
"sayang sudah tak sakit lagi kan..?"tanya Kevin khawatir.
"tidak sesakit yang tadi, ini sudah lebih baik"cicit Dewi.
"terimaksih karna kau masih mau bertahan kami, maaf kalau aku belum bisa menjaga kalian dengan baik"ucap Kevin sambil mengelus rambut Dewi.
"kami..? kalian..?"cicit Dewi bingung.
"oo iyh, aku punya kabar gembira sayang"ucap Kevin setelah menyadari kebingungan Dewi.
"apa itu sepertinya menarik"ucap Dewi.
"coba tebak"ucap Kevin.
"kau menang tender..?atau nilai mu bagus..?atau gara-gara bunda smaa nenek kembali ketanah air"ucap Dewi menebak.
"tidak semua syaang"ucap Kevin terkekeh.
"trus apa..?aku baru sadar jangan kau paksa untuk berpikir keras duluh, otakku belum on nih"ucap Dewi kesal.
"maaf sayang, baiklah aku akan kasih tau kabar gembiranya"ucap Kevin.
"apa..?"tanya Dewi antusias.
"sebentar lagi kamu akan menjadi seorang ibu sayang"ucap Kevin sambil mengelus pipi Dewi.
"maksudmu seorang ibu apanya..?"tanya Dewi bingung.
"kamu hamil sayang, di dalam sini ada kecubung aku yang sedang berkembang"ucap Kevin.
1 detik
2 detik
3 detik
"aku hamil..?kamu sedang tidak berbohong kan Vin..?"ucap Dewi terkejut setelah menyadari ucapan Kevin.
"ngk syang, kamu memang benar hamil, untung anak kita tidak terluka karena tusukan itu"ucap Kevin.
"aku hamil..?kita akan punya anak Vin..?"ucap Dewi menangis.
Ia tak menyangka kalau ia bakal hamil secepat ini, bahkan sejujurnya disetiap doanya tidak pernh terucap sedikit pun supaya segera memiliki keturunan.
Tapi Tuhan itu baik, dibalik kejadian yang ia alami selama ini, ternyata Tuhan langsung mempercayai dirinya memiliki keturunan.
"kamu bahagia sayang..?"ucap Kevin lembut.
"banget, aku sangat bahagia sekali, akhirnya aku jadi seorang ibu"ucap Dewi menangis.
"selamat iyh, sebentar lagi akan ada memanggil kamu mama dan aku ayah, aku sungguh tidak sabar untuk bertemu anak kita"ucap Kevin "jangan nangis lagi sayang, nanti dede bayi nya ikutan nangis".
"sorry, aku terlalu bahagia"ucap Dewi.
"tidak mengapa, tapi aku berharap ini terakhir kalinya kau menangis, tersenyumlah terus syaang, karna senyummu adalah duniaku"ucap Kevin mencium kening Dewi dengan lembut.
__ADS_1
"ank ayah, terimakasih sayang karna kau telah membantu mama sembuh kembali"ucap Kevin lalu mencium perut rata Dewi.
"kau mau apa sayang..?mau minum atau mau makan"ucap Kevin sedikit mencairkan suasana haru.
"minum boleh"ucap Dewi sambil menghapus sisa airnya matanya.
Kevin langsung mengambil Dewi air minum yang tersedia di meja kecil samping tempat tidur Dewi, tak lupa ia memberikan sedotan supaya memudahkan Dewi minum tanpa bangun dari tidur.
Sedangkan bunda Devi dan nenek sari hanya memandang haru keluarga kecil anak semata wayang, mereka tidak menyangka kalau rumah tangga Kevin dan Dewi akan berjalan sejuah ini.
"sudah sampai disini duluh mesra-mesraannya, Vin kita makan duluh yuk, ini sudah hampir siang"ucap bunda Devi.
"baik bund"ucap Kevin menurut.
"kamu lapar syang..?"ucap Kevin lembut.
"banget, tapi tidak mungkin aku makan nasi, kan belum bisa Vin"ucap Dewi lirih.
Benar saja, ketika bangun dari tidurnya yang Dewi rasakan lapar, bagaimana tidak, sebelum kejadian penusukan itu Dewi hanya makan sedikit saja.
"bunda, apakah menu pagi ini tidak ada yang bisa dimakan sama Dewi..?katanya dia lapar bund"ucap kevin menatap Devi yang sedang mempersiapkan makanan diatas meja.
"ngk ada nak, tapi bunda minta pelayan untuk mengantarkan bubur, jus buah sama jus sayur, mungkin sebentar lagi akan segera sampai"ucap bunda Devi.
"kamu bisa tahan kan..?anak ayah tidak kelaparan di dalam perut mamanya kan..?"ucap Kevin menatap Dewi.
"bukan anaknya yang kelaparan, tapi mamanya"ucap Dewi.
"sabar iyh sayang, bentar lagi mungkin pelayan akan sampai"ucap Kevin.
"baiklah, untuk sebentar disini aku makan sebentar sja"ucap Kevin seakan engga untuk meninggalkan Dewi, padahal jarak meja sofaa dengan ranjang Dewi hanya dua sampai tiga keramik saja.
"iyh, kayak kamu pergi jauh aja sih, sana gih, bunda smaa nenek sudah nungguin tuh"ucap Dewi terkekeh geli.
"syang kami duluan makan iyh, sabarlah sebentar, pelayan akan segera sampai"ucap bunda Devi.
"iyh bund"ucap Dewi lembut.
Dan benar saja, setelah selesai makan pas banget seorang pelayan baru sampai diruangan Dewi mengantarkan makanan buat Dewi.
Padahal pihak rumah sakit sudah menyiapkan sarapan bubur buat Dewi, tapi lidah Dewi benar-benar tidak cocok dengan bubur itu, karna hanya nasi tok dengan air putih segelas.
Kevin langsung menyuapi buburnya kepada Dewi, tak lupa selesai makan, Kevin memberikan Dewi jus buah yang dibawah oleh pelayan.
Selesai makan wajah Dewi sedikit bertenaga, tidak selemah sewaktu pertama kali ia membuka mata.
"sepuluh menit lagi minum obat iyh sayang"ucap Kevin sambil membersihkan bibir Dewi mengunakan jari jempolnya Sedangkan Dewi hanya mengangguk.
"luka masih sakit syang..?"ucap Kevin.
"kalau sering berbicara suka berdenyut tiba-tiba"ucap Dewi.
"sabar iyh, beberapa hari kedepan lukamu pasti langsung kering kok"ucap Kevin yakin, karna ia sudah meminta kepada dokter supaya memberikan obat yang paling ampuh kepada Dewi, supaya luka si calon ibu itu cepat sembuh.
Setelah selsai meminum obat, mungkin karna pengaruh obatnya, tak menunggu beberapa lama Dewi kembali tertidur, cara satu-satunya yang bisa ia lakukan supaya tidak merasakan sakit dari lukanya yaitu hanya tidur saja.
__ADS_1
"bunda, nenek, Dewi sudah tidur, Kevin mau keluar sebentar cari kopi, Kevin titip Dewi iyh"ucap Kevin sambil mengambil ponselnya yang ada di atas meja.
"iyh, pergi saja, biar bunda smaa nenek yang menjaga Dewi"ucap Devi menatap anak semata wayangnya.
"kalian ada titipan mungkin, biar sekali Kevin beli nanti"ucap Kevin sebelum meninggalkan ruangan itu.
"rujak di seberang rumah sakit sepertinya enak vin, tadi nenek lihat masih pagi sudah banyak aja orang yang antri, tolong belikan lah sama nenek, nenek ingin mencoba rujak Indonesia"ucap sari.
"baiklah nek, nanti Kevin belikan"ucap Kevin.
"kalau begitu Kevin permisi duluh"ucap Kevin lalu pergi meninggalkan ruangan Dewi.
Kevin pergi ke salah satu cafe di seberang rumah sakit yang menyediakan beberapa jenis kopi, kebiasaan Kevin yang selalu minum kopi di pagi hari sebelum berangkat kerja, jadi ketika tidak minum kopi seperti ada yang kurang rasanya, apalagi mengingat ia cukup mengantuk karna satu malaman ini ia tidak ada tidur sedikit pun.
"kalau Dewi yang buatkan pasti rasanya tidak sehambar ini"guman Kevin, karna merasa kopi yang ia pesan tidak seperti kopi yang Dewi bikin buat dirinya.
"ehh Kevin, kamu disini juga..?jauhnya kamu ngopi sampai kesini"ucap Icha sambil duduk di samping Kevin tanpa permisi.
"mmm"guman Kevin dingin.
"kenpa kamu segitu dingin kepada ku, apakah karna istri kesayangan mu itu sudah meninggalkan kamu..?aku dan anak kita siap menerima kamu"ucap Icha.
"bukan urusanmu"ucap Kevin dingin.
"akhirnya iyh, Dewi meninggalkan kamu, ternyata dia sadar diri juga, kalau dia tidak pantas menjadi nyonya Mahendra"ucap Icha dengan begitu yakinnya.
"mba billnya"ucap Kevin malas, ia cukup muat mendengarkan omong kosong Icha.
"Vin mau kemana, baru juga aku sampai disini, masak kamu langsung pergi sih"ucap Icha menahan lengan Kevin.
"mau kemana aku bukan urusanmu"ucap Kevin menghempaskan tangan Icha.
"Kevin tungguh duluh, hari ini aku ada janji USG loh, kamu mau ngk temani aku lihat calon anak kita"ucap Icha kembali menahan lengan Kevin.
"Icha manusia setelah gila, Lo dengan gue baik-baik nih, gue ngk mau mengulangi kalimat yang sama"ucap Kevin kes
"yang pertama, kalau Lo mau USG, USG sendiri saja karna itu bukan anakku, yang kedua stop merasa kalau kita masih punya hubungan, yang ketiga gue memang bakal jadi seorang ayah tapi bukan dari kamu melainkan dari Dewi dan yang keempat Dewi tidak pernh pergi meninggalkan aku, karna dia sudah tau kalau anak itu bukan dan gue, dan yang kelima, Lo mau nunggu anak Lo lahir baru Lo menyerahkan kepala Lo ke hadapan gue atau Lo mau membawa anak mati bersama"ucap Kevin panjang lebar.
"Lo masih ingatkan perjanjian kita, kalau ank itu bukan darah daging gue, Lo bersedia memberikan nyawa Lo sama gue"ucap kevin tersenyum licik.
"maksud Lo apa Vin, sudah jelas-jelas ini anak kamu, darah daging kamu"ucap Icha menatap Kevin tajam.
"nanti gue kirim hasil tes DNA ke almat Lo, Lo masih tinggal di apartemen gue kan..?ngk papa Lo tinggal disana aja sepuas Lo, gratis, karna wanita iblis dan murahan seperti Lo sukanya yang gratis-gratis kan..? keperawanan Lo aja gratis kok"ucap Kevin tersenyum sini.
"sejak kapan Lo melakukan Tes DNA, kok gue ngk tau"ucap Icha terkejut, selama ini ia tidak mau ambil pusing, karna ia pikir Kevin tidak serius dengan ucapannya yang ingin melakukan tes DNA.
"apakah masih perlu gue jelaskan siapa Kevin Mahendra itu, Lo tau kan gue ngk suka ngulur-ngulur waktu dan gue ngk suka bekerja lambat"ucap Kevin dengan nada dingin.
"gue bisa saja melaporkan Lo ke polisi atas pencemaran nama baik, tapi gue ngk mau Lo di penjara, karna gue mau kepala Lo sampai di depan pintu mansion gue"ucap Kevin.
"dan gue mau Lo sendiri yang mengantar kepala Lo ke hadapan gue, jadi mulai sekarang Lo pikirin bagaimana cara supaya lo sendiri yang mengantar itu kehadapan gue"ucap Kevin yang membuat wajah Icha pucat bak mayat.
"Lo salah tempat kalau mau berurusan dengan ku, lagian kalau Lo mau main-main denganku bisa melalui Dafa sja, karna ia lebih kejam dariku"ucap Kevin lagi.
"kalau Lo mau, gue bisa membantu Lo mencari ayah biologis dari anak Lo, walaupun anak Lo sudah banyak campuran gue bakal tetap usahakan kok"ucap Kevin lalu meninggalkan cafe itu, membiarkan Icha diam mematung.
__ADS_1
"kenapa ak bisa sampai ke colongan seperti ini, bahkan aku tidak tau kalau kevin telah melakukan tes DNA, tapi bagaimana caranya Kevin melakukan tes DNA secepat itu"guman Icha menatap punggung Kevin.