
Sementara Dewi setelah memesan taksi online ia memutuskan untuk pergi ke sebuah cafe yang sering ia kunjungi bersama suci sebelum Dewi menikah, setelah turun dari mobil Dewi langsung mengedarkan pandangan keseluruh penjuru halaman cafe, kondisi cafe masih sama tidak ada yang berubah, mulai dari letak pot bunga yang ada di teras cafe hingga posisi kursi-kursi yang ada di teras cafe tidak ada yang berubah, yang membedakan sedikit adalah pengunjung cafe semakin ramai dari hari ke hari.
"nona Dewi lama tidak berkunjung kesini, janjian sama nona suci iyh..?"tanya satpam cafe yang sudh mengenal Dewi sejak lama.
"iyh pak, saya sibuk sama tugas kuliah yang semakin menumpuk, makaya saya jarang kesini bahkan hampir tidak pernh lagi"ucap Dewi tersenyum manis "dan sya ngk ada janjian sama suci pak"
"Lo beberapa jam yang lalu nona suci baru saja masuk kedlaam, dan sampai sekarang belum keluar juga"ucap pak satpam.
"OOO iyh kah pak, tapi kami ngk ada janjian sih, tapi mungkin hanya kebetulan saja pak"ucap Dewi kikuk, suatu keadaan yang berpihak kepadanya, jika memang suci ada di dalam cafe akhirnya dia bisa temu kangen dengan suci tanpa janjian "kalau begitu syaa masuk duluh pak"
Dewi begitu bersemangat ketika masuk ke dalam cafe, karna setelah mendengar pernyataan pak saptam akhirnya bisa bertemu dengan suci, Sejenak Dewi mengedarkan pandangan mencari sosok suci, dan hingga tatapan menangkap sosok yang sedang duduk di sudut ruangan.
Tapi sebelum melangkah kaki tiba-tiba berhenti ketika mendengar teriak suci, dia pikir teriak itu kepadanya, tapi betapa terkejutnya dirinya ketika tiba-tiba saja sosok yang paling ia rindukan muncul dari satu ruangan yang ia yakini itu adalah ruangan VIP.
"me..re..mereka"guman Dewi terbantah ketika melihat suci begitu manja kepada sosok lelaki itu.
Ia hendak melangkah untuk mendekati suci, semakin dekat bahkan bertambah dekat saja, tapi ketika beberapa hendak sampai ke meja suci langkah terhenti ketika mendengar kata-kata yang keluar dari mulut suci, mulut yang tidak ada bebannya ketika mengatakan itu.
"sayang sepertinya bayi kita ingin jalan-jalan"ucap suci sambil meraih tangan lelaki itu.
"aku lagi sibuk ci, nanti kalau aku ada waktu aku kabarin, kamu sama bayi kita sabar iyh, tinggal sedikit lagi aku akan segera menyelesaikan praktek ku"ucap lelaki itu.
"baik lah kalau begitu, aku dan anak kita akan sabar menunggu papanya untuk menyelesaikan praktek dan setelah itu kita akan berlibur bersama"ucap suci.
Sedangkan Dewi yang mendengar hal hanya bisa terkejut, sejenak napasnya seperti berhenti beroperasi untuk sepersekian detiknya, tulang-tulang nya seakan copot dari tubuhnya sehingga menyebabkan kedua kaki yang bertumpuh kelantai tidak kuat menopang bobok tubuh, jika saja tidak berpenganggan pada sebuah meja maka tubuhnya akan ambruk seketika itu juga.
"apa..?bayi kita..?anak kita..?ucap Dewi berjalan mendekati meja suci.
Perlahan tapi pasti Dewi mendekati meja suci, dan dapat ia lihat dengan jelas perubahan tubuh suci, dapat ia lihat pipi suci yang semakin berisi, sejenak matanya menangkap sesuatu yang menonjol di bagian perut suci.
__ADS_1
Menyadari sepenuhnya Dewi bingung harus gapain, mau lari dari sana hal yang tidak mungkin, karna pada dasarnya ia juga penasaran dengan apa yang terjadi, tapi dari hatinya yang paling dalam ia belum siap menerima kenyataan yang akan dia dengar.
"ci.ka....kamu hamil"ucap Dewi dengan nada terbantah-bantah dengan kaki gemetar ia semakin dekat dengan meja suci.
"dan kamu hamil sama dia..?"ucap Dewi lagi tak habis pikir "kasih tau aku ci, kalau aku tadi slaah dengar"
"wi, sayang, bukan seperti itu ceritanya"ucap sosok lelaki itu yang ternyata adalah Rangga, pria yang mengisi hati Dewi selama beberapa tahun belakangan ini, pria yang dia anggap sosok pengganti ayah dalam hidupnya.
Dan sekarang, secara terang-terangan pria itu menghianati dengan sahabatnya sendiri.
"diam...aku tidak minta kamu berbicara"ucap Dewi menatap tajam Rangga.
"maksudnya apa ini ci, kamu tau kan hubungan aku sama Rangga itu kayak mana..?tapi kenapa kamu malah seperti ini"teriak Dewi mencoba menahan laju air matanya.
"Dewi aku bisa jelaskan, iyh memang aku hamil tapi bukan anak Rangga"ucap suci gelagapan.
"bukan anak Rangga ngimna ci, jelas-jelas aku dengar dengan telinga aku kalau kau menyebut ank itu anak kalian"teriak Dewi, sudh kepergok tapi masih bisa berbohong..?luar biasa sekali pikir Dewi.
"Dewi, syang aku.."
"diam Rangga, aku tidak butuh penjelasanmu"bentak Dewi memotong ucapannya Rangga, untuk pertama kalinya Rangga melihat Dewi semarah ini, padahal sejak mengenal dewi, gadis itu selalu lemah lembut kepadanya.
"jawab ci, kenapa kamu cuma diam aja, tolong jangan kayak gini"ucap Dewi menatap suci karna wanita itu sedari tadi diam saja.
"memang seperti itu kenyataan wi, aku memang hamil tapi bukan anak Rangga"ucap suci mencoba menyakinkan Dewi.
"bohong"teriak Dewi "semua bohong suci, aku bukan anak kecil yang bisa kalian bohongi, aku bukan anak SMA yang dikasih penjelasan langsung percaya, aku tau kalian berbohong, aku tau kalau bayi itu anak Rangga, aku hanya ingin tau alasannya kenapa harus Rangga ci"teriak Dewi.
"ok...ok.aku memang hamil, dan ini anak Rangga"teriak suci berkata jujur "puas kamu, aku hamil anak Rangga, kekasih kamu, apa kurang jelas suaraku"
__ADS_1
Duarrrrr
Bagaikan disambar petir disiang bolong tepat dibawah sinar matahari, bingung reaksi apa yang harus Dewi perlihatkan ketika mendengar ucapan suci, dapt ia lihat dengan jelas suci mengatakan tanpa beban dan tanpa ada rasa takut sedikit pun.
Karna terkejut dan benci datang bersamaan Dewi tidak kuat menopang tubuhnya hampir sjaa ia terjatuh kalau tidak ada Rangga yang sigap menangkap tubuh Dewi.
"jangan pernh sentuh aku, laki-laki brengsek"teriak Dewi menghempaskan tangan Rangga yang sedang memeluknya.
plakkkkk
Entah keberanian dari mana dewi maju beberapa langkah dan langsung menampar pipi suci dengan cukup kuat.
"kenapa ci..?kenapa harus seperti ini..?aku salah apa sama kamu..?apakah aku pernh ganggu hidup kamu..?apakah aku pernh merugikan kamu..?dan kalau pun aku ada salah aku minta maaf ci, dan kalau pun aku ada salah kasih tau ci, ingatkan aku, bukan malah seperti ini"teriak Dewi sambil menahan laju air matanya, sebisa mungkin ia akan berusaha air matanya tidak akan terjatuh melihat penghianat ini.
"kamu ngk ada salah wi, yang menjadinya salahnya kamu selalu unggul dari pada aku, mulai dari akademik sampai ke non akademik, kamu dengan mudah jadian sama Rangga padahal aku juga mencintai Rangga, kamu mempunyai wajah yang sempurna sehingga membuat semua orang mengangumi kamu, apa yang kamu ingin selalu di turuti semua orang, aku benci itu, aku benci ketika semua orang mengagumi semua yang pada diri kamu"ucap suci mengeluarkan semua unet-unetnya, ia sudh cukup bersandiwara dihadapannya Dewi, ia sudh cukup pura-pura mendukung Dewi selama ini, ia sudh cukup pura-pura mendukung hubungan Dewi dan Rangga selama ini yang pada nyata ia sakit hati melihat kebersamaan Dewi. "aku sudh cukup mengalah sama kamu wi, aku sudh cukup mengerti kamu"
"tapi aku tidak minta kamu mengerti aku ci, aku tidak minta kamu selalu mengalah sama aku, asal kamu tau ci, kamu pikir aku bahagia dengan posisi aku selama ini..?kamu pikir aku nyaman kalau menjadi pusat perhatian..?aku juga capek ci, aku muak dengan posisi"ucap Dewi yang tak habis pikir dengan alasan konyol suci.
Konyol.
Sangat konyol sekali ketika mendengar alasan Dewi, bahkan ia tidak habis pikir suci mempunyai sikap seperti itu kepadanya, yang ia lihat suci selama ini selalu bersikap lembut kepadanya, bersikap layak seorang kakak kepadnya.
"ok, kalau dengan alsan seperti aku minta maaf ci, tapi ngk harus kamu menghianati aku ci, ngk harus kamu hamil anak Rangga, kalau selama ini kamu tidak pernh menyukai ku bukan seperti ini konsepnya ci, bukan seperti ini caranya, kamu ngk menghargai perasaan aku ci, kalau kamu tidak suka dengan aku yang sekarang kasih tau ci, bukan menghianati aku"teriak Dewi lagi.
"karna hanya dengan cara ini aku bisa melihatmu menderita, dan hanya dengan cara ini aku bisa mendapatkan Rangga seutuhnya, dengan cara menjebak Rangga supaya jatuh ke dalam tanganku"teriak suci sudah tidak memikirkan perasaan Dewi saat ini.
Sedangkan Dewi langsung terdiam ketika mendengar ucapan suci, ia seakan kehabisan kata-kata dengan ucapan suci, ia juga bingung cara menyikapi ucapan suci, sejenak mereka terdiam, suci yang mengangkat sedikit bibirnya untuk membentuk sebuah senyuman tipis, sangat tipis sekalinya bahkan Rangga mau pun Dewi tidak menyadari hal itu.
Lain hal dengan Rangga, diwajahnya saat ini hanya tercipta sebuah penyesalan, penyesalan yang teramat dalam, sesekali ia melirik kearah Dewi yang diam mematung tanpa ekspresi, ingin rasanya ia menarik tubuh Dewi kedalam dekapannya, meminta maaf seribu kali maaf kepada gadis itu.
__ADS_1
Ia benci, ketika suci menyebaknya waktu itu, menjadikan dirinya selalu ingin mencoba nikmatnya surga duniawi, sehingga membuat dia kelepasan dan alhasil meninggalkan benih di rahim suci.
Secara garis besarnya ia tidak bisa menyalahkan suci kenapa bisa wanita mengandung benihnya, karna sejak kejadian itu ia langsung menyuruh suci untuk meminum penunda kehamilan, hanya saja ketika pikirnya penat maka ia akan mendatangi suci dan terjadinya hubungan perzinaan di antara mereka.