PERNIKAHAN RAHASIA KESEPAKATAN BERSAMA

PERNIKAHAN RAHASIA KESEPAKATAN BERSAMA
Episode 84-Felicia hamil lagi


__ADS_3

Sudah 2 bulan Felicia telat datang bulan, ia baru menyadari hari ini ketika melihat kalender.


"Astaga udah tanggal 14? berarti aku telat 2 bulan dong, jangan-jangan aku hamil?" gumam Felicia panik dan berjalan mondar mandir. Bram yang melihat merasa penasaran.


"Kenapa sayang?" tanya Bram heran.


"Hmm.. gak tau nih kok perasaanku tiba-tiba gak enak ya?" ucap Felicia berbohong, ia masih belum yakin jika hamil atau tidak.


"Memang kamu memikirkan apa?" Tanya Bram penasaran.


"Enggak ada sih, tiba-tiba aja gak enak," ucap Felicia.


"Yaudah kita sarapan dulu yuk, mungkin kamu lapar," ajak Bram menggandeng tangan istrinya dan mereka turun.


"Morning mamah dan papah.. kenapa turunnya lama sekali sih," protes Emil.


"Maaf sayang tadi mamah siapin baju kerja papah dulu, Emil sudah laper?" ucap Felicia lembut.


"Udah.. makanya Emil sebel mamah sama papah turunnya lama," protes Emil.


"Maaf ya boy.. next time gak lagi deh, biasanya juga on time kan?" ucap Bram mengacak-acak rambut Emil.


"Papah.. stop it, rambut Emil sudah tapi kenapa di buat berantakan lagi? nanti Emil enggak tampan lagi dong," rengek Emil cemberut.


"Haha kamu selalu tampan boy, kan ketampanan kamu berasal dari papah," ucap Bram terkekeh.


"Ish.. papah gak boleh sombong, kata mamah gak baik," ucap Emil cemberut.


"Sudah sudah ini masih pagi, ayo sarapan dulu nanti kalian terlambat," ucap Felicia melerai keduanya dan menyiapkan sarapan.


"Aku gak mau selai kacang Fel," protes Bram tak menyentuh roti untuknya.


"Memangnya kenapa? itu kan selai favoritmu Bram," tanya Felicia heran.


"Ya itu kan dulu.. sekarang gak mau makan selai kacang, buatin aja omelet," protes Bram seperti anak-anak.


"Kamu kenapa sih kok aneh banget? jamnya udah mepet, mana sempat buat omelet, udah makan yang ada saja dulu nanti pas pulang kerja di buatin," ucap Felicia terheran-heran.


"Gak.. kalau gak ada omelet, aku gak mau sarapan," protes Bram menyilangkan kedua tangan dan memalingkan muka.


"Astaga kenapa tingkahmu seperti Emil? sadar umur Bram," sindir Felicia kesal.


"Biarin.. pokoknya aku mau sarapan sama omelet, titik.. no debat," ucap Bram tegas.


"Yaudah aku suruh bi Iin dulu," ucap Felicia mau beranjak dari meja makan namun di cekal oleh Bram.


"Jangan di buatin bi Iin, aku mau kamu sendiri yang memasaknya," pinta Bram.


"Ha?? aku mana bisa masak?" ucap Felicia terkejut.


"Pokoknya harus kamu yang masak, titik," ucap Bram menatap tajam dan akhirnya Felicia menuruti kemauan suaminya, ia langsung memasak omelet sesuai instruksi bi Iin. Tanpa menunggu waktu lama, Bram sudah menghabiskan omeletnya tanpa sisa..

__ADS_1


"Yaudah kalau gitu kami pamit dulu ya, salim dulu sama mamah," pamit Bram dan menyuruh Emil salim dengan Felicia.


"Bye sayang.. take care," ucap Felicia sambil menatap kepergian keduanya.


Tiba-tiba ia merasa mual dan langsung bergegas ke kamar mandi.


Hoek.. hoek... "kenapa sih kok perutku gak enak gini, apa aku salah makan? tapi sarapannya tadi cuma roti dan itu roti yang biasanya di makan," gumam Felicia merasa kepalanya pusing dan berkunang-kunang lalu ia pingsan.


"Astaga.. non Feli, non.." teriak bi Iin terkejut mengetahui majikannya pingsan di kamar mandi.


Drrtt... drrtt.. dering hp Bram.


"Halo?" ucap Bram sambil berjalan menuju ruang kerjanya.


"Halo tuan.. ini bibi, non Feli tuan.. non Feli pingsan di kamar mandi," ucap bi Iin panik.


"APA?? SEKARANG KONDISINYA BAGAIMANA BI?" tanya Bram syok.


"Masih belum sadar tuan, sudah saya kasih minyak kayu putih tetap saja pingsan," ucap bi Iin panik.


"Jaga Felicia dan pastikan dia tidak semakin parah, sebentar lagi saya pulang" perintah Bram dengan cemas.


"Ba..baik tuan, apa perlu di panggilkan dokter?" tanya bi Iin hati-hati.


"Iya bi telfon dokter keluarga sekarang," perintah Bram dengan tegas.


"Ba..baik tuan," jawab bibi lalu mematikan panggilan dan menelfon dokter pribadi keluarga Bram.


"Periksa keadaan istri saya dengan teliti," perintah Bram panik.


"Baik.. saya mohon anda sabar," jawab dokter Budi lalu memeriksa Felicia sembari tersenyum.


"Ngapain anda senyum-senyum seperti itu? ini tidak lucu dok, istri saya pingsan di kamar mandi," ucap Bram panik.


"Iya tuan saya mengerti, tetapi ini bukan masalah serius," ucap dokter dengan tenang.


"Lalu masalahnya apa? dan kenapa istri saya sampai pingsan?" desak Bram.


"Istri anda pingsan karena dia sedang mengandung, untuk lebih detailnya silahkan lakukan pemeriksaan usg di rumah sakit," ucap dokter tersenyum senang.


"Apa?? hamil dok?? anda tidak salah diagnosa kan?" tanya Bram tak percaya.


"Selama bertahun-tahun saya menjadi dokter keluarga Wijaya apakah pernah salah mendiagnosa, tuan?" tanya dokter.


"Tidak.. apapun diagnosa anda selalu tepat, saya saja yang kaget mendengar itu," ucap Bram tak percaya.


"Itu sudah lumrah tuan, saya menuliskan resep untuk istri anda dan silahkan di tebus, semoga resep ini bisa meredakan mual dan rasa pusing istri anda," ucap dokter Budi menyerahkan resep.


"Terima kasih dok.. terima kasih sekali, saya bahagia mendengar ini.." ucap Bram lalu mereka berjabat tangan.


"Sama-sama tuan, meskipun saya tidak mendengar berita pernikahan anda tetapi saya turut senang akhirnya anda menemukan pasangan hidup, semoga pernikahan kalian bahagia dan di berkahi selalu," ucap dokter Budi dengan tulus.

__ADS_1


"Terima kasih banyak dok," jawab Bram dengan bahagia.


"Sama-sama tuan kalau begitu saya permisi dulu," pamit dokter Budi.


"Mari dokter, silahkan.. maaf saya tidak bisa mengantarkan anda sampai depan," ucap Bram membukakan pintu.


"Tidak masalah tuan, mari," pamit dokter Budi lalu bergegas pergi.


"Aww.. kepalaku pusing sekali," ucap Felicia lirih.


"Jangan banyak gerak ya sayang, aku lagi menyuruh bi Iin membelikan obat yang di resepkan oleh dokter Budi, tunggu ya," ucap Bram penuh perhatian.


"Dokter Budi? siapa itu? dan kapan saya di periksanya?" tanya Felicia bingung.


"Dokter Budi adalah dokter keluarga besar Wijaya, dia sudah sangat lama menjadi dokter keluarga kami. Dan kapan kamu diperiksanya, ya tadi waktu kamu pingsan, aku di kabari bibi jadinya langsung bergegas kesini dan memanggil dokter Budi," ucap Bram mengenggam tangan Felicia.


"Aku sakit apa Bram?" tanya Felicia takut.


"Kamu sehat-sehat saja sayang.. kamu tidak sakit apapun," ucap Bram lembut.


"Apa yang menyebabkan aku pingsan?" tanya Felicia penasaran.


"Kamu mau tahu?" Tanya Bram menggoda.


"Iyalah Bram.. Jangan mulai resek deh," ucap Felicia kesal.


"Dokter Budi bilang kalau kamu hamil, jadi sebentar lagi Emil mau punya adik," ucap Bram antusias.


"Apa?? hamil? gak.. gak mungkin," ucap Felicia tak percaya.


"Kenapa kamu gak suka seperti itu?" tanya Bram heran.


"Aku bukannya belum siap, aku terkejut Bram.. Apa iya aku langsung hamil? Emil masih 6 tahun loh," ucap Felicia tak percaya.


"Itu sudah cukup untuk di kasih adik, nanti sore kita periksa ya biar kamu tau secara langsung," ucap Bram senang.


"Tapi kan aku minum pil KB dan kamu tau itu," ucap Felicia tak percaya.


"Ya mungkin saja kamu lupa meminumnya satu atau beberapa hari, nanti sore tanyakan saja pada dokter," ucap Bram memandang Felicia lekat.


"Jangan pandang-pandang gitu, aku masih hamil muda," protes Felicia.


"Memangnya kenapa??" tanya Bram heran.


"Nanti tiba-tiba kamu serang, ingat Bram aku lagi hamil," ucap Felicia menatap tajam.


"I know baby.. lagi hamil ya malah bagus dong di serang terus menerus, nanti janinnya makin kuat," goda Bram.


"Jangan gila Bram.." gertak Felicia menatap Bram dengan tajam.


"Just kidding baby.." jawab Bram tersenyum puas karena sukses membuat Felicia kesal.

__ADS_1


"Semoga kehamilanmu ini bisa membuatmu semakin cinta padaku," batin Bram penuh harap.


__ADS_2