
Setelah mereka menjalani acara akad dan berbincang dengan keluarga dekat hingga terasa sangat melelahkan, mereka memutuskan untuk segera beristirahat.
"Capek Fel?." Tanya Bram lembut sambil melepas jas.
"Capek banget Bram apalagi bagian perut kadang kenceng-kenceng." Jawab Felicia sambil melepas riasan di kepalanya.
"Tapi sekarang udah gak kan?." Tanya Bram panik.
"Udah gak kok.. tolong bantuin lepasin aksesoris di rambutku dong, susah nih nyopotnya." Pinta Felicia lalu Bram membantu.
"Ok." Jawab Bram berjalan mendekat.
"Ini nih sebelah sini." Tunjuk Felicia.
"Iya Fel sabar ya biar rambutmu gak kusut." Jawab Bram dan dengan telaten melepas aksesoris istrinya.
"Makasih Bram." Ucap Felicia tersenyum senang dan akan melepas gaun namun melihat Bram tak senang.
"Ada apa lagi?." Tanya Bram heran.
"Bisa keluar?." Pinta Felicia membuat Bram terkejut.
"Loh memangnya kenapa? Apa salahku?." Tanya Bram kaget.
"Enggak ada, aku mau ganti baju soalnya gerah." Jawab Felicia mengibaskan tangan.
"Yaudah tinggal lepas aja apa susahnya??." Tanya Bram heran.
"Ya nantikan aku telanjang, masak iya dilihatin kamu." Cibir Felicia tak senang.
"Memang salah ya?? Aku sekarang udah jadi suamimu loh" Ucap Bram meningatkan.
"I..iya sih memang tapi please ya keluar, aku belum siap." Rengek Felicia dengan gugup.
"Memang aku minta apa kok kamu belum siap?." Tanya Bram tersenyum smirk.
"Jangan mulai rese deh, bisa keluar sekarang gak atau aku teriak nih." Gertak Felicia kesal.
"Wah silahkan saja, aku pastikan tidak akan ada yang berani menganggu kita. Apalagi denger kamu teriak, dikiranya kamu kenikmatan loh." Goda Bram.
"Astaga Bram.." Geram Felicia.
"Makanya ganti aja sekarang, mau aku keluar atau pun enggak sama aja kan." Ucap Bram membuat Felicia kesal dan memilih mengalah. Lalu dengan ragu-ragu ia melepas gaun yang di kenakan hingga memperlihatkan tubuh indahnya bagian belakang.
__ADS_1
Bram langsung terhipnotis dengan tubuh indah istrinya itu, hingga ia menatapnya tak berkedip.
"Bram jangan mesum." Gertak Felicia menatap tak suka.
"Siapa juga yang mesum." Jawab Bram kesal.
"Itu.. ngapain ngeliatin tak kedip." Cecar Felicia sinis.
"Ya wajar dong kan terpana melihat body istriku yang mulus." Ucap Bram dengan entengnya.
"Apa loe bilang? enak aja ngeliatin bodyku sampai segitunya." Ucap Felicia tak suka.
"Kenapa sih emangnya? salah ya? Kita kan udah sah jadi suami istri, masak iya lihat bodymu aja gak boleh." Protes Bram.
"Ya gak boleh lah." Jawab Felicia singkat dan gak mau di bantah.
"TERUS YANG BOLEH SIAPA? PANDU?? APA-APA GAK BOLEH.. AKU INI SEKARANG SUAMI KAMU DAN SEBENTAR LAGI JADI PAPAH DARI ANAKMU.. KALAU APA-APA KAMU GAK BOLEHIN YA UTNUK APA MENIKAH." Teriak Bram emosi dan membuat Felicia juga ikutan terbawa emosi.
"YA MEMANG GAK BOLEH YA GAK BOLEH.. MAU ITU PANDU SEKALIPUN KALAU AKU GAK ADA RASA YA AKU GAK MAU MUNAFIK MEMPERSILAHKAN TUBUHKU DIJAMAH ORANG LAIN." Teriak Felicia membuat Bram terkejut.
"Ohh jadi sekarang pun aku masih orang lain bagimu, cukup tau.." Jawab Bram kecewa.
"Ya..memang gitu adanya. kita gak saling cinta jadi jangan memaksa kehendak jika aku pribadi gak mau dan belum siap." Jawab Felicia tak mau kalah.
"Memang kita menikah karena aku lagi hamil jadi tolong jangan berharap lebih padaku.".Ucap Felicia dengan lirih.
"Aku tidak pernah berharap lebih atau meminta lebih padamu, yang aku mau kita sudah bisa bersama-sama secara halal dan kita bersama mengurus anak." Pinta Bram sederhana.
"I..itu udah pasti Bram gak perlu kamu pinta." Ucap Felicia kikuk.
"Aku hanya berharap saja." Jawab Bram lalu berbaring di ranjang.
"Maaf.." Lirih Felicia dan masuk ke kamar mandi untuk membersihkan badan.
"Segitunya kamu gak mau memulai dari awal denganku, padahal tanpa kamu sadari aku udah menyelesaikan hubunganku dengan masa lalu, sekarang tinggal darimu. Entah kapan kamu akan siap, terkadang aku takut jika suatu saat akan terbongkar." Batin Bram frustasi.
"Maaf Bram aku belum siap, aku gak mau munafik dengan pura-pura sudah bisa menerimamu menjadi suamiku dan melayanimu, hatiku masih untuk Pandu.. aku gak mau melakukannya jika di hati kita masih terpatri nama pasangan masing-masing." Gumam Felicia berguyur dibawah shower.
Setelah Felicia selesai mandi, ia menuju ruang rias untuk mengeringkan rambutnya.
"Bram gantian gih kamu yang mandi." Perintah Felicia sambil menyalakan hair dryer.
"Ya bentar lagi, pegel banget badanku." Ucap Bram dengan suara berat.
__ADS_1
"Mandi dulu setelah itu istirahatlah sesukamu, kalau mandi dulu kan badannya jadi seger dan bersih." Ceramah Felicia lalu Bram bergegas menuju kamar mandi.
"Lama-lama stress ngerasain menghadapi bumil. moodnya kayak ayunan yang gampang berubah." Gumam Bram lalu mandi.
Setelah keduanya selesai mandi, mereka memutuskan untuk istirahat.
"Laper gak?? kalau laper kita cari makan dulu." Ajak Bram.
"Enggak ah aku masih kenyang banget." Tolak Felicia.
"Kamu hanya makan sedikit, jangan memaksakan diri begitu nanti sakit." Ucap Bram khawatir.
"Memang aku belum laper Bram." Ucap Felicia meyakinkan.
"Terserah.." Jawab Bram pasrah.
"Tidur yuk aku ngantuk." Ajak Felicia.
"Yuk." Jawab Bram cepat lalu mereka berbaring bersama dan Bram memeluk Felicia erat.
"Bram..apa apaan nih." Protes Felicia kaget tiba-tiba dipeluk Bram
"Ssstt.. biarkan begini sejenak." Pinta Bram mengisyaratkan untuk diam.
"Jangan macem-macem ya udah aku bilangin kalau aku ini belum siap Bram.. Aku capek, pengen istirahat." Ucap Felicia geram.
"Tidurlah Fel.. biarkan aku memelukmu begini sampai aku terpejam." Pinta Bram sambil memejamkan mata.
"Ish.. sumpek tapi." Protes Felicia tak nyaman.
"Apa kamu memang segitu jijiknya denganku? kemaren waktu di villa kamu tiba-tiba memelukku, apakah aku memberontak?? sekarang aku juga meminta hal yang sama tetapi kamu segitunya tak mau tersentuh olehku." Ucap Bram kecewa lalu melepas pelukannya dan beranjak dari tempat tidur.
"Bukan gitu Bram." Ucap Felicia lirih dan merasa bersalah.
"Lalu apa? mau bilang belum siap sampai berapa kali hmm? Aku gak meminta hak seorang suami, aku cuma minta kita berpelukan aja. Just that, tapi penolakan yang aku dapat sangat membuatku kecewa." Ucap Bram kecewa.
"Maaf..." Jawab Felicia lirih.
"Aahh sudahlah." Ucap Bram mengibaskan tangan dan pergi dari keluar kamar.
"Mau kemana?." Tanya Felicia namun tak digubris oleh Bram.
Bram sangat kecewa pada Felicia karena ia menganggap permintaannya masih hal yang wajar, ia pun juga belum siap untuk meminta haknya. Terkadang masih ada rasa bersalah jika mengingat kejadian terkutuk itu.. Ya meskipun tidak sepenuhnya salah Bram, karena keduanya melakukannya tidak seratus persen sadar.
__ADS_1