
Ketika mendengar ayahnya telah mendonorkan darahnya, Dewi langsung berlari ke dalam rumah, tidak menghiraukan teriak Kevin.
"Dewi Sartika Gabriela Adijaya Mahendra jangan berlari kau sedang mengandung"teriak Kevin ngilu ketika melihat Dewi berlari.
"ayah"teriak Dewi sambil berlari tanpa menghiraukan teriakan kevin
"ayah"teriak Dewi lagi setelah sampai di dalam rumah.
"Dewi"ucap Herman.
"ayah"lirih Dewi berjalan secara perlahan ke arah Herman.
"kamu sudah sehat nak, maaf ayah tidak pernh menjenguk mu dirumah sakit"ucap Herman langsung menarik tubuh mungil putrinya ke dalam dekapannya.
"akhirnya aku bisa merasakan pelukkan dari ayah kandung aku sendiri, pelukkan yang sangat aku rindukan selama ini"batin Dewi memeluk erat tubuh Herman.
"Tuhan jika ini hanya sebatas mimpi, aku mohon jangan bangungkan aku dari tidurku, aku ingin lebih lama merasakan pelukkan ini, aku ingin berteriak kepada dunia bawah aku telah merasakan pelukkan seorang ayah itu seperti apa"batin Dewi.
Ehemm
Mendengar suara itu Dewi langsung melepaskan pelukkannya, lalu mencari asal suara, dan itu adalah Kevin yang sudah memasang wajah masamnya ketika melihat Dewi memeluk erat Herman yang notabennya ayah mertuanya.
"aku lagi ngk mimpi kan..?demi apapun hari aku bisa merasakan pelukkan ayah..?setelah sekian lama aku menantikan hal seperti ini"ucap Dewi kembali memeluk Herman kembali.
"ngk sayang, kamu ngk mimpi, maafkan ayah karna selama ini telah menyia-nyiakan kamu, maafkan ayah yang tidak pernh perhatian sama kamu, cuma ini yang bisa ayah korban sama kamu, mungkin ini untuk pertama kalinya ayah berkorban sama aku, pengorbanan sederhana syaang"ucap Herman.
"ngk ayah, itu bukan pengorbanan sederhana, tapi bagi Dewi ini adalah pengorbanan terbesar ayah buat Dewi, sungguh Dewi ngk pernh kepikiran kalau ayah akan mendonorkan darah kepada Dewi, maksih banyak ayah"ucap Dewi melepaskan pelukkannya kalau mencium pipi Herman.
Tanpa mereka sadari diambang pintu sedang ada seseorang yang sedang kebakaran jenggot apalagi ketika Dewi mencium pipi Herman, padahal kepada dirinya Dewi tidak akan mencium duluan kalau tidak disuruh.
"sudah peluk-pelukkan, Dewi sebaiknya kamu duduk duluh"ucap Kevin melerai keharuan yang di ciptakan Dewi dan Herman, lebih tepatnya ia yang cemburu karna Dewi begitu lengket dengan Herman.
Sedangkan bunda Devi dan nenek sari hanya terkekeh melihat tingkah Kevin yang cemburu tanpa melihat kondisi.
"Dinda"ucap Dewi memeluk Dinda.
__ADS_1
"kak Dewi, maaf iyh Dinda tidak pernh menjenguk kakak"ucap Dinda.
"ngk papa, dengan kamu kesini kakak udah bahagia kok"ucap Dewi.
"ngimna keadaan cucu ayah, apakah dia menyusahkan mamanya"ucap Herman sambil mengelus perut rata Dewi.
****
"si*l, perut istri gue di usap"gerutu Kevin dalam hati, kalau tidak mengingat Herman ayah mertuanya sudah pasti dia akan langsung menendang lelaki tua itu dari hadapannya dalam hitungan detik.
ehmem
"maaf ayah, seperti anakku tidak senang di usap untuk sekarang, soalnya mamanya sudah kelelahan"ucap Dewi yang menyadari wajah Kevin tidak bersahabat lagi, padahal ia masih ingin ayahnya mengusap perutnya.
"anakmu kah tidak suka atau ayah dari anakmu nak"ucap bunda Devi terkekeh geli menatap wajah Kevin yang sudah masam.
"sepertinya dua-duanya dev, kalau anaknya tidak suka maka ayahnya juga tidak suka, kan dia embrio ayahnya"ucap nenek sari menyindir Kevin.
"ini yang aku takutkan, jika bunda, nenek sama Dewi bersatu, maka aku selalu disalahkan"batin Kevin.
####
Waktu terus berjalan, tak terasa sudah hampir dua minggu Dewi keluar dari rumah sakit, hubungandengan Herman sudah semakin dekat tapi tidak dengan mama tirinya, sejak Dewi keluar dari rumah sakit tak pernh sekalipun ia menjenguk Dewi, tapi Dewi tidak permasalahkan hal itu, yang ia rindukan selama ini hanya hubungannya dengan ayah kandung membaik seperti hubungan ayah dan anak pada umunya.
Kandungan Dewi sangat bisa diajak kerja sama, ia jarang sekali mengalami muntah-muntah di pagi hari, bahkan ia tidak pernh mengidap yang aneh-aneh sehingga tidak membuat Kevin kerepotan, yang sangat berubah dalam diri Dewi semenjak hamil adalah sifat yang sangat emosial, terutama kepada Kevin, hampir setiap pagi Kevin kena semprot omelan Dewi. Tapi Kevin tidak permasalahkan hal itu selagi dengan marah-marah bisa membuat mood Dewi membaik maka Kevin yang selalu sabar menerima amukkan Dewi.
Jika Dewi dan Kevin sedang menikmati masa-masa hamil mudah, maka berbeda dengan hubungan Rangga dan suci. Hubungan mereka semakin jauh dari kata sempurna, jika Rangga ingin memperbaiki dan ingin lebih dekat dengan suci maka berbeda dengan suci yang semakin engga melihat Rangga.
Sampai saat ini suci masih mengklaim bahwa penyebab dirinya ke guguran adalah Rangga, ayah dari bayi yang dikandung, jika saja Rangga tidak menyetujui di lakukan tes DNA maka ia tidak akan kehilangan bayinya, mungkin saat ini ia sudah berada di fase menanti kelahiran bayinya, padahal rangga seorang dokter, meskipun tidak dokter spesialis kandungan tapi sedikit banyak Rangga pasti tau efek samping dari tes DNA untuk ibu hamil.
"mari kita akhiri semua ini ga, anggap saja kita tidak pernh ada hubungan, anggap saja kalau aku tidak pernh mengandung darah daging mu"ucap suci membuang pandangan ke arah lain.
"maksud kamu apa ci..?dengan begitu mudahnya kau menyuruhku melupakan kalau pernah mengandung anakku..?itu darah dagingku suci"ucap Rangga terkejut menatap tajam suci.
"darah daging mana yang kau maksud Rangga..?darah daging yang telah kau bunuh..?setelah kau membunuh anak dalam kandunganku kau masih berani menyebut itu darah dagingmu..?ayah macam apa kau..?"ucap suci menaikkan satu tingkat suarahnya, sehingga beberapa pengunjung cafe menatap kearah mereka.
__ADS_1
"ok, aku minta maaf ci, aku khilaf, aku tau aku salah, aku memang tidak layak disebut sebagai ayah, aku hanya ingin memperbaiki hubungan kita ci, memulai hubungan kita dari awal, kita menikah ci toh semua keluarga sudah menyetujui hubungan kita, bahkan mereka menyarahkan supaya aku secepatnya menikahi kamu"ucap Rangga " bukan kamu selama ini mencintai aku, lalu apa yang kamu ragukan lagi, mari menikah dan membangun keluarga kecil kita"
Apa ini..?Rangga mengajak dirinya menikah seperti mengajak memungut sampah.
"duluh memang aku jatuh cinta sama kamu, bahkan sejak pertama Dewi mengenalkan dirimu kepadaku aku sudah jatuh cinta, dan mencintai kamu adalah kesalahan terbesar yang pernah aku lakukan ga"ucap suci serak, ingatannya kembali tenggelam diawal pertemuan dirinya dan juga Rangga lebih tepatnya Dewi yang memperkenalkan Rangga kepadanya.
"ternyata mencintai kamu sesakit ini iyh ga, dari kamu tidak melirik aku sama sekali, sampai aku begitu bodohnya memberikan diriku kepadamu seutuhnya dan aku mengandung, berjuang sendiri hidup ditengah orang-orang yang merendahkan aku sampai pada titik dimana aku ke guguran, aku ngk pernh bayangkan sedikit bakal sesakit ini ga"ucap suci menahan tangis.
"ci aku mohon, berikan aku satu kali lagi kesempatan, mari kita mulai dari awal ci"ucap Rangga tak menyerah sambil menggenggam erat tangan suci.
"aku ngk bisa ga, ini semua terlalu sakit, kita akhiri semua ini, kita hidup dengan dunia masing-masing"ucap suci sambil melepaskan tangan Rangga dan atas tanganya. "aku hanya manusia yang biasa ga, aku bukan Dewi yang terus bertahan dengan Kevin meskipun Kevin sudah menyiksa dirinya, aku jauh beda dengan Dewi, jika Dewi akan berjuang terus maka aku akan berhenti jika memang aku sudah berada dititik terlelah, Dewi tidak mempunyai titik lelah sampai dia bisa membuat Kevin bertekuk lutut dihadapan"
"aku yang mengambil mahkota kamu, yang berarti aku adalah laki-laki pertama yang menyentuh kamu, jadi aku harus mempertanggung jawabkan perbuatan ku. Kamu milikku seutuhnya suci dan apa yang menjadi milikku tidak akan ku lepas apapun yang terjadi"ucap Rangga habis kesabaran, ternyata membujuk suci butuh kesabaran banyak.
"aku dengan suka rela memberikan diriku kepadamu dan aku tidak menuntut pertanggungjawaban dari kamu, so tidak ada yang dirugikan dari semua ini dan jika kamu tidak mau melepaskan aku maka aku yang akan melepaskan diri dari kamu"ucap suci sambil berdiri dari kursinya.
"stop muncul dihadapan ku Rangga, anggap kita tidak saling kenal, hubungan kita sampai disini terima untuk semua yang telah kau berikan kepada ku"ucap suci menahan air matanya "aku cukup banyak belajar dari hubungan ini dan mungkin untuk kedepannya aku tidak akan mau memulai hubungan lagi"
Nyata di luput hati yang paling dalam semua keputusan yang ia ucapkan kepada Rangga tidak sejalan dengan kata hatinya.
Di luput hatinya paling dalam ia masih sangat mencintai Rangga, meskipun Rangga mengacu kan dirinya tapi rasa cinta itu tidak akan pernh hilang untuk Rangga.
Sakit..?
Tentu, sakit sekali rasa membohongi perasaan dan melepaskan orang yang paling kita cintai.
Lelah..?
Apalagi, benar kata orang titik terlelahnya seorang perempuan bukan lagi tentang diam dengan sesuatu, tapi titik terlelah seorang perempuan adalah pergi dan melepaskan.
Ia cukup lelah memperjuangkan Rangga selama hampir dua tahun ini, ia tau memperjuangkan seorang laki-laki yang sudah memiliki pasangan itu salah besar, tapi mau dikata apa!! hatinya memilih untuk memperjuangan Rangga meskipun perjuangannya tidak pernh di lihat sedikit pun.
Trauma..?
Mungkin untuk kedepannya ia tidak akan memulai suatu hubungan apapun, bahkan untuk kedepannya ia tidak mau mengenal laki-laki lain.
__ADS_1
Hambar sekali rasanya jika sakit, lelah dan trauma datang secara bersamaan.