PERNIKAHAN RAHASIA KESEPAKATAN BERSAMA

PERNIKAHAN RAHASIA KESEPAKATAN BERSAMA
Episode 98-Bram Siuman


__ADS_3

Di rumah sakit....


"Bram bangunlah.. ayo bangun, apa kamu gak kangen sama anak-anakmu?? hiks..hiks.. Emil terus nyariin kamu Bram, kasihan dia.. ayo lawan Bram," rengek Felicia menangis sesengukan.


The power of doa sang istri, Bram menunjukkan tanda-tanda siuman, ia menggerakan tangan dan mengeluarkan suara meskipun lirih.


"Fel..fe..li..ci..a" suara Bram memanggil istrinya sangat lirih.


"Oh My God, thank you.. terima kasih atas kebaikanmu, terima kasih sudah menjawab doaku secepat ini.." ucap Felicia terharu dan menyeka air matanya.


"Feli..cia," ucap Bram lirih sambil memegang pipi istrinya.


"Aku disini Bram dan selalu disini, menunggumu hingga sembuh.. terima kasih sudah berjuang, kamu memang yang terbaik Bram," ucap Felicia terharu.


Lalu setelah itu Felicia memanggil dokter untuk memberitahu kondisi Bram. Tak butuh waktu lama kini dokter sudah memeriksa kondisi Bram dan menyatakan bahwa Bram sudah melewati masa kritis.


Bagai mendapat durian runtuh, berita menggembirakan ini datang bertubi-tubi bagi Felicia, sesegera mungkin ia menghubungi kedua keluarganya dengan sangat antusias.


"Bram.." ucap Felicia menggengam tangan suaminya.


"Iya Fel.. aku ingin bertemu anak-anak," ucap Bram lirih dan membalas genggaman Felicia.


"Sebentar lagi kita akan bertemu mereka, jadi teruslah menjaga kondisimu dengan baik agar segera pulih, apa kamu mau di rumah sakit terus?" tanya Felicia.


"Mau.." jawab Bram terkekeh.


"Loh?? kamu kok malah seneng banget di rumah sakit?" tanya Felicia terkejut.


"Ya habisnya aku di tolak terus, udah berjuang mati-matian membuktikan kalau aku gak bersalah tapi masih aja menghindariku.. apa sih yang membuatmu ragu?" protes Bram.


"Tidak ada Bram.. aku selalu yakin dengan penjelasanmu," jawab Felicia lirih.


"Lalu kemarin kenapa masih saja marah denganku?" tanya Bram penuh selidik.


"Aku malas membahasnya Bram, kita fokus saja dengan kesembuhanmu agar segera pulang ke rumah," tolak Felicia.


"Nanti setelah sembuh pokoknya harus dibahas agar tidak menimbulkan permasalahan di kemudian hari," protes Bram dan Felicia hanya mengangguk.


Keesokan harinya Bram sudah pulang ke mansion dan langsung menemui anak-anaknya.


"Hai boy.." sapa Bram gembira.


"Papah..." sapa Emil langsung berlari ke pelukan Bram.


"I miss you so much," ucap Bram memeluk Emil sangat erat.


"I miss you too papah, apa sekarang papah sudah sehat?" tanya Emil.


"Tentu dong, papah kan kuat," jawab Bram membusungkan dada.


"Papah keren, berarti besok udah bisa main dan jalan-jalan lagi dong pah?" tanya Emil senang.


"Sudah dong, besok mau kemana?" Tanya Bram antusias.


"Bram kondisi kesehatanmu belum pulih, jangan mulai deh," bisik Felicia.

__ADS_1


"Aku udah sembuh loh, udah kuat gini kok... nih gendong Emil aja kuat, lihat gak?" ucap Bram menggendong Emil.


"Papah itu keren mamah, jadi jangan larang-larang papah, apa mamah gak kasihan sama Emil? udah seminggu Emil gak boleh ketemu papah, jenguk aja gak boleh," protes Emil cemberut.


"Emil sayang.. bukannya mamah gak membolehkan, tapi kondisi papah barusan sembuh, setidaknya membutuhkan waktu sampai 4 hari baru kondisi papah nanti pulih sepenuhnya," ucap Felicia memberi pengertian.


"Mah.. itu terlalu lama, kenapa gak bulan depan sekalian, ish.." protes Emil kesal.


"Kok Emil bicara begitu sama mamah? itu gak sopan nak," ucap Felicia memperingati.


"Habisnya mamah ngapain melarang papah main dan jalan-jalan sama Emil, huhuhu.." jawab Emil menangis.


"Bukan melarang sayang, Emil sabar dulu ya.. 4 hari aja, nanti setelah itu kita jalan-jalan deh, kalau perlu ke luar pulau sekalian biar lebih puas, gimana?" bujuk Felicia.


"Kemana mah?" tanya Emil penasaran.


"Hmm enaknya kemana? ke Bali?" tanya Felicia.


"Good idea mamah.. oke Emil bakal nungguin papah sampai betul-betul sembuh dulu, setelah ini Emil mai bantuin mamah jagain dan merawat papah, siapa tau sembuhnya lebih cepat, ya kan pah?" tanya Emil menaikkan turunkan kedua alisnya.


"Iya boy.. siap, pasti papah lebih cepat sembuh," jawab Bram mengacungkan kedua jempol.


"Kalian ini ya hmm," ucap Felicia geram.


"Kita kan satu hati, ya kan boy?" ucap Bram menatap anaknya dengan senyum.


"Iya dong.. kita kan bro," jawab Emil.


"Astaga.. nanti kalau adekmu udah gede mamah ada temannya juga, nantinya jadi sister," ucap Felicia tak mau kalah.


"Iya Bram, kamu udah siapin nama?" tanya Felicia memastikan.


"Belum.. kalau kamu?" tanya Bram.


"Hmm ada sih, namanya itu Eleora Putri Attirmidzi Wijaya, bagaimana?" usul Felicia penuh harap.


"Nama yang sangat bagus, aku setuju," jawab Bram mengacungkan jempol.


"Emil juga setuju.. jadi nama anak mamah dan papah itu Emil dan Eleora, good.." jawab Emil semangat.


"Iya ya kok bisa kebetulan gitu," jawab Felicia menggut-manggut.


"Yaudah papah dan mamah masuk kamar dulu ya sayang mau bersih-bersih dan istirahat, kamu juga istirahat sana besok sekolah," ucap Bram lembut.


"Yah padahal masih pengen ngobrol," rengek Emil kecewa.


"Papah belum pulih sayang dan sampai jam segini belum minum obat, nanti kalau sembuhnya lama terus gak jadi pergi, gimana? Emil mau?" tanya Felicia.


"Gak.. no way.. yaudah Emil juga mau istirahat," ucap Emil lalu mencium kedua orang tuanya dan pergi ke kamar.


Di kamar utama Felicia dan Bram.


"Mandi dulu Bram, udah aku siapin air hangat setelah itu obatnya jangan lupa di minum," ucap Felicia menyiapkan baju.


"Baiklah.." jawab Bram patuh.

__ADS_1


"Tumben banget hanya begitu jawabannya? tadi aja di luar happy banget," gumam Felicia heran.


Setelah Bram dan Felicia selesai bersih-bersih badan, kini mereka duduk di balkon kamar ditemani secangkir cokelat panas.


"Ada apa Bram kok ajak kesini? udaranya dingin loh nanti kamu sakit," tanya Felicia khawatir.


"Aku ingin membahas masalah tadi di rumah sakit, hari ini harus selesai," ucap Bram serius.


"Kamu masih sakit Bram.. jangan membahas yang lain dulu," bujuk Felicia.


"Saya tidak mau mendengar bantahan," ucap Bram tegas dan menatap Felicia tajam.


"Apa yang ingin kamu tanyakan?" tanya Felicia mengalah.


"Kenapa waktu itu kamu menolak ajakanku untul pulang kesini? apa yang mendasarimu meragukan pembuktianku?" tanya Bram serius.


"Sudah aku bilang jika pembuktianmu itu membuatku yakin, tapi.." jawab Felicia terpotong.


"Tapi apa? jelaskanlah," tanya Bram.


"Tapi aku masih sakit Bram.. aku gak ikhlas melihatmu seranjang dengan Thalia, harusnya kamu mengerti itu.. kalian enak-enakan disana sedangkan aku dan Emil?? kamu mengabaikan kami Bram.." ucap Felicia berlinang air mata.


"I know jika itu yang membuatmu masih ragu untuk pulang, makanya aku memilih langsung pergi dan membiarkanmu menenagkan diri, aku memang salah.. sungguh bersalah, maafkan aku sayang," ucap Bram penuh penyesalan.


"Sakit Bram rasanya.. aku tidak pernah selingkuh darimu tapi apa yang aku dapat?? dua kali loh kamu mengkhianatiku, orangnya sama lagi," ucap Felicia tak terima.


"Kok bisa dua kali?" Tanya Bram terkejut.


"Iyalah dua kali, yang pertama ketika kami bertengkar hebat dan hampir cerai karena aku ketahuan masih mengejar Pandu makanya itu Thalia kekeh jika Naomi itu anakmu, yang kedua terjadi beberapa waktu lalu dan aku melihatnya dengan mata kepalaku sendiri, bisa dibayangkan bagaimana sakitnya rasa ini?" ucap Felicia berlinang air mata.


"Maaf.. sungguh maafkan aku," pinta Bram memohon.


"Memaafkan itu mudah namun yang sulit adalah melupakan kejadian yang membuat hatiku terluka, itu yang susah," ucap Felicia menatap lurus.


"Maka dari itu maafkan aku sayang, tapi kalau boleh jujur hingga detik ini hanya namamu yang ada di hatiku, hanya kami dan anak-anak yang menjadi prioritas di hidupku," ucap Bram tulus.


"I know Bram.. makanya itu yang membuatku kembali lagi padamu, aku harap setelah ini jangan lagi kau membuat kesalahan yang sama," pinta Felicia penuh harap.


"Terima kasih karena kamu dengan mudahnya memaafkanku sayang, aku sangat senang mendengarnya," ucap Bram sangat terharu.


"Ini semua aku lakukan karena ada Emil dan Eleora diantara kita, mereka membutuhkan kasih sayang utuh dari kita. Yang kedua adalah karena aku menyadari bahwa lelaki sepertimu belum tentu datang kedua kalinya, kamu sangat baik terhadapku Bram dan aku akan menyesal jika mensia-siakan itu," ucap Felicia dari hati yang terdalam.


"Terima kasih sayang aku sungguh terharu, aku janji akan lebih membahagiakan kalian.. nyawa dan tubuhku aku serahkan demi melihat kalian bahagia, tidak ada yang lebih penting di hidupku selain membuatmu dan anak-anak hidup bahagia dan tenang" ucap Bram menggengam tangan Felicia.


"I believe.. jangan lagi kembali ke lubang yang sama dan bantulah aku menghilangkan rasa sakit itu," pinta Felicia dengan tersenyum bahagia.


"Aku akan menyanggupinya, aku janji.. terima kasih sayang," jawab Bram mencium kepala Felicia dengan lembut.


"I love you Bram Attirnidzi Wijaya," ucap Felicia malu-malu.


"I most love you Felicia Attirmidzi Wijaya, akhirnya perasaanku terbalaskan," ucap Bram memeluk Felicia dengan perasaan sangat senang.


"Sudah seharusnya kamu mendapat perasaanku Bram," bisik Felicia lembut dan Bram membawa Felicia ke kamar untuk melakukan ritual suami istri.


"Bram jangan lagi kamu menghindariku, mau sampai kapan ha?? lusa hasil tes DNA keluar.. jadi jangan sampai loe gak datang," isi chat Thalia.

__ADS_1


__ADS_2