
"ada apa dengan Dewi, perasaan tadi pagi mood baik-baik saja, bahkan tatapannya tidak sedingin itu kepadaku"batin Kevin sambil menatap punggung Dewi yang semakin jauh.
"kenapa Dewi tuh, kok berubah jadi cuek begitu"ucap Ryo menyadarkan lamunan Kevin.
"sepertinya dia sedang tidak baik-baik, mungkin dia sedang halangan atau apalah"ucap Remon menatap Kevin dan Ryo secara bergantian.
"halangan..?tapi tadi malam kami baru melakukan malam pertama, dan yang darah di kasur itu darah keperawanan Dewi, bukan darah menstruasi"batin Kevin.
Karna ia cukup tau sedikit mana yang darah menstruasi dan mana darah keperawanan.
"Vin!!, Lo dengar kita ngk sih"ucap Ryo mengibaskan tangannya di depan wajah Kevin.
"kalian makan duluan, aku mau susul Dewi duluh"ucap Kevin meninggalkan kantin dan berjaln mengejar Dewi.
Kevin langsung mengikuti Dewi, yang ia tahu kalau Dewi berjaln bukan menuju kelas, tapi Dewi berjalan menaiki tangga menuju roftop.
Sambil berjalan mengikuti Dewi, Kevin kembali berpikir apa yang terjadi kepada Dewi..?apa yang membuat mood Dewi tiba-tiba berubah..?apakah ada orang yang menggangu Dewi..?kalau ada!! tapi siapa..?apa mungkin Rangga lagi..?tapi info yang ia dapat dari Daffa Rangga masih disekap jadi tidak mungkin Rangga yang menggangu dewi., semua pertanyaan itu muncul dibenak.
Dewi sudah sampai di roftop tanpa menyadari kalau Kevin sedang berdiri di belakangnya.
Dewi berdiri menatap lurus kedepan sambil bersandar ke pembatas roftop, sesekali ia menarik napas panjang lalu membuangnya secara kasar, ia melakukan secara berulang-ulang, berharap dia bisa lebih baik lagi.
"kenapa..?setelah semua aku kasih ke kamu, kamu malah mengecewakan aku lagi"teriak Dewi.
"semua laki-laki sama, ayah, kleven, Rangga dan juga Kevin, semuanya sama"teriak Dewi.
"kenapa Tuhan, disaat aku berhasil melupakan Rangga dan disaat aku berhasil belajar mencintai Kevin, kenpa aku harus kecewa lagi"teriak Dewi.
"cukup Tuhan, aku ngk kuat lagi, kapan sih aku bisa bahagia, suamiku sendiri mengecewakan aku lagi Tuhan"teriak Dewi menangis sejadi-jadinya, ia berharap dia merasa lega dan dia terlihat tenang ketika berhadapan dengan Kevin dan juga Icha nantinya.
Ia juga harus mempersiapkan diri jika memang benar anak dalam kandungan Icha adalah darah daging Kevin, ia tau kevin tidak akan tinggal diam.
"aku mencintai Kevin Tuhan, aku mencintai suamiku, tapi lagi dan lagi aku di kecewakan"ucap Dewi dengan setengah berteriak.
Tanpa ia sadari sejak tadi Kevin berdiri dibelakang, ketika mendengar ucapan Dewi yang mengatakan kalau dia mencintai dirinya ingin rasanya ia berlari untuk memeluk Dewi.
__ADS_1
Ternyata cintanya selama ini tidak bertepuk sebelah tangan, tidak sia-sia perjuangannya selama ini yang merobohkan tembok pertahanan Dewi, cintanya terbalaskan.
Tapi ketika mendengar ucapannya Dewi yang mengeluhkan sebuah kekecewaan ia menurunkan niatkan untuk mendatangi Dewi, ia harus menyelidikan mengapa Dewi kecewa karna nama Kevin ada di list laki-laki yang membuat Dewi kecewa.
Jika Dewi menangis sambil berteriak di dekat roftop maka Kevin dengan begitu setianya menjaga Dewi dari kejauhan, takut Dewi akan nekat dan mengakhiri hidupnya, tak jarang Dewi yang selalu memaki dirinya, lebih tepatnya nama Kevin selalu tersemat dalam makian Dewi.
Kevin tidak marah, ia cukup gemas melihat wajah kesal Dewi, tak jarang ia terkekeh geli ketika suara Dewi terputus ditengah-tengah teriakannya.
Puas berteriak di roftop Dewi memutuskan untuk segera meninggalkan roftop, karna jam kuliah selanjutnya akan segara dimulai, ia tidak mau telat masuk kelas, apalagi teman sekelasnya semuanya adalah kakak kelas jadi sangat memalukan sekali jika ia terlambat.
Ketika Dewi turun dari roftop maka Kevin dengan setianya mengikuti Dewi dari belakang, ia terus mengikuti Dewi sampai ke kelas, dan setelah memastikan Dewi masuk ke dalam kelas barulah ia berjalan menuju kantin.
Ia akan menyuruh Daffa untuk menyelidiki apa sebenarnya yang terjadi kepada Dewi berpaa jam yang lalu.
Dan benar saja, ketika Dewi memasuki kelas, dosen sudah masuk dan mulai mengejar, ternyata dia telat lima belas menit.
"permisi pak, mohon maaf saya telat"ucap Dewi setelah membuka pintu dan berdiri didepan pintu.
"kamu tau berapa lama kamu telat..?dan sya paling tidak suka melihat mahasiswa saya ada yang telat dengan alasan apapun"ucap dosen menatap tajam Dewi.
"kamu mengambil semester atas.?atau sedang mengulang"ucap dosen karna baru melihat Dewi.
"saya mengambil semester atas pak"jawab Dewi sopan.
"baiklah, karna kamu dengan begitu beraninya mengambil semester atas saya kasih keringanan saja, dan saya yakin kalau kamu adalah mahasiswa yang pintar makaya mengambil semester atas"ucap dosen memaklumi alasan Dewi.
"sebagai ganti hukumannya, sekarang kamu kerjakan soal yang ada di papan tulis, tunjukkan kepada sya dan juga kakak tingkat mu sejauh apa kemampuanmu"ucap dosen sambil melempar spidol kepada Dewi, sedangkan Dewi karna tidak siap ia cukup kelagapan menangkapnya.
Dosen itu merupakan dosen baru yang mengampu mata kuliah hari ini, kebetulan dosen sebelumnya sudah di pindahkan dan digantikan oleh dirinya, sehingga ia tidak mengenal siapa Dewi dan seperti apa kemampuan Dewi, itu sebabnya ia cukup meragukan kemampuan Dewi, karna setaunya setiap mahasiswa yang mengambil semester atas berarti dia adalah mahasiswa yang pintar.
Sedangkan kakak tingkat yang melihat itu, terlihat biasa saja, mereka tidak lagi meragukan kemampuan Dewi yang tingkat kepintaran sebelas dua belas dengan dosen, itulah sebabnya Dewi tak slah jika di nobatkan sebagai mahasiswa terpintar di fakultas mereka.
"kenapa..?kamu tidak bisa mengerjakan soalnya..?makaya kalau mau ambil semester atas itu mikir duluh, jangan kepikiran pingin cepat lulus saja"ucap dosen karna melihat Dewi yang dia saja tanpa berniat mengerjakan.
"kamu kira gampang mengambil semester atas, kalau cepat lulus tuh mikir duluh, sesuai kemampuan atau ngk, sekarang jadi malu sendiri kan"ucap dosen menatap Dewi, karna pada umumnya sebagian besar mahasiswa mengambil semester atas sekedar mengejar sks saja dengan tujuan supaya cepat lulus tanpa memikirkan resiko yang didapat.
__ADS_1
"ah bisa kok pak, saya akan kerjakn"ucap Dewi tersadar dari lamunannya, lalu ia berjaln menuju papa tulis untuk mengerjakan soal manajemen statistika yang merupakan mata kuliah yang paling dihindari setiap mahasiswa.
"Ayo kerjakn, klau kamu bisa mengerjakan dengan benar, saya pastikan nilai kamu A ples"ucap dosen menatap sinis Dewi, ia yakin bahwa Dewi tidak bisa mengerjakan soal yang ada di papan tulis.
"baik pak"ucap Dewi sambil menampilkan senyum manisnya, walaupun matanya bengkak habis menangis, tapi sebisa mungkin Dewi tetap kuat dan tersenyum.
"sudah pak, boleh di periksa kembali"ucap Dewi setelah menyelesaikan soal yang ada di papan tulis.
"kok bisa kamu kerjakan..?kan materi ini baru akan saya ajarkan sekarang, kamu mahasiswa semester berpaa sih..?"ucap dosen setelah memeriksa hasil kerjaan Dewi.
"saya masih semester empat pak, memang sya mengambil semester atas, selain untuk mengejar sks dan supaya cepat lulus, saya juga sudah siap menanggung resikonya"ucap Dewi menundukkan kepala.
Sedangkan dosen hanya ber o ria saja, bagi dosen baru yang melihat hasil pekerjaan Dewi merupakan pencapaian yang luar biasa, tapi tidak dengan mahasiswa yang lain, bagi mereka itu adalah hal yang biasa, menjawab pertanyaan dosen dan mengerjakan soal di papan tulis merupakan makanan Dewi sehari-hari ketika kuliah.
"kamu akan menjadi asisten pribadi saya, saya akan mempermudah sidang skripsi kamu nantinya"ucap dosen.
"maaf pak, saya tidak bisa, saya takut tidak bisa membagi waktu, dan saya juga banyak pekerjaan"ucap Dewi menolak secara halus.
Ia yakin Kevin tidak akan memperbolehkannya, meskipun ia sedang marah kepada Kevin, tapi ia akan tetap menghargai Kevin sebagai suaminya.
"kalau begitu syaa permisi duduk duluh pak, jangan lupa nilai A ples, biar ngk pusing mikirin soal nilai"ucap Dewi lagi.
"iyh, pasti"ucap dosen singkat.
Ia masih bingung, zaman sekarang masih ada mahasiswa yang menolak untuk menjadi asisten dosen, padahal jika mereka menjadi asisten maka dosen bisa saja mempermudah sidang skripsi nya nanti.
Mata kuliah berjalan tidak seperti biasa, dosen yang mengampu tidak lagi semangat, lebih tepatnya mood sudah rusak akibat penolakan Dewi.
Sedangkan Kevin di kantin sedang berpikir keras apa yang terjadi kepada Dewi, jika Ryo dan Remon menikmati makan siangnya lain hal dengan Kevin yang hanya mengaduk-aduk makanannya.
"Vin Lo kenapa..?dari tadi Lo main-main aja"ucap Remon menatap Kevin.
"ngk papa, gue ngk mood makan lagi"ucap Kevin sambil meletakkan sendoknya kembali.
"ada apa..?ada masalah dengan Dewi..? bukannya kamu sudah berbicara dengan Dewi tadi..?"ucap Remon lagi.
__ADS_1
Sedangkan Kevin hanya menggeleng saja sambil menarik napasnya panjang lalu membuangnya secara kasar.