat baik"ucap Dinda.
"ehh kak Kevin, mau nginap disini iyh"ucap Dinda dan di anggukan oleh Kevin.
"ayah dimana"ucap Dewi.
"ayah sma ibu baru aja masuk kamar, mau aku panggilkan kah..?"tawar Dinda.
"ngk usah..besok aja, kebetulan ada yang mau aku tanyakan sama ayah"ucap Dewi.
"kalau begitu kami langsung ke kamar iyh"ucap Dewi.
"iyh kak, selamat malam kak Kevin"ucap Dinda sedangkan kevin hanya tersenyum tipis dan berjalan meninggalkan Dinda berjalan mengikuti Dewi dari belakang.
"kenapa bisa kak Dewi tahan hidup satu rumah, satu kamar,satu kasur sama kulkas seperti itu..?"guman Dinda menatap punggung Kevin dan Dewi yang mulai menghilang.
Sampai dikamar Dewi langsung mengambil satu bantal dan selimut dan berjalan kearah Sofanya yang ada di kamar itu, seperti permintaan Dewi pada pelayan dirumah itu, untuk menempatkan sebuah sofa dilamarnya ketika pertama kali mereka Dewi.
"aku tidur di sofa dan kamu tidur dikasur"ucap Dewi tanpa menatap Kevin.
"kita tidur satu kasur"ucap Kevin
"mau tidur terpisah atau saya sekarang keluar dari kamar ini dan memilih tidur di hotel"ucap Dewi mengancam Kevin.
"kita suami istri jadi wajah dong kita tidur satu ranjang"ucap Kevin tak mau kalah.
"tergantung suami seperti apa, stop syaa lagi pusing dan saya mau istirahat, kalau kamu mau tidur disna ada kasur dan kalau kamu masih mau berdiri terus disnaa silakan"ucap Dewi langsung menutup seluruh bagian tubuhnya menggunakan selimut.
terimakasih atas kunjungan dan dukungan jangan lupa tinggalkan jejak dan like.
__ADS_1