
Pagi-pagi sekali Bram mendapat panggilan dari assisten pribadinya jika ada masalah yang serius di perusahaannya yang ada di Amerika, mau gak mau Bram harus turun tangan sendiri karena perusahaan yang di Amerika salah satu perusahaan yang terpenting.
"Fel tolong siapin pakaian ya karena nanti siang aku harus terbang ke Amerika," pinta Bram dengan mengusap wajahnya kasar.
"Loh kok mendadak sekali?" tanya Felicia terkejut.
"Iya habisnya Roy juga baru ngabari katanya ada problem disana, gak mungkin kalau aku percayakan ini sama orang lain.. perusahaan di Amerika sangat benefit dan selalu untung besar, makanya aku curiga kalau ini ada sesuatu yang gak beres," ucap Bram sedih.
"Berapa lama Bram?" tanya Felicia sedih.
"Kurang tau sayang.. aku usahain secepatnya," ucap Bram sedih lalu Felicia hanya bisa pasrah dan membantu suaminya menyiapkan pakaian.
Setelah Bram terbang ke Amerika, kini Felicia merasa sedih karena ia merasa ada yang kurang tanpa adanya Bram. Emil dan Eleora tak hentinya menanyakan dimana papahnya, padahal mereka baru tinggal belum ada sehari.
"Mungkin besok Bram baru mengabari, semoga urusannya disana segera selesai dan Bram bisa menjalani aktivitasnya dengan santai, jujur gue kasihan sama Bram karena masalah yang menimpa rumah tangga ini seperti gak ada ujungnya," gumam Felicia menatap foto pernikahan mereka.
Setelah landing dengan selamat, tanpa mengulur waktu kini Bram sudah berada di perusahaannya dan mengejutkan banyak pihak, kedatangannya kali ini sangat mendadak dan tidak ada yang mengetahui kecuali Roy.
Bram langsung menuju ruang kerjanya dan meminta semua data keluar dan masuk tanpa terkecuali, ia ingin mengoreksinya secara detail dan tidak mengampuni celah meskipun itu hanya secuil.
"Roy.." sapa Bram sambil membaca laporan.
"Ya pak?" jawab Roy mendekat bosnya.
"Merasa ada yang mencurigakan gak? sepertinya data ini sudah di edit, hubungi hacker kita dan suruh dia menganalisis semuanya.. kali ini gak ada ampun untuk penghianat perusahaan," ucap Bram tegas.
"Ba.. baik tuan," jawab Roy patuh lalu melaksanakan tugas dengan cepat.
"Setelah dapat hasilnya segera kabari, saya mau menenangkan fikiran sejenak dan mencari udara segar.. you know Roy bagaimana masalah menimpa hidupku dari awal menikah," ucap Bram memijat keningnya.
"Ta.. tau pak, silahkan jika bapak ingin menenangkan fikiran," jawab Roy memberi ruang dan Bram pergi ke sebuah taman yang dekat dengan kantornya.
Tak disengaja disana ia melihat Nita sedang berjalan dengan Pandu, entah ini kesempatan yang pas atau tidak baginya, niat hati ingin menenangkan fikiran malah jadinya menambah beban fikiran.
"Nita.. Pandu," sapa Bram setengah berteriak dan melambaikan tangan.
"Bram?" gumam Nita terkejut dan mau gak mau ia menuruti Pandu menemui Bram.
"Kalian pacaran?" tanya Bram penasaran.
"No.. kebetulan aja sedang jalan bersama, ada hal apa datang kemari?" tanya Pandu jutek.
__ADS_1
"Ada masalah di perusahaan ku dan aku harus turun tangan menanganinya sendiri, oh iya Nita.. ada hal yang ingin gue tanyakan," ucap Bram menatap Nita tajam.
"Hai Bram.. long time no see, apa itu?" tanya Nita gugup.
"Gak usah basa-basi karena gue sudah menantikan momen ini bertahun-tahun, loe masih inget kejadian kelulusan di apartemen Pandu tempo itu?" tanya Bram menahan emosi.
"Oh... i.. itu kan kejadian udah lama ngapain tanya ke gue?" tanya Nita gugup.
"Memang sudah lama bahkan sudah sangat lama dan gue gak terima jika hidupmu sampai sekarang baik-baik saja sedangkan gue dan Felicia harus menderita di awalnya, katakan dengan jujur, loe yang memberikan obat perangsang pada Felicia kan? loe juga yang memberikan obat tidur pada yang lainnya, jujur," desak Bram mulai emosi.
"Ngapain jadi nuduh gue sih? emang loe ada bukti?" tanya Nita tersenyum licik.
"Tentu saja ada.. untuk apa gue menuduh tanpa ada bukti, gue bukan cowok bodoh Nita, loe yang bodoh udah cari masalah sama gue.. katakan sekarang atau gue jeblosin loe ke penjara," ancam Bram serius.
"Gue sempat mendengar gosip itu dari Bram dan Felicia dan mumpung ada kalian disini makanya gue mau mendengar kejujurannya, apa benar Nita?" tanya Pandu meminta penjelasan.
"Gak.. itu gak bener, untungnya apa kalau gue lakuin itu!!" protes Nita.
"Sifatmu masih saja seperti dulu, gue bakal telfon assisten gue dan setelah itu gue pastikan nasib keluargamu di ujung tanduk, usaha papahmu mana bisa bertahan sampai sekarang kalau bukan karena suntikan dana dari gue.. masih berani berbohong?" ancam Bram.
"Bram.. jangan apa-apa loe pakai kekayaanmu dong.. urusan perusahaan beda dengan urusan kita," protes Nita tak terima.
"Makanya jujur.." gertak Bram.
"Okay.. lets see," ucap Bram tersenyum smirk lalu menelfon Roy.
"LOE TELFON SIAPA BRAM?" teriak Nita ketakutan.
"Sstt.. diam dan lihat saja," jawab Bram santai.
"Please Bram jangan gini, jangan libatkan masalah kita dengan perusahaan," rengek Nita.
"Kok loe ketakutan banget sih Nit?" tanya Pandu heran.
"Diam!! loe mana tau rasanya hidup dan nasib di ujung tanduk," gertak Nita.
"Mencurigakan," ucap Pandu ketus.
"Sudah selesai dan silahkan tunggu beritanya," ucap Bram enteng.
"Bram jangan lakuin ini please.." pinta Nita.
__ADS_1
"Semua tergantung padamu, jujur atau bangkrut," ancam Bram serius.
"Ok.. oke gue akan jujur, tapi please balikin dulu kekayaan orang tua gue," pinta Nita pasrah.
"JUJURLAH SEKARANG DAN KEJUJURANMU NANTI YANG MENENTUKAN NASIB KELUARGAMU KE DEPANNYA!!" gertak Bram dan membuat nyali Nita ciut.
"Maafin gue Bram.. maaf banget kalau dulu gue berulah sama kalian, gue nyesel Bram.. jujur Bram gue lakuin itu karena kesal dengan Felicia yang sudah merebut Pandu dari gue, jika gue gak bisa dapetin Pandu maka perempuan manapun gak boleh," ucap Nita penuh penyesalan dan berlinang air mata.
"Good.. akhirnya kebenaran terungkap juga, denger sendiri kan Pandu? bagaimana busuknya wanita di sebelahmu itu," ucap Bram geram.
"Nit?? serius loe lakuin itu?? DASAR WANITA JAHAT!!" ucap Pandu kecewa.
"Setelah kejadian itu kenapa loe bagai hilang di telan bumi? takut gue jeblosin ke penjara?" tanya Bram menatap tajam.
"Gue.. gue gak mau loe mengetahui ini Bram huhuhu.. gue takut loe bakal membalas dendam, gue.. gue minta maaf.. gue gak tau jika jebakan gue itu berdampak besar bagi kalian," ucap Nita ketakutan.
"Berdampak besar?? darimana loe mengetahuinya?" tanya Bram terkejut.
"Pandu.. dia sudah menceritakan semuanya dan gue minta maaf untuk itu," ucap Nita berlinang air mata.
"Haha hanya minta maaf?? loe fikir dengan meminta maaf bisa membalikan semuanya? loe fikir permintaan maafmu bisa membuat Felicia menata masa depannya lagi?? gue gak sudi menerima permintaan maafmu," tolak Bram mentah-mentah.
"Bram.. please maafin gue, semua ini sudah terjadi.. tinggal kalian menata lagi masa depan untuk anak-anak kalian agar lebih baik," ucap Nita memohon.
"Ohh sekarang loe mau menggurui?? merasa hebat? loe lupa seberapa kayanya gue?? sudah pasti masa depan anak-anak gue terjamin dan sangat baik, loe gak perlu berkata seperti itu, seolah-olah hidupmu lurus aja," ucap Bram geram.
"Maaf..gue mohon lepasin gue dan keluarga gue," pinta Nita penuh harap.
"Cih.. jangan harap, balas dendam tetap berjalan, kesempatan emas untuk gue bisa bertatap muka dengamu tanpa perlu skenario, sekarang nikamtilah karmamu," ucap Bram tersenyum smirk dan sepersekian detik kemudian datanglah polisi membawa paksa Nita.
"Bram... jangan lakuin ini, please.. gue kan udah minta maaf," protes Nita tak terima.
"NIKMATI KARMAMU DAN SELAMAT HIDUP MENDERITA SETELAH KELUAR DARI PENJARA, TIDAK HANYA LOE SAJA YANG MENDAPATKAN KARMA TETAPI KELUARGAMU JUGA.. JADI, SELAMAT MENUAI APA YANG LOE TANAM," teriak Bram meluapkan emosinya sembari menunjuk Nita dengan emosi.
"GAK.. JANGAN BAWA GUE KE PENJARA GUE GAK MAU.. PANDU TOLONGIN GUE DONG, BRAM.. MANA JANJIMU YANG TIDAK AKAN MELIBATKAN ORANG TUA GUE, JANGAN INGKAR DONG.." teriak Nita tak terima dan terus meronta.
"Diam dan nikmatilah tuaianmu itu," ucap Bram penuh penekanan.
Lalu Bram dan Pandu hanya melihat Nita dibawa ke kantor polisi tanpa memberi pertolongan apapun.
"Bram.." ucap Pandu menoleh ke arah Bram.
__ADS_1
"Hmm.. masih mau mengelak lagi dan mengatakan yang bukan-bukan tentang gue dan Felicia?" sindir Bram.
"Bukan.. gue mau bertemu dengan Felicia," ucap Pandu yang langsung membuat Bram emosi.