
krukkkk krukkkk
Ketika kaki kevin hendak melangkah dan membiarkan Dewi istirahat tiba-tiba saja suara Perut Dewi menghentikan langkahnya
"aduh perut ngk bisa diajak kerja sma, kan jadi malu"batin Dewi malu.
Wajahnya sudh berubah menjadi merah karna menahan malu, belum lagi Kevin yang menatapnya intens, semakin membuat dirinya gugup bukan main.
"jangan bilang kamu belum makan"ucap Kevin dingin mengingat tadi pagi Dewi hanya memain-mainkan sarapannya.
"Dewi dari tadi pagi kamu belum makan..?"tanya Kevin dingin karna mendapati mulut Dewi yang tertutup rapat.
"belum, aku belum makan apa-apa dari tadi pagi, pelayan memberiku bekal tapi ketinggalan di mobil dan sopir kembali membawa bekal itu kembali kerumah"cicit Dewi membuang arah pandangannya.
"astaga Dewi, kok ceroboh sih, ini sudh hampir malam dan kamu belum makan..?ucap Kevin terkejut sambil memegang perut dewi.
"duduk duluh"ucap Kevin, lalu ia berjalan menuju meja kerja mengambil air putih.
"minum duluh, sebentar lagi Daffa akan mengantar makan sama kita, sekalian saja malam disini aja"ucap Kevin memberikan Dewi segelas air putih.
"lain kali jangan kayk ngituh lagi iyh, kamu boleh pusing sana sini, tapi jangan sampai lupa makan"ucap Kevin lembut sambil jongkok dihadapan Dewi lalu merapikan rambut Dewi yang sedikit berantakan.
Sedangkan Dewi hanya bingung melihat sikap lembut Kevin, dalam pikirannya terdapat banyak pertanyaan, kenapa Kevin bisa merubah sikap dalam hitungan menit..?apakah Kevin mempunyai dua kepribadian..?apakah ada maksudnya dibalik sikap lembut Kevin..?mengingat baru bebrapa menit kevin bersikap dingin kepadanya.
Untuk menjawab pertanyaannya yang cukup sulit di definisikan, mungkin Dewi harus mencari buku tentang manusia yang mempunyai kepribadian ganda.
"aku ngk papa kok, sudh biasa seperti ini"ucap Dewi tersenyum manis menatap wajah Kevin, untuk pertama kalinya ketika jarak mereka sedekat ini Dewi berani menatap Kevin sambil menunjukkan senyum manis dan sangat tulus.
Seketika Kevin terpesona dengan senyum manis Dewi, untuk pertma kalinya Dewi tersenyum tulus kepadanya, padahl sejak awal mereka bertemu Dewi tidak pernah memberikan senyum tulus itu, yang ada hanya senyum paksaan saja bahkan tak jarang Dewi memberikan senyum sinis kepadanya.
"permisi tuan ini makanan yang anda pesan"ucap Daffa membuyarkan lamunan Kevin
"kalau begitu sya permisi dluh"ucap Daffa setelah meletakkan beberapa menu makanan dimeja.
"maksih kak Daffa, atau ngk kita makan bersama aja"ucap Dewi yang menghentikan langkah Daffa.
"tidak perlu nona, saya sudh makan, silakan menikmati"ucap Daffa yang sudah melihat tatapan mematikan dari Kevin, seperti ditelanjangi saja rasanya ketika melihat tatapan Kevin, sebelum bonus bulan ini dipotong Daffa langsung meninggalkan ruangan itu, takut juga jika Dewi memaksa dirinya untuk makan bersama.
"kenapa sih kamu memanggil kakak sama Daffa, seistimewa itu dia buat kamu"ucap Kevin dingin.
"kan ngk papa, lagian dia jauh lebih tua dari, bukan kah kita seharusnya menghormati orang yang lebih tua"ucap Dewi, sambil membuka makanan di sudh diantar Daffa.
"ngk bisa seperti itu, kamu jangan pernh memanggil Daffa dengan kak lagi, cukup Daffa saja"ucap Kevin dingin lalu duduk disamping Dewi.
"perasaan tadi sudh lembut, tapi sekarang kok jadi dingin lagi, siapa sebenarnya kamu Vin"batin Dewi bingung sendiri.
__ADS_1
"ayo makan, kan kamu lapar tadi"ucap kevin membuyarkan lamunan Dewi.
"ahh iyh sudh aku sudah siapkan kok"ucap Dewi.
"kita makan satu piring berdua aja, kamu suapin aku iyh"ucap Kevin sedangkan Dewi terkejut mendengar permintaan Kevin.
"kenapa seperti itu, kamu kan punya tangan, lagian aku mau makan"ucap Dewi tak terima.
"iyh sudh kamu makan duluh, baru nanti suapin aku, lagian aku masih ada pekerjaan yang harus diselesaikan"ucap Kevin tak mau kalah.
"iyh iyh, kita makan berdua, sini aku suapi aja"ucap Dewi kesal, lebih baik mereka makan sepiring berdua dari pada Dewi nantinya kerja dua kalau menyuapi Kevin lagi.
"jangan pakai sendok"ucap Kevin ketika melihat Dewi hendak menyuapinya pakai sendok.
"trus pakai apa, ngk mungkin kan pakai sekop, banyak mau bah kamu nih"ucap Dewi kesal, tapi entah kenapa Kevin suka ketika melihat wajah kesal Dewi, seperti ada rasa yang tidak bisa di devinisikan ketika melihat wajah itu kesal.
"pakai tangan aja"ucap Kevin sambil berjalan menuju meja kerjanya untuk mengambil ponselnya.
"emng kamu mau makan dari tanganku, tanganku ini ngk higenis loh"ucap Dewi bingung.
"makaya dicuci duluh syaang, lagian ngk papa kan makan dari tanganmu sendiri, bukan kah kita sudh bertukar air ludah"ucap Kevin sambil membuka laptopnya.
"bisa ngk sih kalau ngomng itu di filter ngituh"ucap Dewi malu sambil mencubit pinggang Kevin.
"sakit sayang, ayo sudh suapi"ucap Kevin.
"iyh betulah, pakai mulut juga ngk papa"ucap Kevin menatap Dewi dengan tatapan mesum.
"ngk usah tatap begitu"ucap Dewi sambil menyuapkan Kevin dan benar-benar pakai tangannya.
Dan untuk pertama kalinya Kevin menerima suapan dari seseorang menggunakan tangannya.
"habis pekerjaan ku selesai baru kita pulang kerumah, kamu disini aja duluh atau istirahat dikamar aja"ucap Kevin setelah selesai Dewi menyuapinya.
"aku mau langsung pulang aja, lagian takut menganggu pekerjaanmu"ucap Dewi sambil mencuci tanganya di wastafel.
"kamu mau langsung pulang atau ingin bertemu Rangga"ucap Kevin menebak.
"ngk, Rangga sedang sibuk praktek jadi tidak bisa diganggu, lagian aku hanya ingin langsung pulang saja"ucap Dewi. "nanti pekerjaan mu terganggu kalau aku disini"q
"justrus dengan kamu pulang sekrang akan membuat pekerjaan ku tergangu, jadi tetaplah disini temani aku bekerja"ucap Kevin menahan tangan Dewi, karna ia melihat Dewi hendak keluar dari ruangan itu.
"please"mohon Kevin menatap Dewi, entahlah hari ini ia ingin sekali Dewi menemaninya bekerja, dan hatinya menghangat ketika ia tau Dewi akan ke kantornya, Yap meskipun tujuan Dewi bukan untuk menemaninya bekerja melainkan untuk berdebat ria dengan.
"tapi aku gapain disini, aku tidak mengerti soal bisnis"ucap Dewi beralasan, berlama-lama satu ruangan dengan Kevin membuatnya panas dingin. Sangat tidaknya nyaman bagi dewi jika terus-menerus berdua dengan Kevin.
__ADS_1
"kamu tinggal duduk manis. lihatin aku bekerja, dan duduk lah disampingku, mungkin akan membuat aku lebih semangat meyelesaikan dokumen ini"ucap Kevin sambil menuntun Dewi duduk disampingnya, Dewi sudh duduk disamping Kevin tapi ia masih memberikan jarak beberapa Senti meter, Kevin yang melihat itu langsung menarik pinggang Dewi supaya lebih dekat lagi,
"kenapa harus selalu aku yang mengalah, dan dengan bodohnya kenapa aku menurut saja untuk mengalah"batin Dewi pasrah.
Kini mereka duduk bersebelahan tanpa mengusahakan jarak sedikit pun diantara mereka.
Dewi bisa mendengar suara hembusan napas Kevin, dan ia juga dapat menatap lebih dekat wajah tampan kevin bahkan sangat dekat.
Terlalu lama menunggu Kevin selesai bekerja, tanpa sadar Dewi tertidur dengan menyenderkan kepalanya di bahu Kevin.
"kamu jahat wi, kamu dengan mudahnya membuat aku jatuh cinta kepadamu, tapi kamu dengan keras kepalanya menutup rapat hatimu buat aku, bahkan sepertinya tidak ada cela buat diriku masuk ke dalam hatimu"batin Kevin mengelus lembut pipi Dewi.
"apakah aku boleh egois, meskipun aku sudh menyakiti selama ini, apakah aku boleh meminta aku supaya tetap bersamaku, tapi maaf wi untuk saat ini aku akan benar-benar egois, meskipun aku harus mengandalkan kekuasaan supaya kamu tetap bersamaku"batin kevin lagi.
Karna kasihan melihat Dewi yang tidak nyaman dalam tidurnya, Kevin pun memperbaiki letak tidur Dewi.
Ia menidurkan Dewi di sofa dengan kepala Dewi segaja ia letakkan di pahanya, jadi ia bekerja sambil menahan kepala Dewi, ia sangat suka dengan posisi ini, ia lebih puas memandang wajah cantik dengan sambil bekerja. wajah cantik Dewi yang mampu membuat hatinya tergoncang tak karuan, wajah cantik Dewi yang bisa mengobrak-abrik hatinya bersamaan dengan pikirannya.
Tak menunggu lama pekerjaan Kevin telah selesai, efek karna ada Dewi disisinya yang membuat dirinya semangat bekerja atau karna mengejar waktu mengingat beberapa hari kedepan mereka akan terbang ke luar negeri untuk menemui orang tua Kevin, lebih tepatnya ibu Kevin.
"wah ada yang sedang di mabut asmara nih, sampai kerja pun nempel-nempel trus"ucap Icha masuk keruangan Kevin.
"maaf tuan saya sudah coba menghalangi, tapi wanita ini memaksa masuk"ucap sekretaris Kevin.
"wanita itu wanita, nama saya Icha, i-c-h-a"ucap Icha mengejan namanya.
Kesal
Itu lah yang dirasakan Icha saat ini, jika duluh ketika kuliah di Indonesia dan ia berkunjung kekantor kevin ia akan disambut seperti nyonya besar dan dilayani juga seperti nyonya besar dan semua itu atas permintaan kevin sendiri, berbeda dengan sekarang mendengar sekretaris itu tidak lagi menyebut namanya melainkan dengan sebutan "wanita itu" membuat Icha membuat seperti orang asing di kantor itu, apakah Kevin secepat itu melupakannya..? mengingat duluh Kevin sangat bucin akut kepadanya. Padahal jika melihat situasi yang terjadi sekarang memang benarnya nyata kalau Icha sudh menjadi orang asing dalam kehidupan Kevin.
"kamu boleh keluar"ucap Kevin memelankan suaranya karna takut Dewi terbangun.
"astaga nenek lampir ini lagi"batin Kevin setelah beberapa saat terdiam.
"mau gapain kesini..?"ucap kevin dingin sambil tangan mengelus lembut rambut Dewi yang tertidur di pangkuannya.
"ohhh gini istri yang kamu cari, sampai-sampai menganggu suaminya bekerja, benar-benar istri ngk punya hati"ucap Icha segaja meninggikan suaranya.
Dan Yap mendengar suara yang cukup menganggu tidur membuat Dewi langsung membuka matanya.
"sudh bangun syang"ucap Kevin lembut sambil mengangkat kepala Dewi dari pangkuannya.
"maaf aku jadi tertidur, pasti kamu terganggu kerjanya kan..?"ucap Dewi tak enak hati karna menganggu kerjaan Kevin, meskipun kevin sendiri yang meminta dirinya tetap dikantor itu,
"ngk papa, kalau ada kamu disni membuat aku semangat bekerja lagi, nih buktinya pekerjaan ku sudh selesai"ucap Kevin mengelus lembut pipi Dewi, "nih minum dulu, supaya segar tenggorokan nya"
__ADS_1
"maksih"ucap Dewi belum menyadari keberadaan Icha yang menatapnya dengan tatapan tajam.
"woi aku masih ada disini."teriak Icha kesal sambil memukul meja kerja Kevin.