
"bagaimana keadaan istri sya dok..?apakah sudah bisa pulang hari ini"ucap Kevin setelah melihat dokter selesai memeriksa keadaan Dewi.
"semuanya baik-baik saja tuan, jahitannya sudah kering, dan pagi ini nyonya Dewi sudah bisa pulang, saya akan membuat ulang resep vitamin untuk nyonya Dewi dan juga bayi dalam kandungannya, nanti tebus saja si apotik"ucap dokter.
"kalau begitu saya permisi, kalau bisa sekali seminggu nyonya Dewi melakukan kontrol untuk menghindari infeksi pada lukanya"ucap dokter sebelum benar-benar meninggalkan ruangan.
Sedangkan Dewi hanya mengangguk bahagia, ia bersyukur karna satu minggu lebih dia di rawat disini akhirnya dia bisa pulang juga.
"Vin, kita pulang sekarang kan..?"ucap Dewi setelah melihat dokter pergi.
"iyh sayang, kita pulang sekarang, kita tunggu Daffa menyelesaikan administrasi"ucap Kevin menatap Dewi.
Dan benar saja, setelah beberapa saat akhirnya Daffa sudah selesai menyelesaikan administrasi dan mereka saat ini sudah siap-siap menuju parkiran, lebih tepatnya Daffa menunggu mereka di depan lobby.
"sayang mau aku gendong aja kah, takut kamu belum kuat jalan"ucap Kevin ketika mereka sedang berada di lorong rumah sakit.
"ngk usah aku bisa jalan sendiri, lagian yang sakit itu perut bukan kaki ku Vin"ucap Dewi.
"itu perutmu kenapa..?masih sakit iyh..?kenapa di pengang begitu..?"ucap Kevin.
"itu, aku lagi hamil, karna belum terbiasa kayak takut aja embrio yang di perutku jatuh, makaya aku pengang"ucap Dewi sambil mengelus-elus perut ratanya.
"ngk terasa iyh kamu sekarang sudah hamil aja, ternyata kita sudah melangkah sejauh ini"ucap Kevin sambil menggenggam jemari Dewi, menuntun wanita itu berjalan menuju lobby.
Ketika melihat tuannya sudah sampai di lobby Daffa langsung membuka pintu mobil dan Kevin pun membantu Dewi masuk ke dalam mobil.
"sebelum sampai rumah kamu mau ada yang mau di beli kah, biar ngk keluar-keluar rumah terus"ucap Kevin.
"buah sama susu hamil mungkin"ucap Dewi.
"bunda sama nenek sudah membeli susu hamil buat kamu, kita tinggal beli beberapa jenis buah saja iyh"ucap Kevin.
"daf berhenti di pusat perbelanjaan"ucap Kevin.
"baik tuan"balas Daffa sambil fokus menyetir
"Vin"ucap Dewi lirih, ketika mendengar kata nenek entah Dewi seakan ragu untuk kembali kerumah Kevin.
Mengingat nenek sari belum merestui hubungan mereka, lagian mereka tidak sempat akbrab sehingga kecangguan pun akan terjadi.
"apa sayang"ucap Kevin yang melihat Dewi diam beberapa menit.
"apakah nenek sudah merestui hubungan kita..?kalau belum sebaiknya kita pulang kerumah orang tua aku aja, aku belum siap bertemu nenek"ucap Dewi menatap Kevin.
"siapa yang bilang nenek belum merestui hubungan kita..?kalau nenek belum merestui hubungan kita tidak mungkin nenek jauh-jauh datang dari Italia untuk menjenguk kamu sayang, percaya semua akan baik-baik saja"ucap Kevin.
"apakah omongan mu bisa dipercaya"ucap Dewi ragu.
"bisa sayang"ucap Kevin.
"kita sudah sampai tuan"ucap Daffa menghentikan obralan Kevin dan Dewi.
__ADS_1
"kamu mau ikut turun atau tungguh di mobil aja"ucap Kevin.
"ikut"celetuk Dewi.
"kak Daffa tungguh sebentar iyh, kami sebentar aja kok"ucap Dewi sambil turun dari mobil.
"kak..?"beo Kevin menatap Daffa.
"kalian sudah sedekat itu daf"ucap Kevin menatap Daffa penuh kecemburuan.
"kami ngk sedekat itu tuan, cuma nyonya Dewi berinisiatif memanggil saya dengan sebutan kakak"ucap Daffa.
"awas kamu berani mendekati Dewi daf, aku pastikan gigimu hilang semua"ucap Kevin mengancam daffa.
"ahh tuan baru juga niat mau merebut, sudah diancam aja"guman Daffa tapi masih bisa di dengar Kevin.
"kamu ngomong apa daf..?"ucap Kevin.
"emng gue ngomng apa.?sudah sana turun gue mau ngopi duluh, ngantuk gue"ucap Daffa.
"awas Lo, urusan kita belum selesai"ucap Kevin lalu turun dari mobil menyusul Dewi yang ada berjaln duluan ke lobby mall.
Kevin dan Dewi langsung berjaln menuju bagian perbuah-buahan, Kevin mendorong trolly maka Dewi memilih beberapa buah yang ia inginkan.
"Dewi..?kamu disini..?sama siapa..?"ucap suci menatap Dewi.
"iyh, gue sama Kevin, biasalah kamu mau beli beberapa jenis buah"ucap Dewi "Lo sendiri disini."
"sama siapa disini..?, btw kamu sudah lahiran..?anaknya cewek atau cowok..?aku mau lihat dong"ucap Dewi menatap suci.
Mendengar pertanyaan Dewi membuat suci diam seribu bahasa, entah dia bingung menceritakan mulai dari mana, sungguh kejadian beberapa bulan yang lalu terlintas dalam benaknya.
"ci, kamu kenapa..?apakah pertanyaan ku salah..?"ucap Dewi panik karna melihat suci tiba-tiba menangis.
"sayang, aku mau strober..-"ucap Kevin terpotong karna melihat suci dan Dewi, lebih tepatnya Dewi yang panik karna suci sudah tiba-tiba menangis.
"sayang kenapa..?"ucap Kevin khawatir.
"ngk tau, tiba-tiba dia menangis pas aku tanya dimana perutnya"ucap Dewi tak kalah khawatir.
"wi... gue ngk kuat lagi"ucap suci menangis di pelukan Dewi.
"hey ci, Lo kenapa..?ngk kuat kenapa..?"ucap Dewi bingung.
"beberapa bulan yang lalu gue ke guguran wi, anak gue meninggal sebelum melihat dunia ini, dia pergi ninggalin gue selamanya wi, gue mau nyusul dia aja"ucap suci terisak pilu di pelukkan Dewi.
"ci Lo dari mana aja sih..."ucap seseorang menghampiri suci dan Dewi, ucap nya gantung ketika melihat suci berada dalam pelukkan Dewi
Melihat seseorang yang Dewi kenali berada dihadapannya, refleks ia langsung mendorong tubuh suci dari pelukkannya secara kasar, dan ia langsung berlindung dibalik punggung Kevin, beruntung tubuh suci ditangkap oleh orang yang Dewi takuti
Sungguh ia tidak pernh terbayang aku bertemu lagi dengan seorang laki-laki yang pernah mengisi hati selama dua tahun terakhir ini, lebih tepatnya seorang yang mengisi hatinya sekaligus seseorang yang pernah melecehkan dirinya secara langsung.
__ADS_1
Ketakutan itu kembali muncul, kejadian menjijikan itu kembali muncul.
"Vin aku takut"ucap Dewi ketakutan sambil berlindung di balik punggung Kevin.
"ngk usah takut syaang, semua akan baik-baik saja, tenang ada aku disini yang selalu menjaga dan melindungi kamu"ucap Kevin langsung membawa Dewi ke dalam pelukkanya, menyembunyikan wajah Dewi di dada bidangnya.
"kamu harus kuat, kamu harus bisa melawan trauma kamu, kamu ngk boleh hidup dengan ketakutan dan jangan pernah membayangkan kejadian itu lagi, warnai pikiran dengan hal-hal positif sayang"bisik Kevin sambil mempererat pelukkannya.
"sekarang kamu tarik napas, lalu buang pelan-pelan syang"ucap Kevin melepaskan pelukkan setelah dirasa Dewi sudah mulai tenang.
"suci dan Rangga memang pernh membuat kesalahan fatal, tapi mereka sudah berubah, kamu harus bisa berdamai dengan keadaan dan memaafkan mereka sayang"ucap Kevin lembut "suci baru keguguran dan dia butuh sandaran sama kamu"
Yap seseorang yang menyamperi suci adalah Rangga, sejak Kevin melepaskan dirinya, ia mencoba untuk membuka hati buat suci dan mencoba melupakan Dewi, menerima takdir bahwa ia dan Dewi tidak bisa bersatu.
"ci, sorry gue refleks tadi, gue ngk bermaksud buat mendorong kamu"ucap Dewi membawa tubuh suci kembali ke pelukkannya ia mencoba mengabaikan kehadiran Rangga ditengah-tengah mereka.
"ngk papa wi, gue bisa paham kok"ucap suci.
"sebaiknya kita cari caffe duluh, Lo ceritakan sama ke gue kenapa Lo bisa keguguran"ucap Dewi melepaskan pelukkannya, lalu ia menatap Kevin meminta persetujuan.
"boleh, kita langsung ke sana aja sayang"ucap Kevin sambil ke salah satu cafe.
"gue tungguh di parkiran sjaa, kalian mengobrol aja duluh"ucap Rangga yang menyadari ketidak nyamanan Dewi jika ia ikut bergabung.
"kenpa..?Lo ikut aja, lagian kita tidak pernh lagi ngopi bareng"ucap Kevin.
"lain kali aja Vin, gue mau kerumah sakit bentar, ci nanti gue jemput, pokoknya Lo jangan tinggalkan mall kalau gue belum jemput"ucap Rangga.
"mmm"ucap suci singkat dan dingin.
Melihat interaksi suci dan Rangga, Dewi merasa kalau mereka sedang ada masalah besar.
"pesan apa syang"ucap Kevin.
"samakan aja Vin, Lo mau pesan apa ci..?"ucap Dewi menatap suci.
"samakan aja kayak punya kalian"ucap suci.
Kevin langsung memesan pesanan mereka, sekalian mereka akan makan siang, mengingat waktu sudah hampir siang dan Dewi juga harus minum obat, jadi Kevin memutuskan untuk memesan makan siang untuk mereka.
"sekarang Lo cerita sama gue, kenapa Lo bisa ke guguran..?"ucap Dewi tak sabaran.
"gue bingung menceritakan nya mulai dari mana wi, semua terlalu singkat buat aku"ucap suci.
"cerita aja sebisa Lo ci, jangan di pendam sendiri"ucap Dewi.
"orang tua Rangga ngk percaya kalau anak dalam kandungan gue darah daging Rangga, karna setau mereka Rangga hanya pacaran sama Lo, dan mereka meminta untuk melakukan tes DNA dan bodohnya lagi Rangga malah menyetujui permintaan keluarganya, kebetulan pada saat itu gue lagi stres berat karna Rangga tidak mau tanggung jawab sehingga membuat kandung gue lemah, belum lagi orang tua gue menghapus nama gue dari daftar keluarga dengan alasan telah mencoreng nama baik keluarga, sehingga menambah tingkat stres gue"ucap suci.
"singkat ceritanya ketika melakukan tes DNA semuanya baik-baik saja, tapi ketika satu minggu melakukan tes DNA perut gue sakit terus, sehingga gue memutuskan untuk memeriksa ke dokter. Dan sangat disayangkan ternyata setelah beberapa jam melakukan tes DNA ternyata bayi dalam kandungan gue meninggal dunia"ucap suci menangis kembali.
"sehingga rahim gue di kurek dan itu menyebabkan gue sulit memiliki keturunan sebab sebagian besar rahim gue sudah infeksi karna hampir satu minggu mayat bayi gue bersarang di perut gue"ucap suci.
__ADS_1
"kemungkinan besar gue bisa memiliki keturunan hanya lima perseratus aja wi, sangat kecil banget. Gue ngk ada gairah untuk hidup wi, karna setelah gue di usir oleh keluarga gue, harapan gue satu-satunya untuk hidup ternyata sudh lebih duluh meninggalkan gue"ucap suci menceritakan semua hal buruk yang ia rasakan beberapa bulan belakangan ini.