
Disini lah Kevin sekarang di sebuah club terkenal yang ada di kota itu, datang ke club sepagi ini membuat penjaga club menatap heran pasalnya mereka mau tutup karna club itu hanya beroperasi mulai sore sampai subuh saja tapi tiba-tiba saja Kevin datang dan memesan ruangan VIP.
Gapain pria itu datang ke sepagi ini ke club..?memang para karyawan club tidak mengenal Kevin karna pada dasarnya pun Kevin tidak pernh menginjakkan kakinya di club mereka, tapi berbeda dengan menejer club dia sangat mengenal Kevin, siapa yang tidak mengenal Kevin seorang pria mudah tampan dan merupakan pebisnis handal namanya yang di takuti dan disegani di dunia bisnis.
"ada yang bisa saya bantu tuan?"
"saya ingin memesan ruang VIP sekarang, dan antarkan minuman yang ada di club ini"
"baik tuan, mari syaa antarkan"
Menuntun Kevin keruangan VIP yang ada di club itu.
Saat ini Kevin berada di ruangan VIP disnaa sudh tersaji berbagai minuman keras yang mengandung alkohol, ruangan itu segaja di buat gelap seperti dunia Kevin saat ini yang gelap karna Dewi yang meminta cerai darinya.
"aku tidak akan melepaskan mu Dewi..?"ucap Kevin sambil terus meminum alkohol itu.
meskipun minuman yang Kevin minum saat ini sangat terasa asing di mulutnya tapi ia tetap melanjutkan minumnya sampai benar-benar puas.
"kamu hanya milik ku dan akan tetap menjadi milikku sampai kapan pun"ucap Kevin terus menambah porsi minumnya.
aaaaaaaaaa
teriak Kevin frustrasi sambil melemparkan botol air minum ke tembok hingga pecah berkeping-keping.
wajah cantik Dewi terlintas begitu saja di pikirannya ketika meminta cerai darinya, wajah yang tidak mempunyai beban ketika meminta cerai darinya, ekspresi wajah itu terlintas dibenaknya ketika meminta cerai darinya.
Segitu tidak ada kesempatan baginya untuk hidup bersama dengan Dewi..?segitu tidak bisanya mereka mulai dari awal lagi..?soalnya penyakit..!! Kevin bisa menerima Dewi dengan segala kekurangannya, Kevin bisa menjaga dan merawat Dewi nantinya, Kevin akan melakukan segala cara untuk membuat Dewi nyaman di sampingnya sehingga bisa membuat Dewi secara perlahan bisa melupakan penyakitnya.
Tapi apa..?apa yang ia dapat, Dewi begitu keras kepalanya minta cerai darinya, Dewi begitu mudahnya minta supaya ia melepaskannya, Tidak...itu tidak akan terjadi apa pun yang terjadi.
"kamu hanya milik"
"aku tidak akan melepaskanmu apapun yang terjadi"
"kita akan hidup bersama, memulai dari awal dan membentuk keluarga kecil kita" racau Kevin yang sudh mabuk berat baru minum sedikit saja Kevin sudh mabuk berat.
"dewiiiiiiiiiii"
teriak Kevin lagi-lagi melemparkan botol minum ke tembok, dan hal itu dapat di pastikan menambah kerjaan pihak club saja.
####
Sedangkan Dewi dirumah sakit hanya bisa diam saja, melamun sambil menangis dalam diam, mau tidur pun matanya tidak bisa terpejam pikiran selalu berkelana kemana-mana, tadinya perutnya terasa lapar dan haus, tapi setelah mengetahui fakta penyakit itu rasa lapar dan haus itu hilang begitu saja entah kemana, bahkan makanan yang di sediakan pihak rumah sakit tidak tersentuh sedikit pun.
Sejenak Dewi memikirkan keberadaan Kevin, entah kemana perginya pria itu, tadinya dia keluar dari ruangan itu dengan keadaan marah, dalam hati kecilnya terdapat sebuah kekhawatiran takut-takut Kevin akan melakukan sesuatu hal yang bisa menyakiti dirinya.
"nyonya sejak tadi pagi anda belm makan, mohon maaf sedikit saja guna membantu perkembangan kesehatan anda"ucap suster yang mengontrol perkembangan Dewi.
"saya tidak lapar sus"ucap Dewi lemah.
__ADS_1
"terus jika anda tidak makan bagaimana anda bisa meminum obat, dan bagaimana anda bisa sembuh nanti"ucap suster mencoba memberi pemahaman kepada Dewi.
"entahlah sus, saya sudh lelah, boleh bantu sya keluar dari ruangan ini, saya ingin menghirup udara segar"ucap Dewi mengalihkan pembicaraan.
"baik nyonya mari saya bantu"ucap suster mengambilkan Dewi kursi roda dan membantu Dewi duduk disana.
"kita kemana nyonya, biar saya bantu dorong"
"kita ke taman aja sus, saya ingin cuci mata duluh"
Akhirnya suster pun mengantar Dewi ke sebuah taman, untuk sepagi ini kondisi taman sudh ramai karna banyak pasien yang berada disana hanya sekedar menghirup udara segar.
"suster tolong antarkan saya di bawah itu saja,"ucap Dewi menunjukkan kesebuah pohon rindang yang ada di taman itu.
"baik nyonya"ucap suster langsung mendorong kursi roda Dewi kearah pohon yang di maksud oleh Dewi.
"tinggalkan saya sendiri sus, nanti ada keluarga yang membantu syaa kembali ke ruangan"ucap Dewi sedangkan suster hanya mengangguk dan langsung berjalan meninggalkan Dewi dibawah pohon itu.
Disinilah Dewi dibawah pohon rindang yang ada ditaman itu, ia menatap lurus kedepan, menatap setiap kegiatan pasien yang ada di taman itu, untuk sebagian besar pasien ada yang bercanda ria dengan anggota keluarga atau mungkin bersama dengan parah sahabat, dan tak kalah banyak yang sama sepertinya yang termenung menyendiri.
"ngk baik melamun dibawah pohon seperti itu, apalagi ini masih pagi"ucap seseorang membuyarkan lamunan Dewi.
"aku tidak melamun hanya berpikir saja"jawab Dewi tanpa menata lawan bicaranya.
"yang awalnya hanya berpikir hingga pada akhirnya tenggelam dalam lamunan"
Sedangkan Dewi hanya mengangkat bahu tidak mau ambil pusing atas ucapan orang tersebut.
"tau apa kamu tentang otakku..?"
"dari raut wajahmu sudh ketauan kalau kamu sedang banyak masalah, so ceritalah siapa tau aku bisa bantu"
"biarlah masalahku busuk dengan sendirinya, biarlah masalahnya hanya aku saja yang tau"ucap sendiri engga menceritakan masalhnya kepada orang lain.
"so ngk papa, semua punya privasi, tapi satu hal yang harus kamu tau, masalah atau pun penyakit itu jangan pernh di sesali, dan jika kamu dalam keadaan sakit hadapin penyakit itu, kalahkan penyakit itu buktikan kepada mereka bahwa wanita yang penyakitan ini bisa hidup normal seperti pada umunya"
"dan jika kamu sedang dalam masalah, hadapi saja lawan masalah itu, jangan kamu biarkan masalah itu mengendalikan dirimu, tapi kamu harus bisa mengendalikan masalah itu, menyelesaikan masalah tanpa banyak gerak. Hidup terus berjalan, orang hanya tau kita dari luar tapi orang tidak tau ngimna kita di dalam, berusaha untuk selalu terlihat baik-baik saja di depan orang lain, terkadang hidup dalam ke pura-puraan sangat penting"ucap pria itu lagi.
Tak terasa sudh hampir menjelang siang Dewi dan sosok pria itu duduk dibawah pohon itu, bertukar cerita bahkan dalam hitungan jm mereka bisa akrab.
"jadi kamu sudh menikah, dan sedang kuliah juga di universitas xxxx"
"seperti yang kamu katakan"
"terus dimana suami mu, bukan kah seharusnya dia menemani disini"
"suamiku sedang kekantor, karna dia sudah lama meninggalkan urusan kantor demi menjaga ku, dan mungkin sebentar lagi asistennya akan datang"ucap Dewi entah kenapa omongannya sangat tepat sasaran ketika Kevin sudh meninggalkan kantor terlalu lama.
"wah sepertinya suami seorang pebisnis sukses, jadi penasaran ingin melihatnya"
__ADS_1
"jangan suamiku sangat tampan, aku takut nanti kamu malah tertarik dan merebutnya dariku"ucap Dewi bercanda.
"aku masih normal"
"iyh aku tau"jawab Dewi.
"permisi nona bercanda sudh selesai, dan sudah waktunya makan siang, mari syaa bantu kembali keruang"ucap Daffa yang kebetulan di tugaskan Kevin untuk memantau keadaan Dewi.
"wah ini asisten pribadi suami mu..?"
"iyh dia asisten suamiku, kalau begitu aku pamit keruangan duluh, senang berbagi cerita denganmu"ucap Dewi.
Daffa langsung membatu mendorong kursi roda Dewi, karna kebetulan Dewi juga sedikit kesulitan ketika hendak memajukan rodanya.
"apakah Kevin di kantor kak..?"tanya Dewi penasaran.
"tuan Kevin tidak ada di kantor nona, mungkin dia sedang ada urusan di luar kantor, syaa hanya di perintahkan mengurus semua keperluan nona"ucap Daffa yang memang tidak tau entah kemana batang hidung tuannya sendiri.
"apakah aku bisa secepat keluar dari sini kak"ucap Dewi lagi
"besok sore anda sudah pasti keluar dari rumah sakit, makaya anda harus istirahat yang cukup"ucap Daffa sambil mendorong kursi roda Dewi, sedangkan Dewi hanya mengangguk.
Ketika melewati lorong rumah sakit, tiba-tiba saja mata dewi menangkap sosok pria yang sangat ia kenali, tapi yang menjadi pertanyaan dia sedang bersama seorang wanita, dan siapa wanita itu.
"kak berhenti sebentar"ucap Dewi.
"ada apa nona..?"tanya Daffa sambil menghentikan dorongannya.
Sedangkan Dewi tidak menghiraukan ucapannya Daffa, ia sibuk mengedarkan pandangan mencari sosok yang sangat ia kenali.
ia yakin bahwa matanya tidak slaah melihat, bahkan ia juga yakin bahwa yang ia lihat adalah sosok yang sangat ia kenali, matanya masih sehat tidak rabun jauh atau dekat itu sebabnya ia yakin bahwa ia tidak slaah lihat.
"lagi cari apa nona..?"tanya Daffa mengikuti arah pandangan Dewi
"mataku tidak mungkin salah melihat, tapi gapain dia masuk ke poli orang hamil..?dan siapa wanita yang bersamanya..?"batin Dewi masih mengedarkan pandanganya keseluruhan sudut rumah sakit.
"tapi ngk mungkin dia disini, dia selalu sibuk"batin Dewi membantah pikiran buruknya tentang sosok yang ia lihat.
"nona, apakah semua baik-baik sja"ucap Daffa membuyarkan lamunan Dewi.
"tidak ada apa-apa kak, sepertinya aku slah melihat orang, ayo lanjut aja saya juga ingin segera istirhat"ucap Kevin.
Daffa langsung mendorong kursi roda Dewi melewati lorong rumah sakit itu.
Hingga sampai sore menjelang malam kevin pun tidak menunjukkan batang hidung di rumah sakit, sesekali Dewi selalu menatap kearah pintu.
Bahkan Daffa sendri yang notabennya asistennya sendiri tidak mengetahui di mana Kevin berada, tiba-tiba rasa khawatir mulai terlintas dibenaknya, untuk pertama kalinya ia merasa khawatir dengan keberadaan Kevin dan rasa khawatir itu muncul begitu saja.
"kemana Kevin..?"batin Dewi.
__ADS_1
Tak mau ambil pusing dan tau mau juga larut dalam pemikirannya tentang keberadaan Kevin akhirnya Dewi memutuskan untuk memejamkan matanya, walaupun sangat susah sekali tapi ia berusaha semaksimal mungkin.