
Merasa Bram tidak memasang wajah yang bersahabat, Pandu memikirkan kata-kata agar Bram tidak tersinggung.
"Bram jangan salah paham dulu, gue hutang permintaan maaf pada Felicia," ucap Pandu dengan tenang.
"Hutang permintaan maaf atau hutang cacian? sudah cukup waktu itu loe merendahkan kami segitunya, terutama pada Felicia.. loe sebegitu merendahkan dia!! jangan harap gue akan diam dan membiarkan kalian bertemu," tolak Bram ketus.
"pleaseee gue merasa gak tenang jika belum meminta maaf," pinta Pandu.
"Cih.. gue gak peduli, loe sendiri yang membuatnya jadi silahkan nikmati penyesalannya.. minta maaf lewat gue sama aja kan?" tanya Pandu.
"Gue mau bertemu orangnya secara langsung," ucap Pandu tegas.
"Nyali loe gede juga ya.. berani sekali mengatakan itu sama suaminya secara langsung!! gue gak mengizinkan loe bertemu Felicia apapun itu alasannya dan sorry waktu gue terlalu berharga untuk mendengar permohonan konyolmu itu," ucap Bram ketus lalu bergegas pergi meninggalkan Pandu.
"Bram.. please," teriak Pandu.
"Sudah jadi cerita masa lalu.. jadi apapun itu hutang penjelasanmu tidak berlaku lagi, tidak ada yang perlu di jelaskan lagi karena semua sudah cukup," ucap Bram menoleh sekilas lalu kembali pergi.
Pandu yang menatap kepergian Bram merasa menyesal karena sempat membela Nita dan menuduh bahwa diantara Bram dan Felicia dulunya memang ada hubungan, nyatanya asumsi gue salah besar.. Felicia beneran menjaga perasaan untukku hingga ia harus menikah dengan Bram, setelah punya anak pun Felicia masih menyatakan bahwa perasaannya masih untukku.. sungguh bodohnya gue yang langsung menerima informasi mentahan tanpa menyelidikinya terlebih dahulu..
"Penyesalan memang datang di akhir, andai waktu itu gue mendengarkan Felicia.. mungkin perasaan bersalah ini tidak terlalu besar. Felicia.. andai kita di takdir kan bertemu lagi entah itu kapan, gue akan meminta maaf padamu dan gue harap lu bisa memaafkan caci maki gue waktu itu. Untuk Bram, gue tau bagaimana sayangnya lu pada Felicia, tolong jaga dan bahagiakan Felicia sebagaimana dia dulunya ketika muda yang selalu bahagia, gue yakin lu lebih bisa membahagiakannya ketimbang gue, sekali lagi maafin gue.. semoga esok masih ada kesempatan untuk memperbaiki ini semua," batin Pandu dengan sedih.
Di satu sisi Bram sangat kesal dengan perkataan Pandu yang ingin bertemu Felicia, suami mana yang rela jika istrinya bertemu dengan cinta masa lalunya apalagi Felicia sangat susah melupakannya.
"Jangan harap gue akan membiarkan kalian bertemu, hinaan mu waktu itu sangat menggores hati Felicia, sudah tidak ada yang perlu di jelaskan lagi karena hubungan kalian sudah selesai.. lagian jika Pandu ingin meminta maaf pada Felicia nantinya apa pengaruhnya? gak mungkin mereka akan balikan terus menjalin kisah lagi.. memang bener perkataan gue tadi bahwa diantara mereka sudah tidak ada yang perlu di jelaskan lagi, kejujuran Nita gue rasa udah cukup," batin Bram cemburu lalu ia kembali ke ruang kerjanya.
Di ruang kerjanya, Roy terlihat sangat sibuk di depan laptop hingga tidak menyadari kehadiran Bram.
"Apa yang membuatmu fokus sekali, Roy?" tanya Bram penasaran.
"Ba.. bapak? sejak kapan datang?" tanya Roy terkejut.
__ADS_1
"Sudah 1 jam yang lalu," jawab Bram berbohong.
"Tidak mungkin," gumam Roy tak percaya.
"Tidak percaya?" tanya Bram.
"Bu.. bukan begitu pak, hmm anu.. ini pak laporan yang bapak inginkan sudah selesai dan silahkan dilihat," ucap Roy salah tingkah lalu memperlihatkan laptopnya pada Bram.
"Kirim via email, saya ingin melihatnya secara menyeluruh," perintah Bram serius lalu Roy menuruti.
Ketika Bram sedang fokus menelaah hasil laporan dari hacker andalannya, tiba-tiba Bram teringat kembali perkataan Pandu yang ingin bertemu Felicia.
"Sialan.." gumam Bram menggebrak meja.
"Ba.. bagaimana pak?" tanya Roy ketakutan.
"Eh.. belum.. saya belum sepenuhnya menelaah, tunggu," ucap Bram kembali fokus bekerja dan membutuhkan waktu setengah jam akhirnya ia mengetahui ada yang ingin berkhianat padanya.
"I.. iya Pak, sudah tau hasilnya?" tanya Roy.
"Sudah.. adakan meeting setelah makan siang, bilang saja untuk menyambut kedatangan bos besar, nanti di meeting akan saya kupas tuntas kemunafikan pekerja yang beraninya bermain curang," perintah Bram serius.
"Ba.. baik pak," jawab Roy patuh lalu memberitahu sekretaris.
Di persidangan Bram di temani translator karena sedang kacau dan sulit mengungkapkan uneg-unegnya menggunakan bahasa Inggris.
"Selamat siang semuanya.. Terima kasih sudah hadir di acara meeting dadakan ini, untuk itu saya langsung ke point nya saja ya, 1 bulan terakhir ini saya lihat kinerja perusahaan menurun cukup drastis dan omset pun nihil.. bagaimana ini bisa terjadi? setahu saya dari saya awal mendirikan perusahaan ini tidak pernah sekali pun saya mendapat laporan jika perusahaan mengalami penurunan yang drastis, ada yang bisa menjelaskan?" tanya Bram serius dan seluruh petinggi staf hanya diam seribu bahasa karena mereka lah yang menikmati uang perusahaan.
Merasa kesabarannya di ujung batas, Bram akhirnya membuka semua bukti kecurangan para staf kepercayaannya dan membuat mereka melongo tak percaya.
"Bagaimana bisa bos besar mengetahui ini? padahal hasil laporan sudah kami buat serapi mungkin, haduh bisa hancur karir gue," batin head manager dengan penuh ketakutan.
__ADS_1
(perkataan sengaja author buat menggunakan bahasa indonesia supaya lebih mempersingkat cerita)
"Bagaimana?? ada yang mau menyangkalnya?" tanya Bram memperhatikan seluruh peserta meeting.
"Pak.. kami bisa menjelaskan semua, ini ada kesalahan.. data yang benar adalah yang kami berikan pak," bela head manager gugup.
"Oh lalu data yang saya dapatkan ini palsu alias editan, begitu? ini saya mendapatkannya sendiri loh," sindir Bram.
"Bukan begitu Pak, mungkin ada yang merekayasa hasil laporan," sahut HRD gugup.
"Siapa dia? kalau tau silahkan katakan sekarang juga," tantang Bram.
"Hmm itu akan kami selidiki dulu pak," jawab HRD kalah telak.
"SUDAH CUKUP SANDIWARA KALIAN!! SAYA MEMANG SENGAJA MENGUNDANG KALIAN KEMARI YA UNTUK INI!! MAU KALIAN MENGHILANGKAN BUKTI SERAPI APAPUN YANG NAMANYA KEBUSUKAN PASTI AKAN TERCIUM JUGA!!! JUJUR.. SAYA KECEWA DAN MARAH BESAR PADA KALIAN SEMUA, KALIAN ADALAH STAF KEPERCAYAAN SAYA DI PERUSAHAAN TETAPI KENAPA KALIAN DENGAN TEGA BERBUAT CURANG!! GAJI YANG KALIAN PEROLEH APA KURANG?" teriak Bram marah besar.
"Maafkan kami pak.. kami khilaf, tolong maafkan kami," pinta HRD memohon.
"CIH.. JANGAN HARAP!!! SEKALI BERHIANAT TETAP AKAN BEGITU!! TIDAK ADA AMPUN BAGI PENGHIANAT SEPERTI KALIAN!! MULAI DETIK INI KALIAN SEMUA SAYA PECAT SECARA TIDAK HORMAT DAN SAYA PASTIKAN NAMA KALIAN AKAN SAYA BLACKLIST DI SEMUA PERUSAHAAN!!" ancam Bram serius.
"Kami mohon jangan lakukan ini pak.. kami siap di hukum apa saja asalkan jangan pecat kami, kasihan kami pak yang sudah berkeluarga," pinta head manager penuh harap.
"KALIAN DIMANA WAKTU MENGGELAPKAN DANA PERUSAHAAN? APA KALIAN MEMIKIRKAN DAMPAKNYA? APA KALIAN MEMIKIRKAN BAGAIMANA PERUSAHAAN INI KE DEPANNYA JIKA UANGNYA TERUS MENERUS KALIAN KERUK, BUKAN HANYA SATU ATAU DUA ORANG.. INI ADA 10 ORANG!! WOW KALIAN MAFIA BERKEDOK STAF!! KEPUTUSAN TIDAK DAPAT DI GANGGU GUGAT, SILAHKAN PERGI DARI SINI KARENA SAYA MUAK MELIHAT WAJAH MUNAFIK KALIAN!! SELAMAT MENJALANI HARI MULAI DARI 0," ucap Bram emosi dan akhirnya petinggi staf hanya bisa pasrah dengan nasib sialnya. diantara mereka banyak yang menyesal sudah menuruti cara licik head manager dengan dalih bos besar tidak pernah memantau perusahaan.
padahal mereka salah besar, meskipun Bram jarang kesini tetapi ia selalu cek setiap hari laporan yang masuk.
setelah masalah perusahaan dan Nita selesai kini Bram kembali ke hotel untuk beristirahat dan besok ia akan mengadakan audisi lowongan pekerjaan supaya posisi yang kosong segera terisi. Bram tidak mau perusahaan benar-benar hancur.. susah payah ia rintis perusahaan ini.
ketika Bram ingin memejamkan mata tiba-tiba ada chat masuk dari Pandu.
"Izinkan gue bertemu istrimu untuk kali ini Bram.. daripada loe nantinya salah paham, gue siap bertemunya bertiga denganmu.. please gue mau masalah ini segera selesai," isi chat Pandu yang seketika membuat Bram naik darah.
__ADS_1