Pernikahan Puncak Balas Dendamku

Pernikahan Puncak Balas Dendamku
bab 69


__ADS_3

Karna tidak mau mendengar kata-kata yang sangat menyakitkan itu keluar dari mulut nenek Sari, Dewi pun memutuskan untuk pergi, ia memutuskan untuk pergi ke kamar ditempat ia dan Kevin beristirahat.


 


“Sehina itu aku dimata mereka, sehina itu aku dimata orang-orang”batin Dewi sambil berdiri dibalkon kamar.


 


“Ya Allah apakah aku serendah itu..?apakah aku semurahan itu..?Ya Allah apakah aku tidak ada harganya sedikit pun bagi mereka”guman dewi, tak terasa air matanya lolos begitu saja, ia sudh ngk kuat lagi mendapat hinaan yang datang silih berganti, kemana ia pergi, kemana ia melangkah, disitu juga ia akan mendapat hinaan itu, terkadang Dewi berpikir apakah ia akan hidup dibawah bayangan hinaan..?apakah kata-kata hinaan akan selalu mengikutinya kemana pun pergi..?entahlah Dewi sudah sangat lelah dengan keadaan hidupnya yang sekarang.


 


Sejenak Dewi menatap kearah bawah balkon kamar, entahlah setan dari mana terselib dalam pikirannya untuk mengakhiri hidupnya, ingin rasanya ia melompat terjun bebas dari balkon kamar, ia ingin hidup tenang dialam sana, hilang dari bayang-bayang hinaan orang-orang, Meskipun ia tau tidak akan tenang di alam sana karna meninggal dengan cara tidak wajar.


Karna lelah berdiri dibalkon kamar Dewi pun memutuskan untuk membaringkan tubuhnya dikasur, dan sejak ia tau kalau keluarga Kevin benar-benar menolaknya, ia memutuskan untuk tak keluar kamar, ia memutuskan untuk selalu dikamar, bahkan haus dan lapar sekalipun Dewi tahan, begitu juga dengan Kevin, sejak ia mengantarkan Dewi kekamar, sejak itu juga ia tidak kembali lagi kekamar, ia membiarkan Dewi sendiri di dalam kamar, sama hal dengan Dewi, ia tidak mencari sosok Kevin sedikit pun.


Menjelang malam Kevin baru kembali ke kamar, entahlah Kevin dari mana satu hari ini, Dewi tidak memikirkan hal itu. Melihat hendel pintu berputar Dewi pun berpura-pura tidur, ketika mendengar hinaan dari nenek sari, ia seakan engga hanya sekedar menatap Kevin.


 


“wi makan yuk, kamu belum makan siang”ucap Kevin mengoyangkan tubuh Dewi.


 


“Dewi bangun, kamu belum makan dan belum mandi”ucap Kevin lembut, ia tau kalau Dewi hanya berpura-pura tidur saja, kelihatan dari matanya yang berkedip dengan posisi tertutup.


“Aku ngk lapar Vin, kalau kamu lapar makan aja, maaf tidak bisa menemani makan malam”ucap Dewi tanpa membuka matanya.


“Kamu kenyang dari mana..?satu harian ini kamu hanya dikamar saja”ucap Kevin sambil mengelus rambut Dewi.


“Entalah, aku tidak berselerah makan, kamu makan aja ngih, nenekmu sama bunda sudh menunggu”ucap Dewi lagi dengan posisi menutup matanya.


 


“nenekku adalah nenekmu juga, karna kamu sudh termasuk dalam bagian keluarga ini, kamu istriku”ucap Kevin. “Buka matamu Dewi, lihat aku yang sedang berbicara kepadamu”


“Jika beliau menolak aku disini berarti itu hanya nenekmu, so aku tidak keberatan jika ditolak dirumah ini, aku tau diri siapa aku, aku hanyalah anak dari pembunuh ayahmu, dan aku juga anak dari mantan kekasih ayahmu”ucap Dewi spontan membuka matanya, “kamu tenang saja, aku masih bisa bertahan kok dengan penolakkan ini, karna aku dimana-mana dan kemana-mna sudah terbiasa ditolak, tapi entahlah Vin, sampai kapan aku bertahan di posisi ini”


“Jangan hirau penolakkan nek Sari, apapun alasannya, hubungan kita tidak pernah terputus”ucap Kevin sambil mencium kening Dewi.


“Ayo makan”ucap Kevin mencoba membujuk Dewi, ia tau klau Dewi lapar dan haus.


“akan akan menemani makan di meja makan, tapi tidak makan”ucap Dewi sambil duduk.


“Kalau kamu tidak makan maka aku juga tidak akan makan, kalau begitu kita tidur saja, seperti aku juga butuh istirahat”ucap Kevin sambil membaringkan tubuh Dewi, lalu ia pun membaringkan tubuhnya disamping dewi, memeluk dengan erat tubuh Dewi, meyendarkan kepala Dewi didadanya tak lupa tangannya mengelus rambut Dewi.


Sedangkan Dewi yang mendapat pelukkan dari Kevin hanya bisa diam saja, entahlah mendapat perlakuan seperti itu keadaan hati dewi sangat sulit di devinisikan, seketika di kepala berputar-putar ucapan nenek sari seketika itu juga air matanya harus lolos begitu saja, ingin rasa ia berteriak meluapkan kesedihan yang ada di dalam pikirannya, tapi apa, ia hanya bisa menahan tangisnya, sakit bengat rasanya ketika dia harus menangis dalam diam, pikir Dewi.


“Kamu menangis..?”tanya Kevin karna menyadari badan Dewi yang gemetar.


“Dewi kenapa menangis, ada masalah apa.?tanya Kevin mencoba membalikkan badan Dewi.


“Dewi aku paling tidak suka jika aku sedang berbicara kau malah menutup mata atau pun wajah, jadi lihat aku”ucap Kevin dingin mencoba melepaskan tangan Dewi yang menutup wajahnya.

__ADS_1


“Aku ngk papa, biarkan aku istiraha”ucap Dewi dengan suara khas baru menangis.


“Ngk papa apanya, dari suara kamu kelihatan sekali baru menangis”ucap Kevin menarik tangan Dewi dari wajahnya.


“Aku ngk papa, aku hanya kelelahan aja, kamu istirahat aja supaya besok kita bisa pergi jalan-jalan mengelilingi kota Italia”ucap Dewi melepas tangannya dari wajahnya sambil tersenyum manis, dan Kevin benci melihat senyum manis itu, senyuman manis yang dibelakang terdapat sebuah kesakitan.


“Malam”ucap Dewi memunggungi Kevin.


“kamu ada masalah apa wi, ceritakan sama aku, apakah ada yang menganggu kamu dirumah ini, atau besok kita menginap di hotel”ucap Kevin sambil memeluk tubuh Dewi dari belakang, sesekali ia mencium rambut Dewi.


“Aku nyaman kok disini, dan kita ngk usah menginap dihotel, ngk enak smaa bunda dan yang lainnya”ucap Dewi.


Setelah itu tidak ada lagi percakapan diantara mereka, mereka sibuk dengan pemikirannya masing-masing dan dengan posisi yang sama Kevin tetap memeluk tubuh Dewi dari belakang, menikmati aroma harum dari rambut Dewi.


 


Ketika jarum pendek menunjukkan angka dua Dewi terjaga dari tidurnya, ia merasa seperti ada yang menimpah bagian perutnya, lalu ia melihat ternyata tangan Kevin melingkar sempurna di perutnya, karna takut menganggu tidur kevin, Dewi pun memindahkan tangganya secara pelahan.


Lalu ia duduk dengan bersender di ranjang, menoleh ke arah samping dan memandang wajah Kevin, yang tampan yang tidur dengan nyenyak, wajah yang damai ketika tidur dan berubah galak ketika sudh bangun.


“Aku tidak mencintai mu Vin, tapi entah kenapa hatiku merasa sakit sekali ketika nenek sari menolak kehadiran ku dirumah ini, hatiku sakit sekali ketika keluargamu menolak dan menghina aku, bahkan lebih sakit dari ketika kamu menyiksaku”ucap Dewi sambil memandang lekat wajah Kevin.


"ketika kehadiran ditolak di tengah-tengah keluarga ku, tidak sesakit ini Vin, begini iyh rasanya ditolak keluarga suami sendiri"ucap dewi


“Aku bingun Vin, aku harus gapain sekarang..?aku harus berbuat apa.?aku yang selalu ingin lepas darimu tapi kamu tidak melepaskan aku, maksud nya apa Vin..?dan ketika melihat penolakkan dari keluargamu apakah ada alasan buat aku untuk bertahan disamping mu..?”ucap Dewi sambil mengelus rambut kevin.


“Kenapa Tuhan..?kenapa aku harus terjebat disituasi ini..?ucap Dewi sambil mendesah kasar, lalu ia turun dari ranjang berjalan menuju balkon kamar.


"dan aku kan membuatmu jatuh cinta kepadaku wi, dan itu akan menjadi alasanmu untuk bertahan di sisiku"batin Kevin sambil menatap punggung Dewi.


Dewi memandangi keramaian kota Italia dari balkon kamar, meskipun sudh tengah malam, bahkan hari sudh menunjukkan pagi tapi tidak mengurangi keramaian kota itu, masih banyak kendaraan yang berlalu lalang.


Hampir satu jam Dewi berdiri dibalkon kamar menatap lurus kedepan, sesekali ia mendesah kasar dan tak lama setelah itu kepalanya mengeleng, entahlah pikiran Dewi saat ini melalang buana, karna saking sibuk dengan pemikirannya, Dewi tidak menyadari sosok Kevin yang sudh berdiri disamping sedari tadi.


“Sampai kapan kamu akan berdiri disini, cuaca dingin”ucap Kevin dingin.


“Entahlah, aku masih betah berdiri disini, aku ingin seperti kendaraan-kendaraan itu, bebas pergi kemana saja tanpa ada yang melarang”ucap Dewi tanpa menatap Kevin.


“Aku lapar, buatkan aku makanan, aku tidak bisa tidur”ucap Kevin mengalihkan percakapan, ia tau kemna arah pembicaraan Dewi saat ini.


“Ayo aku temani ke dapur, kita cari yang bisa dimakan”ucap Dewi berjlan keluar kamar diikuti Kevin dari belakang.


"ehh nona sama tuan gapain pagi-pagi sekali sudh bangun"ucap pelayan yang melihat Dewi dan Kevin turun menggunakan lift, memang untuk di jam segini sudh ada pelayan yang sudh bangun, untuk membersihkan setiap sudut di rumah itu.


"biasalah Bi, suami sya tiba-tiba lapar jadi saya mau memasak sesuatu buat dia"ucap Dewi tersenyum manis.


"mau sya masakkan non..?"


"ngk usah bi, biar aku aja, lanjutkan aja pekerjaan kalian, biar suami saya, sya yang mengurusi"ucap dewi.


Sedangkan Kevin yang mendengar kata suami yang keluar dari mulut mungil Dewi, tiba-tiba wajah berubah menjadi merah, untuk pertama kalinya Dewi menyebut dirinya suami.


"kamu duduk di sana aja, biar aku masakkan"ucap Dewi membuyarkan lamunan Kevin.

__ADS_1


"tapi aku masak mie instan aja iyh, biar cepat"ucap Dewi.


"iyh ngk papa"ucap Kevin tiba-tiba gugup.


Tak memakan waktu banyak, sekitar sepuluh menit berlalu Dewi pun selesai memasak mie instan.


"ini mienya, maaf hanya bisa masak ini aja"ucap Dewi sambil meletakkan mie instan yang masih panas dihadapan Kevin.


"kamu ngk ada niat suapin aku ngituh"ucap Kevin menatap Dewi.


"kan bisa makan sendiri Vin, ayo makan dah, aku mulai mengantuk nih"ucap Dewi.


"suapin aku wi"ucap Kevin, entahlah saat ini Kevin tiba-tiba ingin bermanja-manja sama Dewi.


Karna tidak mau berdebat di pagi ini, ehh subuh maksudnya Dewi pun menyuapi Kevin dengan telaten, dan karna mie masih panas tak lupa sebelum menyuapkan kepada Kevin lebih duluh ia menium ya guna menghilangkan panasnya walaupun hanya sedikit.


"kamu ngk makan"ucap Kevin sambil menerima suapan dari Kevin.


"ngk, aku takut gendut"ucap Dewi, walaupun jika berat badan Dewi bertambah sedikit tidak akan mengurangi kecantikan Dewi.


"walaupun kamu gendut, kamu masih cantik kok"ucap Kevin sambil merapihkan rambut panjang Dewi yang sedikit berantakan, menyelipkan beberapa helai rambut Dewi ke belakang telinganya.


"masih pagi, jangan ajak aku berdebat"ucap Dewi tak menanggapi godaan Kevin.


"siapa yang ajak berdebat, memang kenyataannya kok"ucap Kevin.


"sudah selesai nih, kamu mau lanjut tidur atau mau gapain"ucap Dewi sambil memberikan Kevin segelas air minum.


"kamu sendiri..?"ucap Kevin bertanya balik.


"aku mau sholat, dan mungkin membantu pelayan memasak sarapan pagi"ucap Dewi sambil membereskan sisa makan Kevin.


"aku mau keliling Mension aja"ucap Kevin sambil berdiri dari kursinya.


"lap duluh mulut mu, masih ada sisa mienya"ucap Dewi menghentikan langkah Kevin.


"aku ngk bisa lihat, bisa kali kamu yang lapkan"ucap Kevin beralasan


"tinggal lap apa susahnya sih"ucap Dewi sambil mencuci tangannya "iyh jelaslah kamu tidak bisa lihat kecuali pakai kaca, kalau kamu bisa lihat tanpa kaca beda lagi ceritanya"


"makaya lapkan"ucap Kevin


"mandiri Vin, biasanya kamu apa-apa bisa sendiri"ucap Dewi sambil melap mulut Kevin.


"kan ada kamu, semuanya itu aja lebih berarti jika kamu yang melakukan"ucap Kevin sambil menarik pinggang Dewi dengan posesif.


"awas aku mau sholat nah, waktunya sudh hampir habis"ucap Dewi mencoba melepas pelukkan Kevin dari pinggangnya.


"kamu ngk ada rencana untuk memberi aku sebuah ciuman selamat pagi ngituh"ucap kevin tanpa menghiraukan ucapan Dewi.


"ngk ada ciuman selamat pagi, awas nah Vin"ucap Dewi menatap tajam Kevin.


"makasih buat mie instan nya di pagi ini dan maksih sudh menyuapi"ucap Kevin mencium bibir Dewi sekilas lalu melepaskan tangannya dari pinggang Dewi, sedangkan Dewi yang mendapat ciuman dari Kevin sepagi ini hanya diam saja, jantungnya mulai tidak beraturan lagi.

__ADS_1


Tanpa mereka sadari sepasang mata menatap mereka dengan penuh arti.


"sehangat itu kamu sama Dewi Vin, ternyata Dewi bisa mengubah kamu menjadi pria hangat syang"guman Devi yang sedari tadi melihat sikap Kevin yang hangat dan sedikit manja kepada Dewi, untuk pertma kalinya ia melihat Kevin hangat kepada orang lain terutama kepada perempuan.


__ADS_2