
Seperti jadwalnya yang cukup padat hari ini, mungkin Dewi akan kuliah hingga menjelang sore, mengingat dia mengambil semester atas.
Karna jam kuliah masih sedikit lama maka Dewi memutuskan untuk ke kantin, sekedar mengisi perut yang kosong.
Keadaan kantin cukup sepi, karna mahasiswa kelas pagi sudah bubar semua, sekarang sisa mahasiswa kelas siang saja, itu pun mereka sedang masuk kelas.
Sehingga mahasiswa di kantin hanya beberapa saja yang berlalu lalang.
Sambil menunggu pesanan datang, Dewi bermain ponsel, hanya sekedar melihat-lihat berita yang cukup viral dikalangan anak mudah.
"Dewi Sartika Gabriela Adijaya istri dari Kevin Mahendra seorang pengusaha sukses dan termasuk mahasiswa tertampan dikampus ini"ucap seorang wanita yang sudah berdiri didepan meja Dewi.
"cukup menarik dengan status mu yang sekarang sangat di sayangi dan di cintai suami, kalau mengingat kebelakang dulu kamu hanya seorang budak dan seorang istri yang tidak di inginkan "ucap Icha menatap sinis Dewi.
Yap wanita yang menghampiri Dewi adalah Icha, mantan kekasih Kevin yang cukup lama mengisi kehidupan Kevin kalau pun mereka sempat berpacaran jarak jauh.
"kamu..?gapain kesini..?anak mahasiswa sini juga.?"ucap Dewi menatap Icha cukup terkejut, pasalnya sejak dimana Rangga ingin menikahi dirinya secara paksa sejak itulah terakhir mereka bertemu, beruntung Kevin tidak mengetahui dalang penculikan dirinya ada Icha yang bekerjasama dengan Rangga.
Karna ketika Kevin membatalkan pernikahannya Icha berhasil kabur sehingga Kevin tidak melihat Icha ada di lokasi itu.
"kenapa..?kami terkejut melihat ku disini..?lama kita tidak bertemu, bagaimana kabarmu..?"ucap Icha menatap sinis Dewi.
"seperti yang kamu lihat, yang pastinya aku lebih baik dari yang kamu pikirkan"ucap Dewi masih berusaha untuk terlihat tenang.
"silakan duduk, apakah kamu tidak lelah berdiri disitu..?kalau kamu tidak mau iyh sudah! syaa rasa masih banyak meja kosong kan disini..?kebetulan kantin sedang sepi"ucap Dewi menatap Icha.
"tidak perlu basa basi, aku kesini hanya untuk memperlihat ini"ucap Icha sambil melemparkan sebuah benda kecil yang dapat Dewi pastikan itu adalah sebuah tespek, tak lupa ia juga melemparkan beberapa copyan usg kehadapan Dewi.
"kamu dpaat dari mana alat ini..?apakah pekerjaan mu sekarang menjadi tukang pengumpul tespek"ucap Dewi berusaha setenang dan sedingin mungkin.
"kamu ngk usah balaga bodoh, kita sama-sama wanita dan kamu sudah menikah, yang pastinya kamu tau apa arti dari alat itu"ucap Icha kesal menatap Dewi.
"anak SD pun tau ini alat apa, ini alat tes kehamilan, yang menjadi pertanyaannya apa hubungannya alat ini dengan saya.?"ucap Dewi, dengan harapan apa yang sedang ia pikirkan tidak benar-benar terjadi.
"kamu benar-benar tidak tau maksud saya memberikan alat itu kepadamu..?atau kamu belum siap menerima kenyataan yang ada..?"ucap Icha "ayolah mana Dewi yang katanya seorang mahasiswa cerdas itu"
__ADS_1
"langsung pada intinya, tidak usah berbelit-belit"ucap Dewi sambil memejamkan matanya.
"perlu aku ingatkan kembali, aku bukan istri yang tidak diharapkan Kevin, buktinya Kevin menikahi secara hukum dan agama, dia meminta aku baik-baik kepada orang tuaku"ucap Dewi lagi
"aku sedang hamil anaknya Kevin, jadi tolong segera tinggalkan Kevin buat aku, kami akan segera menikah"ucap Icha langsung kepada intinya tidak menghiraukan ucapan Dewi.
Duarr
Seperti disambar petir disiang bolong dibawah teriknya sinar matahari, itulah yang Dewi rasakan saat ini, secara garis besarnya ia bingung harus ekspresi seperti apa yang ia tunjukkan.
Di satu sisi ia tidak mau terlihat lemah dihadapan Icha tapi di sisi lain tidak ada alasan baginya untuk tidak bersedih ketika mendengar pernyataan Icha.
Bingung, marah, sedih dan kecewa datang secara bersamaan dan keadaan itu menyerang secara bersamaan.
"lalu..?apa hubungannya dengan ku..?itu anaknya Kevin bukan...?kenapa kamu datang melapor kepadaku..?tidak mungkin aku harus bertanggung jawab terhadap anak itu..?"ucap Dewi sambil menahan air matanya.
"tentu ini anaknya Kevin, dan aku juga tidak sudi jika kau bertanggung jawab, aku hanya mengingatkan kembali kepadamu, tinggalkan kevin, karna Kevin akan segera menikahi ku"ucap Icha penuh percaya diri.
"Kevin yang mau menikahimu atau kamu yang ingin menikahi Kevin..?"ucap Dewi.
Pertanyaan yang sangat menjebak sekali, dan memang benar adanya, bukan Kevin yang ingin menikahi icha, tapi dia yang begitu obsesinya ingin menikahi Kevin dengan embel-embel mengandung benih dari Kevin.
"aku tidak mengalihkan pembicaraan, aku hanya bertanya sja kenapa kamu menjadi sekesal itu..?ada yang salah dengan pertanyaan ku..?apa susahnya tinggal menjawab saja"ucap Dewi cukup puas dengan wajah kesalnya icha.
"saya tidak peduli, kembali ke inti, tinggalkan Kevin dan biarkan kami menikah, karna benih dari kevin sedang aku kandung, tidak ada alasan buat Kevin untuk menolak permintaan ku"ucap Icha.
"sampai kapan pun aku tidak bisa meninggalkan Kevin, kalau kamu hamil anak dari Kevin aku tidak masalah, tidak akan merubah apapun, aku bersedia menjadi ibu sambung dari anak itu"ucap Dewi.
"jangan pernh bermimpi untuk menjadi ibu sambung dari anakku, paham kamu"ucap Icha tersulut emosi.
"aku tidak bermimpi, cuma kalau di minta untuk menjadi ibu sambung dari anakmu aku bersedia lahir dan batin, aku akan menyayangi anakmu seperti anak kandungku, lagian anak itu adalah darah daging suami ku bukan..?"ucap Dewi tersenyum tipis.
Karna kehabisan kata-kata Icha langsung meninggalkan tempat itu, ia semakin kesal dan dongkol dengan respon yang Dewi tunjukkan, tidak seperti yang dia harapkan, ternyata melawan Dewi berdebat cukup sulit, Dewi terlalu pandai dalam mempermainkan kata-kata.
tes
__ADS_1
tes
Seperginya Icha tak bisa ditahan lagi air mata Dewi terjatuh begitu saja, ia ingin menangis sekencang mungkin, tapi ia mencoba menahan supaya anak-anak di kantin tidak ada yang tau.
Ia menidurkan kepalanya di atas meja, ia menangis dalam diam, menangis dalam diam menumpahkan semua air matanya yang sudah ditahan sejak tadi.
Nyata ia tak sekuat ketika berdebat dengan Icha, jika mulut berkata menerima bayi dalam kandungan Icha dan bersedia menjadi ibu sambungnya, tapi berbeda dengan hatinya yang menolak keras bayi dalam kandungan Icha.
Istri mana yang sanggup merawat anak dari mantan kekasih suaminya sekalipun itu darah daging suaminya sendiri.
Ia tidak curiga jika Icha mengatakan itu adalah darah dagingnya Kevin, karna mengingat diawal pernikahan Icha dan kevin pernh tinggal satu atap, mungkin saja mereka melakukan hal tak senonoh, itulah sebabnya mengapa Dewi tidak mempertanyakan hal itu kepada Icha.
Fakta yang sangat menyakitkan yang Dewi ketahui sekarang ini, ia tak menyangka kalau Icha bakal hamil darah daging Kevin, tidak pernh terbayang dalam kehidupannya akan menerima fakta sesakit ini.
Ia lebih baik menerima pukulan Kevin setiap hari dari pada harus menerima fakta yang mengatakan Kevin menghamili mantan kekasihnya sendiri, karna pada kenyataannya setiap orang lebih baik di pukul dari pada harus dihina dan direndahkan.
Ia bingung harus bersikap seperti apa terhadap Kevin, setelah ia memberikan semua kepada Kevin, setelah hatinya hancur berkeping-keping karna Rangga, tapi ketika ia mencoba menata hatinya kembali untuk menerima Kevin, tapi ia harus kembali menelan rasa kecewa untuk kesekian kalinya.
Secara perlahan disatu sisi ia sudah mulai memiliki perasaan terhadap Kevin, tapi setelah mendengar fakta sekarang, ia menjadi ragu untuk melanjutkan perasaan terhadap Kevin, tapi untuk sekarang kecewa dan benci yang ia rasakan ketika melihat kevin.
"kamu jahat Vin, setelah aku mempercayakan semua hidupku kepadamu, tapi kamu malah mengecewakanku untuk kesekian kalinya, kamu tidak ada bedanya dengan Rangga"batin Dewi sambil menangis berteriak dalam hatinya.
Saking tenggelam dalam tangisnya Dewi tidak menyadari jika kondisi kantin sudah ramai, tak terasa ia sudah hampir satu jam menangis dalam diam sambil menidurkan kepalanya di atas meja.
Menyadari kondisi kantin sudah ramai, Dewi memutuskan untuk keluar dari kantin, padahal pesanannya sudah datang, tapi ia tidak menyentuh itu sedikit pun, meskipun perutnya sudah keroncong tapi mulutnya menolak untuk menelan makanannya.
Ia keluar dari kantin, tapi sebelum meninggalkan mejanya ia terlebih dahulu menyelipkan uang seratus ribu untuk membayar pesanannya.
Ketika di pintu masuk kantin Dewi berpapasan dengan Kevin dan teman-temannya.
"ehh Dewi mau kemana, buru-buru amat"ucap Remon menghentikan langkah Dewi.
"aku mau ada kelas, permisi"ucap Dewi dingin dengan suara serak seperti menahan tangis , ia segaja mengalihkan pandangannya ke arah lain supaya tidak bertemu pandang dengan Kevin.
"kan masih istirahat, emng kamu sudah selesai makan"ucap Ryo.
__ADS_1
"m"ucap Dewi, cuma satu huruf sederhana yang keluar dari mulut Dewi.
sedangkan Kevin yang melihat kondisi dan gelagat Dewi, dapat ia simpulkan bahwa kondisi Dewi sedang tidak baik-baik saja