
Setelah melepas kepergian Pandu kini orang tua Pandu dan juga Felicia bergegas pulang untuk melanjutkan aktivitas masing-masing.
"Makasih ya sayang udah sempetin dateng kesini, kamu kesini sendirian kan? pulang bareng kita aja, yuk" ajak Dina.
"Gak usah tante soalnya Felicia naik mobil kok hehe," tolak Felicia tersenyum kaku.
"Ya udah kalau gitu mampir dulu ke rumah tante," ajak Dina semangat.
"Maaf tante lain kali saja ya soalnya hari ini gak bisa, Felicia mau fitting gaun.." jawab Felicia hampir saja keceplosan.
"Oh fitting baju bridesmaid ya? kemarin mamahmu bilang sama tante, yaudah kalau gitu hati-hati di jalan ya sayang," ucap Dina menepuk pelan bahu Felicia.
"Iya tante.. kalian juga hati-hati di jalan," jawab Felicia dengan perasaan lega lalu mereka berpisah di parkiran mobil dan keluarga Pandu sudah lebih dulu pergi.
"Fyuh... akhirnya mereka sudah pergi, maaf ya tante bukannya aku gak mau pergi bareng tapi memang posisinya aku kesini sama Bram dan selepas dari bandara mau ke butik buat fiting baju," batin Felicia menatap kepergian orang tua Pandu.
Di satu sisi Hartanto curiga akan penolakan Felicia yang terkesan menutupi sesuatu, lalu ia berinisiatif menyuruh supirnya berhenti di pinggir jalan karena mau membuntuti Felicia.
"Pak kita berhenti di sana sebentar ya dan nanti ikuti mobil Felicia," perintah Hartanto.
"Tapi maaf tuan saya gak tau mobilnya non Felicia," ucap pak sopir sedikit takut.
"Sebentar saya tunjukkan, nah ini," ucap Hartanto memperlihatkan nomor plat dan warna mobil Felicia pada sopir via handpone nya.
"Baik tuan," jawab pak sopir sigap.
"Jangan sampai kehilangan jejak," ucap Hartanto serius.
"Memang ada apa sih kok sampai buntutin Felicia segala kan dia mau fiting gaun bridesmaid," ucap Dina heran.
"Papah merasa curiga padanya, mamah lebih baik diam saja dan ikuti instruksi papah," jawab Hartanto tak mau dibantah dan cermat melihat mobil yang lewat.
__ADS_1
"Mau sampai kapan menunggunya? iya kalau Felicia pakai mobilnya sendiri, kalau enggak?" gumam Dina kesal dan tidak sengaja melihat mobil sport Bram lewat dan di situ terlihat jelas ada Felicia.
"Pah lihat deh itu bukannya Felicia dan Bram? kenapa mereka satu mobil?" tanya Dina heran.
"Benar kan feeling papah, pak ikuti mobil itu jangan sampai kehilangan jejak," ucap Hartanto menahan emosi karena putra semata wayangnya dibohongi oleh kekasih dan temannya sendiri.
"Apa jangan-jangan dugaan Pandu benar kalau mereka memang ada hubungan? bisa-bisanya ya Felicia tega seperti itu, mamah gak nyangka," ucap Dina kecewa.
"Simpan rasa kecewamu karena kita tidak tau rahasia apa yang mereka sembunyikan, bisa saja kejutannya lebih besar dari ini," prediksi Hartanto kuat.
"Aduh... mamah gak bisa bayangin gimana hancurnya hati Pandu jika mengetahui ini," ucap Dina sangat kecewa.
"Jangan beritahu apapun pada Pandu sebelum semuanya jelas dan ada bukti kuat," ucap Hartanto tegas dan terus memantau kemana perginya Bram.
Di satu sisi Felicia tak henti-hentinya menangis karena meratapi kepergian Pandu.
"Sudah jangan nangis terus kasihan bayi di perutmu yang nanti juga ikutan stress," ucap Bram jengah melihat Felicia terus menangis.
"Bukan stress yang itu.. ah susah ngomong sama orang lagi patah hati," ucap Bram kesal.
"Makanya lebih baik loe diam aja jangan bikin badmood," jawab Felicia ketus.
"Hapus air matamu karena sebentar lagi kita mau sampai di butik. Gue gak mau pegawainya mengira kalau pernikahan ini gue yang maksa," ucap Bram ketus.
"Memang ini pernikahan terpaksa kalik," jawab Felicia ketus.
"TAPI BUKAN DARI KELUARGA GUE YANG MEMAKSANYA YA, INGAT ITU.." teriak Bram saking kesalnya.
"Terus ini salah keluarga gue? yaudah batalin aja pernikahan ini dan gue juga mau gugurin kandungan ini," ucap Felicia enteng lalu memukul-mukul perutnya yang sudah membuncit.
Cekit.. Suara ban mobil berdecit karena berhenti mendadak, untungnya jalanan sepi. Lalu Bram menepikan mobilnya.
__ADS_1
"Jangan gila kamu didalam sana ada anak kita, jangan pernah berniat menyakitinya," ancam Bram mencekal kedua tangan Felicia.
"Tapi kehadirannya tidak di inginkan, loe aja sebenarnya gak mau nikahin gue, coba kalau bukan desakan papah dan bokap loe mana mau loe tanggung jawab, ha!!" gertak Felicia menepis kasar tangan Bram.
"Itu dulu karena gue memang belum siap menikah apalagi punya anak, membayangkannya aja udah pusing," jawab Bram mendelik tajam ke Felicia.
"Lalu kenapa sekarang mau? kasihan? gue gak butuh itu Bram, lebih baik akhiri sekarang sebelum kita semakin menyesal nantinya," ucap Felicia tersenyum sinis.
"Gak akan terjadi, jangan harap gue akan mengabulkan permintaan konyolmu itu, kalau kita batal menikah trus loe mau minta pertanggung jawaban Pandu dan keluarganya? emang mereka sudi menerima aibmu? kalau kamu gugurkan kandunganmu emangnya kamu siap mati? siap ditanya sama malikat atas perbuatan kejimu itu? gak perlu malaikat dulu, ke polisi dulu aja. Kalau ketahuan aborsi kamu siap dipenjara dan menanggung malu? mau taruh dimana muka orang tuamu?" tanya Bram tersenyum smirk.
"Lalu gue harus gimana Bram? melanjutkan ini? tapi gue gak ada perasaan apapun padamu, mana mungkin menjalani pernikahan tanpa rasa cinta.. kenapa perempuan yang selalu merugi," Rmrengek Felicia menangis histeris.
"Kita jalani saja seperti air mengalir demi anak kita, ia butuh kasih sayang dan perhatian kita, ia tidak tau apapun dan nantinya lahir dengan kondisi suci, jangan lagi kamu mencelakainya karena sama saja kamu menyakiti darah dagingmu sendiri," ucap Bram dengan tenang.
"Kenapa kamu tenang banget ngomong gitu? jangan bilang loe udah ada rasa sama gue? nasib pacarmu gimana?" tanya Felicia tak percaya.
"Itu biar jadi urusan gue yang terpenting sekarang fokus pada kehamilanmu dan usap air matamu biar orang-orang tidak curiga pada kita," pinta Bram lalu menyodorkan tisu.
"Dasar gak jelas," gumam Felicia yang didengar oleh Bram.
"Apanya yang gak jelas? gue udah ada niatan tanggung jawab untuk menikahimu dan mengakui dia anakku, kurang apa lagi?" tanya Bram kesal.
"Gue kan tadi tanya apakah loe udah ada rasa sama gue dan bagaimana nanti nasib pacarmu?" ucap Felicia penuh penekanan.
"Gue gak tau.. yah seperti yang gue katakan barusan, biarkan seperti air mengalir, gue gak mau ambil pusing, selagi dia gak curiga dan macam-macam ya lanjut aja," jawab Bram enteng.
"Itu sama saja kamu selingkuh dan berhianat Bram," cibir Felicia tak terima.
"Haha selingkuh? berhianat? bukannya kita sama ya? loe juga masih ada hubungan sama Pandu dan tadi pun kalian berciuman di depan orang tuanya, coba kalau Pandu tau semuanya apa masih mungkin ia memperlakukanmu seperti tadi dan apa masih mungkin orang tuanya welcome padamu? jangan suka menjudge orang jika kamu sendiri demikian," jawab Bram tenang namun menohok perasaan Felicia. Ia langsung terdiam seribu bahasa karena apa yang diucapkan Bram benar adanya.
"Gue memang selingkuh dan sudah mengkhianati Pandu tapi ini bukan keinginan ku.. ini semua keadaan yang tidak gue mau, jika suatu saat Pandu mengetahui ini gue harap Pandu mengerti dan masih bisa menerimaku kembali," batin Felicia berurai air mata sambil menatap jendela.
__ADS_1
"Gue tau ini sulit untukmu tapi takdir yang sudah di gariskan oleh Tuhan mana bisa kita ubah dan lawan. Jika akhirnya kamu yang dipilih Tuhan untuk menjadi pendampingku maka aku harus menerima dengan ikhlas karena takdir Tuhan itu baik. Sejujurnya gue pun masih bingung dengan perasaan yang gue alami akhir-akhir ini, melihatmu bermesraan dengan Pandu apalagi tadi sampai berciuman membuatku kesal. Tapi disatu sisi gue juga sayang sama pacar gue,, memang bener perkataanmu Fel kalau gue selingkuh dan berkhianat tapi setidaknya gue ada niatan menikahimu dan mengakui anak itu, jika bukan karena jebakan Nita sudah pasti gue masih hidup dengan tenang dan baik-baik saja," batin Bram sembari fokus menyetir.