
"suster"teriak Devan sambil menopang tubuh kevin.
Para suster langsung berlarian untuk mengangkat tubuh Kevin supaya di periksa.
"ngimna keadaannya dok"ucap Devan berdiri disamping brankas kevin.
"dia hanya kelelahan dok, mungkin beberapa hari ini dia memforsir tubuhnya, mungkin sebentar lagi dia akan sadar"ucap dokter yang juga tau bahwa Devan berprofesi sebagai dokter bedanya mereka hanya instansi saja.
"Vin, Vin, kamu sebenarnya sudh jatuh cinta sama Dewi, tapi sikap egois membuat kamu susah sendiri"guman Devan menatap Kevin yang terbaring lemah.
Tak lama setelah itu Kevin pun membuka matanya, yang pertama ia cari adalah nama Dewi.
"Dewi mana..?"tanya Kevin sambil menyesuaikan cahaya.
"dia masih Kristis"ucap Devan.
"apakah dia akan bangun..?"tanya Kevin dengan bodohnya.
"pasti bangun, tapi belum tau waktunya kapan,karna orang yang selesai operasi langsung kristis membutuhkan waktu yang cukup lama supaya sadar"ucap Devan menjelaskan.
"apakah kamu jatuh cinta sama Dewi..?"ucap Devan menebak.
"ngk"ucap Kevin cepat.
"tapi sepertinya cara kamu mengkhawatirkan nya kamu seperti jatuh cinta sama dia, kamu seperti seorang suami yang mengkhawatirkan istri tercintanya"ucap Devan lagi.
"aku tidak pernah jatuh cinta sama dia, aku hanya kasihan sama dia karna tidak ada yang merawat dia disini"ucap Kevin dengan egonya.
"kasihan sampai kamu pingsang..?, dan kalau pun kamu kasihan sama dia aku juga kasihan sama dia, dan tidak menutup kemungkinan aku sendiri yang merawat Dewi"ucap Devan memancing kevin supaya dia jujur dengan perasaannya.
"jangan pernah kamu sentuh Dewi, aku suaminya otomatis aku khawatir sama dia, dan bukan berarti aku jatuh cinta sama dia, dia tidak ada apa-apanya dengan Icha"ucap Kevin menatap tajam Devan.
"nyatanya Dewi tidak menganggap kamu suaminya,"
"Icha situkang selingkuh kamu banggakan, kalian pacaran sampai bertahun-tahun tapinya nyatanya di berselingkuh"ucap Devan mengejek Kevin.
"harusnya disinilah nasip paling miris, diselingkuhi pacar dan di selingkuhi istri, jadi syaa harap kamu baik-baik sama Dewi takut dia bakal meninggalkan kamu di saat lagi sayang-sayangnya"ucap Devan lagi.
Sedangkan Kevin hanya diam mencerna ucapan Devan, Yap dia sadari dihubungin ini nasipnya yang paling buruk, diselingkuhin pacar dan istri.
"bantu aku melihat keadaan Dewi"ucap Kevin mengalihkan topik pembicaraan lalu mencoba turun dari brankas sedangkan Devan langsung sigap membantu Kevin.
Kevin dan Devan langsung bersebelahan keruangan Dewi yang ternyata dibatasi beberpa ruangan saja.
__ADS_1
"bagaimana keadaan Dewi dok"ucap Kevin yang kebetulan salah satu dokter baru saja keluar dari ruangan Dewi.
"belm ada ke majuan pak, dan kalau pun ada kemajuan sangat lambat sekali"ucap dokter.
"boleh saya melihatnya dok"ucap Kevin.
"bisa, tapi jangan lupa memakai baju medis dan bisa saja anda mengajaknya bicara meskipun dia tidak merespon tapi dia bisa mendengar"ucap sang dokter sedangkan Kevin hanya mengangguk lalu masuk ruangan Dewi, sebelumnya Kevin memakai baju medis.
Ketika masuk ke dalam ruangan itu Kevin melihat sosok wanita terbaring lemah dan keadaan muka Pucak pasif, dengan berbagai alat medis yang menempel di beberapa bagian tubuh.
Kevin berjalan mendekatinya dengan kaki gemetar dan ketika semakin dekat tangan menyentuh tangan Dewi dengan bergetar juga.
Tanpa sadar air matanya jatuh begitu saja, wanita saat duluh selalu adu mulut dengan kini terbaring lemah, wanita yang duluh selalu membantah ucapannya kini terbaring lemah dan semua itu karna ulahnya, karna ulah memperlakukan Dewi dengan tidak wajar.
"wi"ucap Kevin dengan suara bergetar.
"maaf"ucap Kevin, dan lagi-lagi cuma kata sederhana itu yang keluar dari mulutnya, kata yang hanya di berikan kepada dewi.
"bangun wi, jangan kayak gini, ini semua ngk lucu, aku mohon"ucap Kevin mengelus pipi Dewi dengan lembut.
"aku kangen berdebat smaa kamu, bahkan aku kangen melihat wajah galakmu"ucap Kevin memandang wajah Dewi.
"wi aku tau kamu wanita yang kuat, wanita yang tidak mengenal lelah dan aku yakin kamu bisa melewati semua ini, aku mohon wi bangun, kamu jangan terlalu lama tidur"ucap Kevin sambil mengelus wajah Dewi.
Lama berbicara sendiri akhirnya Kevin diam dengan sendiri, ia memandang wajah pucat dewi dengan sangat lama, bahkan ia tidak mengalihkan pandangannya dari wajah Dewi, terlalu lama menatap Dewi, mata kevin menangkap sebuah air mata keluar dari pelupuk mata Dewi.
"bahkan di saat sekarat pun kamu masih bisa menangis wi, apa maksud dari semua ini wi"ucap Kevin menahan air matanya sambil menyatukan jidat mereka.
lama memandang wajah Dewi akhirnya kevin memutuskan untuk keluar dari ruangan itu, sebelum ia keluar lebih duluh ia mencium kening Dewi dengan sangat dalam dan penuh kehangatan.
"aku pergi duluh aku janji bakal sering datang, dan kamu harus janji jika aku kembali lagi kamu sudah harus sembuh"bisik Kevin di telinga Dewi sambil menghapus air mata Dewi yang terus keluar, Air matanya seakan meminta
Kevin supaya pergi meninggalkan ruangan itu.
"jangan nangis lagi, nanti cantiknya hilang"ucap Kevin menghapus air mata Dewi.
Sebelum benar-benar keluar Kevin lebih duluh mencium kedua mata Dewi secara bergantian.
"ngimana.."tanya Devan ketika melihat Kevin keluar sedangkan Kevin hanya mengeleng pertanda keadaan Dewi sangat memprihatikan.
Tanpa menjawab pertanyaan Devan Kevin langsung bersandar ke tembok tak lama setelah itu tubuhnya melorot dengan sendirinya.
"yang sabar bro, tetap berdoa semua sudh Tuhan atur, aku harap setelah ini kamu tidak menyiksa Dewi lagi, kalau kamu memng tidak mencintai lepaskan dia, udh saatnya di bahagia"ucap Devan menasihati Kevin.
__ADS_1
"aku memang tidak mencintai Dewi, tapi sampai kapan pun aku tidak akan melepaskan Dewi dan aku harap kamu tidak memberitahukan kepada Rangga jika suatu saat dia mencari Dewi"ucap Kevin dingin dan langsung meninggalkan rumah sakit itu.
Kevin langsung melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, sesekali ia memukul stir mobilnya ketika mengingat kata-kata Devan yang menyuruhnya melepaskan Dewi, entah apa yang terjadi dengan hatinya, intinya dia tidak rela jika Dewi bersama laki-laki lain termasuk Rangga yang sudh lama mengenal Dewi.
"sampai kapan pun aku tidak akan melepaskan Dewi apapun yang terjadi"guman Kevin.
Hampir satu jam ia mengendarai mobilnya mengelilingi kota tanpa tujuan tertentu, saat ini Kevin benar-benar pusing, jika mulutnya mengatakan kalau dia tidak mencintai Dewi tapi lain dengan hatinya, ia benar-benar mempertahankan egonya.
"siapkan ruangan disebelah rawat inap Dewi buat saya, selama Dewi dirawat selama itu juga syaa akan menginap dirumah sakit, dan pastikan Rangga atau siapapun tau tentang keberadaan Dewi"ucap Kevin lewat sambung telepon seperti biasanya ia langsung mematikan sambung telepon secara sepihak.
Kevin memutuskan pergi kekantor, dan ternyata diruangan sudh ada Icha yang menunggunya, sejenak ia menangkap wajah Icha dengan muka masam dan ia paham kalau saat ini Icha masuk dalam mode marah.
"apa maksudnya ini..?"ucap Icha langsung melempar bebrapa lembar foto ke hadapan Kevin.
"maksudnya ngimna..?"ucap Kevin pura-pura ngk tau
"ngk usah bagala bodoh Kevin, maksudnya kamu gendong perempuan lain dikampus apa ahh"ucap Icha marah.
"aku hanya menolong buka bermaksud lain"ucap Kevin dingin.
"tapi kenapa harus kamu, kan masih banyak pria dikampus yang bisa menolongin dia"ucap Icha.
"yang pingsang istri aku jadi wajar dong aku menolong dia"batin Kevin tersenyum licik.
"Kevin jawab aku, ngapain kamu senyam senyum begitu"ucap Icha kesal.
"udah lah, itu hanya hal sepele tidak perlu di permasalahkan, bukan kah sebagai manusia kita harus saling tolong menolong"ucap Kevin mulai sibuk dengan dokumen dihadapannya.
"buat kamu itu sepele tapi tidak buat aku, kamu pernah ngk sih mikirin perasaan aku, kamu berubah Vin, kamu dingin Vin, kamu ngk perhatian lagi sama aku seperti duluh"ucap Icha mulai menangis.
"aku salah apa Vin"ucap Icha lagi.
"salah kamu adalah berhianat dibelakang aku selama ini, bertahun-tahun kita menjalin hubungan bertahun-tahun juga kamu menghianati aku, jadi buat apa kita berhubungan selama ini Icha"batin Kevin berteriak ingin rasanya ia membongkar penghianat Icha selama ini.
"Kevin kamu dengar aku ngk sih"ucap Icha kesal
"sejak kapan kamu mematai-matai aku, apakah pekerjaan hanya mematai-matai saja sekrng, atau mungkin selama ini kamu sudh membuntuti aku." ucap Kevin menatap tajam Icha
"cah aku lagi pusing, aku lagi banyak masalah kalau kamu mancing emosi aku silakan keluar dari sini"ucap Kevin dingin.
"kamu ngusir aku Vin..?"tanya Icha tak percaya.
"iyh, masih ingat kan dimna pintu keluar, dan masih ingat kan dimana jalan keluar dari perusahaan ini"ucap Kevin dingin.
__ADS_1
Lalu ia berdiri dari kursi kebesarannya menuju kamar pribadi meninggalkan Icha yang diam mematung.
Kepala Kevin saat ini benar-benar panas, saking panasnya seperti ingin meledak rasanya, pikiran saat ini benar-benar di penuhi wajah Dewi dan Dewi lagi, entah apa yang dilakukan Dewi selama ini sehingga pikirannya selalu dihantui dewi.