Pernikahan Puncak Balas Dendamku

Pernikahan Puncak Balas Dendamku
bab 81


__ADS_3

Hingga selesai kuliah pertma dan kedua belum ada tanda-tanda suci akan muncul, padahal setelah seminggu tidak bertemu Dewi cukup merindukan sosok sahabatnya itu.


Karna tidak ada teman, Dewi pun memutuskan untuk pergi ke kantin, dan ketika sampai dikantin sekali pun Dewi tidak ada niat makan sama sekali, ia hanya memandangin bakso yang ia pesan sebelumnya.


"bosannya, habis nih mau kemana lagi nih"guman Dewi sambil mengaduk-aduk jus mangga yang ia pesan, tak lama setelah itu ia berdiri hendak berdiri tapi seseorang menahannya.


"ehhh Dewi iyh, anak bisnis..?"ucap seorang mahasiswa sambil menahan Dewi yang hendak berdiri.


"iyh benar, memang kenapa iyh"ucap Dewi dengan kening berkerut.


"ini ada titipan dari seseorang, katanya dia rindu sudh seminggu tidak melihat wajahmu"ucapnya sambil memberikan sebuah paper bag.


"maksih iyh, kalau boleh tau dari siapa..?mungkin ciri-ciri orang itu"ucap Dewi sambil menerima paper bag, tapi sayang sangat disayangkan, pria yang memberikannya sudah langsung pergi tanpa menjawab pertanyaan Dewi.


"iyh pergi"guman Dewi.


"cie Dewi dapat kiriman dari pengagum rahasia nih"ucap Remon tiba-tiba sambil tersenyum kearah Kevin, yang kebetulan Kevin cs langsung ke kantin sebelum jam kuliah dimulai, karna dosennya masuk agak sore.


"ehh kalian, mau gapain kesini..?"ucap Dewi tiba-tiba gugup setelah mati, apalagi melihat tatapan Kevin yang terus mengarah kepada dirinya, jadi gugup dan takut bercampur jadi satu.


"mau karaokean Dewi"ucap Remon gasal.


"ehh emang bisa..?"ucap Dewi yang tiba-tiba lemot dalam berpikir.


"ngk bisa Dewi, kok loh tiba-tiba Lola sih"ucap Remon kesal.


"btw itu apa sih isinya, penasaran gue"ucap Ryo sambil menatap Kevin sekilas.


"mau..?"ucap Dewi "buka aja kalau mau"ucapnya sambil menyerah paper bag kepada Ryo.


"coklat sama kue..?ehh ada notenya dong"ucap Ryo sambil membuka note yang ada di paper bag.


"bacakan Bambang, malah dilihatin ngituh"ucap Remon yang sedari tadi gemas melihat Ryo yang hanya melihat notenya.


"akhirnya setelah satu minggu tidak melihat senyum manismu, sekarang aku bisa bernapas lega karna senyum itu akan selalu menghiasi hari-hariku, semangat cantik, love you"ucap Ryo membaca note yang ada di dalam paper bag itu, sedangkan Kevin yang mendengar isinya dari note itu, sebisa mungkin menahan amarahnya, dapat di pastikan bahwa emosinya saat ini benar-benar mendidih seperti air yang baru dimasak.


"dari siapa ini, kok sepertinya dia rindu banget smaa kamu wi"ucap ryo, Sedangkan Dewi hanya diam saja mulutnya seakan susah dibuka untuk mengucapkan sepatah dua kata sekalipun.


Ting


Tiba-tiba ponsel Dewi berbunyi pertanda ada pesan masuk, Dewi langsung saja membuka ponselnya yang kebetulan ponselnya sedang berada ditangannya.

__ADS_1


suami❤️❤️


Dilayar ponsel itu, tepatnya di aplikasi hijau itu terdapat pesan dari suaminya lebih tepatnya dari Kevin, di dalam ponsel itu masih ada tiga nomor masuk, yaitu nomor Kevin, bunda dan juga Daffa.


Dewi langsung membuka pesan itu.


"aku tunggu di roftop, ngk pakai lama"isi dari pesan itu, jika bagi orang lain kata-kata itu hanya sekedar pesan biasa, tapi entah kenapa bagi Dewi kata-kata itu adalah sebuah keharusan dan pemaksaan, sejenak ia menatap ke arah Kevin yang ternyata masih menatapnya dengan tatapan tajam.


"gue malas masuk hari ini, mon titip absen, bilngin tugas gue sudh dikirim lewat email"ucap Kevin tanpa menatap Ryo maupun Remon "gue duluan"


"ehh kaleng k'rupuk, baru aja Lo masuk sudh titip absen aja, emng Lo kira ini kampus bapak Lo"ucap Remon, tapi tidak di hiraukan Kevin, ia terus berjaln tanpa menoleh kebelakang sedikit pun, karna pada dasarnya mereka tidak tau kalau kampus yang mereka pakai untuk mengambil gelar sarjana berada dibawah naungan perusahaan kevin.


mampus


Hanya kata-kata itu yang bisa menggambarkan nasip Dewi saat ini, dapat di pastikan bawah Kevin akan marah besar kepadanya, dan tak dapat dihindarkan mereka akan berdebat nantinya.


"mau kemana wi..?mau titip absen lagi..?"ucap Remon yang melihat Dewi hendak meninggalkan mereka.


"bukan mau titip absen, tapi memang sya sudh selesai jam kuliah, dan sya kemana pun bukan urusan kalian kan..?"ucap Dewi dingin dengan wajah datar mencoba setenang mungkin, padahal dasarnya saat ini ia benar-benar dilanda ketakutan yang luar biasa.


"dingin suaminya lebih dingin lagi istrinya, datar suaminya lebih datar lagi istrinya"ucap Remon sambil menatap punggung Dewi yang semakin menjauh.


"memang Tuhan itu adil iyh, yang tampan ketemunya sama cantiknya, tapi yang lebih adil lagi mereka dipertemukan dalam posisi datar, itu nama balance, andai belajar akuntansi segampang itu, mungkin aku tidak akan merasa menyesal mengambil jurusan bisnis"ucap Remon lagi.


###


Seperti pesan yang Dewi dapat sebelumnya, bahwa Kevin menunggunya di roftop dan mau tidak mau dia harus kesna.


Setelah membuka pintu roftop sejenak Dewi mengedarkan pandangan mencari sosok Kevin, tepat sekali mata menangkap sosok yang sedang berdiri menatap lurus kedepan, tepatnya di ujung roftop.


Perlahan tapi pasti, Dewi berjaln lebih mendekat lagi kepada Kevin, lebih dekat dan semakin dekatnya juga tentunya.


"dari siapa?"tanya Kevin dingin tanpa menatap si empedu, karna dasarnya ia sudh tau kalau itu adalah Dewi, karna ia bisa merasakan dari parfum yang Dewi pakai.


"apanya..?"tanya Dewi balik.


"dari siapa..?"tanya Kevin menekan setiap kata-kata nya.


Hanya beberapa huruf dan membentuk dua kata sehingga membentuk satu pertanyaan sederhana yang mampu membuat dewi kehilangan kata-kata untuk menjawabnya.


"bingkisan itu dari siapa dewi"ucap Kevin dingin dan datar tanpa menatap Dewi barang sedikit pun, wajah saat ini benar-benar sedang menahan amarah, jika mungkin Dewi seorang laki-laki sudh habisin saat itu juga.

__ADS_1


Karna saking takutnya dan mulut Dewi sangat susah untuk mengeluarkan sebuah suara, bahkan untuk bernapas saja sangat sulit rasanya bagi Dewi, sehingga Dewi hanya bisa mengeleng saja.


"aku butuh jawaban Dewi, aku butuh kata-kata keluar dari mulut, seperti orang itu yang selalu ingin melihat senyamanmu"ucap Kevin yang melihat Dewi hanya mengeleng saja


"aku butuh jawab Dewi, bukan gelengan kepala"ucap Kevin karna melihat Dewi yang masih diam seribu bahasa.


"aku tidak tau itu dari siapa"ucap Dewi gugup.


"tapi kamu hampir setiap hari menerima nya Dewi, kamu jangan belaga goblok, dan jangan kamu pikir selama ini aku tidak tau bahwa kamu selalu dapat bingkisan hampir setiap hari"ucap Kevin membentak Dewi.


"dan tapinya aku ngk tau itu dari siapa Vin"ucap Dewi.


"kamu jangan bohong Dewi, itu dari siapa..?kenapa hampir setiap hari dia mengirimkan kamu sesuatu yang berbeda-beda..?",ucap Dewi memengang kedua lengan Dewi sambil mengarahkan wajah Dewi supaya menghadap kepalanya.


"sakit Vin"ucap Dewi karna saat ini Kevin menekan lengannya dengan cukup kuat.


"selain Rangga siapa lagi laki-laki yang dekat dengan mu"ucap Kevin tanpa memperdulikan ringisan dewi, yang sedang menahan kesakitan di lengannya.


"ngk ada Vin, cuma Rangga saja yang dekat denganku"ucap Dewi.


"jangan pernh aku dengar keluar dari mulutmu menyebut nama laki-laki lain, termasuk Rangga"ucap Kevin mendorong tubuh Dewi, dan karna tidak menjaga keseimbangan Dewi pun terjatuh dan bokongnya terlebih dahulu mencium lantai.


"ngk bisa sepertu itu Vin"ucap Dewi menatap Kevin.


"ngk bisa apanya, aku suami mu, dan hanya namaku yang bisa keluar dari mulutmu"ucap Kevin sambil membantu Dewi berdiri.


"tapi ini ngk adil buat aku"ucap Dewi hendak memberontak ketika Kevin hendak membantunya berdiri, tapi itu tidak berpengaruh sedikit pun bagi kekuatan Kevin.


"trus adil buat aku ngituh..?adil buat aku ketika istriku sendiri selalu mendapat sebuah bingkisan dari pria pengecut yang hanya berani mengirim bingkisan sama kamu lewat orang lain"ucap Kevin sambil mendudukkan Dewi dikursi yang ada di roftop itu.


"tapi aku ngk tau itu dari siapa Vin, kamu pikir aku ngk terganggu ketika dia selalu mengirim bingkisan itu"ucap Dewi menatap Kevin, entahlah sebuah keberanian muncul begitu saja ketika ia mendengar ucapan Kevin yang sebelumnya.


"bohong..."teriak Kevin sambil menendang tempat sampah yang tepat berada didekatnya.


"bohong, semua bohong Dewi, buktinya kamu malah menerima semua kiriman darinya, mulai dari bunga bahkan sampai makanan"teriak Kevin lagi.


Benci


Momen yang paling ia benci ketika pengagum rahasia Dewi kembali muncul, momen paling ia benci ketika ada seorang laki-laki mengangumi Dewi dan paling ia benci ketika ia tidak mengenali siapa sosok itu.


Boleh kah ia salahkan Dewi karna memiliki pengagum rahasia..?secara logikanya ia tidak bisa menyalakan Dewi dari segala bentuk dan dari segala sudut pandang mana pun, tapi siapa yang harus ia salahkan..?Dewi hal yang tidak mungkin, dan laki-laki itu..?adalah hal yang tidak logika ketika ia harus menyalahkan dia ketika mengagumi sosok Dewi, yang memang dasarnya memiliki wajah cantik.

__ADS_1


Boleh kah dia egois saat ini..?kalau dia hanya ingin memiliki Dewi seutuhnya tanpa embel-embel pengagum rahasia, boleh kah ia mencuci otak Dewi supaya hanya dia saja yang ada di dalam otakknya dewi.


"pulang kerumah, jangan mampir kemana, sopir menunggumu dibawah, tungguh aku sampai dirumah"ucap Kevin, tidak mau berlama-lama dengan Dewi, mengingat emosinya belum stabil, takut ketika bersama Dewi ia tidak bisa menahan emosinya alhasil nanti bisa menyakiti Dewi.


__ADS_2