
Sampai menjelang malam Kevin masih stay dirumah sakit menemani Dewi, ia bahkan tidak meninggalkan Dewi sedikit pun.
"aku tidak bisa bayangkan akan segila apa aku kalau kamu sampai menikah dengan Rangga, akan segila apa aku jika harus berbagi istri dengan Rangga"guman Kevin sambil mengelus lembut pipi Dewi yang masih tertidur di dadanya.
Ia membayangkan ngimna Rangga dan Dewi duduk berdampingan di depan penghulu, ia juga membayangkan bagaimana tangan Rangga menjabat tangan penghulu, membayangkan saja ia hampir gila, apa lagi kalau kejadian itu benar-benar terjadi, mungkin saja ia bisa mati berdiri.
Ahh iyh, dia hampir saja melupakan si bajingan itu, karna harus menjaga Dewi, tapi apa pun yang terjadi ia harus membereskan Rangga malam ini juga.
"aku tinggal bentar syaang, aku akan kembali secepat"bisik Kevin.
Lalu ia turun dari ranjang, sebelum benar-benar meninggalkan ruangan Dewi, ia lebih duluh mencium kening Dewi bergantian dengan kedua mata Dewi.
"mudah-mudahan sebelum aku datang Dewi tidak akan bangun"batin Kevin.
Lalu ia meninggalkan ruangan Dewi, ia membuka dan menutup pintu ruangan dengan pelan, supaya tidak membangunkan Dewi.
Ternyata di luar sudah ada beberapa bodyguard yang menjaga ruangan Dewi, sesuai arahan Kevin sebelumnya supaya penjaga selalu stay menjaga ruangan Dewi sampai Dewi benar-benar sembuh dan keluar dari rumah sakit.
"pastikan tidak akan seorang pun yang masuk kedalam, siapa pun itu dan dengan alasan apapun"ucap Kevin.
"dan pastikan Dewi tidak keluar dari ruangan"ucap Kevin lagi.
"baik tuan"ucap para bodyguard secara serentak.
Lalu Kevin berjalan menuju parkiran rumah sakit, dan tujuannya sekarang adalah ke markas dimana anak buahnya menyekap Rangga.
Setelah beberapa saat Kevin sampai ke markas, sebuah bangunan yang berlantai dua dan sudah cukup usang, bangunan itu adalah milik Kevin, tapi Kevin segaja menggunakan untuk khusus markas saja.
"dimana dia..?"ucap Kevin sambil masuk kedalam.
"di dalam tuan, dia belm sadar sejak tadi"ucap bodyguard sambil membuka pintu ruangan.
Ternyata diruangan itu masih ada Ryo,Remon dan juga Daffa, dimana mereka masih duduk diatas meja sambil ditemani dengan beberapa jenis minuman dingin.
"akhirnya Lo datang juga, lama banget sih, bosan nih kita jagain orang mati"ucap Ryo sambil bercanda.
"biasalah, aku menidurkan Dewi duluh tadi, dia masih sering mengingau"ucap kevin.
"aku merindukan istri ku, jadi wajarlah aku ingin selalu ingin bersama nya"ucap Kevin terkekeh geli
"menidurkan kah atau meniduri"ucap Remon menggoda kevin.
"menidurkan, pikiranmu sudah kemana-mana nih, dimana dia"ucap Kevin mengalihkan percakapan.
"tuh"ucap Ryo sambil menunjuk ke arah pojok ruangan "dia belum sadar sejak tadi"
"sudah mati atau hanya pingsang"ucap Kevin sambil berjaln menuju pojok ruangan.
"sepertinya cuma pingsang sja, karna jantungnya masih berdetak"ucap Ryo berjalan mengikuti Kevin diikuti Remon dan Daffa.
"itu yang aku mau, aku tidak mau dia mati dengan mudah"ucap Kevin "aku ingin bermain-main kecil saja"
"beingat, nyawa orang itu"ucap Remon mengingat Kevin supaya tidak bertindak berlebihan.
"dan sejak ia menghianati Dewi, aku sudah tidak menganggap dirinya manusia lagi, bahkan aku menganggapnya melebihi dari seorang binatang"ucap Kevin sambil menatap Rangga yang sedang duduk dikursi dengan penuh kebencian.
"Daffa, aku butuh air"ucap Kevin tanpa menatap Daffa.
__ADS_1
Sedangkan Daffa langsung mengambil ember yang berisi air.
bruuuuuuu
Kevin langsung menumpahkan semua air dalam ember kepada Rangga, dan hal itu membuat Rangga langsung terbangung.
"ternyata Lo betah juga tidurnya, ngimna rasanya tidur dikursi"ucap Kevin sambil melemparkan ember "seperti ini kan, Lo lakukan kepada Dewi, mengikatnya dikursi"
"Lo..?"ucap Rangga sambil menatap Kevin.
"apa..?ngituh banget ekspresinya"ucap Kevin.
"lepaskan gue Bangs*k"bentak Rangga.
"Lo sudah mau mati saja, masih aja marah-marah"ucap kevin sambil
menepuk-nepuk pipi Rangga.
plakkkkkk
"tobat-tobat Lo"ucap Kevin sambil menampar Rangga.
"dosa, dosa gue, apa hak Lo meminta gue bertobat"ucap Rangga.
"aku hanya mengingatkan, karna neraka pun tidak mau menerima mayatmu"ucap Kevin.
"lepaskan aku, dimana Dewi"bentak Rangga.
"kurang ajar, jangan pernh Lo sebut nama Dewi dengan mulut sampah Lo"bentak Kevin sambil menendang kursi Rangga.
"harusnya bajingan seperti kamu tidak layak hidup lagi, tapi karna aku cukup berbaik hati aku masih mengasihi mu"ucap Kevin sambil menendang wajah Rangga dan lagi-lagi mulut Rangga harus mengeluarkan darah.
"diam kamu Kevin, kita sama-sama bajingan, kamu bajingan karna sudah merebut Dewi dariku"ucap Rangga terbantah karna menahan rasa sakit yang ada di seluruh wajah, belum lagi rasa sakit di dada belum hilang akibat tendangan Kevin.
"wahh, Lo merasa sudah benar saja setelah melecekan istriku anj*Ng"teriak Kevin menatap Rangga dengan penuh kebencian.
"dasar dokter ngk punya otak"teriak Kevin.
"asal kamu tau Kevin, Dewi itu milik gue, dua tahun gue pacaran sama dia, dua tahun gue menjalin hubungan dengannya, tapi Lo dengan begitu gampangnya merebut Dewi dari gue, dan menjadikan dia istri Lo"ucap Rangga.
"bantu dia duduk"ucap Kevin.
"satu hal yang harus Lo tau, gue ngk merasa merebut Dewi dari Lo, dan Dewi pun demikian, dia tidak merasa direbut, karna apa..?karna gue meminta dia baik-baik kepada orangtuanya, karna gue menikahi dia di depan orang tuanya, dan gue menghargai dia sebagai istri gue"ucap Kevin "bukan seperti Lo, yang melecekan Dewi"
"dan satu hal yang harus Lo tau, gue ngk pernh melecekan Dewi"ucap Rangga membela diri.
"wah masih membela diri dia"ucap Kevin sambil tertawa menatap Ryo dan Remon secara bergantian.
"biasalah, manusia yang tidak mempunyai otak dan rasa malu memang seperti itu"ucap Remon.
"diam kalian semua, cepat lepaskan aku, aku ingin mencari Dewi"ucap Rangga.
"diam Bangs*k, dasar manusia sampah"bentak Kevin sambil memukul wajah Rangga.
"kamu sudah mau mati, harusnya kamu bertobat, perlu aku jabarkan dimana-mana saja dosa mu, kamu tidak lupa kan, benihmu masih berkembang dirahimnya suci dan perlu aku ingatkan lagi kau tidak ada tanggung jawab sedikit pun, dan Lo kembali melecekan Dewi"ucap Kevin "ternyata Lo bukan manusia lagi, tapi Lo melebihi dari seekor binatang"
"Daffa, kamu tau kan apa yang akan kamu lakukan..?"ucap Kevin.
__ADS_1
"tau tuan"ucap Daffa.
"pastikan dia sendiri yang mengalih kuburannya sendiri, dan tetap awasi dia"ucap Kevin.
Lalu ia meninggalkan ruangan itu diikuti Ryo dan Remon dari belakang, ia sudah cukup lama meninggalkan Dewi dirumah sakit, ia juga takut kalau Dewi terbangun dan kembali berteriak.
"Vin, kita mau ikut kerumah sakit, mau menjenguk Dewi"ucap Ryo.
"boleh, sampai ketemu dirumah sakit"ucap Kevin langsung masuk kedalam mobil dan melakukannya menuju rumah sakit.
"mudah-mudahan Dewi belum terbangun"batin Kevin sambil melajukan mobilnya.
Sementara Daffa, setelah kepergian Kevin, Sejenak Daffa memandang tubuh Rangga yang benar-benar sudah sangat tidak berdaya, bercak darah dimana-mana dan wajah yang tidak berbentuk.
"siapkan lahan, tempat kuburan dia nanti"ucap Daffa kepada bodyguard.
"maksud Lo apa daf, lahan buat kuburan gue"ucap Rangga.
"seperti yang kamu dengar tadi, tuan Kevin ingin anda harus mengalihkan kuburan anda sendiri, dan kamu hanya mempersiapkan lahannya"ucap Daffa.
"dasar bajingan kalian semua, lepaskan gue Bangs*k"teriak Rangga.
"kamu sudah sangat lama mengenal tuan Kevin, dan kamu sangat tau pasti kalau tuan Kevin tidak pernh main-main dengan ucapannya, satu hal yang harus kamu tau, kamu salah dalam mencari lawan"ucap Daffa.
"jangan lupa ukur tubuhnya,"ucap Daffa lalu meninggalkan ruangan itu, menyusul Kevin kerumah sakit.
Sedangkan Rangga hanya bisa berteriak supaya di lepaskan.
"woi, diamlah, tidak capek berteriak terus, sebaik kau kumpulkan tenaga mu untuk mengalih kuburan mu besok"bentak salah satu bodyguard yang menjaga Rangga.
Salah
Ini sangat salah, ia pikir kalau Kevin hanya main-main dengan ucapannya, tapi semuanya tidak ada sedikit pun, Kevin benar-benar menginginkan dirinya mengalih kuburannya sendiri.
Bahkan ia tidak mampu membayangkan dirinya mengalih kuburannya sendiri, apalagi melakukan nya nanti.
Tidak
Ia hanya berharap kalau ini mimpi belaka, tapi ia sadar kalau semua itu benar-benar nyata, sangat nyata sekali dimana Kevin yang menghabisinya dan sangat nyata sekali bahwa Kevin benar-benar menginginkan dirinya mengalih kuburannya sendiri.
"haus"ucap Rangga yang benar-benar merasakan kehausan.
"minum tuh darahmu sendiri, setelah apa kau lakukan kepada nona Dewi, masih beraninya meminta minum lagi, ngk punya malu sekali"ucap bodyguard sambil memandang remeh Rangga.
"aku mohon, aku sangat haus sekali"ucap Rangga memohon.
"sekarang saja Lo memohon, pas ada tuan Rangga, Lo malah ngegas terus kayak motor"
"berikan dia minum, supaya besok ada tenaganya untuk membuat lubang tempat peristirahatan terakhir nya"
"berikan saja air comberan itu, udah mau mati juga, gapain lagi kasih air yang sehat, kita harus mempermudah kematian, biar tuan Kevin tidak menyiksanya lagi"
"tapi aku sangat suka melihat tuan Kevin ketika menyiksanya, benar-benar seperti tontonan gratis"
"benar-benar tidak menghargai wanita sekali seperti tidak mempunyai seorang ibu saja"
Dan masih banyak lagi kata-kata para bodyguard yang terang-terangan menghina Rangga.
__ADS_1