Pernikahan Puncak Balas Dendamku

Pernikahan Puncak Balas Dendamku
104


__ADS_3

Seperti perintah Kevin sebelumnya, kini Rangga sudah berada dilahan lebih tepatnya dibelakang markas Kevin, dia diawasi oleh Daffa sebagai tangan kanan Kevin.


"kalian gila, menyuruh aku menggalih disini, apakah tuan kalian sudah kekurangan uang untuk menyewa penggalih"teriak Rangga karna ia di paksa untuk menggalih beberapa meter tanah.


"maaf tuan, kami hanya mengikuti perintah tuan Kevin saja, tuan Kevin ingin anda yang mengalih kuburan kuburan buat anda"ucap Daffa.


"kalau boleh, segeralah kerjakan tuan, kami tidak punya banyak waktu mengawasi anda"ucap Daffa sambil memberikan cangkul ke hadapan Rangga.


"sampai kapan pun, aku tidak sudi menggalih kuburan ku disini, aku belum mau mati"ucap Rangga.


"Anda tidak akan mati, mungkin tuan Kevin akan mengubur anda hidup-hidup"ucap Daffa kesal karna sejak tadi Rangga belum memulai pekerjaannya, padahal mereka sudah hampir tiga jam disana.


konyol sih.


Bagi seorang Rangga ini sangat konyol, ia pikir Kevin hanya mengancamnya saja ketika mengatakan kalau dia sendiri yang mengalihkan kuburannya, tapi nyatanya saat ini ia berada tepat dibelakang depan dimana ia akan dikubur hidup.


"kau panggil tuan mu kesini, sampai kapan pun aku tidak akan sudi memengang cangkul ini"ucap Rangga.


"tuan Kevin tidak punya banyak waktu untuk anda, seperti yang ada ketahui, ia masih merawat nona Dewi dirumah sakit dan itu semua gara-gara"ucap Daffa menyindir Rangga "anda menambah pekerjaan kita aja"


"Dewi di rumah sakit..?kenapa bisa..?aku ingin melihatnya"ucap Rangga.


"dasar manusia sampah, masih berani mulut sampahmu menanyakan kenapa Dewi masuk rumah sakit..?punya otak kok kayak sampah"ucap Kevin yang ternyata sejak tadi sudah berada dibelakang Daffa.


Ia sudah bertekad bahwa ia ingin melihat Rangga sendiri yang mengalih kuburannya sendiri.


"apakah kau keberatan untuk menggalih kuburan mu sendiri..?setidaknya disisa hidupmu kau tidak menyusahkan orang lain, disisa hidup kau berkorban untuk diri sendiri, dengan mengalihkan tempat peristirahatan terakhir mu"ucap Kevin sambil berjalan mendekati Kevin.


j


"kau gila..?maksud kamu menyuruh aku mengerjakan ini..?apakah kamu tidak punya ide lagi cara menyiksa yang lebih menantang..?"ucap Rangga senyum mengejek Kevin.


"justru aku akan semakin gila jika kau tetap hidup, dan aku punya seribu satu ide untuk menyiksa orang, tapi aku ingin kau sendiri yang menyiksa dirimu sendiri, aku tidak mau membuat para anak buah ku kelelahan hanya untuk menggalih kuburan untukmu"ucap Kevin.


"menyiksa manusia sampah seperti sangat gampang bagiku, tapi akan lebih menyenangkan jika kau yang menyiksa dirimu sendiri, tanpa mengotori tangan orang-orang ku"ucap Kevin lagi.

__ADS_1


"lepaskan bangs*k, belum puas kalian menyiksa ku sejak kemarin, apa mau kalian..?"teriak Rangga.


"yang pertama jangan pernah berharap kau bisa lepas dari ku, yang kedua, sejak kamu menculik Dewi, sejak saat itu juga aku tidak pernh puas menyiksamu, dan yang ketiga, saya mau kau mati dengan cara baik-baik"ucap Kevin panjang lebar.


"ok saya minta maaf karna saya sudah menculik Dewi, semua itu saya lakukan karna saya mencintai dia, hati saya sudah hampir dua tahun diisi oleh namanya, dan satu hal yang harus kamu tau, sejak pertama kali saya melihat Dewi sejak saat itu juga sya bercita-cita untuk menjadikan Dewi sebagai pendamping hidup gue, tapi Lo datang merusak hubungan kami"ucap Rangga.


"kamu sudah menghianati Dewi, apakah kamu masih punya muka untuk memiliki Dewi..?emng selama ini kamu kasih apa sama Dewi..?apakah kamu pernah kasih dia kemewahan, atau kamu kasih dia mobil, rumah atau apa ngituh"ucap Kevin.


"sorry ternyata Dewi adalah seorang perempuan yang tidak memikirkan harta apalagi kemewahan, dan kamu telah menyesal menghianati Dewi bukan..?ucap Kevin lagi


"lakukan sesuai rencana, pastikan dia yang menggalih kuburannya sendiri"ucap Kevin sambil meninggalkan lahan itu.


"Kevin aku mohon lepaskan aku, aku masih tanggung jawab, suci hamil anak aku"teriak Rangga menghentikan langkah Kevin.


"apa kamu bilang...? tanggung jawab..?tanggung jawab apa yang kamu maksud..?"ucap Kevin menghentikan langkahnya dan berjalan menghampiri Rangga "bahkan setelah kamu menghamili anak gadis orang, kamu ada tanggung jawab ngk..?kamu pernah ngk nanyain kabarnya..?bahkan kamu sendiri belum tau kan apa jenis kelamin anakmu, itu yang kamu katakan tanggung jawab..?"


"kamu tidak perlu khawatir, dan merasa bertanggung jawab, untuk urusan suci dan kandungan biar aku yang ambil alih,kamu mati dengan tenang"ucap Kevin "atau kamu ingin bertemu suci untuk terakhir kalinya..?kalau kamu mau, aku bisa datangkan suci kesini, tapi tidak dengan Dewi"ucap Kevin yang mengetahui pikiran Rangga yang ingin sekali bertemu dengan Dewi.


Sedangkan Rangga hanya terdiam saja, mulutnya seakan tidak bisa lagi merangkai kata-kata, benar, sangat benar sekali, sejak ia mengetahui suci hamil darah dagingnya sejak saat itu ia tidak pernh mengetahui kabar suci.


Terakhir ia bertemu dengan suci ketika ia mengunjungi apartemen suci itu pun karna ia mendengar kabar kalau suci hampir terjatuh dikamar mandi, dan tanpa segaja suci mendengar percakapannya dengan anak buah yang merencanakan pernikahan.


Melihat Rangga yang diam saja, Kevin pun pergi meninggalkan tempat itu, ia ingat kalau Dewi hari ini akan pulang dari rumah sakit dan Daffa pun mengikuti Kevin dari belakang karna ia akan mengantar Kevin dan Dewi menuju rumah.


"aku harus berbuat apa sekarang..?semua sudah hancur, aku tidak bisa mendapatkan Dewi dan aku juga sudah menelantarkan anakku"batin Rangga sambil menatap kepergian Kevin.


"hei, ayo kerjakan lah, tinggal cangkul tanah apanya susahnya sih"ucap bodyguard yang sedari tadi sudah cukup cengah melihat Rangga.


Mau tidak mau, suka tidak suka, akhirnya Rangga pun mengcangkul sedikit demi sedikit lahan itu.


"dari mana aja..? pagi-pagi sudah tidak ada dikamar..?"ucap Dewi yang ternyata baru bangun tidur dan ia tidak mendapati Kevin disampingnya, padahal tadi malam kevin memutuskan untuk naiknya keranjangnya dan tidur memeluk Dewi.


"dari kantin sayang, cari kopi tapi ngk ada"ucap Kevin beralasan.


"tumben kamu ngopi pagi-pagi, biasanya kan ngeteh"ucap Dewi mulai curiga.

__ADS_1


"ngimna mau ngeteh, orang ngk ada yang bautin, kamu tau ngk bebrapa hari ini aku tidak ada minum teh, karna ngk ada yang buatin"ucap Kevin sedikit mengalihkan percakapan.


"kan ada pelayan Vin"ucap Dewi.


"lidahku sudah sangat cocok dengan teh buatan kamu"ucap Kevin menarik gemas hidung mancung Dewi.


"kata dokter kamu bisa pulang Loh hari ini"ucap Kevin mengalihkan percakapan, ia tidak mau Dewi bertanya lebih jauh lagi.


"Alhamdulillah, akhirnya aku bisa keluar dari sini"ucap Dewi bahagia, tanpa sadar ia memeluk erat tubuh Kevin.


"sekarang kita siap-siap yuk"ucap Dewi dengan semangat sambil turun dari ranjang dibantu Kevin.


"mau kemana syang"ucap Kevin tiba-tiba gugup.


"mau ketoilet duluh, habis ini kita langsung pulang saja"ucap Dewi.


"iyah, kita pulang syang, ayo aku bantu ke toiletnya"ucap Kevin sambil menuntun Dewi ke toilet.


Sedangkan Daffa langsung mengurus administrasi dan syarat-syarat kepulangan istri dari tuannya.


#####


Setelah semua dirasa sudah selesai dan Dewi sudah siap, akhirnya mereka berjalan meninggalkan ruangan itu diikuti Daffa dari belakang.


Di mobil hanya ada keheningan, jika Daffa fokus menyetir sedangkan Dewi yang diam saja sesekali ia mengalihkan pandangan ke arah jendela mobil, lain hal dengan Kevin, ia malah sibuk memikirkan Rangga, sejenak ia meragukan keputusannya yang ingin mengubur Rangga, jika dipikir yang masih manusia yang mempunyai sedikit hari nurani.


"Vin"ucap Dewi memecahkan keheningan.


"apa syang"ucap kevin beralih menatap Dewi


"boleh kita mampir ke makam mama aku, cuma sebentar aja kok, ngk sampai sepuluh menit"ucap Dewi, karna ia sudah sangat lama tidak mengunjungi makam almarhum mamanya.


"tentu syang, kita kesana sebelum kembali kerumah"ucap Kevin.


"daf, kita ke TPU *******"ucap Kevin.

__ADS_1


"baik tuan"ucap Daffa sambil mencari-cari jalan tembus menuju TPU yang Kevin minta.


__ADS_2