Pernikahan Puncak Balas Dendamku

Pernikahan Puncak Balas Dendamku
bab 138


__ADS_3

"yang sabar iyh ci, semua akan baik-baik saja, aku yakin kamu wanita yang kuat kok"ucap Dewi mencoba menyemangati suci.


Sedangkan suci hanya tersenyum tipis sangat tipis sekali, bahkan Kevin maupun Dewi tidak menyadari senyuman itu.


Sungguh sampai saat ini ia belum bisa menerima kenyataan bahwa anak yang beberapa bulan ini di nanti-nantikan telah meninggalkan dirinya untuk selamanya.


Jika dihadapan orang-orang suci memang sudah baik-baik saja, bahkan dari raut wajahnya suci sudah bisa menerima kepergian anaknya. Tapi tidak dengan hatinya, hatinya sungguh tidak bisa dibohongi, berat sekali rasanya jika diminta mengiklaskan anaknya secepat itu.


"trus hubunganmu sama Rangga bagaimana..?apakah kalian sudah menikah..?"ucap Kevin dengan hati-hati takut menyinggung perasaan suci.


"Rangga memintaku untuk menikah dengannya dalam waktu dekat, tapi entahlah, sejak Rangga menyetujui dilakukannya tes DNA itu aku sudah tidak rispek lagi sama dia, kukira dia akan memperjuangan kami ditengah-tengah keluarganya yang tidak menerima anakku, dia tidak perluh memperjuangkan aku, setidaknya dia memperjuangkan anak dalam kandunganku, tapi aku salah, bahkan dia dengan mudahnya menyetujui hal itu"ucap suci benar-benar putus asa, Kevin yang mendengar keluhan suci langsung terdiam, jujur ia sangat kecewa dengan tindakan Rangga, padahal ia melepaskan Rangga supaya ia bisa menjaga dan melindungi suci dan kandungannya, lebih tepatnya bertanggung jawab atas kandungan suci.


"bukanya kau cinta mati smaa Rangga..?kalian bisa memulai dari awal ci, satu hal yang harus kau ingat, dengan keadaan kamu yang seperti itu sangat jarang laki-laki menerima kamu apa adanya"ucap Dewi.


"ngk usah naif ci, sebagian besar laki-laki akan mendekati seorang perempuan karna masih bisa menjaga mahkotanya, bohong jika seorang laki-laki mengatakan menerima seorang perempuan apa adanya"ucap Dewi lagi.


"jika laki-laki menghamili seorang perempuan di luar nikah tidak ada masalah ci, tapi jika perempuan hamil di luar nikah maka beda lagi ceritanya, tidak heran jika singel peren pandang sebelah mata, kamu tau kan maksud aku".


Sungguh Dewi sangat menyayangkan sikap suci yang tidak bisa menjaga kesucian, apalagi ia memberikan kesucian itu kepada Rangga yang notabennya pacarnya pada saat itu.


"aku butuh waktu wi untuk membentuk hati yang sudah sangat hancur, lagian aku pikir jika aku memberikan mahkota kepada Rangga maka akan memudahkanku untuk mendapat dia"ucap suci menyadari kebodohannya selama ini.


Hanya karna kata cinta ia rela memberikan mahkota kepada Rangga dan menghasilkan janin dari hubungan mereka.


Tapi benar kata orang, yang awal niatnya tidak baik maka hasilnya kedepan juga tidak akan baik juga, ternyata karma itu benar-benar nyata.


Sedangkan Kevin hanya diam saja mendengar dua wanita dihadapannya, ia tidak habis pikir dengan jalan pikirnya Rangga yang notabennya seorang dokter bisa melakukan tes DNA pada bayi dalam kandungan, padahal di tau pasti seperti apa resikonya pada ibu hamil dan juga anaknya.


Jika memang Rangga sadar bahwa dia laki-laki pertama yang menyentuh suci sudah dapat dipastikan sembilan puluh persen maka anak dalam kandungan suci adalah anaknya, apalagi suci hanya berhubungan badan dengan Rangga saja.


Rangga adalah laki-laki bodoh yang tega membunuh darah dagingnya saja lewat tes DNA. Untung ketika ia melakukan tes DNA dengan Icha tidak membahayakan janin dalam kandungannya, meskipun janin itu tidak darah dagingnya tetap sjaa ia akan merasa bersalah jika sampai kandungan Icha bermasalah.


"sayang minum obat duluh, ini sudah waktunya"ucap Kevin menghentikan sesi curhat antara Dewi dan suci.


"kamu minum obat wi..?kamu sakit apa..?"ucap suci.


"aku ngk sakit kok, cuma satu minggu yang lalu aku baru kena tusuk di bagian perut, jadi aku dirawat dirumah sakit, ini baru keluar dari rumah sakit"ucap Dewi sambil menerima beberapa obat pil dari tangan Dewi.

__ADS_1


"kok bisa..?siapa yang melakukannya..?"tanya suci khawatir "tapi kamu sudah tidak apa-apa kan.?"


"biasalah wi, kita tidak pernh tau kapan musibah itu datang, lagian aku sudah baik-baik aja kok makaya aku sudah bisa keluar dari rumah sakit"ucap Dewi.


Mereka melanjutkan obrolan mereka, lebih tepatnya Dewi dan suci yang berbicara sedangkan Kevin hanya diam saja sambil bermain ponsel. Sungguh menemani perempuan bergosip riah tidak ada habisnya, Dewi dan suci benar-benar lupa waktu.


"sayang pulang yuk, ini sudah hampir sore tau, kasihan janin dalam kandungan kamu butuh istirahat juga"ucap Kevin yang sudah berada di titik paling jenuh.


"janin..?kamu hamil wi..?"celetuk suci.


"Alhamdulillah ci, aku dipercayakan untuk menjadi seorang ibu, aku hamil"ucap Dewi.


"selamat iyh wi, kamu jaga kandunganmu dengan baik, jangan sampai musibah yang aku alami terjadi smaa kamu wi, cukup aku saja yang merasakan sakitnya kehilangan"ucap suci sambil memeluk Dewi.


"maksih iyh ci, kamu juga harus semangat, anakmu akan sedih diatas sana jika mamanya tidak memiliki semangat hidup, mulailah hidupmu demi membahagiakan anak di atas sana"ucap Dewi sambil mengelus punggung suci.


Sedangkan suci hanya mengangguk sambil melepaskan pelukannya.


"kalau begitu kami pulang duluh iyh, kamu pulang pakai apa..?atau sekalian kamu ikut kita aja"ucap Dewi menatap Kevin.


"tidak usah wi, aku tunggu Rangga sjaa disini, mungkin dia sebentar lagi akan kembali"ucap suci menolak halus tawaran Dewi, karna ia tau bahwa Rangga sedang menunggunya di parkiran, ia juga tau kalau Rangga tidak menemui pasien, Rangga hanya menghindari pertemuan dengan Dewi saja karna Rangga belum bisa melupakan Dewi sepenuhnya walaupun awalnya Rangga memacari Dewi dengan tujuan yang salah.


"kebaikan apa yang perbuat duluh wi, sehingga hidup Lo sebahagia sekarang, punya suami penyayang ditambah lagi kamu sedang mengandung, bahagia terus kamu Dewi"batin suci menatap kepergian Dewi dan


Kevin yang semakin jauh dari pandangannya.


#####


"Vin, mobil Dinda sama ayah kenpa ada disini..?"ucap Dewi ketika melihat dua mobil yang sangat ia kenali terparkir sempurna di halaman Mension mereka.


"mungkin mereka ingin menyambut kedatangan kamu dari rumah sakit syang, yuk kita masuk, nenek smaa bunda sudah menunggu di dalam"ucap Kevin membantu Dewi turun dari mobil.


"emng mereka tau klau aku dirawat dirumah sakit..?tapi kenapa mereka tidak pernah menjenguk aku..?maksudnya apa...?"ucap Dewi menghentikan pergerakan Kevin ttang hendak meraih jemari Dewi.


Ahh iyh, hampir satu minggu Dewi di rumah sakit Kevin melupakan satu hal penting dimana Herman telah mendonorkan darahnya untuk menyelamatkan Dewi, tapi sampai sekarang ia belum memberikan tahu hal itu kepada Dewi.


Dan ia bingung mau menceritakan kepada Dewi mulai dari mana, ia terlalu fokus merawat Dewi sampai melupakan hal sepele tapi sangat penting.

__ADS_1


"Vin kenapa kamu diam..?ada yang kamu sembunyikan dari aku Vin..?"ucap Dewi menatap intens Kevin.


"daf kamu masuk duluan, jika mereka bertanya tentang kami pintar-pintar mu saja menjawab seperti apa, aku ingin berbicara empat mata kepada Dewi duluh"ucap Kevin tidak menghiraukan pertanyaan Dewi, ia menatap Daffa yang berdiri mematung di samping mobil


"baik tuan"ucap Daffa


"uhhh berbohong lagi aku ini"gerutu Daffa dalam hati.


"ngk usah menggerutu begitu, berbohong demi kebaikan tidak masalah, nanti bonusmu aku naikkan"ucap Kevin.


"tau aja dia kalau aku sedang memakinya dalam hati"guman Daffa sambil berjalan meninggalkan garasi.


"masuk mobil duluh yuk, aku ceritakan di mobil saja"ucap kevin membuka pintu mobil dan menuntun Dewi masuk.


"ayo jelaskan"ucap Dewi tak sabaran.


"ayahmu telah mendonorkan darahnya kepadamu"ucap Kevin singkat padat dan jelas.


"aahhhh"beo Dewi bingung.


"pas kamu tertusuk dan kehilangan banyak darah ayahmu datang dan mendonorkan darahnya kepadamu"ucap Kevin menjelaskan kembali.


"dan kamu baru memberitahu aku sekarang, dan setelah hampir satu minggu aku dirawat dirumah sakit, kamu bisa merahasiakan hal sebesar ini"ucap Dewi dengan muka garang.


"bukan begitu maksudku syaang, aku tidak kepikiran akan hal itu saking terlalu fokus merawat kamu, makaya aku baru memberikan sekarang"ucap Kevin sambil memengang tangan Dewi.


"dan aku tidak bermaksud untuk merahasiakan darimu, aku hanya lupa sayang maaf aku"ucap Kevin memasang wajah malasnya.


"sama aja"celetuk Dewi ketus.


"beda sayang, dari segi tulisan saja itu sudah beda"ucap Kevin kembali membuka perdebatan kepada Dewi.


"kamu ngk marah kan..?"ucap Kevin pelan.


"tadinya mau marah, tapi waktunya belum pas, satu bulan kedepan ngk dapat jatah"ketus Dewi lalu turun dari mobil.


"ehh syang jangan ngituh dong, maaf kan aku"rengek Kevin menahan Dewi, tapi naas Dewi sudah keluar terlebih dahulu.

__ADS_1


"satu minggu aja ngk dapat jatah aku sudah hampir gila, ngimna mau sampai satu bulan"guman Kevin sambil menyusul Dewi ke dalam rumah.


__ADS_2