Pernikahan Puncak Balas Dendamku

Pernikahan Puncak Balas Dendamku
bab 59


__ADS_3

Ketika keluar dari ruangan kerja, kevin sedikit lega karena keadaan kantor saat ini sudh sepi jadi Dewi tidak akan menjadi pusat perhatian, tapi tak jarang juga ada aja karyawan laki-laki yang menatap Dewi dengan tatapan haus.


Kevin langsung menarik tangan Dewi menuju lobby kantor, didepan lobby sudh ada Daffa yang menunggu mereka, melihat tuan dan nona sudh terlihat di lobby Daffa langsung sigap keluar dari mobil dan membuka pintu mobil buat mereka.


Ketika langkah Kevin dan Dewi semakin dekat, sejenak Daffa terkejut sambil muka mengaga melihat penampilan Dewi yang sangat-sangat seksi bukan main, dan Daffa lagi-lagi menelan salivanya dengan kasar melihat penampilan Dewi malam ini.


Daffa membukakan pintu mobil tanpa mengalihkan tatapannya dari Dewi.


"bonus di potong bulan ini"ucap Kevin dingin menyadari tatapan Daffa kepada Dewi yang tidak di alihkan sedikit pun.


Mendengar suara dingin dan mengancam daffa langsung memutuskan tatapannya kepada Dewi.


"kamu udh bosan bekerja sama aku..?"tanya Kevin merangkul Daffa setelah Dewi masuk ke mobilnya.


"lagian Dewi kok pakai baju seperti itu sih..?"ucap Daffa, karna ini sudh di luar kantor hubungan Daffa dan Kevin akan berubah layak seorang teman bukan antara bos dan bawahan.


"itu semua gara-gara kamu, kenapa cuma celana pendek aja yang kamu sediakan diruang ku, sudh ngk ada baju lagi"ucap Kevin kesal menatap tajam Daffa.


"iyh sorry ku kira Dewi ngk bakal ganti baju disini"ucap Daffa tanpa rasa bersalah.


"kamu pulang naik taksi aja, nanti kamu menang banyak lagi kalau lihat Dewi terus"ucap Kevin hendak mengambil alih kemudi.


"astga Vin, teganya kamu, lagi kere nih gaji belum masuk juga"ucap daffa.


"sejak kapan kamu jadi manusia kere, bukannya gaji yang kamu terima besar"ucap Kevin bingung, ia terkejut mendapati asisten pribadinya kere padahal dia sudh memberikan gaji besar belum sama bonus yang Daffa terima tiap bulannya.


"iyh begitu lah"ucap Daffa lesuh.


"makaya jangan suka belanjain cewek, Lo lihat yang bening dikit aja langsung belanjain, langsung ini itu apa segala macamlah"ucap Kevin yang tau kebiasaan buruk Daffa yang sering memberikan uangnya kepada perempuan yang tidak jelas.


"jadi makan ngk sih, aku lapar nih"ucap Dewi dari mobil yang menghentikan perdebatan Daffa dan Kevin.


"kak Daffa ayo masuk, aku udh lapar banget"ucap Dewi menatap Daffa.


"Daffa ngk ikut, dia pulang naik taksi aja"ucap Kevin menatap Dewi.


"ihh kamu ngk boleh begitu smaa asisten pribadi, dia udh kerja satu harian ini menggantikan kamu kesana kesini, manjakanlah dia sekali-kali"ucap Dewi.


"kok kamu jadi perhatian ngituh sama Daffa"ucap Kevin tapi tatapan tajamnya mengarah kepada Daffa.


"bukannya kita sesama manusia harus saling perhatian..?"tanya Dewi.


"tapi sama aku kamu ngk pernh perhatian"ucap Kevin kesal dan langsung masuk ke dalam kamar.


"lah dia kenapa dah"batin Dewi bingung yang melihat Kevin tiba-tiba marah-marah.

__ADS_1


"ayo kak Daffa, jalankan mobilnya, gapain lagi disitu berdiri"ucap Dewi menyuruh Daffa masuk ke dalam mobil.


"baik nona"ucap Daffa langsung masuk ke dalam mobil dan segera menjalankannya.


Sepanjang perjalan menuju restoran hanya ada keheningan, Kevin yang kesal karna Dewi lebih perhatian kepada Daffa dan lebih parahnya lagi Dewi tidak memperdulikan dirinya yang sedang kesal kepadanya, sedangkan Dewi yang hanya memandang kearah jendela entahlah apa yang dipikirkan Dewi saat ini.


Seketika hawa di dalam mobil terasa panas meskipun Daffa sudh segaja meninggikan suhu AC mobil lumayan tinggi tapi tetap saja hawa tetap dingin.


"gini amat menjadi orang ketiga yang tidak di inginkan, hawa nya panas banget, ini kali gambaran hawa di neraka"batin Daffa ketika merasa berada diantara Dewi dan Kevin yang sedang bertengkar.


"sudah sampai tuan"ucap daffa.


Kevin langsung turun tanpa mengajak Dewi atau pun daffa untuk turun bersama dan dengan segaja ia menutup pintu mobil dengan cukup keras.


"kenapa tuanmu..?ucap Dewi bingung melihat sikap Kevin yang berubah-ubah.


"lagi marah"ucap Daffa.


"oo"ucap Dewi hanya ber o ria saja lalu turun dari mobil menyusul Kevin.


"hanya o saja, suami lagi marah dan kesal tanggapan istri hanya o saja, memang pasangan suami istri unit"guman daffa bingung lalu menjalan mobilnya meninggalkan restoran.


Lebih baik ia mencari restoran lain dari pada harus berada di antara Dewi dan kevin, ia sendiri juga bingung melihat perkembangan rumah tangga tuanya, kalau Dewi yang dingin dan cuek sedangkan Kevin yang dingin cuek dan suka marah-marah, kalau dingin ketemu dingin dan cuek ketemu cuek akan seperti apa jadinya pikir Daffa.


Setelah turun dari mobil dan menyusul Kevin sampai di dalam restoran semua mata para lelaki langsung menatap kedatang Dewi yang baru saja mendorong pintu restoran.


Banyak yang menatap Dewi dengan tatapan haus bahkan tak segan-segan mereka menggoda Dewi, Melihat penampilan Dewi malam ini yang dapat dikatakan menggunakan pakaian tidak cukup tertutup tak salah jika hawa di dalam restoran itu berubah menjadi dingin.


"Hay cantik, kenapa sendiri malam-malam gini"


"aku mau menemani malam ini sampai puas cantik"


"aku bersedia memuaskan mu malam ini nona, apa kau minta akan aku layani"


Tanpa mereka sadari sepasang mata menatap mereka-mereka yang berani menggoda Dewi secara terang-terangan dengan tatapan tajam, Melihat Dewi yang di godai banyak pria membuat Kevin ingin rasanya membakar restoran ini sekalian sama pria yang menggoda Dewi.


"maaf tapi saya kesini bukan mencari kepuasan, dan sya kesini tidak sendiri, syaa kesini bersama suami sya"ucap Dewi tersnyum manis kepada pria-pria yang segaja menghentikan langkah Dewi.


"itu suami syaa yang duduk di pojokan sepertinya dia sudh lama menunggu saya"ucap Dewi sambil menunjuk kearah Kevin yang masih menatap mereka dengan tatapan tajam, melihat tatapan tajam dari suami Dewi membuat nyali para lelaki yang menggoda Dewi seketika menciut.


Dewi langsung berjalan menuju dimeja dimnaa Kevin menunggunya sambil memasang senyum manisnya yang memperlihatkan kedua lesung pipinya, dan Kevin paling benci senyum itu ketika Dewi membiarkan pengunjung restoran menikmati senyum indah itu meskipun ada sebagian pengunjung restoran perempuan, ia tidak suka berbagi kepada orang lain, semua yang ada di dalam diri Dewi semua itu miliknya terutama senyuman indah itu.


"ngk usah senyum begitu, Jelek sekali senyum mu"ucap Kevin kesal tapi masih menarik kursi


buat Dewi.

__ADS_1


"mereka aja menerima senyuman dengan baik, bahkan banyak yang membalas senyuman ku"ucap Dewi tidak menyadari kekesalan Kevin.


"mau pesan apa..?"tanya Kevin mengalihkan percakapan.


"samakan aja smaa kamu"ucap Dewi dingin.


"aku mau pesan spageti, kamu kan ngk suka sama spageti"ucap Kevin yang selama ini sudh mencari tau apa saja memakan dan minuman kesukaan Dewi bahkan sebaliknya.


"ngk papa, aku akan mencoba makanan kesukaanmu"ucap Dewi tanpa sadar.


Mendengar hal itu seketika bibir Kevin membentuk sebuah senyuman tipis, setidaknya hubungan mereka sudh ada kemajuan alaupun sangat sedikit kemungkinan.


Kevin langsung memesan makanan buat dirinya smaa Dewi, tak lama setelah itu pesanan mereka langsung datang dan yang bikin Dewi bingung spageti pesanan Kevin hanya satu porsi dengan ukuran jumbo


"yakin kamu bisa menghabiskan mie sebanyak itu..?"ucap Dewi yang sudh ngilu duluan ketika melihat gundukan mie yang ada di hadapan Kevin.


"bukan aku sendiri, tapi kita berdua, jadi sekarang kita makan berdua sjaa dan kamu yang menyuapi aku"ucap Kevin mengeser piring yang berisi mie itu kehadapan Dewi.


"ngk ada kayak ngituh ini tempat umum Vin"ucap Dewi sedikit berbisik.


"siapa bilang ini kamar tidur kita"ucap Kevin masa bodoh "ayo suapi aku sekarang"ucap Kevin lagi.


"kamu kan punya tangan yang masih sehat, kenapa tidak makan sendiri aja"ucap Dewi engga menyuapi Kevin.


"biar aja, biar laki-laki yang menggoda kamu tau kalau kamu sudh memiliki suami"ucap Kevin.


"ayo sudh suapin aku"ucap kevin memaksa Dewi.


"Iyah-iyah"ucap Dewi pasrah dari pada berdebat dengan Dewi nantinya itu akan lebih memalukan dari pada ia harus menyusun Kevin ditempat umum.


Dewi langsung menyuapi kevin tak jarang ia juga menyuapkan kepada drinya menggunakan sendok yang sama dengan Kevin, Melihat Dewi menggunakan sendok yang smaa dengan lagi-lagi di wajah Kevin terukir sebuah senyuman.


"maaf mba suami sya agak manja kalau lagi makan"ucap Dewi karna melihat salah satu pelayan yang datang kemeja mereka mengantarkan minuman


"mohon maaf nona, kalian suami istri..?"ucap pelayan terkejut, "saya pikir kalian masih pacaran"


"kami sudh menikah bebrapa bulan lalu, dan maaf jika kami merusak mata para pengunjung disini"ucap Dewi tersenyum manis.


"ngk papa nona, pantasan suaminya nyaman berada disamping anda, ternyata anda sangat memanjakan nya"ucap pelayan itu sambil tersenyum manis.


"kalau begitu sya permisi, selamat menikmati hidangan kamu dan semoga rumah tangga tuan dan nona selalu bahagia dan harmonis sampai maut memisahkan"ucap sang pelayan lalu meninggalkan meja kevin dan Dewi, jujur saja ia tidak kuat melihat kemesraan Kevin dan Dewi yang makan satu piring berdua bahkan berbagai sendok.


Sedangkan para pengunjung yang melihat Dewi dan Kevin yang saling suap-suapan, lebih tepatnya Dewi lah menyuapi Kevin seperti anak kecil hanya bisa menatap adegan itu dengan tatapan kecewa.


Jika para kaum laki-laki menatap kecewa kepada Dewi karna sudah memilki pawang yang sangat posesif lain hal dengan kaum perempuan yang menatap Dewi dengan tatapan horor, mereka akui dewi memang wanita cantik jadi tak salah jika para pengunjung restoran banyak yang menatap Dewi, tapi bagi mereka Dewi tetap tidak cocok bersanding dengan Kevin.

__ADS_1


__ADS_2