Pernikahan Puncak Balas Dendamku

Pernikahan Puncak Balas Dendamku
bab 110


__ADS_3

"aku janji, aku tidak akan meninggalkan kamu, aku janji akan belajar menerima dan mencintai kamu"ucap Dewi.


"makasih wi, aku akan menunggu cinta kamu"ucap Kevin sambil mencium kening Dewi.


"kenapa mm"ucap Kevin karna lagi-lagi Dewi kembali memeluk dirinya.


"aku malu tau"ucap Dewi, ia baru menyadari tindakannya yang langsung memeluk Kevin.


"kenapa malu sayang, kan peluknya suami sendiri juga"ucap Kevin gemas sambil membalas pelukkan Dewi "tapi aku suka, kalau kamu sering-sering peluk aku"


"aku lapar, aku mau makan"ucap Dewi mengalihkan percakapan.


"lapar...?ini kan masih jam lima syaang, kok tumben kamu sudah lapar aja"ucap Kevin menatap Dewi yang sedang melingkarkan tanganya di pinggang Kevin. "jangan bilang dari tadi pagi kamu belum makan apa-apa"


"iyh begitu lah, belum makan dan belum minum apa-apa"ucap Dewi sambil melepaskan tanganya dari pinggang Kevin "biasalah, ngk selera Vin"


"maaf iyh, pasti gara-gara aku kamu jadi ngk selera kan..?"ucap Kevin "lain kali jangan begitu iyh, nanti kamu sakit lagi, dan kalau kamu sakit siapa yang bikin aku marah-marah"


"ehhh kepedean, aku ngk selera makan bukan gara-gara kamu, emng aku ngk mau makan aja",ucap Dewi "lagian emng aku sering bikin kamu marah-marah"ucap Dewi dengan polosnya.


"iyh, emng kamu ngk nyadar..?kamu susah dibilangin, ngk pernh menghiraukan larangan aku, kamu keras kepala bikin aku semakin pusing, bahkan aku akan semakin gila kalau kamu udah dekat-dekat smaa cowok lain"ucap Kevin "kamu hanya milik ku, dari ujung rambut sampai telapak kakimu semua milikku"


"bukan aku yang mendekati mereka, tapi mereka yang duluan mendekati aku, aku pan cantiknya kelewatan batas"ucap Dewi kepedean sambil mengibaskan rambut panjang ke belakang.


"astaga istriku kenpa baru sekarang kelihatan sifat kepedeannya, tapi emng betulan sih dia cantik"batin Kevin mengeleng kepala sambil menatap Dewi yang berjalan menuju keluar kamar.


"ayo, katanya mau menemani aku makan"ucap Dewi memunculkan kepalanya dari balik pintu.


"iyh syang, duluan aja aku mau mandi bentar, tungguh aku turun baru kamu makan"teriak Kevin sambil berjaln menuju kamar mandi.


Melihat Kevin masuk kamar mandi, Dewi kembali masuk kedalam kamar untuk mempersiapkan baju untuk Kevin, lalu ia turun menuju meja makan, karna jujur saja saat ini perutnya benar-benar lapar.


Sambil menunggu Kevin, membuatkan kopi buat Kevin.


"mau membuat apa nyonya, biar sya yang buat"ucap pelayan.


"ngk usah, biar aku aja, cuma bikin kopi aja kok"ucap Dewi.


"tuan dan nyonya mau makan malam iyh, biar kami siapkan duluh sebentar"ucap pelayan.


"iyh kami mau makan malam, lebih tepatnya aku sih, kalau Kevin ngk tau, soalnya ini masih enam juga kan"ucap Dewi.

__ADS_1


"kok nyonya tumben makan malam jam segini"


"aku lapar banget, satu harian ini tidak ada makan sama sekali"ucap Dewi jujur.


"astaga nyonya, baiklah akan segera kami siapkan makan malam untuk nyonya"


Sedangkan Dewi hanya mengangguk tersenyum, lalu ia berjalan menuju meja makan sambil membawa gelas yang berisi kopi.


Ternyata Kevin sudah ada di meja makan, tidak membutuhkan waktu yang lama buat Kevin untuk mandi, karna pada dasarnya ia tidak suka lama-lama dikamar mandi, kecuali urusan yang hanya pihak laki-laki saja yang tau, maka ia akan lama dikamar mandi.


"ini kopinya"ucap Dewi sambil meletakkan gelas berisi kopi di depan Kevin.


"btw, kamu mau makan sekarang kah, biar aku ambilkan"ucap Dewi.


"belum lapar syaang, kamu aja duluh aku temanin makannya"ucap Kevin lembut.


Sedangkan Dewi hanya mengangguk, tidak memaksa Kevin supaya mereka makan bersama, mengingat jam masih menunjukkan pukul enam sore karna apa umumnya orang-orang makan malam biasa pukul tujuh malam.


"pelan-pelan wi, ngk ada yang mau ambil makanan kamu juga, lagian masih banyak kok sisa makannya"ucap Kevin yang melihat Dewi makan seperti dikejar penagih utang saja.


"kamu ngk ada niatan ngituh buat belikan aku ponsel, masak aku ngk punya ponsel sih Vin, jangan pelit-pelit jadi suami Vin, aku rasa uangmu tidak akan habis kalau membelikan satu ponsel sjaa, bayar ongkos ngojek aja kamu bisa sampai seratus kali lipat"ucap Dewi tanpa menghiraukan ucapan Kevin, dengan mulut yang berisi makan, tapi masih sangat jelas di dengar oleh Kevin.


"astagfirullahaladzim Dewi, telan duluh nasi dalam mulutmu baru ngomong"ucap Kevin mengeleng kepalanya.


"iyh Dewi Sartika Gabriela Adijaya"ucap Dewi


"nanti dibelikan, sama orang-orang yang mencetak ponsel itu aku belikan sama kamu, uangku juga ngk bakal habis"ucap Kevin sedikit kesal, karna ia merasa terhina dengan ucapan Dewi, dan ia juga menyimpulkan Dewi meminta tapi sekalian menyindir kejadian tadi pagi.


"ngk mau nanti Kevin, maunya sekarang"ucap Dewi "uang suami adalah uang istri dan uang istri adalah uang istri"


"peribahasa seperti apa itu..?siapa yang membuat peribahasa itu..?dan kamu dengar dari siapa peribahasa seperti itu..?baru dengar aku"ucap Kevin bingung.


"peribahasa buatan aku sendiri, pokok belikan aku ponsel Vin, masak aku kayak manusia zaman purba yang tidak memiliki ponsel"ucap Dewi memasang raut wajah semenggemaskan mungkin.


"iyh sayang, bentar lagi Daffa datang mengantar ponselnya, sekarang kamu habiskan makananmu, dan habis makan langsung naik ke kamar, aku mau keruang kerja duluh, ada pekerjaan yang harus aku selesaikan"ucap Kevin sambil mengacak rambut Dewi, sebelum meninggalkan meja makan Kevin terlebih dahulu mencium pucuk kepala Dewi.


Sedangkan Dewi hanya mengangguk lalu menghabiskan sisa makanan, sebenarnya ia ingin langsung mereka pergi ke toko ponsel, karna ia juga pengeng pergi ke pusat perbelanjaan karna sesuatu yang ingin dibelinya.


Tapi melihat Kevin yang seperti sedang banyak kerjaan ia memilih untuk menunda duluh, mau izin pergi sendiri pun, ia yakin seribu satu persen Kevin tidak akan memperbolehkan dirinya keluar dari rumah.


"permisi nona, ponsel pesanan anda"ucap Daffa sambil meletakan sebuah kotak persegi panjang diatas meja.

__ADS_1


"ehh Kaka Daffa, maaf iyh jadi merepotkan, gara-gara aku meminta ponsel kakak malah disuruh kak Kevin langsung mengantar kesini"ucap Dewi menatap ke arah Daffa.


"tidak papa nona, sudah kewajiban sya jika tuan Kevin memerintah saya, lagian saya ada sekalian urusan bersama tuan Kevin"ucap Daffa.


"ohh kak Kevin ada di ruang kerja, baru aja beberapa menit yang lalu perginya , kamu langsung masuk aja"ucap Dewi.


"baik nona, kalau begitu syaa permisi duluh"ucap Daffa lalu berjlan arah lift menuju lantai tiga tempat ruang kerja Kevin.


Sedangkan Dewi hanya mengangguk, lalu ia pergi ke dapur untuk menyimpang bekas makannya sekalian mencuci tangannya.


"kenapa nyonya yang menyimpan piringnya, kalau tuan Kevin lihat kami bisa diomeli satu Minggu penuh"ucap pelayan sambil melihat-lihat kearah meja makan siapa tau ada sosok Kevin disana.


"tidak papa, sekalian juga aku mau mencuci tangan, ngk mungkin kan kalian yang mencuci tangan aku"ucap Dewi sambil menghidupkan kran air.


"kalau nyonya meminta kami akan lakukan"


"jangan aneh-aneh kalian, syaa bukan tuan putri yang harus dilayani itu ini, saya sama kayak kalian, manusia yang makan dan minum, dan apa saya makan kalian juga memakan kan"ucap Dewi "saya naik ke atas iyh"


Sedangkan parah pelayan hanya menatap kagum dengan sikap Dewi, meskipun ia nyonya besar dirumah mewah ini sangat jarang sekali Dewi memerintah mereka untuk mengerjakan kebutuhan Dewi.


Dewi langsung berjalan menuju lift tak lupa ia membawa kotak persegi panjang yang berada diatas meja.


Sedangkan diruang kerja, Kevin dan Daffa sedang sibuk berdiskusi, mulai dari hal-hal kecil sampai hal besar mereka diskusinya.


Menurut Kevin hanya di dalam ruang kerjanya yang ada dirumah tempat mereka berdiskusi paling aman, tanpa ada yang tahu menahu apa yang mereka diskusinya, mereka terlalu percaya, lebih tepat Kevin terlalu percaya bahwa tembok juga memiliki telinga, itulah sebabkan ia sangat hati-hati jika berdiskusi masalah kantor atau pun masalah pribadi.


"bagaimana keadaan rangga..?"ucap Kevin.


"sepertinya sedikit sedikit dia akan meninggal tuan, karna sesuai perintah tuan, kami tidak memberikan dia makan dan minum"ucap Daffa.


"ohh baiklah, tapi kedepannya berikanlah dia makan dan minum, aku tidak mau dia terlalu cepat meninggal, aku belum puas membalaskan dendam isitriku"ucap Kevin dingin,


Jika ia mengingat Rangga maka secara otomatis kejadian bebrapa hari yang lalu yang dimana dia memaksa Dewi menikah menari-nari dalam pikirannya, suara Rangga yang mengucapkan hijab kabul seakan memukul-mukul gendang telinganya, tangan Rangga yang saling berjabatan dengan pengulu seakan memperlihatkan jari jempol Rangga menunjuk kebawah, seakan hal itu mengatakan bahwa dia sudah kalah dalam hal memiliki Dewi.


"beberapa hari lagi aku akan kesana, pastikan Rangga tetap hidup jika aku berkunjung, dan jaga Rangga dengan ketat"ucap Kevin


"baik tuan, kalau begitu syaa permisi tuan"ucap Daffa sambil berdiri dari kursi di depan meja kerja kevin.


"ponsel yang aku minta mana..?"ucap Kevin menghentikan pergerakan Daffa.


"saya sudah berikan kepada nona Dewi tuan, kebetulan aku melihatnya tadi ruang meja makan"ucap Daffa.

__ADS_1


"jangan sering-sering melihat istriku Daffa, Dewi hanya milikku"ucap Kevin.


__ADS_2