
Setelah menunggu bebrapa jam, akhirnya pintu rawat inap Dewi pun terbuka, pertanda transfusi darah telah selesai.
"bagaimana dok, apakah berjalan dengan lancar"ucap Kevin.
"sangat lancar tuan, semuanya aman tanpa ada yang di khawatirin, baik janinnya maupun nyonya Dewi, kita tinggal tunggu nyonya Dewi siuman tuan"ucap dokter menjelaskan keadaan Dewi.
"baik dok, boleh saya masuk"ucap Kevin.
"silakan tuan, tapi gantian saja iyh, takut menganggu pasien"ucap dokter sambil mempersilakan Kevin masuk.
"bund aku masuk duluh sebentar, sebaiknya bunda smaa nenek pulang saja, istirahat di Mension saja, lagian kalian habis perjalanan jauh bund"ucap Kevin sebelum masuk.
"baiklah syang, besok pagi-pagi bunda akan datang lagi kesini, kamu jaga Dewi iyh"ucap Devi sambil menatap Kevin.
"guys tolong antar bunda sama nenek pulang iyh, aku percaya pada kalian berdua"ucap Kevin menatap Ryo dan Remon.
"tenang aj Vin, soal bunda sama nenek biar tanggung jawab kita, Lo fokus sama Dewi dan anak kalian saja, jangan mikirin yang lain-lain duluh, Dewi butuh Lo sekarang"ucap Remon menatap Kevin.
"makasih gyus, kalau begitu gue masuk duluh, bunda dan nenek hati-hati dijalan"ucap Kevin.
Setelah Kevin masuk kedalam ruangan Dewi, maka Ryo dan Remon pun mengantar bunda Devi dan nenek sari pulang ke Mension Kevin, mengingat malam semakin larut.
Masih waktu dan tempat yang sama hingga orang yang sama, yang membedakan wajah orang itu sudah terlihat lebih segar, berbeda sebelum melakukan transfusi darah.
Dengan peralatan medis menempel dibeberapa bagian tubuhnya, Dewi sedang berjuang untuk hidup dan membuka matanya, memulai hidup bersama suami dan juga calon anaknya.
Perlahan tapi pasti, Kevin berjalan mendekat ranjang Kevin, lalu tangannya terulur untuk mengelus rambut halus Dewi, ditatapnya Dewi dengan penuh cinta, sekarang wanita yang awalnya ia anggap sebagai alat balas dendamnya telah berubah menjadi wanita yang paling ia cintai dan ia ratukan dihatinya, bahkan kebahagiaannya menjadi semakin lengkap ketika mengetahui kalau ratunya sedang mengandung benih darinya.
"Hay syang, maksih iyh kamu mau bertahan demi aku, cepat bangun sayang, soalnya aku punya kabar gembira buat kamu"ucap Kevin.
"aku akan menjaga kamu disini, menunggu kamu membuka mata buat aku"ucap Kevin sambil mencium kening Dewi.
Sambil menggenggam salah tangan Dewi dan duduk disamping ranjang Dewi, Kevin terus menatap lekat wajah manis Dewi.
Jika melihat waktu sudah seharusnya Kevin istirahat apalagi mengingat hari ini ia cukup lelah, tapi entahlah untuk saat ini ia benar-benar tidak bisa memejamkan matanya barang sedikit pun.
Matanya terus terjaga untuk menunggu Dewi membuka matanya, ia ingin ketika Dewi membuka matanya yang pertama dilihat oleh wanita itu adalah wajahnya.
Sampai azan subuh berkumandang pun Kevin masih tetap terjaga, tapi sedetik kemudian Kevin memutuskan untuk sholat.
"permisi sus, apakah ada peralatan sholat disini"ucap Kevin kepada suster yang sedang dinas malam.
"ohh ada tuan, sebentar sya ambilkan duluh"ucap suster
"saya pinjam duluh sus"ucap Kevin sambil peralatan sholat dari tangan suster.
Terakhir kalinya Kevin sholat ketika duduk dibangku SD, tapi ketika melihat kejadian dimna ayahnya terbunuh, membuat Kevin melupakan sholatnya, bahkan sejak saat itu Kevin berubah menjadi pribadi yang dingin dan tertutup.
Hingga pada saat ini, kebiasaan yang ia tinggalkan beberapa puluh tahun lalu kembali ia lakukan, mengadakan sholat untuk pertama kalinya.
"apa begini yang dirasakan Dewi selama ini ketika selesai sholat, damai sekalinya rasanya"guman Kevin setelah selsai sholat.
"pagi syang, kamu ngk mau bangun..?kamu ngk mau sholat emang..?biasanya kalau azan subuh kamu selalu bangun wi, aku sudh selesai sholat Loh"ucap sambil mengelus pipi Dewi yang masih setia menutup matanya.
__ADS_1
"pagi anak ayah, sehat-sehat di dalam perut mama syang, jangan buat mama kesakitan dan kerepotan, bantu mama buat sembuh syang"ucap Kevin lalu mencium perut rata Dewi.
Setelah mendengar Dewi hamil, sepertinya Kevin ia mempunyai hobby baru, yaitu mengajak janin Dewi untuk berbicara.
Sampai matahari meninggi pun, Dewi belum membuka matanya, melihat Dewi tidak bangun-bangun membuat Kevin sedikit khawatir.
Pikiran negatif kembali menghantui Kevin tentang keadaan Dewi, kejadian beberapa bulan lalu terlintas dibenaknya dimana ia dan Dewi berbeda alam untuk beberapa jam.
Ia tidak mau kejadian itu terulang kembali.
"pagi tuan, waktunya memeriksa pasien, boleh tolong berikan kami ruang untuk memeriksa pasien"ucap dokter.
"silakan dok"ucap Kevin lalu berjaln menuju sofa, memberikan dokter ruang untuk memeriksa keadaan Dewi.
"bagaimna dok keadaan istri sya, kenapa sampai sekarang belum sadar juga"ucap kevin.
"semuanya baik-baik sja tuan, perkembangan nyonya Dewi sangat cepat dan baik, mungkin gara-gara obat bius yang berikan sehingga nyonya Dewi belum sadar sampai sekarang"ucap dokter yang mengerti kekhawatiran Kevin.
"kami segaja memberikan banyak obat bius pada luka tusukannya, karna ketika nyonya Dewi sadar, luka itu akan terasa sangat sakit sekali, luka itu akan terasa peri dan berdenyut sakit"ucap dokter "tunggu saja tuan, beberapa jam lagi pengaruh obat itu akan habis dan nyonya Dewi akan segera bangun"
"kalau begitu kami permisi duluh, selamat pagi tuan"ucap dokter lalu undur diri dari hadapan Kevin.
"sayang kenapa kau begitu nyaman tidur lama..?apakah kau tidak mau mempersiapkan baju kerja ku..?apakah kau tidak mau minum susu..?ayolah syang, bangun"ucap Kevin lirih.
Ia cukup merindukan suara Dewi yang selalu mengomel di pagi harinya kepadanya.
Clekkk
"Kevin syang, kau sudah bangun...?ngimna keadaan Dewi..?apakah dia belum sadar juga...?"ucap bunda Devi yang baru sjaa datang.
Walaupun dirinya diambang kegelisahan karna keadaan Dewi yang belum sadarkan diri tapi sebisa mungkin ia harus tersenyum di depan bunda Devi, katakanlah ia pura-pura kuat dihadapan wanita paruh baya itu, yang penting wanita yang melahirkan dirinya tidak sedih.
"langsung jawab saja pertanyaan mana yang bisa kau jawab"ucap Devi kesal melihat Kevin yang masih bisa bercanda di situasi seperti ini.
"mungkin sebentar lagi Dewi sadar Bund, kata dokter beberapa jam lagi obat bius kan akan hilang, jadi kita tungguh saja"ucap Kevin.
"baiklah, lebih baik kau mandi duluh, bunda sudah membawah baju ganti, habis itu kita sarapan saja"ucap Devi "biar bunda yang menjaga Dewi disini"
"baiklah bund, Kevin titip Dewi sebentar"ucap Kevin sambil mengambil peralatan mandi dan juga baju ganti yang dibawah oleh bunda Devi, lalu ia berjalan menuju kamar mandi.
"mama duduk di sofa sja, sambil menunggu Kevin selesai mandi, kita akan sarapan sama-sama"ucap Devi menatap nenek sari.
"kau mau kemana Dev..?"tanya sari.
"Devi mau melihat Dewi sebentar ma"ucap Devi sambil berjalan mendekati
Sambil menunggu Kevin menyelesaikan riktual mandinya, Devi berjaln mendekati ranjang Dewi, karna sejak ia datang ketanah air, ia belum melihat wajah menantu nya.
"sayang, bangun nak, bunda smaa nenek datang buat kamu, bunda kangen smaa kamu nak"ucap Devi lembut.
"selamat iyh, sebentar lagi kamu akan menjadi seorang mama sayang, kau berhasil mengandung ank Kevin sayang, cucu pertama di keluarga Mahendra"ucap Devi.
"kamu adalah wanita kuat yang pernah bunda temui, Tiara pasti bangga melahirkan anak gadis sekuat kamu sayang, kamu adalah gambaran mama ku di waktu mudah, bunda bangga sama kamu nak, terimaksih karna kamu mau bertahan dengan Kevin"ucap Devi sambil mencium kening Dewi.
__ADS_1
Dan benar saja, selesai sarapan bersama dan setelah beberapa jam akhirnya Dewi membuka matanya.
Perlahan tapi pasti, ia membuka matanya, baginya tempat di mana ia berada sudah tak asing lagi dalam pandangan.
"sakit"lirih Dewi ketika ia mengerakkan sedikit badannya.
Sedangkan Kevin, bunda Devi dan juga nenek sari menghentikan sejenak obralan hangat mereka ketika mendengar suara yang begitu lirih dari arah ranjang Dewi.
"Dewi syang, kamu sudah bangun..?"ucap Kevin berjalan mendekati ranjang Dewi.
"Kevin..?"ucap Dewi lirih.
Sesuai harapan Kevin sebelumnya, ia ingin objek pertama yang Dewi lihat ketika membuka matanya adalah dirinya.
"bunda, nenek, kalian disini"ucap Dewi dengan suara serak.
"iyah nak, setelah bunda mendengar berita tentang dirimu, bunda sama nenek langsung terbang kesini pada saat itu juga"ucap Devi.
"maksih bunda, maksih nenek"ucap Dewi.
"sama-sama, cepatlah sembuh, kau jangan suka lama-lama dirumah sakit ini, aromanya sungguh tidak enak"ucap nenek sari yang sejak tadi diam saja.
Sedangkan Dewi hanya tersenyum paksa karna sedang menahan sakit yang cukup luar biasa disekitaran perutnya.
"Vin, sakit banget, tolong aku"ucap Dewi sambil memejamkan matanya.
"iyh syang, luka tusukan di perut belum kering, dan obat biusnya sudah hilang, yang sabar iyh"ucap kevin sambil mengelus rambut Dewi.
"Vin sakit, aku ngk kuat"ucap Dewi dengan suara serak, sebelah tangannya menarik sprei guna menyalurkan rasa sakitnya yang sangat luar biasa.
"Vin, tolong, lakukan sesuatu, ini sangat sakit sekali"ucap Dewi menangis, ia tidak bisa lagi menahan sakit di perut.
Jika ia bergerak maka akan terasa sangat sakit sekali, tapi ketika ia diam saja maka bekas jahitan diperutnya akan berdenyut, seperti di cubit saja rasanya.
"bunda, aku harus apaa...?Dewi kesakitan terus"ucap Kevin bingung, ia tak menyangka keadaan Dewi akan separah ini ketika sadar.
"Kevin sakit!!..bunda tolong Dewi"ucap Dewi menangis sambil mengigit bibirnya.
"bentar bunda panggil dokter syang"ucap Devi berlari keluar kamar.
"sayang, jangan banyak gerak, nanti lukanya makin sakit, kita lewati sama-sama"ucap Kevin sambil memeluk wajah Dewi yang sudah menangis.
"sayang bibirmu berdarah jangan di gigit lagi"ucap Kevin sambil menghapus air mata Dewi yang sudah mengalir dari sudut matanya.
"aku ngk kuat lagi"ucap Dewi dengan suara pilu.
"permisi tuan, izinkan kamu untuk memeriksa keadaan nyonya Dewi"ucap dokter.
"suster cepat suntikkan obat anti nyeri"ucap dokter, setelah beberapa menit obat anti nyeri disuntikkan ke tubuh Dewi barulah wanita yang sedang berbadan dua itu sedikit tenang.
"kenapa istri syang dok, sampai segitu sakitnya"ucap Kevin.
"beberapa jahitan dilukanya terlepas tuan, sehingga mengeluarkan darah dan membuat luka itu semakin berdenyut hebat, tapi tenang sjaa kami sudah menjahitnya kembali"ucap dokter.
__ADS_1
"kenapa bisa terlepas dok"ucap Kevin kesal.
"mungkin itu karna nyonya Dewi yang banyak bergerak, jadi jahitannya terbuka, tapi semua sudah baik-baik sjaa tuan, kami pastikan jahitan itu tidak lepas lagi"ucap dokter "kalau begitu kami permisi duluh"