PERNIKAHAN RAHASIA KESEPAKATAN BERSAMA

PERNIKAHAN RAHASIA KESEPAKATAN BERSAMA
Episode 74-Felicia membuat kesalahan fatal


__ADS_3

Tanpa terasa kini baby Emil sudah memasuki usia 3 tahun, ia tumbuh menjadi anak yang cerdas, aktif, humble dan penyayang. Bram tak henti-hentinya menjadi ayah dan papah yang siaga untuk keluarga kecilnya, bagi dia Felicia dan Emil adalah prioritasnya yang harus mendapatkan kebahagiaan serta hidup layak.


"Papah.. Im hungry," Rengek Emil memegang perutnya.


"Where mamah, boy?," Tanya Bram kaget karena sampai jam sekarang anaknya belum makan.


"I dont know papah.. Im hungry," Rengek Emil dengan wajahnya yang menggemaskan.


"Wait for a minute boy, papah panggilkan sus dulu ya biar di siapin makanan, Emil duduk dulu di meja makan yuk sama papah," Ajak Bram lalu menggendong Emil menuju ruang makan dan duduk bersama.


"Sus.." Teriak Bram.


"Iya tuan, ada yang bisa saya bantu?," Tanya suster dengan nafas ngos-ngosan karena setengah berlari.


"Habis darimana sus kok nafasnya gitu?," Tanya Bram curiga.


"Habis dari belakang tuan, bantuin bi Iin bersihin kolam renang, ada apa tuan?," Tanya suster penasaran.


"Apa benar Emil sampai sekarang belum makan?," Tanya Bram serius.


"Sa..saya kurang tau tuan, soalnya tadi saya sudah membuatkan sarapan dan kata nyonya biar nyonya saja yang suapin den Emil, jadi saya fikir ya sudah di suapin sama mamahnya tuan," Ucap suster setengah takut.


"Iya pah tadi memang sus mau suapin Emil tapi diambil sama mamah, eh setelah itu mamah malah pergi dan sampai sekarang belum kesini lagi, mamah bilang kalau keluar sebentar kok pah, jadi Emil nungguin," Ucap Emil dengan polosnya.


"Astaga kemana Felicia? bisa-bisanya anak belum makan malah main pergi gitu aja," Gumam Bram kesal lalu menelfon istrinya namun sayang panggilannya tak terjawab sama sekali.


"Sus tolong buatin makanan buat Emil lagi ya, kasihan dia sampai kelaperan, oh iya sus lain kali kalau mamahnya mau suapin sekalian di pantau ya takutnya kejadian ini terulang lagi," Ucap Bram mengingatkan dengan wajah serius.


"Ba..baik tuan kalau begitu saya permisi dulu buatin makan den Emil," Ucap suster terbata-bata karena ketakutan dan Bram hanya menjawab dengan anggukan.


"Feliciaaaa dimana kamu?," Gumam Bram terus menerus menelfon istrinya.


Di satu sisi Felicia sedang berada di sebuah kafe karena dia mendapat info dari salah satu temannya jika Pandu sedang disana, tanpa fikir panjang ia langsung menuju kafe tersebut dan dengan mudahnya melupakan momen menyuapi anak semata wayangnya.

__ADS_1


"Pandu, tolong jangan begini sama gue," Pinta Felicia penuh harap.


"Apa lagi yang mau di harapin Fel? Kita memang sudah tidak jodoh, nyatanya kamu dengan mudahnya menikah dengan Bram tanpa sepengetahuanku dan juga orang tua ku, terus kondisimu hamil dengannya," Ucap Pandu menahan kesal.


"Please tungguin gue sampai nanti gue cerai sama Bram, sampai detik ini gue gak bisa cinta maupun sayang dengannya ndu huhuhu.. Please tunggu gue ya," Rengek Felicia menangis terisak.


"Kamu sudah gila ya? Antara dirimu dengan Bram sudah memiliki anak dan sekarang dengan gampangnya dan tanpa rasa berdosa loe suruh gue nungguin? Nungguin jandamu? haha," Ejek Pandu.


"Iyalah memang apalagi, gue yakin kok kalau sebenarnya loe masih ada rasa kan?," Tanya Felicia tanpa rasa malu.


"Ketika aku di khianati sebegitu sakitnya, detik itu juga perasaanku terhadapmu sudah terkikis dan lama-lama seiring berjalannya tahun kini sudah menghilang, jadi sekarang ini sudah tidak ada perasaan apapun lagi terhadapmu, yang ada malah aku merasa kasihan padamu, kamu mengemis cinta padahal statusmu istri orang, andai Bram tau apakah kamu masih akan kekeh seperti ini?," Tanya Pandu tak habis pikir.


"Ya.. mau Bram tau atau tidak aku akan tetap seperti ini, mengemis perasaanmu kembali, perasaan yang dulu hanya untukku dan hanya aku prioritasmu," Ucap Felicia dengan mantap.


"Astaga.. Aku gak menyangka sekarang kamu menjadi liar seperti ini, kamu bukanlah Felicia yang dulu aku kenal, terima saja nasibmu hidup bersama dengan Bram dan juga anakmu, aku yakin kok suatu saat kamu akan menyayangi mereka," Ucap Pandu menasehati.


"Gak.. aku memang sangat menyayangi Emil-anak semata wayangku, namun tidak untuk Bram, jadi tolong jangan memaksaku untuk mencintainya," Tolak Felicia dengan sorot mata tajam.


"Karena hanya kamu yang aku sayang, hanya itu alasannya," Jawab Felicia tanpa ragu.


"Udahlah Fel mau di omongin bagaimana pun juga percuma, kamu gak akan mendengarkan ku, intinya aku ingin kamu mencoba mencintai suamimu dan fokuslah hanya pada keluarga kecilmu, kini aku sudah ikhlas melepasmu dengan temanku sendiri, jadi jangan lagi berharap apapun padaku, meskipun nantinya kamu menjanda sekali pun aku tetap berfikir seribu kali untuk menerimamu kembali," Ucap Pandu dengan serius.


"Ta.. tapi.. Jangan semua kesalahan kamu limpahkan ke aku ndu, huhuhu.." Ucap Felicia menangis terisak.


"Tidak ada yang menyalahkanmu disini, aku hanya meminta saja kamu fokus dengan keluarga kecilmu dan cobalah mencintai Bram, jangan lagi menemuiku seperti ini, aku yakin kamu pasti sembunyi-sembunyi kan ingin bertemu denganku? Lagian siapa yang memberitahumu jika aku disini?," Tanya Pandu heran.


"Gak ada yang memberitahu, semua karena insting saja karena kita masih terkoneksi satu sama lain," Ucap Felicia lagi-lagi membuat Pandu tak habis fikir.


"Jangan halu Fel.. Sudah sana pulang, ini masih terlalu pagi untukmu keluar rumah, aku yakin orang rumah pasti mencarimu terutama anakmu," Suruh Pandu.


"Gak.. Aku akan pulang kalau kamu mau menerimaku kembali," Tolak Felicia.


"Aku menerimamu sebagai wanita di masa laluku, itu saja dan tidak lebih, jadi jangan lagi berharap apapun padaku, kita hidup dengan dunia masing-masing," Ucap Pandu menolak halus.

__ADS_1


Lalu hp Felicia kembali berdering dan kali ini Pandu bisa melihat dengan jelas siapa yang menelfon Felicia daritadi.


"Itu suamimu nyariin, pasti dia khawatir denganmu, angkatlah," Pinta Pandu.


"Gak.. gak penting juga," Tolak Felicia.


"Dia suami kamu loh, jika kamu tidak mau mengangkat karena kamu tidak mencintainya setidaknya fikirlah anakmu di rumah," Desak Pandu kesal dan Felicia mengacuhkan omongan Pandu hingga akhirnya Pandu nekat mengangkat telfon.


"Pandu.. jangan," Rengek Felicia berusaha mengambil alih hpnya namun gagal.


"Halo Bram.. inget suara gue?," Sapa Pandu dengan lembut.


"Loe Pandu kan? kok hp istri gue bisa sama loe? jangan bilang kalian ketemuan?," Cecar Bram menebak.


"Betul sekali dan sekarang jemput istrimu itu di kafe melody sekrang, gue udah suruh dia pulang tapi kekeh gak mau pulang," Perintah Pandu santai.


"SIALAN KALIAN BENER-BENER.." Umpat Bram terpotong oleh Pandu.


"Jangan langsung emosi, dateng kesini jemput istrimu dan gue jelasin semuanya. loe maki-maki di telfon hanya akan mengulur waktuku bertemu dengan istrimu makin lama," Ucap Pandu serius lalu menutup panggilan.


"Aaarrghhh.. bisa-bisanya Felicia mengabaikan anaknya sendiri demi bertemu Pandu, ini gak boleh dibiarin," Gumam Bram lalu melajukan mobilnya dengan kencang.


-Cafe Melody.. -


"Bram akhirnya loe dateng juga, silahkan bawa pulang istrimu karena gue gak mau membuat salah paham," Ucap Pandu to the point.


"BANG-SAT.. *bugh..bugh..bugh..* BERANINYA LOE AJAK KETEMU ISTRI GUE, JANGAN BILANG KALIAN MASIH ADA RASA, JAWAB!!," Teriak Bram sangat emosi dan memukul pipi Pandu hingga lebam.


"BRAM.. STOP, YANG KAMU LAKUIN HANYA AKAN MELUKAI PANDU, STOPP," Teriak Felicia lalu memapah Pandu berdiri.


"Wow.. pemandangan yang sangat indah, masih pagi sudah bermesraan sampai lupa anak, apa kamu ingat bagaimana kamu meninggalkannya ketika akan menyuapinya? Kamu mengabaikan anakmu hanya demi DIA? mantanmu yang sangat berharga ini?," Gertak Bram.


"Astaga maaf Bram aku lupa kalau tadi lagi suapin Emil, gimana dia sekarang? pasti cariin aku ya?," Tanya Felicia panik.

__ADS_1


__ADS_2