
"sayang tumben main ke kantor, ada apa hm"ucap Kevin menatap lembut Dewi.
"kita makan siang di luar yuk, kebetulan aku ngk ada jam kuliah hari ini"ucap Dewi.
"mm boleh, tapi aku selesaikan pekerjaan ku duluh, tinggal dikit lagi"ucap Kevin sambil berdiri dari samping Dewi.
"ets tungguh duluh, kamu ngk jadi pecat resepsionis yang tadi kan.?"ucap Dewi menahan tangan kevin.
"jadi, dia harus di pecat dari kantor ini, dia sudah berendahkan mu syang, aku tidak terima siapa pun yang merendahkan istriku"ucap Kevin dingin.
Cukup ia sjaa duluh yang menyakiti Dewi, cukup yang duluh yang menghina dan merendahkan Dewi. Untuk sekarang sampai selama-lamanya ia tidak akan membiarkan siapa pun yang menyakiti Dewi.
"ngk boleh begitu Vin, lagian dia sudah minta maaf kepadamu, wajarlah dia bersikap seperti itu lagian dia kan masih baru bekerja disini, belum mengenal aku siapa"ucap Dewi mencoba memberikan pemahaman kepada Kevin.
"tetap aja syang, apapun alasannya dia sudah merendahkan mu, bahkan dia mengatakan kalau kau menjual dirimu disini"ucap Kevin.
"Vin cobalah mengerti kamu tidak boleh seperti itu, bagaimana kalau dia tulang punggung keluarga yang menghidupi keluarganya dan lebih parah lagi bagaimana kalau dia yatim piatu"ucap Dewi.
"itu sama aja kau merampas haknya kalau kau sampai memecat nya Vin"ucap Dewi.
"tidak bisa sayang perusahaan ini tidak butuh karyawan sampah seperti dia, keputusan sudah bulat, aku tetap akan mengeluarkan dia dari perusahaan ini, tidak boleh yang membantah termasuk istriku sendiri"ucap Kevin sambil berjaln menuju kursi kebesarannya.
Yang begitulah Kevin, jika sudah membuat keputusan tidak ada yang bisa menganggu gugat itu termasuk istrinya sendiri, karna pada dasarnya Kevin sudah memikirkannya dengan matang-matang ketika hendak mengambil keputusan, itulah sebabnya ia yakin kalau ia tidak pernh salah dalam mengambil keputusan.
"ayolah by, pikirkan orang-orang disekitar mu, kasihan dia, sepertinya dia sangat membutuhkan pekerjaan ini"ucap Dewi berjalan menuju meja kevin.
"aku harus memikirkan orang-orang di sekitarku dengan mengorbankan harga diri istri mu sendiri begitu...?aku memikirkan orang lain dengan membiarkan istriku direndahkan di depan umum ngituh..?ucap Kevin sambil tangan mengotak-atik komputer yang ada dihadapannya.
"iyh ngk seperti itu juga Vin, tapi ada baiknya kita juga harus memikirkan orang lain, ayo lah Vin kurangi keras kepalamu itu"ucap Dewi menatap Kevin.
"ok aku akan menuruti semua kemauan kamu asal kamu tidak mengeluarkan resepsionis itu dari kantor ini, kasihan dia Vin, aku juga pernh bekerja, jadi aku tau ngimna rasanya kalau dikeluarkan dari tempat kerja"ucap Dewi.
"really..?"ucap Kevin menghentikan pekerjaannya seketika otaknya fokus ke ucapan Dewi diawal kalimat.
"iyh aku akan menuruti semua keinginanku asal kamu tidak mengeluarkan dia"ucap Dewi.
__ADS_1
"termasuk hak ku sebagai suami"ucap Kevin menatap intens Dewi.
Sedangkan Dewi langsung terdiam sesaat setelah mendengar permintaan Kevin yang pertama, ia terjebak dalam omongannya sendiri, ia tidak habis pikir kalau Kevin akan meminta hal itu.
"keluarkan surat pemecatan untuk resepsionis.."
"iyh, termasuk memberikan hak mu, aku akan menuruti semua keinginanmu tanpa terkecuali, aku siap memberikan hakmu"ucap Dewi memotong ucapan Kevin sambil merebut ponsel dan menekan tombol merah untuk mengakhiri panggilan.
"kamu serius syang..?kamu akan memberikan hak ku sebagai suamimu..?Jangan kamu memberikannya karna peduli terhadap orang lain"ucap Kevin sambil berjalan mendekati Dewi.
"aku serius, dan ini bukan karna orang lain"ucap Dewi menutupi kegugupannya.
Saatnya ia membuang sikap egoisnya dengan memberikan haknya Kevin, ia juga kasihan melihat Kevin karna sering menahan hasrat kalau sedang berdekatan dengannya.
"baiklah aku akan menangih hak ku malam ini, dan aku akan memberikan kesempatan kedua buat resepsionis itu, apakah kamu siap memberikan hak ku..?"ucap Kevin.
"iyh aku siap lahir dan batin"ucap Dewi.
"makasih, akhirnya yang ku tunggu-tunggu selama ini kau kasih juga"ucap Kevin sambil menarik Dewi ke dalam dekapannya.
Hampir setengah tahun mereka membangun rumah tangga dan hampir setengah tahun juga kevin bersabar menunggu Dewi memberikan haknya.
"atau sekarang kita langsung ke hotel aja"ucap Kevin menggoda Dewi.
"aku lapar, ayo kita makan"ucap Dewi mengalihkan percakapan, kalau tidak begitu Kevin akan semakin gencar untuk menggoda dirinya.
"jangan karna aku meminta hak ku kau menjadikannya beban syaang, kalau kamu memang belum siap untuk hal itu, aku tidak akan memaksa kamu, aku akan terus bersabar menunggunya"ucap Kevin karna ia tau Dewi mengalihkan pembahasan.
"aku tidak menjadikannya beban Vin, lagian kamu itu suami ku, dan itu merupakan hak mu memintanya kepada mu, dan kamu itu suamiku sudah sewajarnya aku melayani kamu"ucap Dewi, karna pada kenyataannya itu tidak dia jadikan sebagai beban, karna sampai kapan pun ia menghindar hal itu pasti akan terjadi.
"maksih iyh, kamu sudah mau menerima aku kembali setelah apa yang aku perbuat kepadamu, maafkan aku yang duluh karna pernh menyakiti mu, aku sungguh-sungguh minta maaf sayang"ucap Kevin kembali menarik Dewi kedalam dekapannya.
"iyh sama-sama, semua orang pernh melakukan kesalahan, dan tidak sewajarnya kita mengingat itu, sekarang kita berjaln kedepan membangun rumah tangga yang kokoh supaya tidak ada yang menumbangkan"ucap Dewi.
"baiklah ibu negara, sekarang kita makan yuk"ucap kevin.
__ADS_1
"ayo, aku juga sudah lapar, berdebat smaa kamu ternyata membutuhkan asupan yang cukup banyak"ucap Dewi terkekeh geli.
Mengingat perdebatan mereka beberapa saat yang lalu, yang ngimna mereka sama-sama keras kepala dalam berdebat, tidak ada yang mau mengalah, seakan mereka maju kedepan dari arah yang berlawanan dan bertubruk di tengah-tengah, lucu sekalinya rasanya.
"kamu mau makan diluar aja atau makan disini, nanti aku suruh Daffa yang memesan, dan ingat kalau kita makan siang berdua tidak ada Daffa diantara kita"ucap Kevin yang sudah tau isinya kepala Dewi klau sudah mendengar nama Daffa, apalagi saat ini mereka sedang mau makan siang.
Sedangkan setiap paginya aja ketika Daffa menjemput dia, Dewi selalu memaksa Daffa untuk sarapan duluh dari rumah, alhasil mereka sering sarapan bertiga dimeja makan sehingga Kevin tidak bisa bermanja-manja kepada Dewi.
"nanti kamu bukannya perhatian smaa aku malah lebih perhatian sama Daffa, dikasih ikan ini lah, disuruh nambah nasihlah, dituangkan susu lah, sangat menyebalkan sekalinya "omel Kevin, pasalnya kalau ada Daffa di antara mereka maka Kevin akan berperan layaknya seorang ayah yang mengawasi anak perempuannya ketika berpacaran.
"iyh ngk ada Daffa diantara kita, kita makan di cafe seberang kantor saja, sepertinya disnaa makanannya enak-enak"ucap Dewi tanpa menghiraukan omelan Kevin.
"baiklah kita berangkat sekarang yuk, lagian sudah waktunya juga makan siang"ucap Kevin sambil memeluk pinggang Dewi menuntun Dewi berjalan menuju keluar dari ruangan.
Akhirnya Dewi dan Kevin berjalan menuju lobby, Kevin memeluk pinggang Dewi posesif dan tak melepaskannya smaa sekali, ia ingin menunjukkan kepada karyawannya kalau wanita yang disampingnya adalah wanitanya.
"bentar, aku ke meja resepsionis duluh"ucap Dewi melepaskan tangan Kevin dari pinggangnya.
"siang nyonya, ada yang bisa saya bantu"ucap resepsionis menatap Dewi.
"tidak ada, kamu tidak jadi di pecat, aku sudah membicarakannya kepada suamiku"ucap Dewi.
"terimakasih kasih nyonya, maaf sekali lagi karna tadi telah bersikap tidak sopan kepada nyonya"
"santai aja, lain kali jangan bersikap seperti itu lagi iyh, kalau kamu berulah lagi aku tidak bisa membujuk suamiku lagi, berkarierlah tanpa menjatuhkan harga diri orang lain"ucap Dewi sedangkan resepsionis hanya mengangguk.
"ini kesempatan kedua dan terakhir buat kamu, kalau kamu bertingkah lagi aku pastikan tidak ada perusahaan yang menerima kamu bekerja, termasuk tokoh-tokoh sekali pun"ucap Kevin menatap dingin resepsionis.
"Ayo syang, kita makan sekarang"ucap Kevin tanpa memberikan kesempatan resepsionis untuk berbicara.
"ahhh iyh, maaf kan suami saya, beban begitu nadanya berbicara kepada orang, semoga kalian betah bekerja disini dengan sarapan suara dingin suaminya sya"ucap Dewi terkekeh geli melihat wajah resepsionis yang pucat sekali.
"syang, mau jalan sendiri atau mau aku gendong"teriak Kevin yang sudah berjaln duluan dan menyadari kalau Dewi tidak ada disamping.
"iyh iyh, doa apa yang ku panjatkan dimasa lalu sehingga mendapat suami seperti dia nih, galak amat sama istri sendiri, ngk membedakan mana istri yang mana lawan bisnis, heran dinginnya kalau berbicara"gerutu Dewi sambil berjalan mengejar Kevin yang sudah berada di pintu keluar kantor.
__ADS_1
Sedangkan para karyawan yang mendengar gerutuan Dewi hanya bisa tersenyum, pertama kalinya ada seorang perempuan yang berani menggerutu si pemilik perusahaan ini.
"nih pakai jas ku duluh, diluar panas nanti kau hitam"ucap Kevin sambil memakai kan Dewi jasnya, bukan hanya sekedar cuaca panas, ia juga tidak mau lengan mulus Dewi menjadi bahan tontonan nantinya, mengingat Dewi hanya memakai dres tanpa lengan.