
"Lo tau kan kalau gue lagi ngabut gapain..?bisa aja Lo ngk bakal lulus dari masa praktek Lo, gue ngk peduli Lo sahabat gue atau ngknya, intinya pahami setiap kata-kata yang keluar dari mulutku"ucap Kevin lagi sebelum benar-benar meninggalkan ruangan itu, dengan nada lembut tapi dalam artian mengancam.
Setelah mengatakan itu kevin dan teman-temannya keluar dari rumah sakit itu, melajukan mobilnya menuju markas tempat biasa mereka berkumpul.
Sampai menjelang Maghrib mereka masih tetap di markas itu, Kevin dengan gelisahnya sesekali melihat ke ponselnya menunggu anak buahnya memberikan kabar baik.
"apa belum ada kabar..?"tanya Remon dan Kevin hanya mengeleng.
"tempat Dewi biasa nongkrong sudh Lo periksa ngk?"tanya Ryo.
"setelah Dewi menikah, dia tidak pernah nongkrong, dia hanya kekampus dan dirumah saja, bahkan sebelum menikah pun kalian tau sendiri Dewi yang tidak pernh nongkrong, dia hanya kuliah dan bekerja, jadi tidak tentu dimana-mana aja Dewi nongkrong"ucap Kevin yang memang benar adanya, dimana tempat tongkrongan Dewi yang tidak menentu selama ini.
"tidak ada jalan lain Vin, kamu harus lapor ke polisi, ini dari magrib ketemu magrib Dewi tidak ketemu"ucap Ryo.
"melaporkan ke polisi ada baiknya juga sih, tapi resikonya sangat besar untuk kedepannya"ucap Kevin.
"jangan mikirin tentang resiko kedepannya Vin, yang penting Dewi ketemu duluh, soal resiko kita bisa pikirin nanti"ucap Remon, sedangkan Kevin yang diam sejenak setelah mendengar ucapannya Remon, dan setelah ia pikir ternyata ada benar juga, gapain dia harus memikirkan resiko kedepan..?toh apapun yang terjadi kedepannya tidak akan ada yang tau, pikir Kevin.
"baik aku akan menelepon polisi"ucap Kevin sambil membuka benda pipihnya lalu menekan nomor polisi yang merupakan omnya sendiri.
tukk tukk tukk
"permisi tuan menganggu waktunya"ucap Daffa tiba-tiba masuk ruangan itu, dan hal tersebut membuat Kevin refleks mematikan sambung teleponnya sebelum nomor tujuan mengangkat.
"kenapa daf..?"ucap Remon.
"kalau ngk kabar ngk usah ngomong daf"ucap Kevin dingin, pelampiasan kekesalannya ia berikan kepada Daffa yang tidak becus bekerja, padahal selama ini Daffa selalu bekerja dengan sangat baik dan Kevin puas akan hal itu, tapi entahlah, saat ini Daffa benar-benar lambat menurut Kevin.
"justru itu tuan saya kesini sedikit mendapat kabar tentang titik di mana nona Dewi"ucap Daffa.
"kabar apa yang kamu dapatnya"ucap Remon dengan tidak sabaran, pasalnya ia sendiri sudah sangat gemas dengan kehilangan Dewi, mengingat ia pernah mengagumi sosok Dewi.
Sejenak Daffa memandang Kevin , mengerti akan tatapan Daffa Kevin hanya mengangguk.
"nona Dewi sepertinya menginap di Mahendra hotel tuan"ucap Daffa.
"kenapa sepertinya daf, kamu yakin dari mana Dewi menginap disana"ucap Kevin terlihat ragu, pasalnya letak hotel itu sangat jauh dari keramaian, apakah Dewi sejauh pergi kesana..?pikir Kevin.
"karna dari laporan sya dapat tuan, rekening nona Dewi melakukan transaksi disana dengan tujuan membayar sewa hotel, dan tidak menutup kemungkinan kalau nona Dewi ada disna"ucap Daffa menatap kevin dan Ryo,Remon bergantian.
"boleh saya lihat laporannya..?"ucap Kevin, dan Daffa langsung memperlihat laporan yang ada di ponselnya.
Dan benar saja dilaporan itu terdapat sebuah keterangan kalau Dewi melakukan transaksi dengan tujuan membayar sewa kamar hotel.
__ADS_1
Bodoh.
Hanya itu yang ada di dalam pikiran Kevin ketika melihat laporan itu, dia kah yang bodoh karna belum bisa menemukan Dewi, atau Dewi kah yang bodoh, mau kabur tapi malah bersembunyi di hotel suaminya sendiri..?entah hanya Kevin yang tau kata itu ditunjukkan kepada siapa.
"kalian berdua pulang sja, kalian tungguh kabar baiknya saja, maaf sudh merepotkan kalian"ucap Kevin sambil berdiri dari kursinya" Daffa kita langsung ke hotel"
"kita tunggu kabar baiknya Vin"ucap Ryo sedangkan Kevin hanya mengangguk.
#####
Tanpa menunggu lama Kevin dan Daffa langsung melesat ke hotel yang dimana mereka yakini kalau Dewi menginap disana.
Karna posisi mereka ketika pergi saat azan Maghrib berkumandang jadi jalanan itu terlalu macet, karna sebagian orang ada yang sholat, tak membutuhkan waktu lama Kevin dan Daffa sudah sampa di depan hotel.
"ternyata kamu bersembunyi disini"batin Kevin setelah turun dari mobil.
Sejenak ia memandang hotel milik keluarganya, bangunan yang menjulang tinggi ini adalah hotel pertama yang dibangun almahum ayahnya ketika mulai terjung kedunia bisnis, dan hotel ini diberikan nama "Mahendra hotel".
"mari tuan"ucap Daffa sambil membuka pintu masuk hotel.
"selamat malam tuan, ada yang bisa kami bantu"ucap petugas resepsionis.
"kamar atas nama Dewi Sartika Gabriela Adijaya nomor berapa"tanya Kevin to the point'.
"baik tuan mohon ditunggu saya akan cek terlebih dahulu"
"benar tuan, satu hari yang lalu ada seorang gadis yang bernama Dewi Sartika Gabriela Adijaya memesan kamar, dan kamar berada di ******"ucap slaah satu petugas resepsionis.
"tapi tuan, sejak nona itu masuk ke dalam tidak pernh keluar, bahkan dari petugas yang syaa dengar makanan yang mereka antarkan kekamar itu tidak tersentuh sedikit pun"ucap salah satu petugas resepsionis.
Dan mendengar hal itu Kevin terkejut sekaligus khawatir, dapat ia pastikan kalau Dewi tidak makan sama sekali.
"apa dia berbicara sesuatu kepada kalian..?atau tentang status nya"ucap Kevin.
"tidak ada tuan, tapi dari data yang saya lihat sebelumnya ia menyuruh salah satu petugas untuk mengecek saldo rekeningnya, dan kami lihat dari rekening itu hampir setiap bulan masuk transferan dari Mahendra grup"ucap slaah satu petugas resepsionis yang memang waktu Dewi memesan kamar dia tepat berada disana.
"Daffa kamu pulang saja, aku akan menginap disini malam ini"ucap Kevin "minta kunci kamar itu"
Setelah mengatakan itu Kevin langsung berjalan menuju kamar Dewi menginap, ia juga sudh meminta Daffa untuk mengirimkan baju ganti untuknya.
Sebelum masuk kekamar Dewi, sejenak Kevin menatap pintu kamar itu, lalu ia menarik napas panjang dan membuangnya secara kasar.
"ceroboh, nginap sendiri tapi pintunya tidak dikunci"ucap Kevin setelah memasukkan kunci pintu yang alhasil pintunya tidak di kunci.
__ADS_1
Masuk kekamar Dewi yang ternyata dengan posisi gelap, yang dinyalakan hanya lampu tidur saja, dan ia juga melihat peralatan sholat di atas sofa, yang artinya Dewi habis sholat.
Lalu ia berjalan mendekati Dewi yang tertidur di kasur dengan tubuhnya yang ditutupi selimut sampai ke bagian kepala, Sejenak ia melihat ke arah meja, disana terdapat tiga piring menu sarapan yang berbeda yang belum tersentuh, berarti Dewi belum ada makan satu hari ini.
Ia memutuskan tidak membangunkan Dewi lagi, lalu ia berjalan menuju kamar mandi, tapi karna daffa belum mengirimkan bajunya, mau tidak mau ia harus memakai baju koas oblong berwarna hitam milik Dewi yang ada di kamar mandi, seperti baju itu belum sempat di pakai oleh Dewi.
Setelah selesai mandi, ternyata Daffa sudh menunggu didepan pintu kamar untuk mengantar baju ganti buat Kevin.
"makasih, pulang dan istirahatlah"ucap Kevin setelah mengambil paper bag yang ada ditangan Daffa.
Lalu ia hanya memakai celana saja, tidak kepikiran lagi untuk mengganti bajunya karna ia merasa cocok dan nyaman ketika di pakai.
Setelah badanya dirasa sudh bersih, Kevin pun langsung naik ke kasur, ia membuka selimut yang menutup tubuh Dewi secara perlahan, lalu ia membaringkan tubuhnya di samping dewi
Sejenak ia menatap wajah natural Dewi yang terlihat cantik, lalu ia melihat kedua mata Dewi yang bengkak dan kelihatan masih basah, sepertinya Dewi hanya menangis selama satu harian ini ketika di kamar.
"sesakit itu wi, ketika Rangga menghianati kamu"guman Kevin menatap wajah Dewi yang terlelap dengan tenang "apakah kamu secinta itu smaa Rangga, please kasih aku tempat dihatimu wi"
"selamat tidur syang"ucap Kevin lalu mencium kening Dewi dengan sangat dalam dan membawa gadis itu ke dalam dekapannya.
Sedangkan Dewi tidak terusik sama sekali ketika Kevin memeluk dengan erat, bahkan ia mencari kenyaman di dada bidang Kevin, mungkin karna selama di kamar Dewi hanya menangis dan menangis sehingga ia benar-benar lelah sekali.
Sedangkan Kevin yang memang sudh lelah, bahkan jam tidurnya tidak teratur karna terus mencari Dewi, akhirnya Kevin langsung menyusul Dewi ke alam mimpi.
######
Sedangkan Rangga di ruangannya hanya diam saja, dan disnaa masih ada suci yang terus menunggunya, sejenak ia melihat kebawah lantai yang dimana disana sudh ada foto Dewi yang ia pajang di meja dengan keadaan hancur lebur.
"kita akhiri hubungan ini ci, sejak awal hubungan kita sudh salah"ucap Rangga menatap suci yang duduk dihadapannya.
"kamu tau hubungan ini sudh slah, tapi kamu malah datang kepadaku ketika kau pusing"ucap suci menatap tajam Rangga
"maaf hanya khilaf"ucap Rangga
"khilaf sampai bebrapa kali..?ingat ga sampai kapan pun aku tidak akan melepaskanmu, aku sudh jatuh cinta sama kamu seblum kau dan Dewi berpacaran, jadi jangan slaah aku jika aku melakukan cara licik untuk mendapatkan kamu"ucap suci mulai tersulut emosi.
"Maslahnya aku tidak pernh mencintai kamu, dihati hanya Dewi seorang"ucap Rangga.
"tapi nyata aku sedang mengandung darah dagingmu, jadi kamu jangan macam-macam ga, aku ngk peduli tentang apapun termasuk Dewi yang masih ada di dlam hati kamu, ingat Dewi sudh menikah"ucap suci langsung meninggalkan ruangan Rangga.
aaaaaaaaa
"kenapa jadi hancur begini, Dewi aku cinta smaa kamu"teriak Rangga sambil menghancurkan semua barang-barang yang ada di atas meja, bahkan luka yang ada di bibirnya belum di obatin.
__ADS_1
Tidak, apapun alasan ia tidak akan melepaskan dewi, dia yang sudah mengenal Dewi, bahkan dia yang sudh berpacaran dengan dengan cukup lama, tidak mungkin jika ia harus melepaskan Dewi begitu sja.