Pernikahan Puncak Balas Dendamku

Pernikahan Puncak Balas Dendamku
bab 44


__ADS_3

Setelah mengetahui fakta yang ada, Dewi benar-benar bingung harus gapain bahkan di bingung bagaimana bersikap kepada kevin, apakah ia harus bertahan bersama kevin supaya bisa menebus kesalahan ayahnya.? Atau ia akan pergi jauh dari kota ini meninggal semuanya termasuk Rangga sekali pun.


“Sudah sampai mba”


“Ahh ia terimaksih pak.”ucap Dewi Sambil membayar ongkosnya.


Karna bingung harus apa Dewi pun memutuskan untuk berangkat kekampus karna kemarin dia tidak masuk kelas lagi. Setelah turun dari taksi Dewi langsung berjalan menuju kelasnya dilantai atas, ia berjalan sambil memperlihatkan senyuman ketika ada mahasiswa lain yang menyapa.


Sampai dikelas Dewi langsung duduk dimejanya ia melihat meja sebelahnya masih kosong yang berarti suci belm datang.


“Teman-teman mohon perhatiannya hari ini pak Bimo tidak bisa masuk karena urusan dan untuk Dewi di panggil pak Bimo segera diruangannya”ucap salah satu mahasiswa yang dapat dikatakan sebagai wakil dosen.


“Ahh apa lagi ini”guman Dewi tapi masih tetap meninggalkan kelas lalu berjaln menuju ruangan pak Bimo berada.


“Permisi pak saya Dewi”ucap Dewi mengetok pintu.


“iyh silakan masuk wi”ucap Bimo.


“Ada apa bapak memanggil saya kesini..?”tanya Dewi to the point’


“Kamu ada waktu malam ini.?”tanya Bimo.


“Ngk ada pak, waktu syaa sudh full”ucap Dewi dingin.


“Tolonglah Dewi kali ini aja, sisikan waktu mu buat saya, karna saya mau mengajak kamu menemui orang tua syaa, saya jga akan segera melamarmu”ucap Bimo menatap Dewi.


“Bapak gila apa ngimna, seenak jidat mau lamar saya”ucap Dewi berdiri dari kursinya.


“Lebih tepatnya tergila-gila sma kamu, salahkan dirimu karna membuat syaa tergila-gila seperti ini dan kamu harus tanggung jawab”ucap Bimo berjalan mendekati Dewi.


“tolong iyh pak saya lagi pusing masalah saya lagi menumpuk jadi bapak jangan membuat saya semakin gila seperti ini”teriak Dewi mundur karna menyadari Bimo mulai mendekatinya.


“justru kamu banyak masalah saya akan membawa kamu keluar dari masalah dengan menikah denganku”ucap Bimo semakin mendekati Dewi.


“Jangan coba-coba mendekat pak, saya bisa teriak”ucap sambil memundurkan langkahnya.


“Teriak aja, kamu ngk tau ruangan ini kedap suara”ucap Bimo tersenyum licik.


“Dasar dosen biadab”ucap Dewi langsung mendorong tubuh Bimo sekuat mungkin sehingga membuat bimo mundur beberapa langkah


“asal bapak tau sedikit pun bahkan seujung rambut pun syaa tidak pernh tertarik sama bapk, dan kalau bapak tergila-gila sama saya itu urusan bapak”teriak Dewi emosi.


“Kenapa..?mau mencabut beasiswa saya..?cabut aja saya ngk pernh takut, tanpa beasiswa sekalipun saya masih bisa kuliah”ucap Dewi “karna apa.??karna saya masih punya otak untuk berpikir bukan untuk melecekan mahasiswa sendiri”ucap Dewi lalu meninggalkan ruangan itu.


“Lihat aja Dewi jika sya tidak bisa memiliki mu maka laki-laki siapa pun tidak akan bisa memiliki mu, kalau mereka ngk mati maka kamu yang akan saya matikan”guman Bimo dan lagi-lagi dia harus gagal mendapatkan Dewi.


“dasar dosen ngk punya otak, emng di kampus ini terima dosen asal bisa ngajar kali ngk dilihat duluh akhlak dan moral nya”guman Dewi sambil berjalan di lorong kampus.


“Ehhh Dewi dari mana..?”tanya Remon


“Saya baru kumpul tugas, kalau begitu sya duluannya”ucap Dewi tersenyum manis.

__ADS_1


“Habis ini mau kemana..?”tanya Remon lagi menghentikan langkah Dewi.


“Mungkin ke taman atau ngk ke kantin sambil menunggu mata kuliah kedua juga sih.?”ucap Dewi tersenyum memperlihatkan kedua lesung pipinya.


“Kalau begitu saya permisi, Mon, Ryo”ucap Dewi sedangkan Remon dan Ryo hanya mengangguk tersenyum.


“Astaga cantik banget istri orang”ucap Remon sedikit berteriak “coba aja kalau dia belm menikah sudh ku kejar sampai dapat”ucap Remon lagi.


“Mimpi jangan ketinggian kamu itu”ucap Ryo


“Tapi dilihat-lihat Dewi memang cantik sih”ucap Ryo.


“Eeeee ternyata Lo mau juga, bukan di lihat-lihat emng Dewi sudh cantik”ucap Remon.


Seperti perkataannya sebelumnya Dewi kalau tidak ke kantin maka akan ke taman, hingga pada saat ini Dewi pun memutuskan untuk ke taman.


Disana ia duduk termenung disalah satu kursi tunggal yang ada ditaman itu, terlelap dalam pemikirannya sambil memandangi aktivitas orang-orang yang ada ditaman itu, disnaa banyak mahasiswa yang sedang mengerjakan tugas, tak jarang disana juga ada mahasiswa hanya sekedar mencuci mata atau pun yang sedang pacaran.


Karna larut dalam lamunannya Dewi tidak menyadari seseorang yang sedari tadi menatapnya dalam diam, memandang wajah Dewi yang larut dalam lamunan nya.


“Permisi boleh aku duduk bergabung disini..?tanya mahasiswa pria tersebut.


“Iyh silakan, ngk ada yang larang”ucap Dewi tanpa menatap lawan bicaranya.


“Kenapa kok pusing banget”


“Aku capek, bahkan sudh mau menyerah”ucap Dewi.


“bukan tubuh yang lelah, pikiranku sudah benar-benar lelah, takdir seakan mempermaikan aku selama ini”ucap Dewi menatap lurus kedepan.


“Ngk ada takdir yang mempermaikan kita, takdir itu sudh tertulis sejak kita masih dalam kandungan, bahkan ketika kita masih berbentuk zigot sekali pun”


“Jadi nikmati aja hidup ini, nikmati prosesnya dan syukuri hasilnya semua yang terjadi mempunyai tujuan tersendiri, adanya merugikan dan ada juga yang menguntungkan kita”


“Kamu harusnya bersyukur masih bisa mengalami hal seperti ini, jadi kamu bisa ceritakan kepada anakmu kalau kamu pernh mengalami masalah seperti ini sehingga anakmu mengetahui bahwa ibunya duluh adalah seorang pejuang, bukan kah itu suatu kebanggaan..?”


“Nikmati hidupmu dan tetap selalu bersyukur”ucapnya mengacak rambut Dewi lembut lalu meninggalkan Dewi yang masih tetap memandang lurus kedepan,


“Hidup seperti apa yang harus aku nikmati, semua hanya ada penderitaan disetiap garis hidupku”guman Dewi lalu menarik napas panjang dan membuangnya secara kasar.


Karna kata bosan mulai menghantui Dewi akhirnya ia memutuskan untuk pergi dari taman itu, saat ini tubuhnya sepertinya membutuhkan asupan tenaga yang cukup banyak supaya bisa menghadapi masalah-masalah kedepannya.


Akhirnya Dewi memutuskan pergi ke kantin guna mengisi perutnya, hari ini benar-benar sepi bagi Dewi karna suci tidak masuk buktinya ia tidak melihat batang hidupnya muncul.


Setelah memesan makanan Dewi memilih duduk di pojokan kantin memang kebiasaan Dewi selalu memilih meja paling pojok, berasa tenang saja ngituh pikir Dewi.


Sambil menunggu pesanan Dewi menatap kearah pintu masuk kantin, mata menangkap sosok tiga pria yang sangat ia kenalin siapa lagi kalau bukan Kevin cs ia hanya menatap mereka datar.


Ternyata Kevin cs berjalan menuju arah Dewi, tapi ia tidak memperdulikan hal itu.


“Ehh Dewi ketemu lagi kita, kok tumben sendiri..?”ucap Remon.

__ADS_1


“suci lagi ngk masuk sepertinya”ucap Dewi tersnyum manis.


“Dewi jidatmu kenapa dan lehermu seperti berkas apa ngituh kok merah “ucap Ryo yang baru menyadari kalau jidat Dewi di bungkus luka.


"itu aku kejedot tembok kolam, kemarin habis berenang"ucap Dewi tersenyum manis.


"ada-ada kamu Dewi kemarin manjat pagar sekrang jidat ke jedot tembok, besok besok apa lagi..?"ucap Ryo yang tak habis pikir dengan sikap bar bar padahal ia belm tau saja kalau dalangnya yang membuat Dewi seperti itu adalah Kevin sendiri.


Sedangkan Dewi hanya menanggapi Omelan Ryo dengan senyum manisnya.


"Dewi"pekik seseorang sambil berlari kearah mejanya.


"ci"ucap Dewi sendu.


"akhirnya kamu masuk juga, aku khawatir banget loh smaa kamu, kamu baik-baik aja kan..?"tanya suci dengan raut wajah khawatir.


"aku khawatir loh sama kamu, benar-benar susah banget cari tau kondisi mu saat ini"ucap suci menatap Dewi lalu ia mendirikan Dewi dan memutar-mutar badannya memastikan anak itu baik-baik saja.


"kamu ok kan Dewi"ucap suci khawatir.


"aku capek ci"ucap Dewi langsung berhambur kepelukan suci tidak peduli jika mereka menjadi pusat perhatian.


"Dewi tenang aku ada disini"ucap Dewi membalas pelukan Dewi.


"aku lelah ci, sakit banget rasanya sumpah, aku ingin angkat tangan ci"ucap Dewi menangis dalam pelukan suci, saat ini ia benar-benar butuh pundak untuk bersandar, butuh seseorang untuk berbgai cerita.


"hei kamu wanita kuat wi, kamu jangan seperti ini, mana Dewi yang kuat, mana Dewi yang anti badai dan mana Dewi yang bar bar"ucap suci menatap wajah Dewi sambil menghapus air matanya.


"ini jidat kamu kenpa..?kok pakai acara dibungkus seperti ini..?"ucap suci memperhatikan luka yang ada di jidat Dewi.


"hanya luka kecil, nanti sembuh sendiri"ucap Dewi kembali berhambur kepelukan suci.


Sedangkan Ryo dan Remon hanya menonton kedekatan mereka yang membuat mereka bingung kenpa Dewi tiba-tiba menangis dan memeluk tubuh suci, sebesar apa Masalah yang sedang di sembunyikan Dewi saat ini.


"wi.."ucap suci sambil mengelus punggung Dewi, karna merasa Dewi terlalu nyaman berpaku di pelukannya.


"wi"ucap suci lagi karna tidak respon dari Dewi.


Ketika ia hendak melepas pelukkan Dewi dari tubunya, betapa terkejutnya melihat mata Dewi yang sudh tertutup rapat, karna tidak ada keseimbangan akhirnya tubuh Dewi melorot kebawah.


"Dewi"pekik suci ketika melihat dewi yang terjatuh.


"Dewi bangun"ucap suci menepuk-nepuk pipi Dewi.


"Mon tolongin,bantu aku bawa Dewi kerumah sakit sepertinya ia sedang pingsan"ucap suci khawatir.


Bukannya Remon yang datang menolong melainkan Kevin lah yang mengangkat tubuh Dewi, tanpa memperdulikan tatapan orang-orang Kevin tetap membawa Dewi masuk dalam mobil dan melajukan mobilnya menuju rumah sakit.


"Dewi pingsang dan saya otw membawa dia kerumah sakit, siapkan ruangan dan juga dokter dirumah sakit*****"ucap Kevin melajukan mobilnya dengan kecepatan sangat tinggi.


Tak dapat dipungkiri saat ini ia juga khawatir dengan kondisi Dewi karna tiba-tiba saja gadis ini pingsang padahal tadi masih bisa tersenyum manis kepada Remon dan Ryo.

__ADS_1


__ADS_2