PERNIKAHAN RAHASIA KESEPAKATAN BERSAMA

PERNIKAHAN RAHASIA KESEPAKATAN BERSAMA
Episode 85- Ngidam Aneh


__ADS_3

Tak terasa kandungan Felicia sudah memasuki usia 7 bulan dan hari ini Felicia ngidam makan buah sawo.


"Bram..." sapa Felicia dengan manja.


"Ya ada apa Fel?" tanya Bram menoleh.


"Aku pengen buah sawo, kira-kira yang jual dimana ya?" pinta Felicia.


"Ha?? yang bener aja deh.. buah sawo itu gak bisa setiap hari panen, mana ada buah sawo di bulan-bulan ini, please Felicia jangan ngada-ada deh," protes Bram terkejut.


"Tapi babynya mau makan buah sawo, please help me.." rengek Felicia memohon.


"Cari dimana coba?" tanya Bram bingung.


"Ya gak tau.. intinya harus dapat," ucap Felicia tak mau di ganggu gugat.


"Yaudah iyaa deh coba ya aku cariin dulu, berdoa semoga aja ada yang jual," ucap Bram mengalah.


"Terima kasih suamiku," ucap Felicia senang lalu memeluk Bram.


"Iya.. kamu istirahat aja, aku pergi dulu," pamit Bram.


"No.. aku harus ikut," tolak Felicia.


"Nanti kecapekan," ucap Bram jengah.


"Gak akan.. ayo berangkat sekarang, nanti kamu salah beli gimana?" protes Felicia.


"Salah beli gimana sih? ya gak akan lah," ucap Bram mulai kesal.


"Ya siapa tau nanti belimu malah buah kiwi, bentuk luarnya kan hampir sama," ucap Felicia cemberut.


"Yaudah ayok ikut," jawab Bram malas debat.


"Good.." jawab Felicia senang.


Lalu mereka mencari ke berbagai tempat, dari pasar tradisional, pasar buah hingga pedagang di pinggir jalan pun tak luput dari pantauannya, namun naas tak ada yang menjual buah sawo dengan alasan belum musimnya panen, kalau pun dipaksa ada itu pasti mentah.


"Kita udah muter-muter hampir setengah hari tapi gak ada yang menjualnya, gimana?" tanya Bram fokus menyetir.


"Ya cari aja terus.. tempat ini kan gak cuma sepetak doang," ucap Felicia enteng.


"Astaga.. mau cari sampai mana Felicia? sebentar lagi arah ke luar kota loh ini," tanya Bram heran.


"Asalkan ada mah gak papa, udah jalan aja terus," perintah Felicia sambil fokus melihat kanan kiri jalan.


"Kalau gini aku yang gempor dong, emang nyupir gak capek apa," gerutu Bram sambil fokus menyetir.


"Jangan membicarakan istri seperti itu, ini permintaan anakmu loh.. kan yang buat hamil itu kamu, mana mungkin aku hamil sendirian tanpa adanya ****** yang masuk," ucap Felicia ketus.


"Tapi kalau ngidam mbok ya kira-kira, udah tau belum musimnya masih ngotot nyari, sama aja mencari jarum di tumpukan jerami," protes Bram.


"Sekali lagi aku denger protesan atau keluh kesahmu, biarkan aku turun dan mencarinya sendiri, aku masih kuat jalan," gertak Felicia serius.

__ADS_1


"Janganlah.. ntar kamu kenapa napa dijalan bagaimana?" tanya Bram tak suka.


"Makanya jangan banyak protes, kalau gak hamil mana ada aku minta yang aneh-aneh gini," ucap Felicia ketus dan Bram lebih memilih diam. Ia tidak mau merusak mood ibu hamil yang seperti ayunan.


Ketika di traffic light ia melihat ada supermarket m terkenal, Felicia yakin jika disana ada buah sawo.


"Bram coba deh mampir ke situ dulu," perintah Felicia menunjuk supermaket.


"Memangnya ada? nanti kalau gak ada jangan belanja loh ya.. lihat tuh di belakang belanjaanmu udah banyak banget," ucap Bram memperingati.


"Huftt.. iya ya asal gak ada discount aja," jawab Felicia manyun.


Lalu mereka memarkirkan mobil di salah satu supermarket terkenal di kota ini.


"Hmm.. itu kayaknya sawo deh," gumam Felicia berjalan mendekati rak fresh fruit.


"Udah dapet?" tanya Bram penasaran.


"Udah Bram.. akhirnya ya, bentar aku timbang dulu disana," ucap Felicia senang.


"Fyuh.. akhirnya usai sudah pencarian buah sawonya," gumam Bram bernafas lega.


"Bram..." sapa Thalia menepuk bahu Bram.


"Tha..Thalia?" tanya Bram terkejut.


"Iya ini gue, Thalia.. how are you?" tanya Thalia ramah.


"Ba..baik.." jawab Bram gugup lalu fokus pada anak kecil yang sedang di gandeng Thalia.


"Anakmu? loe udah nikah?" tanya Bram.


"Hmm itu.. hai sayang kenalin ini om Bram, say hello," ucap Thalia mengalihkan obrolan.


"Hallo om Bram, nice to meet you," sapa Naomi dengan senyum manisnya.


"Hallo.. nice to meet you too," sapa Bram canggung.


"Good girl, kamu kesini sama siapa Bram?" tanya Thalia penasaran.


"Sama Felicia," Jawab Bram gugup lalu tiba-tiba Felicia menghampiri Bram.


"Bram udah nih, dia siapa Bram?" ucap Felicia menatapa Bram dan Thalia terkejut.


"Dia is..istrimu Bram?" tanya Thalia gugup.


"Iya, saya Felicia dan anda siapa?" tanya Felicia menatap Thalia sinis.


"Oohh ka..kamu udah menikah Bram, aku fikir masih sendiri.." ucap Thalia lirih.


"Sorry, saya tidak salah dengar anda berkata seperti itu?" tanya Felicia heran.


"Maaf soalnya saya gak tau kalau Bram sudah menikah jadi saya fikir sampai sekarang dia masih sendiri, oh iya kenalin saya Thalia," ucap Thalia mengulurkan tangan.

__ADS_1


"Thalia?? saya gak asing dengan nama itu," ucap Felicia kembali mengingat.


"Mungkin Bram pernah menceritakan kisah kami yang dulu, saya Thalia.. mantan pacarnya Bram yang sekarang menjadi suamimu," ucap Thalia dengan tenang.


"Ma..mantan pacar?" tanya Felicia kaget.


"Iya memang faktanya seperti itu," jawab Thalia tersenyum manis.


"Benarkah yang dia katakan Bram??" tanya Felicia memastikan dan Bram hanya mengangguk saja.


"Astaga.. kenapa kamu gak bilang Bram?" tanya Felicia tak percaya.


"For what? kamu terlalu fokus dengan dunia masa lalumu, mungkin aku pernah mengatakannya tapi kamu lupa itu," ucap Bram menautkan kedua alis.


"Kalau begitu gue permisi dulu Bram, sebenarnya ada sesuatu yang mau gue katakan tapi melihat istrimu sedang hamil besar rasanya gak tega," ucap Thalia memancing penasaran keduanya.


"Katakan saja apa itu," ucap Felicia penasaran.


"Jangan memulai keributan Thalia, ingat ancamanku tempo lalu?" gertak Bram.


"Kalian diam-diam pernah bertemu di belakangku?? kapan itu?" tanya Felicia syok.


"Itu sudah kejadian masa lalu dan aku sudah menutupnya, aku rasa gak ada lagi yang perlu di bahas," ucap Bram ketus.


"Sebentar.. kok aku merasa kalian menyembunyikan sesuatu dariku?? katakan sejujurnya ada apa?" desak Felicia tak sabar.


"Tidak ada yang aku sembunyikan, ini hanya kejadian masa lalu," ucap Bram dingin.


"Thalia.. please tell me, aku tau kamu ingin mengatakan sesuatu yang penting," ucap Felicia memohon.


"Hmm.. tapi aku hanya ingin membicarakannya empat mata dengan suamimu, ini terlalu sensitif," ucap Thalia.


"Dia sekarang suamiku, mau membahas hal sensitif apapun tetap aku harus mengetahuinya.. aku berhak tau," gertak Felicia menatap Thalia tajam.


"Bram.." ucap Thalia meminta persetujuan.


"Sudah gak usah dibahas, dia pasti ingin membuat rumah tangga kita berantakan," tolak Bram lalu mengajak Felicia pergi.


"Gak.. aku gak mau pergi begitu saja, jangan jadi pengecut," gertak Felicia menepis tangan Bram secara kasar.


"Sialan beraninya dia mengusik keluarga kecilku.. awas saja jika ucapanmu menimbulkan pertikaian untuk rumah tanggaku," batin Bram menatap Thalia dengan tajam dan membuat Thalia ketakutan.


"Astaga kenapa dia melihatku seperti itu, gue jadi ngeri sendiri.. lebih baik masalah ini hanya kami saja yang menyelesaikannya, gue gak yakin kalau istrinya sampai tau apakah nanti berbahaya untuk kehidupan gue ke depannya," batin Thalia bergidik ngeri.


"Heii kenapa sekarang malah diam? bicaralah jika itu memang penting, jangan membuat kami penasaran," ucap Felicia.


"Ma..maaf setelah saya fikir masalah yang ingin disampaikan tidak terlalu penting, ini hanya permasalahan di masa lalu saja.. sekarang Bram sudah punya kehidupan baru dan sepertinya bahagia, jadi saya anggap ini sudah selesai, kalau begitu saya permisi dulu," ucap Thalia lalu segera bergegas pergi karena gak mau terkena masalah dengan Bram.


"Kenapa dia aneh banget sih seperti orang ketakutan saja, jujur Bram kalian ada masalah apa yang belum terselesaikan?" tanya Felicia mengintimidasi.


"Ya aku gak tau lah, dia yang bilang sendiri tapi dia yang pergi.. terus aku taunya darimana?" ucap Bram acuh.


"Tapi aku merasakan yang lain.." gumam Felicia dengan perasaan mengganjal.

__ADS_1


"Udah dapet kan? yuk pulang.. aku capek banget," ajak Bram lalu Felicia memilih mengalah, sebenarnya dia ingin menginterogasi lebih dalam lagi tapi timingnya belum tepat.


__ADS_2